CEO DAN JANDA 2 ANAK

CEO DAN JANDA 2 ANAK
Christian mencari Clara


__ADS_3

Aku berdiri di dekat bar dengan minuman di tanganku.


Aku dikelilingi empat orang wanita dan aku merasa sangat bosan.


Mataku terus mencarinya. Kemana sih dia?


"Pak Christian, apakah kamu sudah menikah?" tanya salah satu wanita


Mataku kembali menatap wantia yang ada di depanku. "panggil Christian aja, dan belum. Belum menikah"


"Pacar mungkin?" tanya Saba. Ternyata wanita itu namanya Saba.


"nggak.." sambil minum. "masih sendiri.."


wanita-wanita itu terus mengajak Christian untuk berbincang, akan tetapi Christian merasa tidak nyaman didekat mereka.


Christian melihat salah satu temannya. "aku akan menemui temanku." Christian berjalan kearah temannya itu.


"Hi, Clara.. Gimana rasanya setelah spa? Tanya Christian


"Enak ..." Jawab Clara


Ya Tuhan . . Dia kasar banget sih jawabnya


"apakah kamu akan melihatku ketika aku berbicara sama kamu? Tanyaku lagi.


Matanya Clara menatap mataku membuat hatiku seperti ada kupu-kupu. "apa yang anda inginkan, Pak Christian?"


Aku menatapnya, bingung aku gatau apa yang sedang terjadi pada diriku. "Chris. . . Panggil aku Chris."


"nggak. ." jawab Clara


"Clara . . ." panggilku


"panggil aku ibu Clara.."


"kenapa sih kamu ko kasar sama aku?" tanyaku lagi.


"saya hanya berkata jujur, apakah anda lebih suka jika saya berbohong?" jawab Clara.


"mungkin aja iya" jawabku.


"aku senang bisa ketemu lagi sama kamu Chris, ayo kita hang out dan nyanyi disana. Aku kangen sama wajah tampanmu." Clara menjawabnya tanpa ragu. Clara tersenyum manis dan mengedipkan bulu matanya


Aku menyeringai dan mendentingkan gelasku dengan gelasnya. "nah, gitu dong, kan lebih baik."


Clara menggerakkan dagunya sebagai isyarat datang ke sini, akupun mencondongkan tubuhku ke arahnya. "pergilah, Pak Christian." kata Clara berbisik


Aku terkekeh, dan bersemangat untuk pertama kalinya setelah sekian lama. "Tidak."


tatapannya mengarah ke depannya lagi "ah, masih ngeselin ya ternyata. . ."


"apa aku membuatmu terpesona, Clara?" tanya Christian


"panggil aku bu Clara atau bu Anderson." jawab Clara berbisik. " dan kamu ga punya apapun yang bisa membuatku terpesona."


Aku dan Clara saling bertatapan.


Rasanya hati dan perutku aneh lagi.

__ADS_1


Clara memiliki aura yang mengelilinginya, sulit untuk dipahami dan menarik.


Aku yakin Clara menjadi liar ketika ada di ranjang. Aku membayangkan kita bersama di ranjang, telanjang, dan aku merasakan denyut gairah diantara kedua kakiku. Aku mengerutkan bibirku untuk menyembunyikan kegembiraanku.


"selamat tinggal" Clara berjalan melewati keramaian. Dan aku hanya memandanginya dari belakang.


Okey. . . Aku akui kalau Clara memang cantik dan seksi.


Aku melihat Clara dari kejauhan sambil merencanakan sesuatu yang mungkin hanya bisa terjadi disini.


Aku mengambil ponsel dan menghubungi abangku di Jakarta.


"halo, Tian..." Jawab abangku James.


"Halo, bang.. Kayaknya aku ga jadi cuma sehari disini..."


"kenapa ga jadi?" kata abangku


"aku berencana untuk tinggal seminggu disini, karna disini ada sebuah kesempatan yang ga bisa aku lewatkan ..."


"okey, Tian, abang lagi meeting, nanti kita lanjut lagi ya." jawab abangku..


"okay"


...****************...


Clara POV


"aku akan ambil minum lagi." kata Nelson. Nelson juga ikut konferensi motivasi ini. "kamu mau aku ambilkan juga?"


"ya boleh, makasih ya."


Nelson adalah pria yang baik.


"tunggu sebentar ya."


"ah, akhirnya sendirian." aku mendengar suara, akupun mencari sumber suara itu dan ternyata itu Christian yang berada disampingku.


"kamu tau gak . . . . ." Christian terdiam sejenak dan merangkai kata-katanya. "kalau saja aku tidak sedang bekerja disini dan bersikap seorang yang profesional, ada banyak hal yang ingin kutanyakan ke kamu."


"seperti???" tanya Clara


"aku lagi bekerja." Christian menjawab sambil membenarkan dasinya


Aku mau tau apa yang ingin Christian tanyakan kepadaku. Akupun menjawab "anggaplah kamu lagi ga bekerja sekarang. Apapun yang kamu tanyakan itu akan menjadi masalah pribadi."


"kenapa sih kamu sangat membenci aku?" tanya Christian


"well . . . Ada banyak hal yang gak aku sukai."


"contohnya?" tanya Christian


"kamu mau ambil perusahaanku, Pak Christian."


"Tidak." Christian jawab sambil minum. Intonasi Christian membuatku berfikir kalau dia sedang kesal. "aku memberikan penawaran yang jujur ke perusahaan kamu, dan kamu menolaknya. Masalah selesai. Aku tidak melakukan apapun setelah itu. Aku menghargai keputusanmu."


Mataku dan Christian saling bertatapan. Aku bisa merasakan energi dan energi itu memantul ke kami berdua. Seolah-olah tubuh kami berbicara tanpa sepatah katapun. Aku bisa berpura-pura untuk tidak menyadarinya, tapi sejujurnya, christian memiliki sesuatu yang berlebih.


Merasa bodoh karna kebencianku, akupun menjawab "kalau kamu mau tau, menurutku kamu itu agak menyebalkan."

__ADS_1


Mulut Christian ternganga ketika dia pura-pura terkejut. "apa kamu selalu berhati dingin, Clara?"


aku terkekeh "aku pikir kita berdua tau siapa yang berhati dingin."


Christian menatap mataku dan menaikkan salah satu alisnya. "bagaimana dengan darahmu?"


"bagaimana dengan darahku?" jawab Clara


"apakah darahmu mengalirkan sesuatu ke seluruh tubuhmu?


Ya ampun, Christian ini mulai mesum ya.


Hmmm... Aku benci untuk mengakuinya tapi ada sesuatu dari dirinya


Aku tersenyum lebar melihat keberaniannya. "aku rasa, kamu ga perlu tau tentang temperatur darah yang mengalir ditubuhku."


"oh . . . Tapi seorang pria memang suka bertanya-tanya." Christian meminum minumannya dengan mata terpaku padaku. "mungkin, kita harus membicarakannya . . . Di luar." secara perlahan Christian memberikan senyuman yang seksi ke Clara. "di luar jam kerja tentunya"


"kamu mau kita pergi dan membicarakan temperatur darah yang mengalir di tubuhku, Pak Christian?"


"iyaa. . ." Christian berbisik dengan menatap bibir Clara


aku mencondongkan tubuhku ke Christian. "Pak Christian . . ." akupun berbisik


"iyaa . . ." jawabnya


"aku ga tertarik dengan kamu, baik di dalam atau di luar jam kerja"


Christian mendekatkan bibirnya di telingaku "bohong . . ."


Nafasnya menggelitik kulitku dan membuat bulu kudukku merinding sampai ke tangan.


"Bisa stop gak Pak Christian?" aku sambil melihat ke sekelilingku. Tidak nyaman dengan reaksi tubuhku terhadap Christian. Pengkhianat.


Matanya menatapku. "Panggil aku Chris"


"nggak. . ." aku sambil minum


"Clara. . . ." Christian membisikkannya lagi di telingaku


"apa..?"


"jangan takut panggil aku Chris"


Aku memutarkan mataku


"karna suatu hari nanti, kamu akan mengeluh eluhkan namaku" tambah Christian


Aku menyeringai, "apa kamu sering mengalami delusi?"


"aku hanya mengatakan." Christian mengangkat bahunya dengan santai, dan berbalik, berjalan meninggalkan Clara. Clara melihat Christian berjalan melewati kerumunan orang.


Nelson yang sudah mendekat dan memberikan minuman ke Clara. Clara melihat Pak Christian berbincang dengan beberapa wanita.


Wanita-wanita itu tersenyum dan tersenyum. Lalu Christian menatapku dengan matanya yang hitam dan perlahan Christian memberikan senyumannya yang manis dan seksi itu. Christian mengangkat gelasnya ke atas seolah-olah memberitahuku kalau permainan baru saja di mulai.


Aku menelan ludahku sendiri.


ya Tuhan. . . . Apa maksud dari ini semua ?

__ADS_1


__ADS_2