CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif

CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif
flashback (2)


__ADS_3

Suara dering telpon memenuhi seisi rumah Kardi. Malam itu, keluarga kecil Kardi dan juga Aldo sedang berkumpul untuk makan malam. Seharusnya makan malam yang khidmat itu bisa dilaksanakan dengan lancar, tetapi suara dari dering telpon membuat Kardi nerasa terganggu.


"Angkat aja, siapa tahu penting," ujar istri Kardi.


Sedangkan dua anak laki-laki di hadapan mereka tengah menikmati santapan malam, dengan sesekali diselingi oleh candaan. Kedua anak itu seolah menghiraukan sosok dewasa di depan mereka.


"Hallo," ucap Kardi ketika pertama kali sambungan terhubung.


"APA!?" pekik Kardi tiba-tiba, membuat semua orang yang ada disana menoleh kearahnya.


"Rumah eyang kebakaran?" tanya Kardi cukup kencang tanpa sadar. Rasa panik dan takut menyelimuti pria itu.


Mendengar apa yang diucapkan Kardi, sendok yang digenggam Aldo terjatuh begitu saja. Suara dentingan itu membuat Kardi menoleh, kemudian menatap anak laki-laki yang menatap kosong kearahnya.


Kardi lupa, jika ada Aldo di rumahnya. Kardi yang notabenenya hanya pegawai saja sudah cukup terluka dan teramat sedih. Bagaimana dengan nasib anak itu.


"Om?" panggil Aldo lirih denfan suara bergetar. Tidak lama dari itu tangisan menggema mengisi rumah Kardi.


Firman yang duduk di sebelah Aldo memeluk tubuh sahabatnya dengan erat, pun dengan ibunya ikut bergabung memeluk tubuh Aldo yang bergetar hebat dengan suara tangisan yang begitu mengggema.


"MOMMY! DADDY! KAKEK-NENEK! EYANG SAMA YANG LAINNYA DISANA OM!" teriak Aldo dengan suaranya yang bergetar.


"Aku mau pulang! Aku mau liat mereka!" Aldo memberontak dari pelukan Firman dan ibunya.


"Mereka masih ada, kan, Om? Mereka gak mungkin ninggalin aku, kan Om?" tanya Aldo dengan tatapan kosongnya, tetapi air mata terus mengalir begitu saja.

__ADS_1


Kardi pun ikut menangis tersedu-sedu. Setelah sambungan telpon terputus, tubuh Kardi berubah menjadi lebih lunglai. Mendengar kabar dari tetangga eyang disana, membuat tubuh Kardi tak kuasa menahan untuk berdiri.


"OM JAWAB AKU!" teriak Aldo dengan suara lantangnya.


"Sayang, tenangin diri kamu, ya, nak," ucao istri Kardi, kembali memeluk tubuh Aldo.


Kardi menatap Aldo dengan prihatin, kemudian dengan susah payah ia berusaha menjawab pertanyaan dari cucu majikannya.


"Semuanya ...."


"Sudah tidak ada," jawab Kardi dengan suara pelan dan bergetar menahan tangisan.


"BOHONG! OM BOHONG SAMA AKU!" teriak Aldo terus menerus memberontak.


"Aku gimana Om, aku sendirian. Kenapa mereka jahat gak ajak aku pergi ...." lirih Aldo masih dengan isak tangisnya.


Firman ikut menangis, kemudian memeluk tubuh sahabatnya dengan erat. "Aku ada disini, Do. Kamu jangan merasa sendiri," ujar Firman berusaha menguatkan Aldo.


"Aku mau pulang, Om. Aku mau lihat mereka, siapa tahu mereka masih ada," ujar Akdo begitu yakin dengan pendiriannya.


Kardi menggeleng lemah. "Semuanya sudah tidak ada Aldo. Pintu gerbang dan seluruh pintu di rumah eyang tiba-tiba terkunci semuanya, membuat semua yang ada di dalam rumah kesulitan untuk keluar sampai pada akhirnya mereka tidak tahan dengan kobaran api dan juga asap. Petugas pemadam kebakaran sudah berusaha meredamkan api, tetapi mereka sedikit terlambat. Api memang sudah padam, tetapi semua orang di dalam rumah eyang sudah tidak bernyawa karena kehabisan nafas dan juga afa beberapa yang terbakar. Karena api yang membakar rumah eyang benar-benar begitu besar. Itulah informasi yang Om Kardi dapat dari tetangga eyang disana," ujar Kardi dengan tegar menjelaskan kepada Aldo.


Dipelukan Firman, Aldo terus menangis mendengar penjelasan Kardi. Kenapa bisa terjadi kebakaran di rumah eyangnya, kenapa kejadiannya begitu sangat tepat ketika semua orang berkumpul.


"Alasan kebakarannya karena apa, Yah?" tanya sang istri yang mulai penasaran.

__ADS_1


Kardi menggeleng lemah, "aku kira ini memang sudah direncanakan. Tetapi, menurut pernyataan polisi, kebakaran disebabkan kosleting listrik. Tapi, aku yakin ini tidak sesederhana itu. Apalagi tiba-tiba semua ointu terkunci, membuat semua orang sulit untuk keluar dan menyelamatkan diri."


Aldo mendengar itu semakin terisak. Ia kehilangan seluruh keluarganya, dan kini ia harus sendirian tanoa ada ibu dan ayah, serta anggota keluarganya yang lain untuk membantunya berjuang melawan kerasnya kehidupan.


"Om, aku mohon anter aku pulang," lirih Aldo.


...----------------...


Seluruh anggota keluarga dimakamkan ditempat yang sama. Satu persatu para pelayat sudah perlahan pergi meninggalkan pemakaman. Menyisakan Aldo dan juga keluarga Kardi.


Ternyata bukan hanya keluarga Aldo saja yang menjadi korban kebakaran hebat di rumah eyang. Ada beberapa pegawai eyang dan juga pegawai saudara-saudara Aldo yang lain yang berada disana ikut menjadi korban. Dan juga satu-satunya pegawai eyang yang selamat hanyalah Kardi.


Anak laki-laki dengan pakaian serba hitam, dengan tatapan kosongnya menatap hamparan pemakaman yang tanahnya masih berwarna merah. Ia sudah tidak menangis, tetapi raut wajah begitu menggambarkan bagaimana terlukanya dirinya itu.


Raganya mungkin tidak ikut bersama keluarganya, tetapi jiwanya perlahan menghilang karena rasa sakit yang begitu dahsyat menghantamkan.


Matanya memindai dua makam yang bersebelahan, kedua tangannya mengepal dengan kuat. "Mom, Dad, tunggu aku besar. Akan aku balaskan siapapun yang sudah merusak kebahagiaanku dan membuat semua anggota keluargaku pergi." Aldo mengeraskan rahangnya, matanya memerah menahan sesak.


"Nak Aldo masih punya tante sayang, jangan merasa sendiri, ya?" ibu Firman mengusap kepala Aldo.


"Aldo, ayo ikut aku pulang. Jangan merasa sendiri, aku masih ada begitu pula keluarga aku." Firman menggiring Aldo untuk meninggalkan area pemakaman, diikuti oleh ibu Firman yang sedadi tadi senantiasa berada dibelakang Aldo.


Sedangkan Kardi, pria itu masih terdiam di depan pusaran eyang. Matanya memerah dan napasnya tercekat. Kemudian ia berujar sangat pelan, "saya tahu siapa dalangnya. Akan saya pastikan dia menerima ganjarannya."


"Jangan khawatir soal Aldo, saya akan menjaga dia sebagimana anak saya sendiri." Kardi berucap dengan sungguh-sungguh, kemudian ia meninggalkan area pemakaman, menyusul Aldo yang sudah dulu pergi bersama Firman dan juga istrinya.

__ADS_1


__ADS_2