
Tiga pria berbadan kekar dengan setelan serba hitam berdiri dengan tubuhnya yang tegap menghadap kearah Aldo. Salah satu diantara mereka memegang tas hitam kotak yang entah apa isi di dalamnya.
Perlahan Aldo berjalan mendekati ketiganya dengan tatapan angkuhnya. "Semua yang saya minta ada di dalam?" tanya Aldo dengan suara beratnya.
"Ada tuan!" jawab mereka bertiga serempak.
Aldo menganggukkan kepalanya, kemudian kembali duduk di kursi kebanggaan miliknya. "Taruh tas itu di meja, kalian silahkan keluar," ujar Aldo yang diangguki oleh ketiganya. "Tapi, jika isi di dalam tas mengecewakan, siap-siap nyawa kalian bertiga melayang."
Ketiga pria berbadan tegap itu sedikit gentar, tetapi tak lama kemudian mengangguk patuh kepada Aldo.
"Keluar!"
"Baik tuan!" ucap mereka serempak, kemudian dengan tergesa keluar dari ruangan Aldo yang begitu menyeramkan, padahal Aldo tidak sedang melakukan apapun.
Perlahan Aldo meraih tas hitam yang tergeletak itu, rasa penasaran dan juga rasa kekhawatiran kini tercampur aduk di dalam hatinya. Aldo hanya takut salah mengambil langkah, karena sekarang bukan hanya tentang dirinya saja tetapi tentang Atena yang sudah menjadi separuh hidupnya.
Ketika tas itu terbuka dengan perlahan membuat gejolak amarah dalam diri Aldo semakin tak terkendali. Napasnya memburu dan kedua matanya menggelap. Rahang tegasnya terlihat mengeras, tanda bahwa Aldo menahan amarahnya.
"Sialan! Si tua bangka itu ternyata berdusta selama ini!" gumam Aldo dengan nada marah.
__ADS_1
"Argh!" Aldo membanting barang yang ada di meja kerjanya. Sekarang pikirannya kacau dan emosinya serasa akan meledak.
"Atena. Cuman dia yang bisa bikin tenang," ujar Aldo sembari berjalan keluar ruangannya.
Tidak memperdulikan jadwal selanjutnya dan tidak peduli jika sekretarisnya pusing mencari-cari dirinya. Karena yang sekarang Aldo butuhkan hanya pelukan Atena, suara lembut perempuan itu yang selalu berhasil bisa membuat dirinya tenang.
...----------------...
Langkah pria dengan setelan kantor itu tampak tergesa. Apalagi wajahnya yang terlihat gusar dan kedua matanya yang memancarkan amarah. Deru napasnya yang terdengar memburu di lorong apartemen yang sepi.
Ketika baru sampai di depan pintu unit apartemen miliknya, dengan sekali tekan Aldo langsung masuk ke dalam dan berjalan dengan tergesa masuk ke kamar yang ia yakini ada Atena di dalamnya.
Atena kebingungan dengan tingkah Aldo yang tiba-tiba. Bahkan ini masih bisa dikatakan masih pagi, tetapi kenapa Aldo sudah pulang.
"Kenapa?" tanya Atena dengan lembut. Perempuan itu bahkan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kampus.
Aldo tak menjawab, pria itu malah semakin mengeratkan pelukannya kepada Atena. Menghirup dalam-dalam bau tubuh sang kekasih yang selalu saja wangi.
"Aku pergi kuliah dulu, ya." Atena berujar sembari mengelus tangan Aldo yang membelit perutnya. "Dan juga kenapa kamu udah pulang jam segini Mas?" tanya Atena.
__ADS_1
"Jangan kuliah, aku masih mau gini dalam waktu yang lama. Aku butuh kamu," jawab Aldo yang wajahnya berada pada ceruk leher Atena.
Atena menghela napasnya cukup panjang, mau bagaimana ia tidak bisa menolak keinginan Aldo. Hari ini ia harus merelakan jadwal kuliahnya karena Aldo.
Dengan perlahan Atena menggiring tubuh keduanya untuk duduk di ranjang, karena lama kelamaan kakinya terasa keram harus berdiri cukup lama. "Sambil duduk, oke?" Atena berujar yang hanya mendapatkan gumaman dari Aldo.
Jujur saja dalam keadaan seperti ini Atena selalu merasa serba salah dan kebingungan sendiri apa maunya Aldo. Karena pria itu akan diam seribu bahasa dan tidak pernah mau berbagi keluh kesah kepadanya. Dengan begitu membuat Atena bingung harus memberikan saran seperti apa jika masalah yang Aldo hadapi saja dirinya tidak tahu.
Akhir-akhir ini Aldo terlihat lebih murung dari biasanya dan ketika ditanya selalu tentang masalah kantor. Hal itu membuat Atena lama-lama jadi curiga, bahwa Aldo menyembunyikan sesuatu.
"Kamu kenapa Mas?" tanya Atena sembari mengelus kepala Aldo.
Aldo yang mendapatkan pertanyaan dari sang kekasih hanya menggeleng pelan. Pria itu masih betah dalam posisinya yang setengah duduk sembari memeluk tubuh Atena, dengan kepalanya menyandar di dada Atena.
"Terus kenapa tiba-tiba pengen dipeluk aku, terus ini juga masih pagi tapi udah pulang dari kantor," ujar Atena masih berusaha membujuk Aldo supaya mau bercerita.
"Kangen kamu aja," jawab Aldo yang sebenarnya jawaban tidak memuaskan bagi Atena sedikitpun.
"Oke," jawab Atena akhirnya menyerah. "Mas bobo lagi aja, pasti capek mikirin kantor sendirian. Kalo mas udah gak sanggup nanggung sendirian, nanti bagi aja ke aku ya, aku siap kok jadi pendengar yang baik buat mas," ujar Atena dengan tulus, kemudian mencium kening Aldo.
__ADS_1
Aldo menggumam saja sebagai jawaban. Untuk kali ini ia hanya butuh tidur dengan pelukan Atena. Dan juga usapan-usapan kecil dari tangan kecil milik sang kekasih. Untuk masalah yang didapatnya cukup nanti saja ia pikirkan ketika sudah merasa lebih baik dari sekarang. Karena jika ia memikirkannya sekarang dalam keadaan emosi di ubun-ubun hanya akan menimbulkan kekacauan baru bukan bisa menyelesaikan masalah.