CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif

CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif
Merenggang


__ADS_3

Suasana apartemen Aldo begitu sunyi, dengan nuansa temaram karena tidak ada lampu yang menyala.


Semenjak malam itu, hubungan keduanya merenggang. Aldo masih belum berani bertemu Atena, karwna sejujurnya ia terlalu takut untuk mengatakan semuanya. Dan juga memberitahu Atena perihal perilaku buruknya yang bertahun-tahun ia tahan agar tidak muncul lagi.


Bahkan Atena tidak mengisi apartemen yang Aldo berikan kepada perempuan itu. Atena malah memilih kembali ke kostnya yang dulu. Aldo baru tersadar, ternyata Atena sekecewa itu kepada dirinya. Padahal biasanya sang kekasih tidak sampai pergi sejauh ini dan tidak selama ini.


Aldo sadar betul, bahwa yang bersalah disini dirinya. Dia terlalu menyembunyikan banyak hal dari Atena. Seharusnya Aldo tidak perlu berusaha menyelesaikannya sendirian, Aldo bisa berbagi keluhan dan juga tekanannya kepada Atena.


"Ana, aku gak mau kehilangan kamu," lirih Aldo.


Merasa tidak akan pernah selesai dengan hanya berdiam diri saja, Aldo bangkit dari duduknya berencana menghampiri Atena dan menjelaskan semuanya. Dan Aldo sangat berharap jika Atena tidak akan pergi setelah mengetahui sosok lain dalam dirinya yang selama ini dia pendam dan tekan agar tidak menakuti sang kekasih.


"Aku harap kamu selalu ada di samping aku, Ana. Apapaun masalahnya," guman Aldo sembari berjalan menuju basement untuk mengambil mobilnya.


...----------------...


Selama perjalanan Aldo masih terus memikirkan Atena yang menjauh darinya. Banyak ketakutan dalam diri Aldo. Ia takut di tinggal sendirian, karena jika Atena menjauh dirinya benar-benar sendiri.

__ADS_1


Aldo tak sengaja melewati toko kue favorit Atena. Melihat toko itu jadi menginginkan ia pada sang kekasih yang selalu haru datang ke toko itu jika mereka melewati.


Tanpa pikir panjang, Aldo memarkirkan mobilnya dihalaman toko kue tersebut. Sembari membujuk Atena dengan memberikan cake favorit sang kekasih.


Baru saja Aldo membuka pintu toko tersebut, matanya tak sengaja melihat siluet sang kekasih. Dari postur tubuh, rambut, hingga baju yang dikenakannya Aldo hapal betul, bahwa itu adalah kekasihnya.


Melupakan tujuan utamanya datang ke toko tersebut, Aldo langsung menghampiri sosok perempuan tersebut. Yang membuat Aldo kegerahan adalah melihat sosok pria yang duduk di hadapan perempuan itu.


"Atena," panggil Aldo berusaha menekan rasa marah san cemburunya. Padahal ia di apartemen memikirkan Atena dan juga bagaimana hubungan keduanya, sedang Atena malah asyik nongkrong di toko kue sekaligus cafe favorit mereka berdua.


Perempuan berambut panjang itu menoleh ketika merasa ada yang memanggil namanya. Dan betapa terkejutnya melihat sosok yang tadi memanggilnya.


"Kaget, hm? Disaat hubungan kita renggang, kamu malah mencari laki-laki lain, Ana?" tanya Aldo dengan suara beratnya. Kemudian matanya melirik pria yang masih terdiam di tempatnya, lebih tepatnya di depan Atena.


"Gak gitu, mas," jawab Atena taj terima dituduh oleh Aldo.


"Terus?" tanya Aldo dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Atena melirik pria di hadapannya, kemudian memandang Aldo dengan lekat. "Aku jelasin, oke? Tapi aku harus selesaikan projek aku dulu sama dia," ujar Atena.


"Pulang!" tegas Aldo tanpa ada bantahan. Ia merasa geram, padahal sedari tadi mengkhawatirkan sang kekasih, ternyata ia malah bersama pria lain.


"Mas," lirih Atena.


Tanpa memperdulikan Atena yang memohon padanya, Aldo menarik tangan Atena, tidak terlalu kasar tapi cukup menyakitkan.


"Jangan kasar sama perempuan bisa!?" akhirnya pria yang duduk di depan Atena membuka suara. Pria itu merasa geram karena melihat Aldo yang menarik tangan Atena.


"Tidak perlu ikut campur! Kamu hanya orang asing yang kebetulan datang disaat hubungan kami sedang renggang. Jangan cari kesempatan dekat-dekat dengan calon istri saya!" ujar Aldo dengan tegas dan penuh amarah.


Aldo melirik Atena yang masih terdiam, "bereskan barangnya, Ana. Sebelum aku bertindak!"


Atena menurut, perempuan itu membereskan barang-barangnya. Dan sebelum benar-benar pergi, ia menggumamkan kata maaf kepada sosok pria yang menjadi partner projeknya.


Aldo dan Atena melenggang pergi. Dan juga Aldo sudah tidak mencengkeram tangan Atena, pria itu merangkul Atena bahkan terlihat begitu posesif dan seakan-akan menandakan bahwa tidak ada siapapun yang bisa menggambil Atena dari dekapannya.

__ADS_1


Melihat keduanya yang menjauh, pria yang tadi duduk bersama Atena terlihat murung. "Ana," lirihnya pelan.


__ADS_2