
Kegiatan panas yang mereka berdua lakukan tadi begitu membekas dibenak Atena. Apalagi dengan gagahnya Aldo mengajaknya melambung tinggi.
Atena merasakan desiran hangat menyentuh hatinya. Ia tahu kegiatan mereka tadi adalah salah, namun semua cumbuan Aldo di tubuhnya benar-benar candu.
Teringat akan satu hal membuat Atena menegang. "Mas?"
Aldo membuka sedikit matanya, karena kelelahan akibat kegiatannya bersama Atena. "Kenapa sayang? Kalau mau bahas tentang aku nanti aja, oke? Aku lagi butuh istirahat, sekaligus butuh pelukan kamu buat tidur tenang. Akhir-akhir ini aku gak bisa tidur," ujar Aldo sembari menyembunyikan wajahnya diceruk leher Atena.
Atena terdiam beberapa saat. Ternyata Aldo sebegitu terpuruknya karena dirinya yang egois dan pergi meninggalkan kekasihnya itu. "Bukan itu mas. Aku takut," lirih Atena.
Langsung membuka matanya, menatap Atena dengan dalam. "Takut kenapa sayang? Ada yang buat kamu gak nyaman lagi, hm?" Atena menggeleng.
"Tadi kamu keluar di dalem, mas. Kalau aku hamil gimana?" tanya Atena dengan mata penuh ketakutan.
Aldo menghela napasnya merasa tenang. Ia kira Atena takut karena ada seseorang yang mengganggunya selama berjauhan dengan Aldo. Ternyata kekasihnya itu takut hamil karena Aldo mengeluarkan di dalam ketika mereka melakukan kegiatan panasnya tadi.
Padahal itu memang niat Aldo. Jika Atena hamil mau tidak mau mereka harus menikah, dan Aldo tak perlu berusaha keras lagi untuk membujuk kekasihnya itu. "Aku pasti tanggung jawab sayang," ujar Aldo lembut, kemudian membelai rambut kekasihnya dengan sayang. "Lagipula kita bakalan nikah sebentar lagi sayang," ujar Aldo lagi dengan tangannya yang sekarang memeluk tubuh polos Atena.
__ADS_1
"Aku gak mau. Sebelum kamu jujur semuanya sama aku!" Atena berujar dengan nada tegas. Kali ini ia harus bisa membuat Aldo mau bercerita kepada.
"Oke. Tapi kita istirahat dulu sekarang, kecuali kalau kamu mau nambah ronde lahi berarti kita gaperlu istirahat," ujar Aldo yang langsung dihadiahi cubitan Atena.
"Istirahat! Kamu kebiasaan mas, menyelesaikan masalah dan meluluhkan aku pasti dengan cara kaya gini!" ujar Atena karena sebal dengan tingkah Aldo yang selalu mempunyai cara untuk meluluhkan dirinya.
"Itu salah satu hukuman yang paling nikmat sayang," ujar Aldo.
Tidak lama setelah percakapan mereka berdua selesai, Atena terlelap dalam tidurnya. Tubuhnya benar-benar kaku dan juga terasa remuk. Aldo benar-benar seperti orang kesetanan ketika menggagahi dirinya.
"Setelah ini, aku akan semakin menggila," lirih Aldo, kemudian mengecup bibir bengkak Atena.
"Sini aku keringkan rambut kamu," ujar Aldo ketika melihat Atena yang sedang berkaca di meja riasnya.
Dengan telaten Aldo mengeringkan rambut kekasihnya, sesekali ia hadiahi kecupan sayang dan juga penuh cinta.
Merasa ini adalah momen yang paling pas untuk membahas semua benang merah diantara keduanya, Atena akhirnya membuka suara. "Jadi, apa yang kamu mau jelasin?"
__ADS_1
Aldo sejenak menghentikan kegiatannya, berdehem sebentar berusaha mengendalikan dirinya agar bisa menjelaskan semuanya tanpa terkecuali kepada sang kekasih.
"Tapi kamu harus janji bakalan tetap sama aku, oke?"
Atena mengangguk, "iya, mas."
"Sebenarnya kemarin pas kamu mencium bau darah ditubuh aku dan juga seharian itu aku gak ada kabar, itu karena aku menghabisi orang yang mata-matain kamu, sayang."
Atena mendengarkan pernyataan Aldo dengan seksama. Sebenarnya merasa bingung apa maksud dari kekasihnya itu. "Maksud kamu?"
"Aku sekap dia, aku pukul dia, aku habisi dia karena gak mau mengakui siapa yang menyuruh dia. Dan yang menjadi point utamanya bukan itu. Aku meny*yat beberapa bagian tubuh dia, sayang." Aldo berbicara dengan setengah berbisik, tepat di telinga Atena.
"Dan kamu tahu, hm? Jiwa yang selama ini aku pendam dan aku tahan mati-matian ternyata terpancing lagi karena ada seseorang yang berusaha menyentuh harta berharga aku," ujar Aldo membuat tubuh Atena menegang.
Atena menoleh dengan sedikit takut, "maksud kamu?"
Aldo tersenyum manis tapi malah terlihat menyeramkan. "Aku suka bau darah, apalagi merasa senang ketika melihat luka di tubuh seseorang," ujar Aldo membuat wajah Atena berubah menjadi pucat pasi.
__ADS_1
"MAS!?" Atena menjerit dengan tangisan yang menggema.