Cerita Senjaku

Cerita Senjaku
Eps. 21


__ADS_3

Lelah pun memudar ketika cahaya mentari pagi mengintip dari balik bangunan-bangunan tinggi. Gua berjalan menyusuri tangga untuk mencoba mengais rezeki hari ini.


"Halo."


"Lu di mana? Hari ini kita mulai proyek baru, lu mau gua tungguin di kost, atau mau langsung ke Workshop?" Gua hubungi Pian, karena memang dia belum balik.


"Lu berangkat aja, Cal! Nanti kita ketemu di Workshop."


"Oke, siap! Ya udah, gua otw!"


"Oke!"


Bekerja sepanjang hari dengan serius di hari ini. Ketika proyek baru di mulai, akan ada banyak hal yang harus kita produksi, tak sempat lagi pegang ponsel, dan kami tenggelam dalam pekerjaan.


Singkat cerita senja ini, gua sampai dalam satu notifikasi grup event. Di mana di sana the winner telah di umumkan, dan untuk para pemenang akan mendapat E-Sertificate yang nantinya untuk mereka taruh di slide album, bukti pemenang event dan itu jelas tugas gua.


***


Melihat daftar pemenang!


Gak tau kenapa gua ikut senang ketika gua liat nama Niken ikut mengambil kursi 10 besar, bahkan ia menyandang juara tiga.


Wuih!!!


Mantap kali dia ikut ambil juara.


[Juara tiga rupanya?]


[Memanglah! Suara sebagus itu, gak jadi juara. Gua protes ke juri nanti.] Pesan singkat yang gua kirim ke Niken.


[Ah, bisa aja bang Dical. Hanya keberuntungan. Oh iya, sertifikat ku mana?] Tanya nya meneruskan.


Beberapa orang sudah memberikan foto dan nama akun ke gua tanpa komando, seolah mereka udah paham dengan sistemnya.


Satu, dua, tiga dan seterusnya.


Crew Editing: [Selamat petang. Untuk The Winners yang sudah share foto dan nama akun, E-Sertificate gua proses dulu. Nanti kalau sudah jadi gua bakal share secepatnya. Terimakasih atas partisipasinya.]


Menyela beberapa waktu, gua mulai dengan editing, tentu setelah konfirmasi dengan Kapten KPM dan sudah dapat persetujuannya tentunya.


***


Satu persatu akhirnya mulai gua garap.


[Call!] Satu pesan dari bang emil. Mampir di list notifikasi.


[Yay!!! Bang, what happen?] Jawab gua.


[Gimana KPM? Aman sudah kah?]


[Alhamdulillah, Bang, lancar. Tinggal finishing. Sertifikat clear, udah rampung.]


[Oh, oke lah! Nanti kalau udah selesai kabarin. Ada job, nih. Jangan lama-lama, ya. Waktunya mepet soalnya.]

__ADS_1


[Siap, Bang!]


***


[Sertifikat ku, mana?] Chat dari Niken kembali terpampang di layar slide ponsel gua.


[Sabar sayang, nanti gua buatin!]


Sekejap itu, ponsel gua hening dan gua bisa melanjutkan editing.


Dalam hati gua tersenyum, karena balasan chat yang sengaja gua buat. Membuat Niken gak membombardir ponsel gua dengan spam.


Satau persatu sertifikat sudah rampung gua garap, namun masih gua simpan di dalam file manager ponsel dan belom gua share. Ya tentu karena belum rampung semua.


Gua gak mau, satu sertifikat ter-share maka semua akan meminta buru-buru di buatkan.


Kali ini semua berjalan lancar karena gak tau kenapa tukang spam hilang dari peredaran chat WA, yang selalu mengganggu gua ketika gua edit.


"Huh! Tinggal dua sertifikat lagi, semua selesai."


Cangkir kopi telah kosong dan waktu semakin larut tanpa terkendali.


Udah waktunya istirahat karena mata udah terasa kering saat ini.


Sejenak kembali gua lihat sisa chat gua sama Niken. Dan tanpa sadar gua tergerak mengirim pesan untuk menutup hari ini sebelum beranjak ke pembaringan.


[Selamat malam. Semoga hari ini berlalu dengan baik, mimpi indah di tidurmu dan esok akan lebih baik lagi harimu, ketika pagi kau jemput dengan senyum manis mu itu.]


Baru saja gua hendak memejamkan mata, notifikasi WA kembali masuk.


[Abang,]


[Lha? Belum tidur?]


[Belom.]


[Kemana aja? Tumben menghilang?]


[Gak kemana-kemana. Cari jodoh tadi.] Balasnya tak lupa dengan emoticon ngakak. Entah kenapa gua suka. Dia selalu saja terlihat ceria seperti tak ada beban.


[Bisa aja. Gua nungguin.]


[Heleh! Udah mulai mau ngegombal.]


[Serius.]


Chat gua untuk beberapa menit belum juga centang biru. Ini orang ngapain? Masa ketiduran?


Mengetik ...


[Maaf lama balasnya, Bang. Aku lagi bikin bunga.]


[Bunga?]

__ADS_1


[Iya. Itu ... dari kain flannel.]


[Oh. Iya, tau.]


[Abang mau liat?]


[Boleh.]


Anjir!


Video call!


Gua kira dia bakal kirim foto doang, anjir!


Gua sedikit gelagapan. Dan gua akui sedikit ada debaran.


Muka Niken muncul di layar. Senyumnya menyeringai seolah di sengaja untuk menyambut gua.


"Abang!" Teriaknya dengan suara yang khas cempreng. Anehnya kalo nyanyi ya gak cempreng.


Gua hanya tersenyum. Entahlah... Seperti terhipnotis oleh senyumnya.


"Ini bunganya." Ucapnya lagi sembari mengarahkan kamera ke bunga-bunga yang sudah ia susun di tirai.


"Bagus." Puji gua menyenangkan hatinya.


"Aku lagi gabut mah gini."


Gua lagi-lagi tersenyum mendengarkan ia berbicara.


Gak tau,


Baru kali ini gua ngerasa senyaman ini. Rasanya obrolan kami mengalir begitu saja. Apapun yang di bahas selalu saja nyambung dan gua benar-benar lepas. Tertawa, saling ejek, bercanda hingga tak ingat waktu yang semakin larut.


Kita ngobrol banyak hal. Membahas apa saja. Hingga tak gua denger lagi suaranya.


"Abang! Maaf ya jidat doang. Soalnya aku sambil tiduran. Lampu udah di matiin."


"Selow. Asal ada suara. Berarti lu masih ada."


"Iyalah."


Kami kembali melanjutkan obrolan. Saling bercerita satu sama lain.


Hingga ...


"Ken?" Gua coba untuk memanggil tapi tak ada jawaban. Sedangkan layar HP sudah berubah menjadi gelap.


Kemudian, terdengar dengkuran kecil dari sana yang gua sadari kalau ia ketiduran. Gua menyunggingkan senyum kecil.


Entah kenapa, gua sama sekali gak ada niat untuk mengakhiri panggilan itu yang ternyata sudah berdurasi tiga jam. Gila! Selama itu kita ngobrol!


Gua kembali memperhatikan layar HP dan kemudian meletakan benda pipih itu di dekat telinga.

__ADS_1


Gua memejamkan mata. Sudah cukup untuk hari ini. Tubuh gua juga butuh istirahat. Dan malam ini rasanya sangat berbeda. Ada perasaan yang sulit untuk gua jelaskan.


__ADS_2