Cerita Senjaku

Cerita Senjaku
Eps. 09


__ADS_3

Senja yang indah menawarkan gelap. Menawan semua mata yang memandang. Mengiringi, mengantar menuju malam di perapian. Memantik kehangatan, kerinduan ditepian hati.


***


Gua tersentak lalu menoleh,


Sebuah tangan menepuk bahu gua.


"Lu ngapain?"


"B4ngsad lu, An! bisa gak lu enggak ngagetin gua?" Ucap gua tanpa ekspresi dan melihat Pian yang masih bingung dengan keanehan gua saat ini.


"Udah wei, slow! Gua gak kenapa-kenapa, kok. Santai, jangan panik." Gua nyengir.


"Gak gitu, Cal. Lu kalau ada masalah ngomong aja sama gua gak apa-apa. Siapa tau gua bisa bantu. Jangan lu diam-diam bae, terus kayak gini! Jujur, akhir-akhir ini gua sering liat lu nge-halu. Terus, jarang juga sekarang gua liat lu keluar buat nongkrong sama temen-temen lu di depan gang, sebenernya lu kenapa?"


"Ya, gua gak kenapa-kenapa, An. Sinetron kali lu mah. Orang gua B aja!"


"Ya udah, ayok balik ke kost, wei! Gua dah kedinginan." Ajakan gua ke Pian, sembari gua melanjutkan perjalanan pulang.


***


Suara gelas yang beradu dengan sendok, memecah keheningan kost.


Pian menoleh ke arah gua. Ya, gua tau dia masih merasa ada yang aneh di diri gua. Namun, gua juga tau ia canggung untuk menanyakan lebih detail tentang gua saat ini.


"An, kapan rencana ambil libur balik kampung? Kenya gua bentar lagi, dah. Ruwet kali otak rasanya efek kurang piknik." Gua coba mencairkan suasana, biar terasa gak anti-mainstream dan mencekam.


Beghhhh!


Suasananya itu udah kaya apaan, Anjir!


Pilu, wei! Kek abis kena musibah gitu, gilak kali!


Skip, ah! Terlalu drakor.


***


21.15 WIB dingin seperti di kutub.


Kopi lagi! Gak bisa tidur, bodoh amat!


'Dunia SM' pelarian gua dari real life yang membuat waktu terasa jenuh. Kembali bergelut dalam kepalsuan yang nyata. Kala semua asa yang gua punya kini tak lagi terhirau karena cinta yang lama urung sampai pada singgasananya.


*


Grup famili membludak 99+ notifikasi.


Waduh! Banyak amat, anjir!


Gak bisa gua baca satu per satu.


Emil : [@Dical! Typing, wei! Kagak ada kehidupan kick entar, haha. ] Gua liat tag nama gua di sana. Bang emil anjir!

__ADS_1


Sheena : [@Emil, Emang ada online itu bocah ya, Mil?]


Emil : [@Sheena, Iya sapa tau. Tapi, perasaan online mulu dia. cuma kadang-kadang di sistem dia, main TS.]


Clara: [@Sheena, Cie! Onel pura-pura gak tau, padahal dia sering kojom sama Dical, di room utama, is!] Clara menambahkan candaan di grup famili dan seketika itu pun ramai.


Venus : [@Shenna, Aaaaaacie! Bucinan baru!] Venus menambahkan.


Laskar : [@Sheena, Asik! OB Room kita. Ya, itung-itung syukuran, wei!]


Emil : [Hahaha]


Sheena : [@all, Apaan sih? Lu semua gak jelas!]


[Kenya seru kali ya, hibahnya? Ajak-ajak, wei!] Gua nongol tanpa salam.


Sheena : [@Dical, Sini, wei! Ke room utama. Aku mau kamu buat cover famili. Kata @Emil kamu bisa edit, kan?] Onel langsung to the poin ngelihat gua typing di sana.


Emil : [@Dical, Nah muncul juga lu akhirnya. Harus jadi bahan ghibah dulu baru mau hadir lu, ya?]


Gua : [@Sheena, Nanti, lah. Sabar, bos kuh! Jangan main buru-buru gitu. Deket dulu baru jadian, haha! @Emil, Iya nih, Bang. Meditasi gua terganggu soalnya, wkwkwk]


Clara : [@Dical, Ashiap! Aku dukung deh, hehe.]


Sheena : [@Dical, Ngomong apa, sih? Gak lucu, gak usah canda! Serius nih, aku ngomong. @Clara, Lu juga ngapain nambah-nambah?]


Gua : [@Sheena, Oh, gak mau canda? Maunya di seriusin gitu, yah? Wkkwk.]


Emil : [Gua gak ikut-ikut, ya!]


Gua : [Kabur, ah! Mau menghilang lagi biar di cariin, haha.]


Sheena : [@Dical, Mau kemana, wei?! sini dulu aku bilang!!!]


Gua : [@Sheena, Nanti aja, ya. Gua masih belom ada waktu buat konsep cover family.]


Sheena : [@Dical, Ish! Terserah, lah!]


Dan gua benar-benar close dari grup famili kembali ke sistem. Dan sebelum itu, gua menyempatkan diri menyapa Leani melalui DM pribadi.


[Malam, Leani. Apa kabar lu hari ini? Masih ingat nafas, gak? Oksigen masih gratis apa udah mulai bayar? Hehe.]


Namun, sapaan ringan yang gua kirim itu gak ada jawaban. Mungkin dia offline. Hm, gak apa-apa lah, nanti juga di lihat sama dia.


Sembari gua menunggu Leani membalas DM gua, gua masih mencoba keberuntungan dalam melipat gandakan koin di TS.


*


Gak terasa waktu udah berjalan begitu lama tanpa gua sadari.


Notifikasi SM pun hadir dari tepian layar gadget gua. Memberi tau, kalau satu pesan telah ada di inbox gua.


Hah, Leani ...

__ADS_1


[Hahaha. Ada-ada aja kamu, Cal. Sumpah! Tapi aku ya alhamdulillah baik-baik, aja. Kamu sendiri gimana?] Pesan dari Leani.


[Gua juga baik-baik aja dan semakin baik karena pesan gua lu bales. Haha. Room yuk, rindu weeeei, wkwkwkk.]


[Nah boleh, sekalian aku check-in room, baru sempat on juga sih akunya.]


[Yuk cus. Room lu ya, Lean.]


[Siap, Cal!]


***


Banyak hal yang gua ceritakan, tapi tidak sedikit yang gua sembunyikan. Rasa suka berbeda dengan rasa cinta dan gak bisa di samakan, maka dari itu gua tau aturan mainnya.


"Wiiiiiiih! Akhirnya setelah sekian lama bisa satu room lagi sama bang Dical." Sambut leani dengan tawanya.


"Naik! Gak boleh typing, awas kau, Cal!"


"Is! Itu mulu yang di omong, tau lah gua, wei!" Seperti biasa gua duduk dan langsung bacot.


Ngalo ngidul yang gak jelas, sampai akhirnya ...


"Sibuk terus ya, akhir-akhir ini, sampai gak sempat DM gua, Lean? Mentang-mentang dah ada bucinan, gua di lupain, anjir!"


"Mana ada, wei! Lagi males aja Cal, masuk SM. Kangen ya sama aku?"


"Kalau iya kenapa? Boleh apa enggak?" Gua nanya sambil cengengesan.


"Hm, boleh gak, yah? Tapi Cal, kayaknya aku mau istirahat main SM dulu, deh!" Leani, sedikit memelankan suaranya.


"Nah, kenapa, Lean? Lu ngerasa ke ganggu sama gua ya, Lean? Maaf yah, yasudah gua gak akan ganggu-ganggu lu lagi kok, kalau perlu gua janji sama lu deh!"


"Gak gitu juga, Cal. Is! Jangan ngomong kek gitu! Bukan gitu maksud aku!"


"Yasudah, sih. Gak usah jelasin apa-apa lagi. Gua nangkapnya gitu. Yasudah, gua cabut aja."


Gua kemudian out dari room. Gua gak tau, dia masih di sana atau juga ikutan out. Dah lah! Gak penting juga!


*


Gua benar-benar gak ngerti dan gak peka sama dia. Maunya gimana, maksudnya apa dia ngomong kaya gitu.


Tapi, yang gua tau saat ini mungkin dia punya cowok. Mungkin juga dia mulai jaga jarak aman. Atau, entahlah. Semakin gua memikirkan itu, semakin gua pusing kepala.


Kalau dia pergi atau menghilang, ya udah. Gua cari lagi temen cewek yang bisa kasih kenyamanan yang sama.


Bodoh amat.


***


Dunia itu ditakdirkan berputar tanpa berhenti. Lalu kenapa gua harus berhenti dan menoleh?


Matahari tak pernah lelah menyinari bumi meski kadang awan kelabu menutupinya. Namun, ia tak sedikitpun urung dan tetap bertahan.

__ADS_1


Kenapa juga gua harus berubah haluan pendirian, prinsip ya tetap prinsip.


Filosofi, hanya amunisi pemicu semangat ketika gua mulai melambat, tapi tidak untuk berhenti melanjutkan hidup.


__ADS_2