
Semua agenda yang sudah terjadwal semuanya Aldo batalkan. Bahkan Atena sendiri tidak diizinkan untuk berangkat ke kampus. Ketika mereka menepi, dan ada seseorang yang menembak mobil yang keduanya tumpangi, membuat Aldo cemas. Apalagi Aldo semakin khawatir kepada keselamatan Atena.
Bukan hanya penembakan saja, tetapi mobil bagian belakang Aldo tiba-tiba saja mengeluarkan api. Padahal seingat Aldo, ia selalu rutin memeriksa mobilnya ke bengkel langganannya.
Kekhawatiran Aldo semakin meningkat, bukan tentang dirinya. Tetapi ini adalah tentang Atena. Karena bagaimana pun ia tak mau kehilangan sosok pendamping hidupnya, sosok yang selama ini menjadi alasan dirinya untuk bertahan.
"Mas Aldo?" Atena menepuk bahu Aldo, membuat laki-laki dengan rahang tegas itu mengerjap kaget. "Kamu baik-baik aja? " tanya Atena, tangannya menggenggam jemari Aldo, mengusapnya dengan pelan.
Tanpa menjawab pertanyaan dari kekasihnya, Aldo malah berhamburan memeluk tubuh kecil itu. Menyembunyikan wajahnya diceruk leher Atena. Pelukannya semakin mengerat.
"Takut, Ana. Aku takut kamu kenapa-kenapa karena ada di sisi aku." Suara Aldo terdengar bergetar. "Apalagi teror tadi aku belum tahu siapa pelakunya."
__ADS_1
Tubuh tegap dan kekar itu kini berada di pelukan Atena. Tangan kecilnya mengusap punggung tegap Aldo, menyalurkan rasa ketenangan kepada kekasihnya. "Semuanya akan baik-baik aja kalau kamu gak terlihat lemah ketika diluar."
Aldo mengurai pelukannya, memandang wajah Atena dengan lamat. "Kamu satu-satunya alasan aku bertahan, Ana. Aku takut kamu terluka dan pergi selamanya seperti semua keluargaku," lirih Aldo dengan tatapan yang tersirat luka.
Atena paham bagaimana ketakutan yang Aldo miliki. Ia hanya tahu secara garis besarnya saja, bahwa seluruh keluarga besar Aldo telah tiada akibat tragedi kebakaran beberapa tahun silam. Dan entah apa yang membuat Aldo terlihat begitu trauma.
"Mau cerita?" Aldo mengangguk. Kemudian keduanya duduk di sofa yang berada di ruang keluarga di apartemen milik Aldo.
Aldo memeluk Atena sambil duduk di sofa, dan tanpa sadar ia menangis karena semuanya terasa begitu menakutkan. Setelah teror tadi, pikirannya kembali dipenuhi kejadian beberapa tahun lalu yang merenggut nyawa seluruh keluarga besarnya.
"Mas boleh nangis, dengan mas nangis gak akan membuat mas terlihat lemah kok. Semua orang pasti punya titik lelah di dalam hidupnya, titik tersedih dalam hidupnya. Mas luapkan semua rasa sesak di dada, mas. Memendam selama bertahun-tahun pasti tekanannya besar dan sesaknya juga tak terbayangkan." Seluruh ucapan Atena bagaikan mantra bagi Aldo, tak lama dari itu terdengar isak tangis Aldo.
__ADS_1
"Mas masih punya aku, mas gak sendirian. Semua keluarga besar mas sudah bahagia di surga sana." Tangan Atena mengusap lembut kepala Aldo.
Tangisan Aldo semakin kencang, seluruh sesak dalam dadanya ia keluarkan. Rasa sakit yang selama ini selalu ia sembunyikan akhirnya bisa ia keluarkan.
Atena memeluk tubuh Aldo dengan penuh kasih sayang. Melihat kekasihnya yang selama ini terlihat tangguh dan juga tak pernah sekalipun meneteskan air matanya di hadapannya, membuat Atena tidak kuasa menahan rasa sedihnya juga. Karena jika Aldo sampai sepeti ini, berarti luka dan rasa sakit yang dimilikinya begitu dalam.
Atena mengusap air matanya yang jatuh tanpa bisa ditahan. Dirinya yang hanya melihat dan mendengar isak tangis Aldo saja sudah bisa terbayang bagaimana rasa sakit yang selama ini ditahan oleh sang kekasih, apalagi ia harus selalu berpura-pura baik-baik saja.
"Kalo mas udah siap, mas bisa luapkan semua rasa sakit dan luka yang mas punya," ucap Atena sembari mengusap bahu Aldo yang bergetar.
"Iya, mas mau cerita." Dengan suaranya yang bergetar dan terdengar serak.
__ADS_1