
Sinar mengintip melalui celah jendela tak membuat Aldo terusik dari bangunnya. Pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya. Menduselkan kepalanya dan berusaha mencari posisi ternyaman.
"Na, sayang," lirih Aldo dengan mata tertutup.
Tangan Aldo meraba-raba kasur sebelahnya. Tetapi merasa tidak ada siapapun di sampingnya, perlahan kedua matanya terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk.
"Na!?" panggil Aldo dengan keras ketika menyadari bahwa Atena tidak ada di sampingnya.
"Ini dia kemana, sih!? Kok pergi sebelum gue bangun!?" kesal Aldo.
Mata yang tadinya setengah mengantuk berubah menjadi segar ketika menyadari bahwa kekasihnya tidak ada di kamar. "Ana kemana, sih!? Apa dia masak?" gumam Aldo.
Dengan tubuh atas tanpa baju Aldo berjalan menuju dapur yang ada di apartemen Atena. Matanya menyusuri seluruh ruangan apartemen, namun hasilnya nihil. Tidak ada siapapun disana.
Dengan wajah ditekuk Aldo berjalan menuju dapur, dan ada sticky note tertempel di pintu kulkas. Dan di sana tertulis pesan bahwa Atena ada kelas pagi dan tidak tega membangunkan Aldo yang tertidur begitu lelap.
"Aish! Gue maunya makan disuapin, bukan cuman disediain aja. Mana dia pergi sebelum gue bangun!" ujar Aldo terus mendumel.
"Awas aja nanti hukuman pasti menanti," ujar Aldo dengan bibir tersungging.
...----------------...
"Ca, aku duluan, ya." Atena terlihat terburu-buru merapihkan barang miliknya.
Alica menaikan sebelah alisnya, memandang Atena yang terlihat begitu terburu-buru. "Kenapa, sih, Ate? Lo mau kemana sampe buru-buru gitu? Baru juga selesai kelas," ujar Alica memandang heran Antena.
"Bayi besar aku ngamuk, tadi pagi aku pergi sebelum dia bangun," jawab Atena.
Alica hanya menganggukkan kepalanya saja, tanda bahwa perempuan itu paham. "Punya pacar posesif banget," celetuk Alica.
Atena mendelik, "biarin, yang penting kaya raya!" jawabnya asal. "Udah, ah, aku pulang duluan. Takutnya nambah lama, dia nambah ngamuk."
"Dadah!" Ujar Atena sembari melambaikan tangannya.
"Hati-hati di terkam, Ate!" teriak Alica yang tak dihiraukan Atena.
__ADS_1
Atena sebenarnya mendengar ledekan Alica, tetapi ia tak mau menimpali takutnya semakin telat datang ke kantor Aldo dan semakin membuat pria itu benar-benar marah besar seperti beberapa waktu lalu.
Langkah kaki Atena begitu tergesa-gesa, sampai-sampai ia tidak memerhatikan sekitarnya dan fokusnya hanya kepada Aldo saja yang sekarang sudah meneror dirinya dengan puluhan pesan dan juga telfon.
Ketika Atena fokus dengan handphone miliknya, tanpa sadar ia menabrak seseorang. "Awsh!" pekik Atena merasakan sakit di keningnya.
"Maaf, aku buru-buru jadi gak liat sekitar." Atena menundukkan kepalanya.
Pria itu tersenyum kecil, "gak apa-apa. Lain kali hati-hati," ucapnya dengan lembut bahkan tidak terselip nada marah.
Atena memandang sejenak, kemudian kembali menundukkan kepalanya sembari beberapakali meminta maaf.
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Santai aja," jawab pria itu masih dengan bibir yang tersungging manis.
Atena terpaku sejenak melihat senyuman pria di depannya, tetapi dering telfonnya menyadarkan diri Atena bahwa masih ada Aldo yang notabene sebagai kekasihnya. Meskipun jarang berlaku lembut, tapi pria itu sangatlah tulus mencintainya.
"Maaf aku ada urusan, sekali lagi aku minta maaf," ucap Atena sembari menunduk, kemudian berjalan menjauh sembari sesekali berlari-lari kecil.
...----------------...
Atena berjalan dengan tergesa-gesa di lorong kantor menuju ruang kerja Aldo. Untungnya Atena melihat sekertaris Aldo yang ada di tempat kerjanya.
"Mbak!" pekik Atena dengan napas terengah-engah.
Sekertaris Aldo terlihat sedikit panik, "Loh, Ibu Atena kenapa lari-lari gitu?"
Atena menggeleng pelan sembari berusaha menormalkan napasnya. "Mas Aldo ada, kan?"
Sekertaris Aldo mengangguk, "langsung masuk aja, Bu. Kayanya Pak Aldo emang lagi nunggu Bu Atena, deh. Soalnya dia titip pesan jangan suruh siapapun masuk kecuali ibu," jawba sekertaris Aldo yang diangguki Atena.
"Makasih, Mbak. Aku masuk ke dalem dulu, ya," ujar Atena dengan ramah.
Perlahan Atena melangkah menuju pintu ruangan Aldo. Mengetuk pintu beberapa kali tetapi tidak ada sahutan dari dalam, dengan insiatif sendiri Atena langsung masuk tanpa menunggu instruksi Aldo.
__ADS_1
Baru saja menutup pintu, Atena langsung disajikan dengan tatapan maut Aldo. Pria itu duduk di kursi kebesarannya dengan kedua tangan terlipat di dada, matanya menyorot tajam kearah Atena.
"Mas?" panggil Atena begitu mendayu lembut.
Aldo mati-matian tidak luluh hanya karena panggilan lembut dari sang kekasih. Karena mau bagaimanapun Aldo masih kesal dengan sikap Atena yang begitu saja meninggalkan dirinya tadi pagi.
"Mau apa? Saya sudah tidak penting lagi, kan!?" tanya Aldo merubah cara bicaranya menjadi lebih formal.
Atena menelan ludahnya dengan susah payah. Jika Aldo mode serius dan dengan bahasa yang formal, membuat jiwa Atena terguncang. Kenapa pula kekasihnya marah hanya ia tinggalkan dalam keadaan tidur.
"Mas Aldo selalu penting," jawab Atena memberanikan diri. Dengan perlahan dia berjalan menuju Aldo.
Dengan memberanikan diri, Atena langsung duduk dipangkuan Aldo tanpa peduli pria itu sedang marah atau tidak. "Kan tadi aku di telfon terus juga sama mas, kenapa pas udah sampe kantor aku malah di ketusin?" tanya Atena dengan lembut. Tangannya membelai wajah sang kekasih.
"Hm," jawab Aldo. Pria itu hanya berdehem singkat dan tidak ada niatan menjawab pertanyaan Atena.
"Aku akuin kalau tadi pagi aku salah, ninggalin mas yang masih tidur. Tapi, aku udah siapin sarapan sama note juga, kan?"
Aldo mendengus kesal, "bukan masalah sarapannya. Kamu paham gak, sih!?" ucapnya dengan nada menyolot.
.Atena terkekeh kecil, ia melupakan jika Aldo sedang mode manja itu harus disuapi. Selain itu, ketika bangun tidur harus memeluk Atena terlebih dahulu dan icip-icip bibir sedikit. Sudah dipastikan hati dan jiwa Aldo sedang dongkol.
"Oke, aku paham kesalahan aku banyak. Pertama, pas bangun tidur gak ada aku dan mas gabisa meluk terus icip-icip bibir. Kedua, mas gak ada yang pasangin dasi, terus sarapan gak aku suapin. Apalagi kesalahan aku?" ucap Atena menyebutkan satu-persatu kesalahannya.
"Itu kamu paham, tapi kenapa malah ninggalin aku, hm?" tanya Aldo dengan wajah ketusnya.
Sebenarnya jika mode manja seperti ini Atena tidak terlalu takut, justru ia jadi gemas sendiri karena Aldo menurunkan egonya dan tidak gengsi lagi.
"Oke, aku paham. Maksud aku tuh kegiatan pagi tadi yang aku lewatin kan bisa di lakuin siang mas. Terus selain icip-icip bibir yang kelewat itu mas bisa icip yang lain lagi. Gamau emang?"
Bibir Aldo langsung tersungging, menyeringai sembari menatap aset kesayangannya. "Jelas aku gak akan nolak. Meskipun kamu gak ngasih bakalan aku minta, itu buat hukuman!" jawab Aldo.
"Iya, Mas." Atena mengelus wajah Aldo. Perlahan tubuhnya lebih condong kearah Aldo, kemudian membisikkan sesuatu yang langsung membuat Aldo menyeringai lebar. "Aku gapake daleman, loh," bisik Atena.
Aldo menepuk kemudian meremas bokong Atena membuat sang empus sedikit mendesah. "Makin nakal aja!" ujar Aldo dengan semangat.
__ADS_1