CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif

CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif
We will always be together


__ADS_3

Setelah cerita panjang yang Aldo lakukan, pria itu tertidur dengan tenangnya dipangkuan Atena. Wajahnya yang tampan dan terlihat lebih tenang ketika tidur. Atena tersenyum kecil melihat pria yang sebentar lagi akan menjadi suaminya ini.


Tangannya terulur membelai wajah tampan dan rahang tegas milik Aldo. Merasa prihatin melihat pria di pangkuannya. Sebenernya secara sekilas Atena mendengar dari yang aldo ceritakan, ia langsung tahu bahwa kebakaran tersebut sudah pasti di rencanakan. Benar-benar b*ad*b orang yang tega membunuh keluarga besar Aldo.


Atena baru tersadar sekarang akan satu hal. Saat pertama kali bertemu dengan Aldo, pria itu lebih dingin, kaku, tidak tersentuh bahkan juga kasar. Kehilangan seluruh anggota keluarganya mungkin salah satu penyebabnya.


Pikirannya kembali kepada 9 tahun lalu saat tanpa sengaja bertemu dengan Aldo yang tengah menangis di trotoar. Kala itu Atena baru berumur 13 tahun sekitar kelas satu SMP, hendak pulang ke panti sehabis sekolah. Tetapi, ketika akan menunggu di halte ia melihat seorang pria dewasa yang tengah menangis tersendu. Atena yang tadinya menunggu angkutan umum pun menjadi abai, dan tidak memperdulikan angkutan umum yang lewat.


Pada saat itu Aldo terlihat lebih muda dan juga tak ada senyuman diwajahnya, hanya ada guratan kecewa dan juga terluka. Atena sempat menghampiri dan menghiburnya tetapi malah mendapat penolakan.


Atena terkekeh kecil mengingat akan hal itu. Dulu saja saat pertama kali sok-sokan menolak dirinya, sedangkan sekarang menempel sekali bahkan tak mau jauh-jauh dari dirinya.


Tanpa sadar pergerakan Atena mengusik Aldo dalam tidurnya. Dengan perlahan mata Aldo terbuka, dan Aldo disuguhkan pemandangan yang begitu indah. Atena tengah menahan senyumnya dan hal itu terlihat begitu indah dimata Aldo. Pria itu langsung memeluk Atena menenggelamkan wajahnya diperut sang kekasih.


"Mas Aldo kebangun?" Atena langsung terhenyak dan berhenti memikirkan bagaimana pertemuan pertama mereka duku.


Aldo tak menjawab, pria itu malah menduselkan wajahnya diperut Atena. Dengan sayang Atena mengusap rambut Aldo yang terasa begitu lembut ditangannya. "Nanti cerita lagi kalau Mas Aldo udah lebih tenang, ya?" Aldo mengangguk pelan.


Pelukan Aldo perlahan mengendur, kemudian ia mendongak menatap Atena yang juga sedang membalas tatapannya. "Kenapa kamu tadi senyum-senyum? Kamu dapat pesan dari siapa pas aku tidur sampai kamu senyum-senyum gitu? Dari cowok yang di kafe pas waktu itu, kan?" tuduh Aldo dengan nada merajuk. Masih bertahan dalam posisi berbaringnya, Aldo menatap datar wajah Atena.


Atena terkekeh, kemudian membungkukkan tubuhnya dan mengecup bibir Aldo sekilas. "Posesif dan sifat cemburu kamu makin terang-terangan, ya?"


"Kenapa? Kamu gak seneng?" tanya Aldo sengit.


Atena semakin tergelak mendengar ucapan Aldo, apalagi ketika melihat wajah Aldo yang ditekuk.


"Yaampun, mas. Itu tadi aku ngeliatin kamu tidur, terus tiba-tiba keinget pertemuan kita pertama kali gimana. Aku senyum-senyum karena ngerasa lucu aja, soalnya dulu kamu ketus, jutek, galak. Sekarang malah bucin, manja, posesif, ditambah mesum lagi sama aku."


Aldo terdiam beberapa saat, kemudian wajahnya perlahan memerah dan langsung menyembunyikan wajahnya di perut Atena sembari memeluk erat. "Jangan dibahas!"

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Kan emang nyatanya sekarang kamu manja sama aku, apalagi kalau malem sambil nen*n." Atena terkekeh geli melihat reaksi Aldo.


Perempuan itu melupakan satu hal, bahwa Aldo tiu si gengsi tinggi padahal aslinya manja sekali. Sekalinya Atena membahas itu pasti akan langsung menyembunyikan wajahnya, seolah menolak fakta bahwa dirinya memang manja dan tidak ada garang-garangnya. Dan juga Aldo tidak ingin mengingat pertemuan pertama mereka karena ketika mereka bertemu dulu keadaan Aldo sedang menangis, dan hal itu membuat dirinya bergidik malu.


"Sayang, jangan bahas itu! Aku gak manja sama kamu, ya!?" Kesal Aldo masih dengan wajah yang bersembunyi di perut Atena.


"Oke-oke." Atena berhenti tertawa. "Tapi, kenapa dulu kamu ketus deh kalau ketemu aku di halte? Mana suka ngatain aku ngebuntutin kamu, padahal aku biasanya aku emang sering nunggu disitu kalau pulang sekolah."


Aldo semakin menyembunyikan wajahnya, tetapi tak ayal menjawab pertanyaan Atena. "Aku sebenarnya cari perhatian kamu, dan sebenarnya aku yang ngebuntutin kamu, sayang," jawab Aldo tanpa menatap Atena.


Pengakuannya kali ini benar-benar membuat dirinya malu dan benar-benar menurunkan ego dan gengsinya. Apalagi ketika mendengar tawa Atena yang mengisi gendang telinganya. Meskipun begitu Aldo justru ikut tersenyum mendengar tawa renyah dari kekasihnya. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dan tidak lagi menyembunyikan wajahnya.


Disaat hatinya yang tengah kalut dan juga gelisah, Atena selalu menjadi penawarnya. Bahkan hanya dengan sebuah tawa saja Aldo sudah cukup.


"Puas, hm?" tanya Aldo.


Atena mengusap sudut matanya yang berair. "Aduh aku gak nyangka, mas." Atena menghentikan tawanya. "Makanya jangan digedein gengsi, untungnya kamu gak kena salip cowok lain."


Rasanya begitu lega bisa kembali tertawa setelah kekisruhan selama beberapa waktu ke belakang. Atena juga melihat Aldo sudah perlahan kembali menjadi pribadi yang ceria, meskipun tadi sempat terlihat begitu putus asa ketika menceritakan semua luka dan beban di dalam hidupnya.


Kunci utama kebahagiaan adalah saling membantu dan juga komunikasi yang baik. Atena sudah berjanji kepada dirinya akan selalu bersama Aldo, mau bagaimanapun kondisi kekasihnya itu.


"Iya, bahkan kamu udah berusaha mengeklaim aku sebagai milik kamu pas aku belum legal. Itu bisa kena kasus pidana loh!" ucap Atena ketika mengingat tingkah Aldo dulu yang dengan sengaja membuat Atena tidak bisa pergi dari pria itu. Apalagi ia baru saja kelas 1 SMA dan baru saja keluar panti, karena merasa sudah dewasa dan mampu melakukan sendiri. Setidaknya ia bisa meringankan beban ibu panti yang selama ini baik kepadanya.


"Suka sama suka, bagaimana kamu bisa melaporkannya sayang?" jawab Aldo dengan santainya.


"Aku dipaksa, ya! Mana kamu ngancem lagi." Ketus Atena.


"Hanya gertakan, kenapa kamu percaya?" jawab Aldo lagi dengan wajah menyebalkan.

__ADS_1


"Terserah!"


Aldo terkekeh melihat Atena yang muali kesal. "Iya aku salah sayang, makanya aku mau nikahin kamu, kan?" ucap Aldo. "Dan aku juga gak ninggalin kamu gitu aja, malah aku biayai semua keperluan kamu loh," lanjutnya.


Mendengar itu Atena mendelik kesal. "Gak ikhlas biayai aku!?" tanya Atena sensi.


Aldo menggeleng kencang, "bahkan aku nyari uang tujuannya buat kamu, supaya kamu bisa beli apapun tanpa kesusahan. Mungkin kalau kita gak bersama aku gak akan semangat kaya sekarang untuk mengembangkan perusahaan. Uang aku sepenuhnya emang ditujukan untuk kamu."


Atena merasa tersentuh, bahkan dalam kondisi apapun selalu dirinya yang menjadi prioritas Aldo. Pria itu selalu menomorsatukan apapun tentang Atena.


"Sayang kamu," ujar Atena dengan tulus dan tersenyum lebar.


Aldo membalas senyuman itu, kemudian ia bangkit dari duduknya dan membisikkan sesuatu kepada Atena. "Kalo sayang, ayo bantu aku di kamar mandi." Bisikan sensual itu membuat Atena meremang.


"Mas?" Panggil Atena dengan lirih. "Kamu bisa gak sehari aja gak mesum!?"


Aldo menaikan bahunya, "gak tahu, tapi kayanya ga bisa deh."


"Selalu saja pikirannya mengarah kesana." Atena mendesah lelah karena harus mengimbangi libido Aldo yang selalu tinggi.


"Ya, pikiran aku cuman tiga sayang. Kamu, perusahaan, dan itu." Aldo menaikan sebelah alisnya ketika menyebut kata 'itu' kepada Atena.


"Udah, ah, capek aku sama tingkah kamu!" Atena bangkit dari duduknya. "Mending aku buat makanan di dapur daripada harus nanggepin tingkah gila kamu, mas!"


Aldo ditinggalkan sendirian dan tengah duduk di sofa sambil memerhatikan Atena yang pergi kearah dapur. Melihat itu justru membuat fantasi Aldo semakin liar. Kenapa Atena malah melarikan diri dari harimau dan malah masuk kandang harimau.


Aldo dengan cepat berlari kearah dapur untuk menyusul Atena. Ketika di dapur ia disuguhkan pemandangan indah, tubuh Atena dari belakang dengan rambut panjangnya yang terurai membuat Aldo langsung berpikir macam-macam.


Dengan gerakan cepat ia langsung memeluk Atena dan membisikkan sesuatu. "Ayo disini aja gapapa sayang."

__ADS_1


"MAS ALDO!" pekik Atena ketika tangan Aldo sudah bergerak liar di tubuhnya.


__ADS_2