
CHRISTIAN POV
Aku terbaring di sofa dengan kaki terangkat. Pergelangan kaki aku kompres dengan es, rasanya berdenyut dan juga bengkak.
Bagus banget. Bagaimana caranya aku bekerja bahkan kakiku saja tidak bisa memakai sepatu? Semoga saja bengkaknya bisa mereda dalam semalam. Aku yakin semua akan baik-baik saja.
Aku mengatur letak es di kaki dan berbaring kembali.
Pikiranku kembali membayangkan kejadian hari ini dan apa yang ku lihat di rumah Clara.
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
Tidak ada satupun yang membuat aku tidak terlalu terkejut. Ketika Clara bercerita, ia memiliki tiga orang anak laki-laki. Aku membayangkan tiga anak kecil yang bermain LEGO
Betapa salahnya aku?
Anak-anaknya hampir menjadi pria dewasa — pria dewasa yang pemarah. . . Yang membenciku. aku menggelengkan kepalaku dengan jijik.
Clara bilang kita berada di fase kehidupan yang berbeda, dan aku tidak mengerti maksud dari Clara.
Aku paham sekarang.
Clara dan aku tidak memiliki persamaan. . . Selain selera humor kita, tentunya— tapi secara keseluruhan, itu saja tidak cukup, dan sejujurnya itu membuatku kesal.
Aku merinding saat aku membayangkan anak keduanya Clara dan aku benci mengakuinya, tapi anak tertua Clara yang penuh amarah dan kekerasan itu tampak terlihat normal dibandingkan dengan anak keduanya yang tampak seperti pembvnh berantai.
Aku membayangkan anak keduanya menggantung boneka beruang. Apa maksudnya itu?
Apakah aku membayangkannya?
Ponselku berdering di meja kopi, aku mengambilnya dan terlihat nama Clara.
Shut. "halo," aku jawab.
"halo, Chris." aku tertunduk sedih mendengar suara Clara.
Astagaa. . . Kenapa dia harus punya anak sih. . .
"aku menelpon mu untuk menanyakan kabarmu." kata Clara.
"aku baik-baik saja." Aku menghela nafas
"ya Tuhan, Christian, maafkan aku."
Aku terdiam
"Dia hanya super protektif sama aku dan dia baru saja menemukan underware di dalam koperku. Mereka pasti melakukan kesalahan ketika mengembalikan laundryan yang sudah dicuci." Clara berbohong, dan aku tau pasti anak pertama Clara mendengarnya.
"yah, Clara, aku disana. Aku melihatnya, bahkan pergelangan kakiku sebagai buktinya."
"bagaimanapun itu, dia ingin berbicara denganmu." kata Clara
"tidak, tidak per —"
"halo?" kata Jeandra
Christian memutarkan bola matanya. "halo." jawabnya
Jeandra menghembuskan nafasnya dalam-dalam, dan aku membayangkan Clara berdiri di dekatnya, memintanya untuk melakukan ini. "maafkan saya, saya sudah keterlaluan siang ini." kata Jean. "entah apa yang merasuki saya."
__ADS_1
"saya bisa saja menjeratmu dengan tuduhan penyerangan." jawab Christian
Jeandra terdiam
"saya hanya teman ibumu di kantor. Kamu memutuskan kesimpulan yang salah. Itu benar-benar di luar batas."
Tidak ada jawaban dari Jeandra
"ada lagi?" bentakku ke Jeandra
"tidak."
"jadi itu permintaan maafmu?" aku mengerutkan dahiku.
"ya"
"apakah ibumu yang meminta untuk menelpon saya?"
"ya"
"apakah kamu benar-benar menyesal?"
"tidak."
menyipitkan netraku . . . Yang benar-benar ingin kukatakan adalah aku menidu ri ibumu, dan dia menyukainya, dasar bocah kecil. Tapi aku tidak akan melakukannya. Aku akan menjadi seorang yang bijak disini.
"apakah anda ingin berbicara lagi dengan ibuku?" tanya Jeandra.
Aku memikirkannua sejenak.. Akhirnya aku menjawab "tidak usah, terimakasih sudah menelpon." langsung ku matikan ponselnya.
Aku menatap ponselku untuk beberapa waktu.
Aku membayangkan Clara disebrang sana. Apakah dia ingin berbicara denganku?
......................
Saat ini pukul sebelas keesokan paginya ketika saya berjalan tertatih-tatih dengan menggunakan kruk (tongkat alat bantu).
Matthew (Matty) berdiri di depan resepsionis. Wajahnya menatap Christian, dan mengikutinya hingga ke ruangan kerja Christian.
"apa yang terjadi padamu?" tanya Matty
"jangan tanya." aku duduk di kursiku
"apa yang telah kamu lakukan?"
"saat itu terjadi, ligamenku robek dan menarik salah satu tulang pergelangan kaki."
Matthew meringis."ouch, bagaimana itu bisa terjadi?"
Christian menyembunyikan muka di kedua tangannya. "seorang anak memukuli aku dengan underware."
"dia apa?"
Christian tersenyum. " aku pergi ke twilight zone kemarin, Matty."
"bagaimana bisa?"
"jadi, aku bertemu dengan seorang wanita di konferensi saat di Prancis." Christian menghembuskan nafasnya. . "dia sempurna"
__ADS_1
Matthew memutarkan bola matanya. "mulai lagi dia." gumam Matty
"semua ada di dalam diri dia, yang bahkan aku pun tak tahu kalau itu ada. Pintar dan lucu. Seksi banget." aku menyalakan komputer.. "tapi masalahnya — dia punya tiga anak."
Matthew meringis.
"lalu, kita kembali kesini. Dia bilang hubungan kita sudah selesai karena anak-anaknya. Berkata kalau kita dari dunia yang berbeda, bla bla bla." aku memutarkan bola mata.
Matthew tersenyum dan menduduki kursi yang berada di hadapanku, tertarik dengan ceritaku.
"aku tidak percaya dengan alasannya. Jadi aku mengikuti dia pulang ke rumah."
"apa? Kamu mengikutinya pulang?" Matthew mengeryitkan dahinya.
Christian menaikturunkan bahunya. "sedikit, sebenarnya Nadya yang menemukan alamat Clara. Lalu aku pergi ke rumahnya. Rumahnya seperti tempat barang-barang bekas. Sangat berantakan. Sepatu dan sepeda dan yang lainnya ... Semua berada dibawah matahari."
Matthew sangat serius mendengarkan ceritaku.
"lalu anaknya keluar, tapi dia bukan anak-anak." Christian membulatkan matanya. "dia anak laki-laki yang hampir dewasa." Christian mengangkat tangannya menunjukkan tinggi anak pertama Clara. "dia mulai mencambuk aku dengan underware yang aku tinggalkan di koper ibunya."
Matthew membulatkan matanya dan tersenyum.
"karena kaget jadi aku melangkah mundur, dan tersandung skateboard dan terjatuh di tangga."
Matthew terkekeh.
"lalu dia melompat ke arahku yang sudsh tersungkur di bawah, dan mencoba memasukkan celana dalamku ke dalam mulut aku."
Matthew memiringkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.
"ada lagi.." Christian tergugup. "itu bahkan bukan bagian yang terburuk."
Matthew tertawa terbahak-bahak mendengar cerita adiknya itu.
"mereka membawaku ke dalam rumahnya. Clara menyuruh anaknya itu masuk ke kamar, kemudia Clara pergi mengambil es, dan anaknya yang lain datang menghampiriku." Christian terbayang wajah anak keduanya Clara dan membulatkan matanya. "anak ini . . . sangat jahat, kak. Aku bilang padamu."
"siapa nama anak ini?"
Christian mencoba untuk mengingatnya. "sama seperti anak penyihir yang kutu buku itu . . . Yang berkacamata." Christian menjentikkan jarinya saat berpikir.
"siapa? Harry Potter?
"iyaa, itu dia, namanya Harry."
Matthew tersenyum lebar.
"Dia mulai mengiris lehernya dengan jarinya."
Matthew yang tadinya tertawa jadi terdiam mendengar cerita itu.
"kemudian dia menggunakan tangannya untuk mencekik dirinya sendiri sampai dia pura-pura mati." bisikku
"apa?" Matthew heran. "itu aneh."
Kemudian Christian melanjutkan sisa dari cerita itu. Matthew yang mendengarkannya menunjukkan semua ekspresi di wajahnya, dari yang terkaget-kaget, heran, dan tertawa.
"tidak ada lagi "ibu-ibu" bagi aku." Christian mengangkat kedua tangannya ke udara. "aku selesai." Christian beralih ke komputer. "bahkan aku berpikir aku tidak ingin memiliki anak sekarang. Aku takut dan terluka seumur hidupku."
Rasa melankolis menghampiriku. "kau tahu, aku tahu Clara adalah seorang janda dan mengalami masa-masa sulit. Tapi aku tidak pernah membayangkan keadaannya seburuk ini."
__ADS_1
Matthew menatapku. "Dia mungkin memikirkanmu ketika mengakhiri semuanya."
"iya, mungkin saja." aku menghembuskan nafas. "bagaimanapun, di dunia yang berbeda, dia adalah wanita yang sempurna. Keadaannya lah yang mengacaukannya."