
Anak laki-laki berusia 12 tahun terlihat tersenyum cerah. Dengan menggenggam lolipop ditangannya, ia menatap sekeliling keramaian di rumah eyangnya.
"Mommy!" teriaknya ketika melihat sang ibu sedang menyediakan makanan di meja makan bersama dengan saudaranya yang lain.
Mendengar anaknya memanggil, kemudian sang ibu menghampiri anak laki-lakinya. "Abang seneng banget, ya, bisa ketemu om sama tante dari pihak mommy maupun daddy?" anak laki-laki itu menganguk dengan wajahnya yang tersenyum cerah.
"Abang juga seneng loh, mom, bisa ketemu kakek, nenek, sama eyang juga disini." Sang ibu tersenyum, kemudian mengusap kepala anaknya penuh kasih sayang.
"Ini kan moment yang paling abang tunggu setiap tahun. Kumpul keluarga besar dari mommy sama daddy di rumah eyang, kan?" Anak laki-laki itu mengangguk dengan semangat.
Memang acara kumpul keluarga besar antara kedua belah pihak sering diadakan setiap akhir tahun. Selain melepas rindu dengan sanak saudara, hal ini juga menjadi salah satu cara agar tetap menjaga keharmonisan dari kedua belah pihak.
"Mommy seneng ngeliat abang Al seneng," ucap sang ibu.
Anak laki-laki itu memajukan bibirnya. "Aldo, mom! Aldo!" Dengan suara lantangnya karena merasa tak suka panggilan dari sang ibu. Ia merasa panggilan itu terlalu kekanak-kanakan.
Sang ibu hanya terkekeh gemas melihat reaksi sang putra. Beginilah jadinya jika dirinya memanggil putra semata wayangnya dengan sebutan Al. "Oke-oke. Anak mommy sudah dewasa, maunya dipanggil abang Aldo?"
Anak laki-laki yang dipanggil Aldo itu mengangguk, mengiyakan perkataan sang ibu.
Tiba-tiba saja Aldo menepuk jidatnya. "Oh iya mom!"
"Kenapa sayang?" tanya sang ibu.
"Aku kangen sama Firman, abang mau main sama dia. Ituloh anaknya supir eyang," ujar Aldo. Sebenarnya inilah moment yang paling ditunggu-tunggu oleh Aldo, yaitu bertemu dengan sahabatnya. Karena jika bermain bersama Firman, Aldo mendapatkan hal-hal baru. Bahkan ia bisa melakukan berbagai macam hal yang selama ini tak pernah ia temukan di kota tempat tinggalnya.
"Mau ketemu sama Firman?" Aldo menganggukkan kepalanya. "Abang janji mau nginep juga. Boleh, ya, mom?"
Sang ibu sebenernya sedikit tidak mengizinkan. Bukan apa-apa, ia hanya khawatir jika putranya merepotkan orang lain. Dan juga Aldo tidak pernah jauh-jauh darinya selama ini. Ia selalu berada di sisi Aldo, dan mendengar anaknya akan menginap membuat hatinya sedikit berat untuk mengizinkan. Tetapi, melihat wajah bahagia yang terpancar di wajah sang putra, ia tak tega jika mengecewakannya.
Dengan berat hati, sang ibu menganggukkan kepalanya tanda setuju. "Mommy kasih izin abang nginep, tapi cuman sehari aja, ya. Sebelum berangkat ke rumah Firman, abang izin sama daddy, nenek, kakek, dan juga eyang. Biar nanti mereka gak riweh nyariin abang," ujar sang ibu sedikit terkekeh.
Wajar saja jika Aldo diperlakukan seistimewa itu. Ia merupakan cucu satu-satunya dari pihak keluarga sang ibu, dan merupakan cucu laki-laki pertama dari pihak keluarga sang ayah. Kehadiran Aldo ditengah-tengah keluarganya merupakan suatu anugerah dan juga sumber kebahagiaan. Maka dari itu, hadiah apapun akan selalu mengalir untuk Aldo.
"Siap!" jawab Aldo dengan lantang, dengan sikap hormat kepada ibunya.
"Aku izin dulu, ya, mom." Aldo mengecup tangan sang ibu, "nunduk mom, aku mau cium momny kesayangan aku ini."
Sang ibu menunduk sambil terkekeh mendengar penuturan putra semata wayangnya. Aldo mengecup seluruh wajah sang ibu, kemudian ia memeluk tubuh ramping wanita yang sudah mengandungnya.
"Momny janji gak akan ninggalin abang selama abang nginep, kan?"
"Emang mommy mau kemana?" tanya sang ibu sedikit bingung.
Aldo berubah cemberut, "siapa tahu daddy culik momny buat ngasih adik bayi ke aku!"
__ADS_1
Sang ibu tertawa mendengar penuturan sang anak kesayangannya. "Enggak! Mommy janji sama bang!"
"Janji!?" Aldo dan ibunya saling menautkan jari manisnya.
"Udah, ya, mommy kesayangan abang. Abang izin pergi dulu, bye!" ucapnya melambaikan tangan kanannya, dengan tanga kiri yang terus memegang lolipop pemberian dari sang ibu.
"Jangn lupa izin sama daddy!" teriak ibunya yang hanya direspon jempol oleh Aldo.
Melihat kepergian anaknya membuat hatinya gelisah. Dan semakin khawatir anaknya kenapa-kenapa. "Semoga aja cuman perasaan aku saja," gumamnya.
...----------------...
Ternyata di halaman belakang berkumpul saudaranya yang lain. Dan juga sang ayah yang ada disana, berbincang dengan kakek, nenek, dan juga eyangnya. Aldo segera berlari menghampiri sang ayah. Sesekali juga ia menyaoa saudara-saudaranya yang tengah bermain.
Ia senang sekali keramaian seperti ini, tidak seperti di rumahnya yang hanya ada dirinya, ibu, dan juga sang ayah. Serta beberapa asisten rumah tangga, bodyguard dan juga supir.
"Daddy!" panggil Aldo.
Sang ayah menoleh, begitupun tiga orang yang duduk didepannya melihat kearah Aldo. Melihat Aldo yang akan menghampiri mereka, membuat keempatnya tersenyum hangat.
"Kenapa cucu nenek teriak-teriak?" ucap sang nenek. "Sini duduk samping nenek, sekarang cucu nenek udah mau dewasa aja."
Aldo tersenyum canggung, kemudian menghampiri sang nenek. "Aku mau minta izin," ucapnya to the point.
"Aku udah izin sama mommy sebenarnya, dan mommy udah ngasih izin. Ini lebih tepatnya mau ngasih tahu aja, kalau aku sekarang mau ke rumah Firman anaknya Om Kardi buat nginep."
"No! Daddy gak setuju," ujar sang ayah dengan nada tegas.
Aldo memanyunkan bibirnya. "Aku laporin mommy kalau daddy ngelarang aku pergi!" ucap Aldo dengan mata berkaca-kaca. Aldo memang sedikit takut kepada ayahnya yang kadang bersikap tegas kepada dirinya.
"Sudahlah Ares izinkan Aldo untuk menginap, lagipula Alinda sudah mengizinkan. Dan juga Aldo jarang-jarang bertemu dengan sahabatnya," ujar eyang yang diangguki Aldo.
"Cucu kakek kalau mau izin buat nginep ke rumah Firman, kakek sama nenek kasih izin. Jarang juga, kan, ketemu sama Firman?"
Wajah Aldo berubah bahagia. Kakek, nenek, dan juga eyangnya memang selalu berusaha membuatnya senang. Meskipun di dalam hati mereka keberatan, tetapi mereka tak tega melihat wajah Aldo yang terlihat sedih.
"Tapi jangan bandel-bandel ya kalau di rumah Om Firman?" ucap sang nenek sembari mengelus sayang rambut Aldo.
"Siap!"
"Kamu dianter sama Om Kardi aja, ya? Sekalian Om kardi eyang suruh pulang lebih awal, lagipula hari ini dan seterusnya eyang gak akan kemana-mana. Biar Om Kardi bisa jagain Aldo juga," ujar eyang.
Ares terlihat tidak rela membiarkan sang anak pergi jauh disisi-Nya. Meskipun menginap ditempat orang yang dikenalnya, tetap saja Arws khawatir.
"Daddy jangan cemberut, aku janji sehari aja!"
__ADS_1
"Hm, okey," jawabnya dengan lesu.
Eyang terkekeh melihat sang putra yang terlihat tak rela membiarkan Aldo untuk menginap. Meskipun sebenarnya ia juga ingin berlama-lama dengan Aldo, tetapi sang cucu juga pasti merindukan sahabatnya yang hanya dikunjungi setahun sekali itu.
"Itu Om Kardi," ucao Eyang menunjuk Kardi yang berjalan kearahnya.
"Kardi, saya tititp cucu saya, ya? Saya percayakan dia kepada kamu."
Kardi mengangguk sembari menjawab, "baik, Pak."
"Aku pergi dulu, Nek, Kek, Eyang, dan juga daddy kesayangan!" ujar Aldo dengan ceria. Sebelum benar-benar pergi, ia mencium wajah sang ayah dengan penuh kasih sayang.
"Daddy jangn sedih, bye!"
Aldo perlahan pergi menjauhi keempat orang yang setia memandang punggung kecil itu. Sembari berjalan, Aldo berceloteh yang untungnya Kardi selalu menanggapi itu tanpa bosan.
Terlalu asik bercerita hingga membuat Kardi tertawa renyah, Aldo tanpa sadar menabrak seseorang di pintu masuk utama rumah eyangnya.
"Aw!" pekik Aldo.
Kardi panik langsung melihat kepala Aldo, tanpa melihat siapa yang ditabrak oleh Aldo. Sebenarnya itu tidak begitu menyakitkan, hanya saja Aldo kaget sekaligus refleks.
"Baik-baik saja sayang?"
Aldo dan Kardi mendongak, kemudian Aldo bersorak bahagia. "Om!"
Kardia mundur selangkah, menatap interaksi dari paman dan keponakan itu. Menatap intens setiap pergerakan keduanya.
"Hati-hati kalau jalan, ya?"
Aldo mengangguk, "okey!"
"Om berapa lama disini?"
Pria yang dipanggil Om itu nampak berpikir beberapa saat. "Dua hari, mungkin."
Aldo menganggukkan kepalanya. "Yaudah, aku izin pergi, ya, om!"
Wajah pria di hadapan Aldo nampak menunjukkan raut bingung, "pergi kemana?"
"Mini market depan." Bukan Aldo yang menjawab, melainkan Kardi. "Kalau begitu kami permisi tuan," ujar Kardi, kemudian menggandeng tangan Aldo menuju mobil yang sudah disediakan.
Sebelum benar-benar keluar rumah, ia menoleh kearah pria yang baru menginjak dewasa itu dengan tatapan tajam dan oenuh intimidasi.
Setelah kepergian Aldo, wajah pria itu kembali datar dan menatap punggung kecil itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
__ADS_1