
Perihal kehidupan,
Gua menikmati dengan cara sederhana. Walau, terkadang terlihat gak jelas dan seperti di buat-buat, Kehidupan gua cukup di bilang normal. Ya, meski sidikit meragukan pada konteksnya, tapi gua paham tentang itu. Karena, gua gak mau orang-orang mudah mendikte jalan hidup yang gua ambil.
Ya, this is my way!!!
I love my way.
***
Pamit dari room multi RDM family, bukan berarti juga gua log out dari SM.
Seperti biasanya gua sempatkan untuk mencari pundi gift gratis di OB ataupun sekedar bernyanyi di room solo sebisa gua biar di sawer.
Anjay! Kek biduan gak, tuh!
Yah, SM bukan hanya menawarkan segudang game, live streaming, sing a song dan banyak lagi yang lainya, namun SM juga menuntut level, juga kontribusi. Bahkan, bisa juga menghasilkan adsense kalau lu bisa dapet label resmi dari mereka.
Kumpulkan diamond, dan hasilkan yang sering kita sebut 'money'.
Semakin paham, semakin menggila!
Ya, udah aturannya.
*
Cosambi--Gang kecil itu mulai rame di setiap sorenya.
Banyak pejalan kaki yang pulang kerja. Dan juga banyak anak muda yang sekedar jalan-jalan menikmati sisa matahari senja, dan gua salah satu di antara meraka.
Di lihat dari style kebanyakan individu saat ini, yang lebih memakai waktu untuk menunduk dalam fantasi fatamorgana yang gadget tawarkan.
Buku adalah jendela dunia, itu dulu!
Lain hal saat itu. Sekarang apa lagi kalau bukan dunia dalam genggaman!
Yah, asik dengan gadget!
Bukan gua menuangkan semua hidup gua di dunia maya. Tapi, keinginan selalu memaksa gua buat stay on SM.
Biar gitu, akal sehat gua memberontak. Karena pada akhirnya laparnya perut gak bisa kenyang dengan di charge. Ya, kan?
Nyatanya, gak sedikit temen gua di aplikasi SM. Ada, banyak. Tapi, gak satupun yang pernah benar - benar berjabat tangan ataupun berbagi kopi sampai hari ini.
Lebih hati-hati perlu, fikir gua!
Banyak hal yang bisa saja terjadi, Namanya juga dunia gadget. Tetap besar perbandinganya karena kita beralur pada expetasi, bermain dengan imajinasi dan satu hal yang udah gak jadi rahasia umum 'dunia tipu - tipu'.
Ya! Zona nyaman, tapi penuh dengan jebakan.
Pintar-pintar bawa diri saja.
***
"Ngopi, Peng! Anjay, dah rame saja. Tumben, apa ceritanya, wei?" Gua langsung duduk di tengah-tengah mereka--Geng gua.
"Gak ada, Cal. Biasa lah, Bopeng bikin ulah lagi, noh. Dia ketauan jalan ama emak-emak" Ujar salah seorang di antara kami dengan tawanya yang seketika pecah.
"B3deB4h kau, Peng! Inget kualat lu! Berdosa, wei! Ajak-ajak ngapa?" Sambung gua.
__ADS_1
"Gak Dical, gak Bopeng, sama saja! Nih kopi lu, Cal. Kayak biasa kan?" Kata tante Neni yang udah tau selera kopi pelanggan setianya ini.
"Makasih, Tante." Balas gua, dengan senyum kecil menggoda.
"Peng, lu inget Dion, kan? Temen gua yang tempo hari itu datang ke sini. Nanti kalau gua libur samperin sana, yuk! " Gua kembali membuka obrolan.
"Apaan? Ogah gua, mah! Orang songong kek gitu. Yang ada bertinju nanti kita." Celetuk Bopeng dengan raut wajah sinis.
"Jujur, Cal. Gua paling males dan jengkel kalau ada orang baru yang belom gua kenal, tapi dia udah sok. Ya, kaya temen lu itu! Dia pikir udah paling uye kali, yak? cuuuuuih!"
"Gak sedikit pun gua takut, Cal. Ya, gua malah pen tau. Kulitnya sesuai gak sama isinya? Pen coba beradu tinju, mana yang lebih keras. Kepalan tangan gua apa dia?"
"Ish! Gimana, yak? Liat orang kayak dia itu, berasa liat daging, Cal." Gerutu Bopeng panjang kali lebar kali tinggi.
"Anjer! Masih saja lu, Peng. Gak ada abisnya!" Tawa kami memecah ketegangan.
"Ya, gua minta maaf dengan kelakuan, sifat dan karakter temen gua yang adanya dia itu, ya ... seperti itu.
Gua juga gak bisa jelasin ke kalian semua, karena karakter orang kan tergantung pembawaannya mereka gimana. Gua juga gak bisa ngomong apa-apa lagi sama kesan yang Dion bawa ke sini kemaren ke kalian."
"Apaan, lu Cal? Kami di sini gak ada masalah sama lu, wei! Udah gak usah minta maaf buat orang kaya gitu. Lu temenan sama dia bakal bawa kerugian ke diri lu ntarnya, percaya sama gua!!
Udahlah, anggap saja lu enggak pernah punya temen kaya dia, titik!"
"Tapi, Peng, "
"Gak ada itu, tapi tapi! Percaya sama gua! Dari pada lu nyesel. Ini Tang City, Bro! Bukan kampung lu." Tegas Bopeng, sambil tersnyum dan menepuk bahu gua.
Pada akhirnya, gua mengurungkan niat untuk mencoba mendatangi Dion sesuai permintaan Bopeng.
Ya, walaupun Dion temen lama gua, tapi selama tahun-tahun ini memang meraka yang saat ini berada di depan mata gua. Sahabat yang menopang keterpurukan di dasar hati gua.
Secara gak langsung, mereka yang membuat gua teguh dan tangguh sampai hari ini selain ibu.
***
Gua tau saat ini, gua bukan berada di kampung halaman gua.
Yang saat itu, gua masih sering berperilaku tanpa pikir panjang. Karena, ya gua masih labil dan belum kenal kerasnya dunia di luaran sana!
Kini masa-masa itu hanya tinggal cerita. Gak pantas juga rasanya gua sebut kenangan. Karena, malu wei!
Terlalu memalukan malah, kalau cerita itu gua ceritakan sekarang.
Sebab, jagoan yang dulu tegar jika di hantam kerasnya kepalan tangan dan balok sisa puing bangunan, saat ini bersembunyi di balik tawa dan canda. Padahal ia tengah terpuruk, hancur dan lemah karena cinta.
B3d3b4h!
Apaan sih gua ini, kok jadi melehoy gini, Anjir!
Gak, wei! Sudah lah come on! Move!
Bukan saatnya drakor, ini jamannya saitama.
Kuatin hati lu!
kuatin diri lu!
Kuatin!
__ADS_1
Dia yang lari dari lu!
Bukan lu yang lemah tapi dia yang kafir!
Biarkan sampah pada tempatnya dan lu bisa dapet yang lebih bersih dari itu.
Ujian sempurna adalah dia yang berhasil setelah kegagalan, bukan dia yang berhasil tanpa kesulitan karena bantuan.
Tetep teguh di kaki lu sendiri, biar dia menyesal. Dia akan menangis di kaki teguhmu itu, tapi jangan sampai lu kembali luluh.
Anjer!
Gini amat.
***
Hm,
Sepi kali gadget.
Gua lirik hp, yang kala itu tak bersuara di atas meja. Gua sedikit berusaha kembali setabil, setelah tenggelam dalam beberapa timbal balik pikiran gua sepulang nongkrong tadi, ahhh!
Malam semakin merayap,
Adzan isya terdengar berkumandang. Gua lirik jam dinding yang detaknya hampir saja gua abaikan.
Uh! Pukul 19.26 WIB.
Berdiri dengan malas gua coba meraih hp yang seakan berat di tangan.
Anjer!
Mode senyap!
Pantes sepi, suekkkkkkkk!!!
[Gimana, Cal?] Satu DM dari Sheena di aplikasi SM yang baru sempat gua baca.
[Udah di buat belum logonya? Aku mau buat event ini. Pingin tampilin logo baru kita, biar keren.]
[Jangan lama-lama yak, Cal? Aku tungguin, awas kamu kalau sampai lupa.]
Hm, bawel b4ngk3! Orang satu ini. Apa gak ngerti yak kalau gua juga ada kerjaan. Kesibukan ada juga, ish! Gini nih, kalau hiburan jadi tekanan! Akhirnya gua juga males mainin Aplikasinya.
Tunggu,
Siapa nih?
[Bang, Dical !!! Bisa edit foto buat cover gak? Pasti bisa ya, kan? Buatin] Satu DM dari Clara nyempil di sana.
Ini lagi apaan coba? ikut-ikutan aja!
[Cal, kalo udah jadi lu share ke gua juga, yak? Mau simpen di album family, nih.] Bang Emil ikut ambil bagian di list DM aplikasi SM di akun gua, selain beberapa pesan gak jelas dan pemberitahuan sistem.
Satu hari sudah.
Gua malah keinget Leani.
Sebenarnya Leani kenapa? Kemana?
__ADS_1
Ada apa? Dan apa maksudnya? Kepo gua, Anjer!
***