
Wajah Atena terlihat berbeda ketika melihat smirk di bibir Aldo. Pernyataan yang baru saja keluar dari mulut sang kekasih membuat Atena tercengang. Ternyata selama ini sang kekasih tidak baik-baik saja, hanya saja terpaksa untuk terlihat baik-baik saja karena takut membuat Atena menjauh dari sisi Aldo.
Atena sempat menjerit karena Aldo yang melukai dirinya sendiri dengan mengambil parfum miliknya dan ia lempar ke lantai. Serpihan kaca yang tajam bisa saja membuat luka dalam di pergelangan tangan Atena.
"Kenapa, hm? Kamu ketakutan lihat wujud aku yang asli, kan, sayang?" Aldo berujar dengan tenang, padahal tangannya sudah mengucurkan darah.
Dengan cepat kepala Atena menggeleng, "enggak, mas."
Aldo berdecih dengan wajah datar yang ditekuk. "Bohong! Pasti kamu takut, kan? Pasti kamu sudah merencanakan mau kabur dari sisi aku, kan? Jawab!?" Nafas Aldo memburu. Pria itu tidak bisa mengontrol dirinya.
Atena langsung menghampiri Aldo dengan cepat, memeluk tubuh pria itu dengan penuh rasa tulus dan kasih sayang. Bagaimana bisa Atena begitu saja meninggalkan Aldo yang selama ini menjadi penopang dan juga rumah bagi dia untuk pulang.
__ADS_1
Dirinya menuntut untuk mengetahui semua tentang Aldo hanya karena ingin mengetahui lebih dalam tentang sang kekasih. Tetapi, dengan begini Atena lebih mantap untuk selalu berada di sisi Aldo.
Mereka berdua saling membutuhkan, selama ini Atena selalu bergantung dan merepotkan Aldo, dan Atena bahkan terkadang tidak memikirkan kondisi Aldo. Pria itu selalu terlihat baik-baik saja dan seakan-akan dia adalah orang yang kuat dan mampu melakukan sendiri. Disini, cukup Atena yang selalu bergantung diri kepadanya, sedangkan dirinya seakan tidak memerlukan itu.
Aldo sempat memberontak dan membuat darah dari tangannya kemana-mana. Dengan tenaga yang Atena memiliki, ia memeluk Aldo dengan erat, mengusap punggung tegap milik sang kekasih.
"Mas, tenang oke? Aku gak akan kemana-mana, aku bakalan selalu disisi mas Aldo. Mas gak perlu khawatir karena aku gak akan ninggalin mas," ucap Atena memberikan ketenangan bagi Aldo.
"Gak! Aku serius, mas? Mas mau bukti apa, hm? Aku nikah sama mas Aldo?" tanya Atena. "Ayo! Aku bakal lakuin itu kalo bisa membuktikan keseriusan aku mas."
Aldo perlahan mulai tenang, bahkan kepalanya ia simpan di ceruk leher Atena. Tidak lama dari itu, suara isakan terdengar ditelinga Atena. Begitu menyakitkan mendengar suara tangis Aldo, karena selama ini Aldo tidak pernah menunjukkan kesedihannya di hadapan Atena.
__ADS_1
"Aku takut, Ana. Takut kalau kamu pergi ninggalin aku karena sikap aku yang sesungguhnya. Apalagi aku begitu banyak menyembunyikan sesuatu dari kamu." Aldo terisak pelan.
Atena mengusap bahu Aldo dengan sayang, "gak perlu dibahas lagi, mas. Apapun hal yang lagi kamu lakuin itu urusan kamu, yang terpenting kamu baik-baik aja. Sekarang aku udah gak mau tahu lagi apapun itu, apalagi sampai membuat kamu ketakutan dan trauma seperti ini, mas. Cukup sampai hari ini saja kamu membahas tentang diri kamu, setelahnya aku akan menerima apapun itu tanpa terkecuali."
Aldo melepaskan pelukannya, menatap wajah Atena yang selalu menjadi sumber kebahagiaannya. "Aku gak pernah berani bilang semuanya karena takut kamu pergi. Aku gak mau lihat kamu yang ketakutan melihat sisi lain dari diri aku, Ana."
"Seperti tadi pas kamu teriak, aku panik dan kalang kabut. Wajah kamu terlihat ketakutan. Aku takut kamu pergi karena melihat aku seperti monster," ujar Aldo dengan wajah yang terlihat pucat.
Atena menggeleng pelan, kemudian perempuan itu tersenyum manis. "Enggak akan, mas. Aku teriak karna panik lihat kamu."
"Anggap aja semuanya selesai disini dan anggap saja semuanya tidak pernah terjadi apa-apa. Kita lakukan kehidupan kita seperti biasanya." Atena tersenyum, "ayo aku obati tangan kamu, mas."
__ADS_1
Aldo merasa beruntung dalam hidupnya karena bertemu Atena. Ia kira kekasihnya akan ketakutan dan meninggalkan dirinya. Ternyata itu hanya pemikiran buruknya saja, buktinya sekarang ini. Atena tetap di sisinya dan akan selalu menjadi rumah untuknya pulang.