
Seperti pada hari-hari sebelumnya, hari-hari berlanjut seperti hari biasanya. Gang sempit itu, di mana ceritanya yang sudah lama tenggelam kini mulai gua hampiri lagi.
Sore itu gua berdiri, melihat dinding yang menjulang di kanan dan kiri lalu gua sandarkan punggung malas di salah satu dindingnya.
Hanya sebentar, kemudian gua tarik ponsel dari saku celana juga sebatang rokok sisa tadi pagi.
Gua memulai memainkan ponsel, aplikasi hijau itu sudah sepi tak seperti dulu. Kini apa gua benar-benar telah sendiri? Berteman namun sepi, ada dalam ingatan namun tiada dalam pandangan. Semua kini terkubur, bahkan tempat mengadu pun kini tiada lagi.
Niken Ayu...
Gua lirik satu nama dalam kontak ponsel di genggaman. Setelah menarik beberapa nafas, gua benar tak bisa lagi menahan pahit berdiam diri.
[Hey, apa kabar mu?]
[Aku hanya menunggu musim semi itu datang, ketika aku mulai melangkah untuk musim ini. Namun sekarang aku ragu, tak pernah tau akan seperti apa musim semi itu. Mungkin akan menyambangi hanya untuk memberi sesaat ketenangan atau...]
[Semi itu menjadi rindu. Meski sejuk saat ini hati aku yang tau kau ada di sana, namun menjangkaunya begitu sulit, hanya apa?]
[Tolonglah, beri aku wicara yang mungkin bisa menjadikan titik terang di hidupku saat ini. Bantu aku meletakan batu besar yang menjadi beban di dada saat ini, aku hanya butuh satu kepastian itu.]
[Jika memang tanpa rasa aku harus disini, tolong katakan. Namun jika aku harus pergi, maka izinkan aku berpamitan, tapi jika kau membuka hati untuk aku memulainya....]
[Aku janji... tak akan lelah aku ada, untukmu. Apapun yang kau mau, aku janji!!!]
Hanya pesan yang mampu gua tulis, melihat kontaknya tak lagi ada aura kehidupan di sana.
"Jika memang gua di block, ya gak apa. Mungkin itu yang terbaik." Gua mendengus setelahnya.
Gua berlalu, untuk menuju kost.
Sepanjang jalan itu, gua juga kembali mengingat awal gua di sini, berlari dari rumah tanpa apapun hanya beberapa baju dalam tas gua dan dendam dalam hati.
"Dendam, hm!"
__ADS_1
"Iya, gua bahkan hampir lupa tentang itu. Semenjak ada Niken hadir di hidup gua. Namun sekarang..."
"Uh!"
Bergumam, mengandai-andai saat ini yang bisa gua lakukan. Hanya saja apa bisa gua benar-benar memiliki Niken di sini? Sebenarnya tergantung dari usaha gua, gua sadar tentang itu. Tapi gua sendiri masih menyimpan sedikit ragu di dasar hati gua.
***
Kini gua telah sampai di kost, di mana Pian belum pulang, ya karena dia pamit untuk ke tempat saudaranya dulu setelah kerja. Makanya pulang tadi gua hanya di antar sampai depan gang, untuk kemudian dia meminjam motor dan berangkat.
Makin sepi terasa ketika kembali gua cek aplikasi hijau itu tidak memberi tanda-tanda Niken memberi balasan, bahkan pesan yang gua kirim saja sampai saat ini belum juga ia lihat.
Tak kunjung menuai hasil, gua hanya sesaat masuk ke aplikasi SM. Seperti hal yang biasa gua lakukan, pergi untuk beberapa lagu dan multi menghabiskan cerita juga canda, walau hati ini terasa tidak bisa menangis atau tertawa seperti yang di lakukan wajah ini.
Semakin larut dan mata ini mulai lelah tak tertahan. Namun tiba-tiba kembali segar ketika sebuah pesan dengan nama kontak Niken ayu menyambangi.
[Apa kabar? Maaf membuatmu gelisah, mungkin! Hehe.] Ia terkekeh di akhir pesannya itu.
Gua hanya sedikit mengerenyit dan membaca untuk larut dalam kebingungan, jawaban apa yang harus gua ketik.
Ya, terlalu konyol!!
Untuk sebuah hal yang lama gua tunggu, ketika ia datang pada akhirnya, gua bener-benar kaku dan diam seribu bahasa.
***
[Maaf, semalam aku udah tidur. Baru tau kalo ada pesan dari kamu.]
Selepas kerja gua coba membuka perbincangan dengan chat yang sembarangan gua ketik.
Yahh! Bukankah mencoba lebih baik dari pada tidak.
[Hehe.] Balas Niken tanpa penjelasan.
__ADS_1
[Kenapa? Kok ketawa doang? Aneh!]
[Ya ... gak apa-apa, lah. Chat mu itu loh, emang aku bocah?]
[Ya, bukan, sih! Tapi emang ada yang salah gitu?]
Gua masih berkelit, karena memang gua belom paham dari apa yang di maksudkan olehnya.
Di sini, ke pekaan seorang laki-laki benar-benar di butuhkan.
[Ish! Ya jelas, kan? Gimana ... centang biru itu dari semalam, sekarang bilang baru ngeh sama chat ku, kamu yang aneh!]
[Oh! Mungkin aku buka chat kamu gak sadar kali, hehe. Namanya juga ngantuk.] Gua tetep saja berkelit, walau gua tau kesalahan itu.
"Jadi ... Gimana?] Lanjut gua tanpa klarifikasi lebih lanjut mengubah topik.
[Hm, apanya yang gimana?]
[Pesan ku terakhir kali, aku tau tipikal kamu. Pasti pesanku belum kamu hapus, kan? Bacalah lagi, scroll noh sampe atas. Aku tunggu!" Ucap gua sedikit memaksanya penuh harap.
[Hm, tunggu kalau gitu!]
Gua benar-benar gak ngerti apa yang ia pikirkan, membiarkan ia mengulur waktu adalah hal yang saat ini bisa gua lakukan untuk mengikuti permainannya, bersabar sampai gua mendapat jawaban yang ingin gua ketahui darinya.
Terlepas pada akhirnya seperti apa pun hasilnya, gua akan tetap menerima dengan lapang dada. Karena yang gua punya untuknya saat ini adalah cinta, maka gua gak akan pernah memaksa.
Cinta ya cinta, perasaan ini yang membuat gua terobsesi, bukan obsesi yang membuat gua merasa ingin memiliki. Perasaan ini tulus, hanya ingin mendampingi dan berbagi, bukan belenggu untuk kemudian menyakiti.
Toh, pada akhirnya. Kita juga akan merilis semuanya dari virtual untuk kemudian step by step mencoba menjadikannya real.
Tapi ...
Ini adalah bagian dari proses itu.
__ADS_1
Lalui ini dulu, baru bisa menyusun langkah selanjutnya. kalo di sini kita stuck, semuanya akan mengabaikan proses dan kita juga bakal gini-gini aja. Gumaman gua semakin menjadi, seiring waktu yang mulai beranjak.