Cerita Senjaku

Cerita Senjaku
Eps. 13


__ADS_3

Jangan pernah membuat orang menunggu kita berpikir hal yang tidak kita pikirkan. Karena menunggu adalah hal yang paling kita sendiri tidak inginkan. Apa lagi untuk sebuah kepastian.


Jujur saja, bukan masalah pasti atau tidaknya. Tapi, tentang waktu yang terbuang hanya untuk menunggu.


Bila waktu itu di gunakan untuk mengejar, mungkin hidup akan berubah berbanding terbalik dengan kenyataan saat ini.


Maka jangan sia-siakan waktu kita, ataupun membuat orang menyia-nyiakan waktu mereka hanya untuk ke egoisan kita semata.


***


Tak terasa semua berlalu begitu cepat.


Dan sekarang RDM Family memiliki banyak member dan semakin seru.


Sheena, Emil dan yang lain pun semakin dekat dengan gua. Kaya udah gak ada lagi canggung. Kayak saudara, bahkan minta tolong dalam hal apa pun, udah gak sungkan.


Gadget udah bener-bener jadi kehidupan ke dua gua, gila kali!


Sekarang gak ada bedanya antara bergerak dan rebahan, sampai semua berlalu dan berganti begitu mudah tanpa terkendali. Real life dan dunia maya berdampingan bagai Romeo and Juliette.


Gak dapat di pisahkan!


***


"Cal, gimana buat kerjaan besok?" Hengki menyela di tengah kopi hangat yang gua teguk, dan Pian yang perlahan namun pasti ikut merapat.


Gua menoleh sembari mengambil tas pinggang di samping kanan gua. Beberapa lembar kertas di sana mulai gua ambil satu per satu dan gua papar di depan Hengki dan Pian tanpa banyak bicara.


"Buat besok, kita set dulu kerjaan area yang dekat, itu denah dan daftar barangnya." Jelas gua singkat.


"Kalian berdua, berangkat saja besok ke lapangan bawa perkakas lengkap. Kalau gua mungkin besok libur dulu Bro, gak apa-apa kan?"


"Soalnya, enggak tau kenapa? Badan berasa gak bersahabat kali." Lanjut gua tanpa menunggu jawaban Hengki dan Pian.


"Ya udah, percaya saja sama kita. Gua sama Hengki bakal atasin semua, ya mudah-mudahan gak ada kendala di lapangan." Pian meyakinkan.


"Oke, Siap!"


Gua kembali rebahan dan mencoba memejamkan mata, karena memang udah gak karuan rasanya.


***


Menyapa dalam dekapan gua, pagi yang dingin itu datang tanpa gua sadari.


Ketika gua buka mata, hal pertama yang gua lakuin adalah menarik nafas panjang dan kemudian bangkit. Sejenak gua kumpulkan nyawa, yang masih mengudara di sekitaran badan yang belum seratus persen terkontrol.


Menoleh ke arah jam dinding yang tergantung dengan detiknya yang bergerak tanpa ragu mengikis waktu.


06.13 menunjuk matahari yang merangkak naik menerangi gelapnya cakrawala pagi itu.


Terdiam gua gak jelas, kosong menatap jam dan ...

__ADS_1


"Bangun, Cal!" Pikiran gua memberontak, mencoba lepas dari dalam igauan pagi yang membuat gua beku sesaat itu.


Gua seduh kopi untuk hangatkan badan, setelah sejenak gua guyur muka dengan dinginnya air.


Masih gak mau nyoba buat mandi, gua. Karena badan yang jujur masih belom setabil.


Gua liat gadget dalam genggaman, msih sepi dari notif-notif yang biasa menghujani.


Gua sambangi aplikasi berwarna hijau, mencari kontak dengan inisial L. Walau ragu, tapi ...


Ya udah, sih!


Seminggu sudah berlalu dan gua hanya menyimpan nomer itu. Anjer!


Lalu apa?


[Pagi. Apa kabar, Leani?] Satu pesan terlempar di ujung gadget gua dan di ikuti beberap pesan pendukung, yang jujur gua meraba ketika gua tap. Karena, ya gua mau ngomong apaan, coba?


[Lama gak denger suara lu, SM terasa berbeda sekarang. Masih lama kah OFF-nya?]


[Gua bukan rindu lho, hehe! Hanya pen tau aja gimana ke adaan lu sekarang?]


[Eh, sibuk apa sih lu sebenernya? Sampai gak sempet lagi masuk SM, anjer!]


Gua hujani salam dan tanya.


Berfikir untuk dapat balasan secepat mungkin dari Leani, tapi ekspetasi memang gak akan pernah sesuai dengan kenyataan.


Apa lagi seorang wanita. Pasti banyak hal yang dia harus persiapkan di pagi hari.


Namun biarlah, pesan sudah terkirim. Selanjutnya gua tinggal nunggu, pasti akan ada balasan chat gua itu. Semoga aja.


Ya!!! Sudah seminggu berlalu, dan gua baru respon nomer WA dia, sekarang.


Kalau saja kemarin gua chat lebih awal, mungkin hasil yang gua dapati juga akan beda.


Tapi, ya sudahlah!


Nasi udah jadi bubur, tambah sedikit garam dan potongan ayam. Maka semua akan baik-baik saja.


Huh!


Jualan nasi untuk mencari sesuap nasi.


Hm, kata-kata yang bagus.


***


"Gimana, Cal? Berangkat gak, lu?"Tanya Hengki memecah angan gua.


Gua yang terkaget, terbata menjawab pertanyaan Hengki. Dan karena memang masih belom stabil juga badan gua.

__ADS_1


"Keknya, gua mau rebahan dulu lah, Bro! Gak enak kali badan gua."


"Ya udah, istirahat saja, dah! Percayain ke gua sama Pian bakal selesaiin ini kerjaan, gampang!"


"Oke, gua mah percaya, Bro. Makasih, yak!"


"Okey! Aman." Jawab Hengki menutup dialog pagi itu.


"Santuy! Untuk hari ini lu tidur saja, Cal!" Saut Pian. Dan mereka berlalu tanpa kata lagi.


*


Sesaat gua diam melihat mereka mulai hilang di balik pintu.


Suara langkah kaki mereka menuruni anak tangga, mengantar gua memasuki dunia gadget yang sedari tadi gua tahan buat nge-tap, hanya karena untuk menatap dan meyakinkan Hengki dan Pian kalau gua bakal membaik dan baik-baik saja.


Senyum gua mulai menipis dan berangsur hilang di sudut bibir, menggantikannya keseriusan muncul seiring gadget yang tertuju ke aplikasi SM yang mulai menampilkan berandanya.


Notifikasi dan DM mulai muncul satu persatu.


Kok telat, Anjer!


"Kenapa dengan SM gua? Notifnya gak muncul kalau di close. Apa perlu di update, yak?"


Stelah gua coba otak-atik di bagian menu setelan, baru gua coba baca DM yang masuk, yang gua anggap penting saja, sisanya ya gua skip!


[Cal, mau duit gak?] Bang emil memberi tawaran yang gak mungkin gua tolak. Tapi gua juga penasaran dan ragu, prank atau serius.


Lalu gua baca lebih lanjut, scroll beberapa kalimat yang dia tulis di sana buat gua.


[Kalau mau, lu hubungin gua nanti kita ngobrol di room. Gua jelasin apa yang harus lu kerjain! Buat tambahan pemasukan lu juga, Cal.]


[Ada bakat, jangan di sia-siain! Apa lagi kalo bisa di jadikan duit, kan lumayan.] Bujuk Emil sedikit memaksa.


Semakin penasaran gua. Walau sebenernya gua juga tau kalau ini gak jauh-jauh dari edit-mengedit.Tapi tetep aja gua penasaran karena gua juga belum tau tentang skalanya.


[Asiap! Nanti sore atau malam gua stay, bang.]


[Japri saja kalau udah di room, nanti gua samperin.] Gua balas DM bang Emil, dengan janji bakal ngeroom bareng nanti.


Karena gua yang memang lagi gak enak badan, gua gak bisa buat nyanyi bikin cover. Lagi-lagi, ya gua kejar OB.


Gak sadar Level akun yang kemaren gua rasa masih level sembilan, sekarang udah beranjak di level tiga puluh satu menuju tiga puluh dua, tapi belum puas karena level room yang masih stuck di level satu karena butuh banyak exp untuk beranjak naik ke room level dua.


Ngeliat keadaan room gua yang masih kaya gitu levelnya dan sepi pengunjung juga, gua pikir emang harus puter otak biar rame dan ada pendapatan room lebih gede.


Oh, ini juga kali alasan kenapa orang buat OB! Biar lebih banyak viewers yang masuk dan stay. Ya ya ya, room full viewers dan stay selama lebih dari 10 menit, menambah Exp room yang besar, SERU!


Oh, okey! Ngerti gua sekarang.


Harus ada target buat cari pemasukan dari SM, baru nanti agenda buat pengeluaran di SM juga.

__ADS_1


Ya, gitu lebih baik dari pada gak sama sekali.


__ADS_2