
Hari terus berlalu tanpa ada perubahan yang terlihat di pandangan orang-orang di sekitar gua.
Namun di dalam cerita yang gua lalui saat ini, semua berubah pada tahap yang semakin lebih intens.
Gua dan Niken semakin dekat, walau tak pernah bertemu secara fisik, namun secara virtual kami selalu bersama sepanjang waktu kecuali ketika sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Hal ini terasa ketika tagihan internet yang semakin meledak di akhir bulan dan telinga gua yang terasa sakit karna lebih dari lima belas jam di setiap hari, headset yang gak lepas dari telinga.
Bila seseorang saat ini masuk ke dalam kamar gua, ia akan menemukan satu tempat di atas lemari, di mana disana ada kotak kecil dengan ukuran tiga puluh senti meter persegi. Di sana terdapat sejumlah headset rusak yang tak terpakai.
Yahhh!
Entah berapa puluh headset sudah habis di tangan gua, namun semua akan berlanjut seperti itu, sampai waktu yang belum gua ketahui.
***
Hari berlalu, langit barat masih menpakan merah senjanya yang membuat gua masih merasa memiliki kehidupan kecil ini.
Satu-satunya hal besar yang gua miliki saat ini adalah rasa cinta yang sudah tumbuh hingga akarnya terlalu dalam ke dasar hati dan tak akan mudah mencabutnya kembali.
Kini gua sudah mengurangi jadwal editing dari bang Emil. Hanya beberapa event dengan nominal yang lumayan yang gua ambil. Bukan karena sudah tidak mau dengan pekerjaan tambahan ini, namun ya gitu ... namanya bucin.
[Assalamu'alaikum? Lagi sibuk gak, Cal?] Chat dari bang Emil menghampiri.
[Wa'alaikum salam, Bang. Gak sibuk. Kenapa?] Jawab gua seadanya. Tak lagi se-excited dulu, ketika bang Emil memberi pesan singkat atau pun call. Itu karena waktu ini, gua hanya menjadi sedikit egois dengan perasaan gua.
__ADS_1
[Editan baru, lumayan makan besar kita, Cal!] Ucap bang Emil memberi dorongan.
[Hm, boleh, Bang. Gua juga lumayan santai gak ada kegitan beberapa hari ini. Lumayan alhmdulillah, gassss keun, Bang!] Jawab gua berusaha mengimbangi semangat bang Emil.
Walau sebenarnya dalam hati ini, enggan rasanya untuk beranjak dari zona nyaman yang saat ini gua jalani.
Jujur saja kehadiran Niken saat ini, ngebuat semuanya gak penting.
Tapi di sisi lain, gua juga gak enak hati buat menolak ajakan bang Emil, karena inget waktu yang lalu.
Dimana dia yang ngebuat gua sampai di titik ini, bertemu dengan banyak orang di dunia virtual SM, kemudian berkecimpung dalam hal editing dengannya sampai gua bertemu Niken.
Hal terpenting dalam kehidupan adalah hasil. Tapi hal yang tidak boleh sedikitpun di lupakan adalah proses. Sehingga ketika kita lupa dan jalur kita tidak berubah, kita akan tau ke jalan mana kita harus kembali.
Tempat terbaik bukanlah di mana kita bisa tegak berdiri tanpa bantuan siapapun, tapi tempat terbaik sebenarnya adalah di mana kita di hargai oleh siapapun walau dengan hal kecil yang kita buat.
[Siap, bang! Gua tunggu, ya.] Ucap gua singkat seperti biasa, menunggu hasil rundingan bang Emil dan beberapa crew di sana, kemudian hanya mengikuti instruksi editan.
***
Selang waktu, ponsel gua berdering seperti biasanya. Headset kembali tergantung di telinga gua, obrolan demi obrolan terlontar seperti obralan di pasar, karena sudah terbiasa dengan cerita apapun yang terpenting bisa kita ceritakan satu sama lain, terlepas penting atau tidaknya itu.
Dunia virtual kami, hanya milik kami.
Dunia aplikasi atau virtual ini mulai mengisolasi bukan hanya fikiran gua, tapi bahkan tubuh fisik gua yang mulai tenggelam dan tak mengerti lagi tentang kehidupan sekitar.
__ADS_1
Kerja dan virtual.
Kebutuhan makan ini menuntut gua terus menghasilkan uang, namun virtual memberi hal yang selama ini mendustai dalam kehidupan nyata gua.
Kini keduanya berjalan begitu santai di hidup gua, gua benar-benar kehilangan orang-orang di sekitar gua bahkan dalam ingatan.
Proses ini berlanjut, hingga suatu malam akhirnya gua beranikan diri untuk mengutarakan apa yang gua sebut cinta.
"Hm, semakin hari kita semakin dekat. Dusta namanya kalau gua bilang, gua gak nyaman sama lu." Ucap gua mengalir di sela obrolan.
"Eh, jangan bercanda! Ish lah!" Ucap Niken mengelak.
"Gua serius, pake banget! Gua sayang sama lu, gak tau sejak kapan. Tapi gua ungkap ini jujur hanya ingin pengakuan, dari kita yang kek gini tanpa komitmen." Gua meyakinkan Niken dan mendengar jawabannya adalah hal yang gua tunggu saat ini.
"Ish la! Kek mana, ya? Tapi kan..."
Sesaat Niken diam dan gua pun diam.
Telpon pun terputus.
Gua hanya meletakan ponselku tanpa berani menanyakan bahkan lewat chat. Apalagi kembali menelponya. Kali ini diam dan menunggu adalah hal paling benar yang gua bisa lakukan saat ini.
Sebelumnya, gua kira setelah apa yang gua rasa ke Niken terungkap, gua akan merasa lebih lega. Namun kenyataannya, batu dalam dada gua belum sepenuhnya gua letakkan, bahkan lebih menghimpit seakan gua tak lagi punya nafas untuk esok gua hidup.
Gua takut kehilangan kenyamanan, mengungkapkan untuk memiliki lebih adalah ekspetasi yang bermain dalam benak gua saat itu, namun kenyataannya semua berbanding terbalik ketika telpon itu terputus.
__ADS_1
Apa iya, seperti ini akhir ceritanya?