CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif

CEO Tampan Itu Pacarku Yang Posesif
Curiga


__ADS_3

Seorang pria dengan keadaan tubuh terikat dan kondisi mengenaskan tergeletak di ruangan dengan pencahayaan kurang. Matanya setengah tertutup dengan bibir yang penuh luka akibat dari pukulan. Dan jangan lupa dengan kakinya yang ada beberapa luka sayatan.


Di sampingnya berdiri pria muda dengan pandangan remeh. Tersenyum mengejek dengan wajah yang penuh kepuasan.


"Jangan pernah main-main dengan saya!" ucapnya penuh penekanan.


"Masih tidak mau jujur, heh!?"


Pria yang sedang terkapar itu pun langsung menggeleng dengan cepat. "Ampun," lirihnya sambil terbatuk.


"Jadi?"


"Tuan Aldo maafkan saya, saya janji akan mengatakan semuanya dan akan berkata jujur. Tapi, saya mohon jangan siksa saya lagi," ucapnya dengan wajah penuh permohonan ditambah dengan darah yang berceceran.


"Katakan! Saya tidak banyak waktu, paham!?" bentak Axel.


Axel melirik arloji yang bertengger manis di tangan kanannya. Kemudian pria itu mengumpat pelan, karena sadar sudah banyak menghabiskan waktunya di gudang ini untuk menyiksa hama pengganggu di hidupnya.


"Semua atas perintah Tuan Alion," ucapnya dengan nada lirih. Seolah sudah pasrah dengan keadaan.


Aldo tersenyum remeh mengetahui siapa dalang dari semuanya. Ternyata masih sama dengan sosok yang selalu mengusik perusahaannya. Terasa sia-sia Aldo mengeluarkan seluruh tenaganya.


"B*j*ngan itu ternyata. Masih saja menjadi orang sampah! Dia kira selama ini diam saja!?" ucap Aldo dengan wajah bengisnya. Kemudian matanya langsung melirik kearah pria yang masih tergeletak tak berdaya, namun Axel tahu jika pria itu masih sadar.

__ADS_1


"Buang-buang waktu saja. Dan juga, manusia sampah itu masih saja mengusik ketenangan hidupku," ujar Aldo dengan melirik sinis kearah pria mengenaskan itu.


Tanpa memperdulikan sosok yang tengah tergeletak, Aldo berjalan menuju arah pintu keluar. Satu harian ini dia menghabiskan waktu di gudang. Rasanya sudah lama Aldo tidak bermain-main dan juga melukis di tubuh seseorang.


Ketika keluar dari gudang, Aldo langsung disambut banyak bodyguard yang berpakaian serba hitam yang langsung menunduk secara hormat. "Bereskan semua, bawa dia sesuai rencana awal," ujar Aldo yang diangguki oleh bawahannya. Kemudian ia melenggang pergi menuju apartemennya. Dan sudah bisa dipastikan bahwa Atena sudah pulang dari kampusnya.


Aldo langsung menuju mobilnya, mencari-cari handphone untuk menghubungi Atena. Ketika baru saja membuka kunci handphone-nya, banyak sekali pesan beruntun dari Atena bahkan kekasihnya itu puluhan kali menelponnya.


"Sial! Gara-gara hama pengganggu!" Maki Aldo karena kesal waktunya terbuang dan ia juga tidak memegang handphone yang membuat Atena khawatir kepada dirinya.


Dengan sekali injak gas, mobil Aldo melesat pergi meninggalkan pekarangan gudang yang baru saja ia masuki. Sekarang di pikirannya hanya ada Atena yang mencemaskan dirinya di apartemen.


...----------------...


Merasa ada yang memanggilnya, Atena langsung menghampiri sumber suara. Barusan ia sedang di dapur untuk memasak dan juga berusaha mengalihkan pikiran negatifnya kepada Aldo yang seharian ini tidak ada kabar.


"Mas Aldo!" Pekik Atena senang, perempuan itu langsung berhamburan memeluk Aldo.


Aldo tersenyum lebar, hatinya terasa hangat. Kemudian ia membalas pelukan Atena tak kalah erat. Hatinya merasa lebih tenang karena baru saja menyelesaikan urusan yang membuat Atena tidak tenang akhir-akhir ini. Si penguntit itu sudah ia bereskan. Meskipun Aldo tahu bahwa kedepannya Alion tetap akan menganggu dirinya dan juga Atena.


Aldo masih setia mengusap rambut Atena. Merasa nyaman berada di dekapan sang kekasih, segala kekhawatirannya selalu luruh begitu saja.


"Mas Aldo kemana aja, sih? Aku spam chat sama telfon gak dibales sama diangkat. Gak kaya biasanya!?" tanya Atena penuh selidik, meskipun begitu ia masih tetap setia memeluk tubuh Aldo.

__ADS_1


Aldo berdehem pelan, berusaha tidak bergerak mencurigakan. "Meeting, sayang. Aku gak pegang handphone tadi," jawab Aldo dengan tenang.


"Masa meeting dari pagi sampai hampir malem gini, sih!?" kesal Atena merasa tak puas dengan jawaban Aldo.


"Emang kenyataannya, sayang. Kenapa, sih, hm? Kamu lagi datang bulan?" Atena menggeleng kencang.


"Kangen sama khawatir. Takut kamu selingkuh," jawaban jujur Atena membuat Aldo tertawa kencang dan kerasa melambung tinggi.


"Ish! Malah ketawa!"


Aldo meredakan tawanya, mengecup puncak kepala Atena. "Gak mungkin selingkuh, perempuan yang aku mau cuman kamu," jawab Aldo.


Atena tersenyum lebar, kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aldo.


"Salah tingkah, hm?" Atena mencubit pelan perut Aldo.


Ketika Atena menduselkan wajahnya di dada Aldo, perempuan itu mencium sesuatu yang sedikit berbeda dari tubuh kekasihnya.


"Mas?"


"Kenapa, hm?"


Atena mengurai pelukan keduanya. "Kok, kamu bau amis darah?" tanya Atena, seketika membuat tubuh Aldo menegang.

__ADS_1


__ADS_2