Cerita Senjaku

Cerita Senjaku
Eps. 10


__ADS_3

Seandainya saja hidup gua gak begini, mungkin saja gua juga gak ngerasain itu.


Kenapa harus ada hitam bila putih lebih nampak juga boleh hitam, kenapa?


Putih tak dapat tutupi hitam lebih sempurna, sedang kenapa hitam selalu menutup putih lebih cepat.


Kenapa?


Kenapa hitam di atas putih itu dan putih itu hilang?


Hidup gua, ya begitu.


***


Uh!


Mendadak gua gabut gara-gara percakapan gua sama Leani di room multi tadi.


Sesaat gua lirik jam yang menunjukan pukul 23:59 WIB.


Hampir tengah malam, anjer! Gua liat Pian yang masih tenggelam dalam dunia gamenya.


"Ehem, An! Hengki kemana? Dah hampir jam 00:00 lhoo ini, gilak kali. Nginep kali dia, ya?" Tanya gua ke Pian.


"Hah? Gak tau, lah, Cal. Kan gua di sini sama lu!". Tanpa menoleh Pian menjawab.


"Nah, B4ngk3! Emang kagak ngasih kabar apa? Bocah gendeng emang dia."


"Udah, biarin aja. Bukan urusan kita juga, Cal. Ngurusin dia mah bikin pecah rasa kepala, Cal. Gak ada habisnya bikin ulah."


"Iya juga, ya. Yo wes lah! Sak karepe wae!"


"Lah iyo, Cal. Ben tokno wae!"


***


Dering notifikasi SM menembak berturutan.


Hm,


Siapa sih ini? Malam-malam masih main SM, pakai DM lagi!


Berisik banget!!!


*


[082 280 6000 XX, Save!!!]

__ADS_1


[Kalau kamu mau save, Cal? Kalau gak juga enggak apa. Gak usah di save, hehe.]


[Kalau aku hilang dari SM dan kamu rindu, kamu call atau chat aja ke WA ku. Hehe.]


Leani?


Ish ngapain sih, dia kasih-kasih nomor WA? Kan kita hanya kenalan di SM, dan itu hanya hiburan.


***


Malam semakin larut,


Perihal Leani yang nge-DM nomor WA-nya tadi, gua benar-benar gak tau mau save atau enggak.


Ya, gua gak berharap lebih. Karena, gua nyaman dan lu nyaman, ya udah jalani.


Mau lu hilang atau gimana juga, dari SM ya bodoh amat gitu. Gak usah bilang! Justru kalo bilang, seolah-olah kaya lu lagi ngasih tau gua sesuatu yang gua gak ngerti. Dan jujur, gua gak mau tau yang begituan saat ini.


Ya ...!!! Ini lah diri gua saat ini.


Yang benar-benar lagi mau vakum dari dunia percintaan atau yang mereka sebut bucin, bucinan. Is, ataupun apalah itu.


*


Pagi menjemput matahari,


Otak yang malas berfikir, hidup yang ikut alur takdir dan yang gua rasa semuanya gua anggap cuma mampir.


Jadi, jalani hari ini dengan apa adanya gua.


Bergegas mandi, untuk kemudian mempersiapkan diri bergelut dengan pekerjaan.


Selalu saja!


Rotasi masih belum berubah, gua harus lebih giat bekerja.


*


"Kemana kita hari ini, Cal?" Tanya Pian dan Gua menoleh dengan sedikit senyum menyeringai.


"REBAHAN! Males ngapa-ngapain gua! Ngopi ajah dulu. Gak ada jadwal keluar. Barang indent juga. Jadi belum ada yang bisa kita kerjain di Workshop. Santai aja!" Gua memperjelas statement.


"Oh, gitu. Ya udah. Ngomong-ngomong, Hengki gak ada nongol kemana ya dia, Cal? Gak biasanya dia."


"Iya juga, ya? Coba lu telpon dia, An." Pinta gua


"Ya udah, gua telpon. Tapi, otw Workshop gak nih, Cal?"

__ADS_1


"Au ah, gelap! Ngopi yang penting mah An, itu!"


"B3d3b4h lu, Cal! Serius nih, gua!"


Gua gak peduli lagi meski sayup gua denger Pian ngedumel sama gua. Gua gas ambil gadget, stay on SM.


***


Hari beranjak menuju siang, sedang gua masih sibuk di dunia SM.


Yang akhirnya gua masuk di room utama famili gua. Setelah gua baca beberapa typing di grup famili yang dimana ada Onel--Sheena, Admin--Emil, Admin--Ricko, Clara dan Gua yang baru saja masuk.


Hugh!


Orang-orang ini gak punya kerjaan apa gimana, sih? Dalam hati, gua nanya sama diri gua sendiri.


"Gila kali, Wee! Pada ngapain anjir? Jam berapa ini?" Tanya gua tanpa dosa, saat nongol di room.


"Kalian online SM dua puluh empat jam, ya? Gak makan? Gak mandi? Ya gak apa-apa, sih. Gak ketauan juga." Lanjut gua.


"Bacot lu, Cal! Udah diem duduk manis di situ, ok!" Ricko menyela tiba-tiba.


"Udah, Yee! Sekarang dengerin?" Sheena mulai membuka percakapan inti.


"Gini, Cal. Ulas masalah yang kemaren kita bahas di grup, yah. Itu sampul famili kan masih foto aku. Coba kamu buat logo famili RDM ya, Cal. Kata Emil kamu bisa." Jelas Sheena.


"Iya, Cal! Kek yang kemaren lu share ke gua itu, bagus!" Emil menambahkan.


"Ya, detailnya itu maunya kek mana? Dari warnanya dulu, deh. Mau warna apa gitu?" Sambung gua.


Terlalu banyak hal yang kita bicarakan di room multi itu sampai lupa dengan konsep waktu.


*


Siang berlalu dengan tergesa-gesa sampai gua pun gak sadar hari telah kembali sore.


Gambaran logo famili udah mulai kelihatan di benak gua, tinggal gua aplikasikan itu menjadi gambar nyata.



Hal baru yang gua dapat di SM ini akan gua coba, kontribusi dengan skill gua yang sebenarnya.


Gua pamit dan turun dari room.


***


Sore berganti malam lepas dari kehendak. Karena memang dunia membatasi kita dalam batasan takdir.

__ADS_1


Manfaatkan waktumu sebelum masa menelan sebagian kenangan dalam ingatan. Bukan keinginan menjadikannya sebuah penyesalan, namun itu hadir seiring kerugian yang tak di sengaja karena lalai.


__ADS_2