
"Aku anter kamu ke kampus, kantor aku searah sama kampus kamu," ujar Aldo sembari memerhatikan Atena yang tengah bersiap di meja rias.
"Gak telat mas?" tanya Atena.
"Enggak, lagian aku bos bebas mau ngapain aja," jawab Aldo dengan angkuh.
Selain sifatnya yang pemaksa dan juga posesif, Aldo juga narsis dan jumawa yang bisa membuat Atena geleng-geleng kepala.
"Gak boleh gitu tahu mas, kamu harus mencontoh yang baik buat karyawan kamu," ucap Atena.
Aldo mendengus kasar, kenapa tidak boleh datang telat. Itukan kantor miliknya, jadi sah-sah saja jika ia datang terlambat. Toh, tidak akan yang berani memecatnya.
"Udahlah kamu nurut aja, bawel banget sih." Ketus Aldo, kemudian meninggalkan Atena yang mematung di tempatnya.
Bisa-bisanya Aldo emosi hanya karena Atena tegur begitu. Dasar sumbu pendek dan apa-apa mengandalkan emosi dan juga ego. Untung saja Atena sabar menghadapi sifat tidak jelas Aldo.
"ANA CEPET!" teriak Aldo menggelegar dan suaranya memenuhi apartemen pria itu.
Mengusap dada dan menarik nafas dengan dalam, menghadapi Aldo mode tantrum memang menguras tenaga. Sifat pria itu yang susah ditebak membuat Atena kadang kebingungan sendiri menghadapinya, selalu serba salah.
Kadang membuat Atena jengah itu ketika dia harus mengikuti kemauan Aldo tanpa bisa ditolak. Apapun yang keluar dari mulut Aldo artinya mutlak dan sudah paten tidak bisa dirubah dan dibantah.
"Ana ayok!" Tiba-tiba saja kepala Aldo muncul dibalik pintu. Dengan suara setengah merengek sungguh tidak cocok dengan perawakan yang tegap dan wajah dinginnya.
Atena terkekeh sembari menghampiri Aldo, kemudian menggandeng tangan Aldo dengan posesif. "Iya sayang, mukanya jangan kesel gitu," ujar Atena yang hanya dibalas deheman oleh Aldo.
Tangan besar Aldo merangkul bahu Atena dengan posesif, seolah memberitahu kepada siapapun yang melihat mereka bahwa Atena miliknya.
----------------
"Kiss dulu, Na." Aldo menyodorkan wajahnya kehadapan Atena.
Menatap Aldo dengan jengah. Selalu ada saja pikiran mesumnya disetiap kesempatan. Padahal hari sudah mulai siang, takutnya mereka berdua kesiangan. Atena tahu betul bahwa Aldo tak mungkin hanya mengecupnya saja.
"Mas, nanti telat," ucap Atena menolak permintaan Aldo secara tidak langsung.
__ADS_1
"Sebentar doang! Kok, kamu pelit, sih!?" kesal Aldo karena Atena yang menolak menciumnya.
Perempuan dengan rambut panjang itu menggeleng pelan. "Kamu itu gak mungkin sebentar, pasti ujung-ujungnya lama dan kemana-mana," jawab Atena.
"Enggak, Na. Beneran deh sekarang cuman kecup aja, biar aku semangat kerjanya." Aldo sedikit memaksa Atena.
Dengan cepat Atena mengecup bibir Aldo. "Udah! Gak usah minta lebih, aku juga udah hampir telat."
Aldo tersenyum lebar, "oke, gak masalah Ana sayangku, yang penting aku dapet vitamin barusan," jawab Aldo tersenyum bodoh.
"Udah, ya, mas. Aku pamit, kamu hati-hati di jalan, jangan ngebut-ngebut jalan ke kantornya," ucap Atena sebelum keluar dari mobil Aldo.
Aldo mengusap rambut Atena dengan sayang, "kamu jangan genit-genit sama cowok, terus sama dosen muda jangan terlalu deket juga. Inget kalau kamu udah punya calon suami!" tegas Aldo yang diangguki Atena.
"Aku pamit, bye!" Atena membuka pintu mobil, kemudian melambaikan tangannya kepada Aldo.
Aldo membalas dengan senyuman, kemudian membalas melambaikan tangan juga. Pria itu belum melajukan mobilnya, Aldo masih mengawasi Atena yang perlahan sudah memasuki area kampus. Sebelum benar-benar Atena menghilang, Aldo masih diam di tempat.
Setelah beberapa menit kemudian, Atena sudah benar-benar hilang dari pandangan Aldo. Pria itu kemudian langsung mengambil handphone miliknya, mengetik satu nama kemudian menghubungi orang tersebut.
"Siapkan semuanya, dan harus sudah selesai sebelum saya sampai. Dan satu lagi, siapkan satu orang untuk kekasihku," ucap Aldo dengan wajah dan suara datarnya, kemudian ia mematikan sambungan secara sepihak.
Sebenarnya bukan tanpa sebab bahwa Aldo tiba-tiba saja berubah lebih manja dan tidak seperti biasanya. Itu semua Aldo lakukan agar bisa mengelabui Atena. Bukan karena ia tak bisa terbuka kepada Atena, hanya saja Aldo terlalu takut jika sang kekasih pergi dan meninggalkan dirinya. Sehingga Aldo berusaha menutup dengan rapat apa yang sedang menganggu pikirannya.
"Maaf sayang, ini semua demi kita berdua." Aldo kemudian melanjutkan mobilnya meninggalkan halaman kampus Atena.
----------------
"B*J*NGAN!" teriak seorang pria yang terduduk di kursi dan berasa di tengah-tengah ruangan yang gelap.
"LEPASKAN!" pria iru terus memberontak dan berteriak.
Beberapa pria bertubuh besar yang ada di ruangan itu seolah menulikan pendengaran mereka. Sebelum ada instruksi dari sang atasan, mereka tidak berani melakukan apapun.
"Heh! Apa kalian tuli!? Cepat lepaskan aku! Aku tidak ada urusan dengan kalian semua!" teriak pria itu sambil terus memberontak dan berusaha melepaskan ikatannya.
__ADS_1
Salah satu pria bertubuh kekar yang merasa jengah langsung membentak pria tersebut. "BERISIK! ANDA MENCARI MASALAH DAN MENGUSIK KETENANGAN BOS KAMI!"
Pria yang terikat itu langsung diam dan tak bersuara lagi. Tubuhnya sedikit bergetar, apalagi melihat wajah menyeramkan itu membentaknya tepat dihadapan wajahnya.
Hening cukup lama, dan tiba-tiba terdengar suara pintu di dobrak. Kemudian sosok pria dengan setelan rapih kantoran berjalan angkuh dengan wajahnya yang terlihat menahan amarah. Matanya juga yang terlihat menajam dengan rahang yang mengeras.
"Br*ngs*k!" satu pukulan melayang diwajah pria yang sedang terikat itu.
"SEMUA KELUAR! BIAR SAYA YANG MEMBERIKAN PELAJARAN KEPADA PRIA S*ALAN INI!"
"Baik, bos!" ucap semua bodyguard secara serempak. Kemudian mereka keluar dan hanya menyisakan dua pria ditengah-tengah ruangan remang-remang itu.
"Aldo, right!?" tanya pria dengan wajah membiru itu dengan senyum miringnya.
"Tutup mulutmu s*alan!" maki Aldo yang sudah tidak tahan lagi melihat pria yang akhir-akhir ini mengganggu ketenangannya.
"Hahaha, hanya karena sosok perempuan anda jadi brutal seperti ini!?" ledeknya semakin memancing Aldo.
Tanpa basa-basi Aldo langsung meninju wajah menyebalkan wajah di depannya. "Tutup mulutmu! Atas dasar apa membuntuti pacar saya!?" tanya Aldo dengan napas memburu.
"Hanya ingin," jawabnya singkat membuat Aldo benar-benar hilang kendali.
"Siapa yang menyuruhmu!?" tanya Aldo berusaha menekan emosinya.
"Harus saya jawab!? Anda bukan siapa-siapa yanh membuat saya mengharuskan menjawab pertanyaan anda," jawabnya tanpa rasa takut.
Aldo menyeringai mendengar jawaban pria di hadapannya. Satu tangannya meraba saku celana bagian belakangnya, kemudian mengeluarkan pisau kecil namun runcing itu. "Oke, tidak masalah. Mari bersenang-senang saja," ucap Aldo dengan seringai di bibirnya.
Sosok ini, sosok yang tidak pernah Aldo perlihatkan di depan sang kekasih. Sosok yang berusaha ia sembunyikan agar Atena tidak merasa takut dan juga terancam karena melihat sosok Aldo yang lebih gila dan menyeramkan.
"Ja-ngan," ucap pria di hadapan Aldo dengan terbata-bata.
"Anda bukan siapa-siapa yang membuat saya mengharuskan menuruti permintaan anda," ujar Aldo membalikkan ucapan pria tersebut.
"Mari kita lukis mulai dari kaki s*alan ini," ujar Aldo membuat pria dihadapannya ketakutan.
__ADS_1
"lets play," ucap Aldo.
"ARGH SAKIT!"