CEO DAN JANDA 2 ANAK

CEO DAN JANDA 2 ANAK
20


__ADS_3

Christian POV


"Jeandra, masuk ke rumah!" Clara berteriak sambil mendorongnya menjauh dariku.


Orang gila itu terengah-engah saat dia menatapku. "don't push me . . . Pretty boy." dia mengangkat underware itu ke atas dan aku melindungi kepala dengan tanganku dari serangannya lagi. Dan dia kemudian masuk ke dalam rumahnua dan menutup pintu dengan bantingan yang cukup keras.


Anaknya yang kedua pun ikut masuk ke dalam rumah. Clara dan si kecil itu berlutut di sampingku.


"Christian, maafkan aku." Clara berbisik. "dia berada dalam masalah sekarang, sehingga mungkin kamu tidak mempercayainya."


Netraku menatap Clara sambil terengah-engah. Apa sebenarnya yang baru saja terjadi saat ini?


Aku mencoba untuk berdiri dan pergelangan kakiku tidak kuat menopang tubuhku sehingga aku hampir saja terjatuh.


"ya Tuhan, kamu terluka." bisik Clara.


Aku menatapnya datar. "aku bertanya-tanya, mengapa?"


"karena abang Jean mencoba untuk memasukkan underware ke dalam mulutmu agar kamu tersedak," anak kecil itu berbicara. "tersedak sampai mat1" tambahnya.


"Cukup, Patrick." kata Clara ke Patrick.


Mereka berdua membantuku untuk berdiri dan pergelangan kakiku tidak bisa menopang tubuhku.


"ayo masuk ke dalam, dan biarkan aku ambil es batu." kata Clara


"yang benar saja Clara," aku membentak sambil menarik lenganku dari cengkramannya. "aku tidak akan masuk ke dalam rumah itu. Anak itu gila. Dia hampir saja membvnhku."


"dia punya masalah dengan amarahnya." anak kecil itu bicara lagi.


"Chris, ayolah. Kamu tidak bisa nyetir kemanapun seperti ini." Clara mendesak. Akhirnya akupun menaiki anak tangga, mereka berdua membantuku masuk dan menuntunku, dan aku duduk di sofa.


Clara memindahkan meja kecil itu ke arahku dan mengangkat kakiku. Kemudian Clara melepaskan sepatu dan kaus kakiku.


"apa yang dia lakukan di rumahku?" anak seperti hulk itu berbicara saat dia memasuki ruangan.


"dia tamu mommy. Pergilah ke kamarmu." Clara menggeram.


"tapi—"


"tolonglah mommymu Jeandra. Mommy belum pernah begitu marah sama kamu. Pergilah ke kamarmu sekarang!" Clara berteriak.

__ADS_1


Dia memberikanku tatapan maut untuk terakhir kalinya dan menaiki anak tangga.


"aku akan mengambil es batunya." kata Clara. "aku harus ambil di freezer yang ada di garasi. Aku akan segera kembali." Clara menghilang, anak bungsunya datang dan duduk disampingku. Sangat dekat sehingga hampir saja dia duduk di pangkuanku. Aku menjauh darinya.


Aku melihat sekeliling rumah dengan ketakutan. Televisi menayangkan acara permainan yang sangat keras. ada semacam proyek seni yang tergeletak di atas meja kopi. sangat berantakan dan kacau . . . Tidak seperti yang kuharapkan sama sekali. Rasa sakit menjalar ke pergelangan kakiku. Dan aku meringis kesakitan.


Seekor kucing melompat ke atas sofa. Kucing itu besar dan jelek, kucing itu menghampiriku dan mencoba untuk duduk di pangkuanku. Ewww. Aku menjauh dari kucing itu.


"Muff, turunlah." kata anak kecil itu.


aku menatap anak kecil itu. "kucing kamu namanya Muff?"


Dia tersenyum dan menganggukkan kepala nya dengan bangga. "dia nakal, dia suka mengencingi sesuatu."


Kucing itu melompat ke meja kecil dan mulai menjilati kaki ku. Aku menyentaknya. Ugh. Sakit.


Anak tengahnya menghampiri dan berdiri di depanku dan adiknya. "aku memperhatikanmu," dia berbisik. Dia mengiris lehernya dengan jarinya saat dia menyipitkan netranya.


Huh?


Astagaa. . . Clara membiakkan pembvnh berantai di sini.


"nama aku Patrick." kata si kecil.


"hai, Patrick." jawabku sambil mengawasi anak pembvnh berantai itu, dan aku memberi isyarat padanya. "siapa nama kamu?" tanyaku.


"mimpi burukmu." dia berbisik muram dengan suara monster.


Aku mengeryitkan dahi. . . . Ada masalah apa dengan anak ini? "nama yang bodoh sekali." jawabku berbisik.


"nama dia Harry" kata Patrick


"ya, baiklah, Harry itu psikotik," jawabku dengan mata terpaku pada Harry. aku menyentuh pelipisku. "weirdo." kataku tanpa suara.


mata harry berputar-putar dan meletakkan tangannya di sekitar lehernya sendiri dan mulai tersedak saat aku melihatnya. Dia mengeluarkan suara tersedak lalu jatuh ke lantai dan berpura-pura mat1.


What the . . .?


Aku menatap tubuh tak bernyawanya di lantai.


Aku bahkan tidak bercanda, anak ini sungguh gila.

__ADS_1


Clara bergegas masuk dari ruangan di belakang. "ya Tuhan, Chris. Aku tidak punya es, jadi kamu harus menggunakam sebungkus kacang polong beku ini."


Clara meletakkan bungkusan itu di kakiku. Pergelangan kakiku saat ini sebesar bola dan berdenyut-denyut.


"bangunlah, Harry." kata Clara sambil merawatku. Harry bangkit dan berlari keluar ruangan, dan aku menatapnya. Aku tidak percaya pada anak itu. Ada sesuatu yang tidak beres disini.


Aku harus menjaga akal sehatku di rumah ini. . . Waktu akhir sudah dekat.


Ujung dari bungkus kacang ini terbuka, dan kacang itu berjatuhan di lantai. Seekor anjing berlari memasuki ruangan dengan E collar (elizabethan collar atau corong) dan mulai memakan kacang polong beku di lantai.


aku mengerutkan kening saat aku menatapnya ketakutan.


Tempat terkutuk apa ini?


savages . . .


Anak tengah — siapa namanya, Harry? — kembali ke ruangan dengan sesuatu tampak seperti tali dan boneka beruang. Dia duduk di hadapanku, dan aku mengerutkan kening saat melihatnya. Apa yang dia lakukan sekarang?


"aku akan mengantarmu pulang, Chris." kata Clara


Netraku tertuju pada anak tengahnya itu. Dia mengikatkan tali di leher boneka beruang itu.


"kamu harus meninggalkan mobilmu disini." lanjut Clara.


anak itu berdiri di atas sofa di hadapanku dan membiarkan boneka beruang itu terjatuh. Itu tergantung pada jeratnya. "lehernya patah. . . Dia sudah mati." bisiknya


Keluar dari sini. . . Keluar. . . Keluar dari rumah ini.


aku berdiri dengan tergesa dan tersandung seekor anjing yang sedang makan kacang polong. "fvck," aku meringis kesakitan.


"Christian, kamu tidak bisa mengendarai mobil seperti ini." Clara terkesiap.


"well... Aku tidak akan tinggal disini." aku tergagap. Aku berjalan menuju pintu depan dan melihat sekeliling untuk terakhir kalinya.


Aku tidak pernah tahu seperti apa neraka itu.


Sekarang aku tahu


"Christian, kembalilah."


Aku berjalan menuju halaman rumah. "selamat tinggal, Clara." kataku. Senang bisa mengenalmu.

__ADS_1


__ADS_2