
Kenyataan pahit harusnya tidak membuat kita lemah lepas dari berlalunya itu. Dan ketika kita mampu bertahan, maka seharusnya kita akan jauh lebih kuat dan tegar lagi.
Terlepas dari sebutan apa itu ... Semuanya akan kembali dan berulang sebagai takdir, terkecuali kita merubah diri kita sendiri.
***
14.22 WIB di hari ini.
Ketika satu pesan kembali mampir di WA gua siang itu.
[Udah lama menghilang gak kasih kabar, gak ada perubahan kamu, Cal. Peka dikit kenapa, sih?]
[Emang harus, ya? Kan lu juga udah tau gimana gua. Lu masih ingat, kan? ketika lu minta nomor WA gua dulu di FB? Kek mana gua ngomong?] Tanya gua.
[Iya, gak boleh protes. Gak boleh usul itu adanya kamu. Apa lagi ngatur ya, kan? Aku ingat semua, Cal. Candaan mu, konyolnya kamu, aku ingat semua.]
[Hm, nah Itu lu masih ingat. Gak perlu kan sampai dua atau tiga kali gua ulang?]
[Iya si, Cal. Tapi kamu tuh, is! Gak pekanya itu pakai banget, sumpah!] Ia membalas pesan gua dengan nada kesal.
[Ya beginilah gua. Gua suka kebebasan. kalo lu nyaman dengan gua yang begini ya udah, gua stay. Tapi kalo lu gak nyaman bahkan ilfil, ya udah gua juga gak pernah maksa siapa pun buat jadi temen gua. Cuma, gua welcome ke semua orang yang ingin berteman, sampai sini paham?]
[Iya, PAHAM! Tapi apa kamu gak ngerti maksud ku, Cal? Apa emang kamu pura-pura gak ngerti? Apa karena aku gak cantik, iya?]
[Wei! Apaan, sih? Gak jelas kali lu, mah. Jangan ngelantur, ngapa? Gak, gak, enggak boleh ada rasa. Udah, udah. Berteman aja cukup, gua gak mau nyakitin lu. Udah gini aja, gak beban, wei!]
[Ya, udah. Gua masih kerja nih ntar lagi, yak! See u next time, Bawel!] Sambung gua memutus chat, berhubung waktu kerja dan gua juga gak mau bahas hal hal kek itu sekarang.
*
Hm,
Cewek emang selalu ribet apa?
Kenapa semua hal bisa jadi masalah?
Huh!
No, no, no ... Bukan semua hal jadi masalah, tapi semua masalah adalah yang cewek sebut hal, gak ada cewek yang gak punya hal.
Ya!!!
Sumber masalah itu, cewek! Fix, udah pas kesimpulannya.
***
17.12 WIB. Waktunya gua pulang kerja.
Work Shop udah sepi.
Hengki udah bergegas pulang lebih dulu, karena dia mau jemput ceweknya, ninggalin Pian dan gua yg lagi beresin perkakas kerja tanpa dipedulikan sama dia.
"Cok, gua duluan, ya. Mau jemput calon bini soalnya."
__ADS_1
"Yaya! Hati-hati lu! Jangan ngebut ntar, bawa anak orang soalnya lu!" Pesan Pian sembari mengumpulkan perkakas.
"Iya lu, pembalap ulung! Coba bawa santai itu motor!"
"Nah, gua mah gak suka kebut-kebutan loh, Cal!"
"Iya, sih. Cuma lu kan hobi ngegas, Anjir!" Jawab gua masih tanpa ekspresi.
"B4ngs4d, lu!" Celetuk Hengki.
"Nah, Kan? Baru di bilang udah ngegas aja, lu" Saut Pian tanpa jeda.
"Udah, ah! Gua cabut!" Hengki terburu buru menghidupkan motornya dan jalan.
"Hengki! Standard, weiiii!!!" Teriak gua.
Hengki kemudian menghentikan laju motornya untuk memastikan.
"Mana ada, Cal? udah gua naikin, a5uK!" Jawab Hengki geram, karena gua menghambatnya pergi.
"MUKA LU wei, standar!" Teriak gua tanpa dosa. Gua dan Pian seketika terbahak-bahak melihat ekspresi Hengki yang kusut. Ia berlalu dengan raut wajah kesal.
Tak lama kemudian, kami beranjak pulang. Karena motor gua lagi nginap di bengkel, kami pun pulang naik angkot.
Hmm, naik angkot ... pasti lama, mana jalan muter lagi, gak bisa terobos-terobos.
*
Terhanyut dalam perjalanan pulang yang membosankan.
Namun sayangnya, kisah itu tak seindah kisah novel yang kebanyakan berakhir dengan 'happy ending'. Di akhir kisah gua sama dia, gua harus menelan kekecewaan yang selalu ngebuat gua takut menjalani hubungan dengan hati.
Terluka dalam sebuah ikatan, tersakiti dalam ingatan, membebani dalam kehidupan.
Ingin rasanya gua lupa, hingga benar-benar lupa kalau gua kenal sama dia dan pernah bersamanya.
Tapi kehidupan ini telah menjadikannya kenangan. Mau tak mau, terima tak terima gua sudah memiliki ingatan itu dan udah membunuh rasa percaya gua sama yang namanya--Cewek.
Makannya,gua gak ingin lagi kenal cinta, karena gua gak mau nitipin kebahagiaan hati gua ke seorang cewek untuk ke dua kalinya.
*
Lamunan gua buyar, kala terdengar suara Pian samar, karena di angkutan itu kita duduk memang agak berjauhan.
"Cal, lu terus aja dulu, ya? Gua mau mampir swalayan, ada yang mau gua beli dulu soalnya."
"Ok, siap! Boleh lah nitip rokok sama cemilan apa kek, buat jadi temen kopi ntar di kost."
"Oke lah, sini in duit lu!"
"Siap! Thanks ya, Bro."
Selang beberapa gang, akhirnya gua sampai juga di Gang Kosambi, jalan setapak sempit yang di himpit dinding pabrik nan panjang menuju kost gua.
__ADS_1
***
Huh!
Capek kali badan ini,
Hm,
Mungkin dah waktunya gua ambil libur, biar bisa pulang ke kampung buat rebahan di rumah sepanjang hari.
Tapi,
Apa kabarnya ibu, yak?
Lama gak telpon ibu, rindu rasanya.
Ya, Walau ibu seorang wanita yang pemarah kalau sama gua, tapi tetep aja gak bakal lengkap rasanya hidup gua kalau gak ada ibu ya, kan?
Gua sebenernya suka kalo ibu lagi marah. Beliau suka ngomong tentang masa depan gua yang bakal indah nantinya, walau kenyataan yang gua hadapi sekarang tiga ratus enam puluh derajat berbeda. Tapi, gua masih berusaha yakin dengan ucapan beliau itu ...
Apa lagi semangat yang beliau hadirkan di hidup gua, gak akan pernah ada duanya.
Pernikahan dini yang gua bangun, berakhir dengan gua yang di khianati hingga gua terpuruk saat itu.
Ibu ngebuat gua sadar betapa beliau benar-benar membela gua. Bukan karena posisi gua yang memang gak bersalah, bukan ...
Tapi pembelaan seorang ibu yang ... Menutupi aib keluarga kecil yang gua bangun, dengan kebesaran hati beliau.
Meski sempat ibu marah dan mengusir menantu beliau itu, pada akhirnya talak yang gua ucap mengakhiri semua amarah beliau.
Gua lihat betapa sakit hatinya beliau ketika seorang anak yang beliau besarkan, yang dulu selalu menangis bersembunyi di balik punggung beliau ketika berkelahi dengan teman sebayanya, mendidiknya, Hingga anaknya tumbuh besar dan mampu berjuang tulus untuk seorang wanita yang entah dari mana asalnya. Yang membuat perhatian anaknya berkurang kepada beliau. Kemudian, dengan gampang wanita itu menghancurkan hati anaknya.
Tapi ibu, beliau masih saja merangkul, memeluk, memberi semangat dan melindungi gua.
Jujur di usia gua saat ini, di dalam hati kecil gua merasa sangat bodoh dan bodoh, karena gua masih saja bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa.
"Ibu ... Maaf ..."
Terucap dalam hati gua, sembari gua membatalkan panggilan yang gua tujukan ke beliau.
*
Sesaat gua berhenti melangkahkan kaki.
Gua pandang langit sore ini yang beranjak gelap.
Gua sandarkan punggung di dinding pabrik yang menghimpit gang sempit itu, merenungkan apa yang terjadi.
Lamunan gua semakin melambat menyusuri setiap kenangan pedih dan kehidupan pahit yang gua jalani.
Jujur saja, air mata tak terasa mulai mengalir tak terbendung lagi mengiringi sore yang kian beranjak.
Langit senja kala itupun turut menurunkan rintik hujannya yang mulai mengguyur tubuh yang semakin tenggelam dalam kesendirian.
__ADS_1
...