
Hal yang sulit tak selamanya benar-benar sulit. Semua itu hanya tergantung bagaimana imajinasi kita bermain. Kenyataannya, semua kembali pada apa yang ada di depan mata kita.
***
Gua refleks berdiri. Tanpa bergeming, gua pandang pada sudut sumber suara itu dengan penasaran.
Beberapa hari ini gua gak kemana-mana dan gua gak ngapa-ngapain di luar kost, selain kerja. Interaksi gua kurang, dan sekarang masalah apa yang gua buat? Gua hanya bisa bertanya di dalam hati.
Temen-temen gua semua masih diam, terlihat jelas dari raut wajah mereka yang menyimpan tanda tanya dan begitu penasaran.
Gua ambil langkah maju, memperjelas pandangan untuk melihat siapa orang yang ada di seberang sana.
Saat kaki gua mulai mengambil beberapa langkah, yang terdengar hanya suaranya yang cengengesan.
Semakin dekat gua ke dia, suara cengengesan itu semakin terdengar lebih jelas.
"Selaw, Brad! Ini gua." Ucapnya kemudian, membuat gua refleks memicingkan alis.
"Bangsad! Lu ngapain di sini, Don?" Gua lempar tangan sembari menyunggingkan senyum.
"Gua kangen sama lu, Pea!" Dion menjawab singkat sembari menyambut tangan gua.
Gaya tos jaman masa dulu, masih dia ingat rupanya. Dion, orang yang biasa gua panggil Don, istilah dari asal kata 'Down'. Yang jujur, dulu gua gak ngerti artinya, hanya beranggapan karena Dion ini cengeng dan pengecut, makanya kami memanggilnya Don. Ternyata melekat sampai sekarang dan ya ... Bertahun-tahun gak ketemu, dia ada di depan gua hari ini.
"Apa kabar lu, Cal? Lama sudah gak ketemu. Banyak hal yang udah berubah." Tanyanya singkat. Tapi gua tau, dia sedang memastikan kalau dia tidak salah orang.
"Is, Weh! Kabar gua ya gini, kek yang lu lihat. Gak ada yang berubah, selain fisik dan waktu, Brad. Lu ke mana aja, weh? Gimana keadaan lu, Anjir?! Ilang gitu aja!" Tanya gua penasaran.
"Em," Dion tersenyum kecil.
"Jangan ngomong disini. Enak kita ke kost gua aja dulu, sambil ngopi. Empat tahun lewat weh, hampir lima tahun malah, takutnya lupa lu cara ngopi bareng gua," Gua potong pembicaraan sesaat sebelum Dion angkat bicara, dan karena temen-temen di tongkrongan mulai nyamperin kita.
"Ada apa?"Tanya Bopeng, Fikri dan Ilham mendekat ke arah kami. Sementara pandangan teman-teman yang lain mengawasi menyelidik.
"Gak apa-apa, Peng. Santy! Oh ya, kenalin, Ini Dion, temen gua dari kecil. Dia nyamperin gua, karena dia baru balik dari ... " Ucapan gua terpotong, ya karena gua memang gak tau.
"Is! Lu dari mana, Don? Lu menghilang gak bilang sih ke mana. Mana nomor hp lu ganti, anjir!" Sambung gua lagi.
"Iya, gua baru balik dari Malaysia. Gua minta maaf ya, kalau kurang sopan. Soalnya, ya gitu. Gak bisa tahan sama si tukang bacot satu ini." Dion menjelaskan sambil menepuk pundak gua.
"Oh gitu. Untung aja mas bro temen lama. Lah, kalau tadi mau beneran ngajak ribut, anak-anak juga dah lama sih, gak nabokin orang." Jawab Bopeng ketus ~ karena mungkin masih kesal sama cara Dion datang ke tongkrongan.
"Sudah-sudah. Lu ke tempat gua pasti ada urusan Don, gak yakin kalo cuma kangen doang dan lagian kenapa gak telpon dulu, anjir!"
Melihat 'SIK*NT*L PANJANG' (SItuasi, KONdisi, TOLeransi, PANdangan dan JANGkauan) yang ternyata gak memungkinkan, akhirnya gua ajak Doni buat ke kostan gua tanpa banyak basa-basi.
Oh ya, jangan heran kalo gua sering memakai istilah aneh-aneh dalam hidup gua. Karena, ya ... Gua emang kek gini orangnya.
Gua menyempatkan diri sebentar untuk pamit sama anak-anak, kalau gua mau cabut duluan. Setelah itu, gua langsung otw sama Dion di iringi pandangan jijik anak-anak ke Dion, yang SKSD mereka menyebutnya.
***
Sore berlalu dan gelap merambah, pertanda hari sudah mulai malam.
Berbincang dari ujung barat sampai ke timur, bercerita tentang hidupnya. Dion, akhirnya sampai pada titik di mana dia, dan kenapa bisa sampai ke kost gua.
"Hm, jadi gitu? Lu ke Malay ilegal? lah, susah kali hidup lu di sana! Di kejar-kejar polisi mulu kalau ada operasi. Tapi kok lu betah sampai Empat tahun, anjir?!" Sambut gua dengan ceritanya yang terakhir.
__ADS_1
"Ya mau gimana. Mau pulang gak ada uang dan udah terlanjur di sana. Gak lagi-lagi gua mah, cukup. Makanya gua ke sini, Brad. Ada kerjaan gak? Gua ikut kerja lah buat sambung hidup.
Gua bingung mau minta tolong sama siapa lagi kalau gak ke lu." Desaknya, meminta tolong.
"Ya gimana. Gua juga ngikut orang. Ya, paling nanti gua nanya dulu ke atasan, ntar gua kabarin." Balas gua yang sebenernya kebingungan.
"Lah, ngomong-ngomong, lu tinggal di mana, anjir? Dan yang gua heran, lu bisa sampai sini itu, gimana?" Tanya gua mencari-cari. Habisnya, udah lama gak ketemu, sekarang dia ada di depan gua, tanpa hubungin gua dulu.
Google Map? Ah! Masa iya? Kalo ke Kost gua ya, mungkin. Tapi, ini dia nemuin gua di tongkrongan? Nanya ke Hengki? Gak, Hengki gak ngomong apa-apa masalah Dion. Terus, Masa gaib, weh? Gaib anjir!
*
"Eh ini kost sepi amat! Hengki mana? Bukannya lu bareng dia, ya?" Tiba-tiba dion mengalihkan pembicaraan.
"Iya, nih. Gak tau pada kemana, kok belom pulang. Padahal dah malam." Sambil gua lihat-lihat ke luar, gua jawab Santy.
"Lah? Emang lu berapa orang tinggal sini, Cal?"
"Bertiga doang. Gua, Hengki, sama temen satu lagi, Pian--namanya. Ntar juga lu liat kalo mereka dah pada pulang." Gua yang berdiri di pintu melirik Dion, penasaran dengan pertanyaan gua yang dia abaikan.
"Oh ya, Don. Lu belom jawab pertanyaan gua tadi, lu tau dari mana tempat gua di sini?" Pertanyaan itu gua hujam tanpa gua lepas. Harus dapat jawaban pasti.
"Em, Itu ... Lu harusnya tau dari mana gua tau, Cal." Jawab Dion memandang ke arah gua.
"Oh. Jadi lu ketemu sama dia? Ngomong apa aja dia ke lu? Sumpah demi Tuhan, Don! Gua gak bakal lupa apa yang dia buat ke gua! Gua sih gak dendam. Gua juga udah maafin. Cuma, gua orangnya pengingat, bahkan gua masih ingat dengan sangat detail." Sambil melihat ke langit-langit, gua baringkan diri di lantai.
"Kalo saja waktu itu gak kaya gitu ceritanya, mungkin hari ini akan jauh lebih baik ya, Don. Tapi ya mau gimana lagi, nasi udah jadi bubur. Terlalu jauh dan terlalu buang waktu kalo cuma buat mengingat hal yang gak guna itu!" Sambung gua, berusaha menepis bayangan wajah wanita itu.
'Hal yang sulit tak selamanya benar-benar sulit. Semua itu hanya tergantung bagaimana imajinasi kita bermain. Kenyataannya, semua kembali pada apa yang ada di depan mata kita.'
Tapi gua berjanji dalam hati gua. Dia bakalan benar-benar menyesal. Bahkan, penyesalan itu akan tetap hadir ketika malaikat Israfil me maut sukmanya.
***
Hp gua, anjir! Mode pesawat lagi! Gua lari tanpa lihat-lihat karena lama juga gadget gua cuekin, sue!
Gua langsung hidupkan mode data, sementara data masih me-render hp.
Is! Lama kali hp gua ini!
*
99++
Notifikasi yang sangat membagongkan!
Mulai dari chat aplikasi yang berwarna hijau, ungu janda, biru mamah muda, sampai hitam kelam kaya hidup gua, jadi satu ngebuat Hp gua lag!
Tapi bukan itu masalahnya. Yang gua cari adalah satu pesan dari ribuan chat yang masuk. Chat dari seseorang yang gua kenal dari Facebook Dan berlanjut ke WA. Gua scroll dari bawah sampai ke paling atas. Dan ... bemmm!!! Ada !!!
[37 Pesan]
Ini, nih ...
Sambil senyum-senyum gua buka chat itu. Tapi sebelum itu, sejenak gua melirik Dion.
"Eem." Gumamnya mengawasi gerak-gerik gua,
__ADS_1
Anjirrrrr!
Dan akhirnya, ketika gua liat pesan itu.
Sumpah!
Anjirrrrrrrrrrrr!!!
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).
__ADS_1
(Pesan ini telah di hapus).
(Pesan ini telah di hapus).