
Waktu sudah sangat larut, dan menunjukkan sudah jam dua pagi. Aku ga tau kenapa aku masih ada disini.
Aku melihat orang-orang di sekelilingku. ada ratusan orang yang mengikuti konferensi motivasi juga masih ada di bar ini. Mereka saling bertukar cerita, tertawa dan bersenang-senang. Sesekali ku melihat-lihat sekitar dan kemudian mataku tertuju pada Christian Miles.
Christian Miles yang selalu memperhatikan aku sepanjang malam.
Tatapan Christian selalu membuatku merasa hangat . . . Ah apa sih yang aku pikirkan Clara.
Aku membiarkan pikiran ku mengembara sejenak. Apa rasanya jika aku berhubungan dengan pria seperti dia? mengetahui bahwa sama sekali tidak ada peluang esok harinya?
sudah lama sekali rasanya aku memikirkan seperti itu..
memiliki hubungan dengan pria lain belum terlintas dipikiranku sejak Ryan meninggal.
bulan depan menginjak tahun yang ke lima sejak Ryan meninggal.
Aku berumur 30 tahun ketika Ryan meninggal.
Ketika Ryan meninggal, rasanya separuh jiwaku juga ikut bersamanya.
Ryan dan aku kenal ketika kami sama-sama kuliah. Kemudian kami menikah dan memiliki 2 anak laki-laki. Umur Ryan 3 tahun lebih tua dari aku.
Mengingat kenangan bersama Ryan membuat hati ini sedih lagi. Aku merindukannya. Bukan hanya rindu orangnya, tapi merindukan segala sesuatu yang kita lakukan bersama-sama.
Ah, mungkin aku terlalu banyak minum sehingga memikirkan masa lalu. aku berhenti minum dan kembali ke kamar hotel.
Ketika aku berjalan menuju pintu keluar, aku melihat Christian sedang berbincang dengan beberapa wanita. Christian melihatku berjalan, dia pun menghampiriku. "Clara.."
Aku ga mungkin berkata kasar di depan wanita-wanita ini.. "hai.."
"kamu sudah siap?" tanya Christian
Aku melihatnya dengan kebingungan "hah?"
"ituuu..." Christian melebarkan matanya membuat isyarat kepadaku "untuk belajar"
__ADS_1
"oh . ." aku mengerutkan dahiku. Christian pasti ingin pergi dari wanita-wanita ini. "iya, tentu saja aku sudah siap."
"ayo kita pergi" kata Christian sambil menunjuk ke pintu
"Tapii..." kata salah satu wanita
"maaf ya, lain kali saja .." sambung Christian
Aku dan Christian berjalan keluar ke lobi dan menuju pintu lift
"makasih yaa.." Christian menghela nafasnya
Aku memalingkan mataku "aku bukan kambing hitammu, Pak Christian.."
"aku tahu itu.." Christian menggandeng tangannya dengan tanganku. "kita akan benar-benar pergi untuk belajar. Bukannya sudah ku beri tahu ke kamu?"
"apakah kamu melakukan hal yang genit seperti ini selalu berhasil?" tanya aku ketika pintu lift terbuka dan kita memasuki liftnya.
Christian tersenyum dan pintu lift pun tertutup. "selalu.."
"Kita akan minum kopi atau champagne?" tanya Christian
"Minum Teh." jawabku
"Teh?" mengerutkan hidungnya dengan jijik "kayak yang tua tua aja deh minum teh"
"iyaa, yang seperti itu..." jawabku
"oh . . ." pintu lift pun terbuka, dan akupun keluar dari lift. Begitupun dengan Christian. Kita jalan melewati koridor. Dimana kamar Christian sih? dia ga berpikir untuk ikut denganku kan?
"aku rasa, aku akan mencobanya untuk sekali ini saja."
"coba apa?" tanya Clara
"Teh..." jawab Christian
__ADS_1
"Kamu ga akan ikut denganku" ejekku
Wajah Christian berubah menjadi sedih. "yah, kenapa?"
"karna aku bukan wanita yang seperti itu, karna aku terlalu tua untukmu, dan karna ..." aku terdiam untuk menentukan kalimat yang akan kuucapkan selanjutnya. "aku telah berjanji untuk membencimu selamanya"
kita telah sampai di pintu kamar hotelku "ini kamar aku.."
Christian memasukkan kedua tangannya ke masing-masing kantong celananya.. "ayolah Clara; ini teh" Christian memberikan senyuman "nakal"nya. "bukan berarti aku akan menidurimu sampai minggu depan atau apapun"
Clara masih terdiam mendengar pernyataan yang keluar dari mulur Christian itu. Clara tidak terbiasa dengan pria yang vulgar.
lima tahun adalah waktu yang cukup lama untuk tidak berhubungan badan dengan orang lain.
Akupun merasakan sesuatu yang terbangun dari dalam diriku.
Christian mencondongkan badannya dan membisikkan ke telingaku "aku mau mengakui sesuatu"
Aku memejamkan mata. Ini situasi yang berbahaya, bersama pria yang berbahaya
"aku selalu memikirkanmu" kata Christian
suaranya yang berat dan pelan di leherku mulai mengirimkan gelombang gelombang yang bisa membuatku terkejut ke seluruh sistem tubuh ini.
"kenapa begitu?" bisikku, aku gatau kenapa aku tanya christian seperti itu, padahal aku sudah tau jawabannya
Christian mendekatkan pinggulnya ke arah ku dan akupun disudutkan ke dinding. Aku bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang tegang dan keras serta siap.
Oh tidak, baru begini saja rasanya sudah enak..
Pintu lift kembali terbuka, dan Nelson pun keluar dari sana.
Akupun langsung mejauh dari Christian dan membuka pintu kamar "Malam pak Christian"
"Malam .." jawab Christian
__ADS_1