Cerita Senjaku

Cerita Senjaku
Eps. 23


__ADS_3

Dan akhirannya sesi curhat gua dan Niken berlanjut hingga berganti jam, berganti hari bahkan minggu dan bulan. Sampai waktu yang tidak kami ketahui yang terus mengikis persahabatan menjadi cinta.


Tumbuhnya rasa itu tanpa gua sadari, semua berlanjut dengan awal perhatian dan rindu yang hadir ketika tidak saling bertaut dalam chat atau telpon.


Hanya saja, gua sedikit takut tentang masa lalu gua ketika gua flash back dengan cerita itu.


Namun apa iya? Gua akan terus sembunyi dan menyembunyikan perasaan yang mulai mengalir dengan sikap gua ke dia.


Gua gak bisa lagi terus menyimpan, cemburu itu sakit, tapi gua juga gak bisa melarang jika hubungan gua sama dia kek gini.


Gua harus ungkapin, titik!


Persetan dengan penolakan.


GUA GAK BAKAL MENANG, KALO GUA TAKUT KALAH.


Gua harus yakin dan meyakinkanya tentang apa yang gua rasa ke dia saat ini.


***


Beberapa hari ini gua menjauh dari Niken, tanpa pesan dan tanpa kabar di hari gua. Dengan niat meredam perasaan yang tengah hadir saat ini, gua sibukin diri gua dengan beberapa editan di sela senggangnya pekerjaan, bahkan untuk membuang ke buntuan gua coba buat keluar sama Pian, hanya untuk sekedar ngopi.


Namun semua tiada hasil, seperti saat ini. Udah gua kacau dengan editan yang ngebuat gua mumet saat ini, kerjaan real gua yang juga ribet banget gara-gara harus selesai dengan waktu yang udah di sepakati dan mepet. Dan juga bang Emil yang juga ikut-ikutan menghilang gak ngebantuin gua.


"Anjerrr! Lengkap sudah." Gumam hati sembari menonton display picture kontak WA Niken.


Bukan semakin lupa, gua semakin rindu.


Pikiran gua berusaha melupakan tapi hati gua selalu mengingatkan.


"Bucin, suekkkk!"


***

__ADS_1


Genap sudah empat hari tanpa chat, kebetulan nya tumben kali itu Niken gak ganggu gua dengan spamnya. Namun akhirnya gua gak tahan lagi dengan kondisi ini.


"Hey! Apa kabar?" Siang itu gua chat dia.


Berharap ada beberapa celah untuk bisa berbagi hati denganya, bukan hanya berbagi cerita.


Berdering!


Buka balasan chat dari Niken, namun ia menelpon. Segera gua bangkit, gua yang sedari tadi berbaring sambil berbincang dengan Pian pun berusah duduk secepat mungkin, merapikan rambut yang acak-acakan dan mengusap muka kumel gua sekenanya.


"Iy, halo." Gua angkat panggilan itu dan menyapa.


"Assalamu'alaikum?" Suara di ujung sana.


"Wa'alaikum salam," jawab gua di sertai tawa kecil.


Empat hari terasa lama dan ada banyak cerita yang tertunda untuk gua ceritakan dan begitupun dengannya.


"Oh iya, bulan depan aku ultah, loh!" Ia memberitahu gua tentang itu.


"Heh, iya kah? Weh ... Tanggal perapa kah?" Gua bertanya menegaskan.


Moment yang tepat, untuk apa yang ada di benak gua.


"Tanggal 11, jangan lupa kadonya, ya!" ia menyeringai dengan ungkapannya.


"Haha, siap! Emang kamu mau kado apa? Coba sebut."


"Ishh! Becanda anjer!"


"Gua serius, ayo bilang aja!" Gua makin bersemangat.


"Hmmm, mau apa ya?" Dia berpikir sejenak.

__ADS_1


"Boneka, Teddy bear yang gede!" Sambungnya kemudian.


"Sent alamat, bulan depan Teddy Bear dari aku mengetuk pintu rumahmu." Tanpa basa basi dan jelas.


'Teddy Bear, semoga bukan hanya mengetuk pintu rumahmu, tapi juga pintu hatimu buat ku.' Sejenak gua mengigau.


"Serius?" Tanyanya yang tak percaya, gua mengiyakan begitu saja.


"Iya, serius. Kirim alamat rumah, buru!"


"Iya, siap! Nanti aku kirim alamat ku. Makasih sebelumnya. Padahal aku canda doang." Ia memberi alasan untuk statementnya itu.


"Iya, sama-sama."


Obrolan tidak berhenti sampai di situ, kami terus saja mengobrol sampai larut.


Semakin dekat dan semakin lupa tentang kehidupan lama gua.


Teman-teman gua entah di mana, kemana dan ngapain sudah gak lagi ada di ingatan gua. Gua berubah semenjak itu, semenjak gua punya aplikasi itu di ponsel gua, semenjak gua editing dan semenjak gua kenal Niken.


Gua hanya tau, saat ini gua nyaman. Hal yang udah lama gua tinggalin yang saat hadir kembali dan gua jalani semampu gua aja.


Maaf bila gua terlalu egois karena memikirkan kesenangan gua sendiri. Tapi jujur saja untuk saat ini, gua gak mau di ganggu dengan hal lain kecuali yang ngebuat gua nyaman sekarang.


***


Hari terus berlanjut setelah malam itu, dengan beberapa hari menghilang saat ini kami malah semakin sering berbagi kabar dan obrolan, bahkan mungkin sembilan puluh persen waktu akan berjalan bersama Niken, walau tak dapat tersentuh, melihatnya dari depan layar lcd ponsel sudah membuat gua nyaman. Apa saja kita lakukan dengan vido call yang seakan tak pernah off, bisa di bilang pertemanan kami benar-benar lebih dari sekedar teman namun tak mau saling mengungkap hanya saling mengisi.


Tapi hubungan, ya tetap saja hubungan. Apa lagi ketika cinta bersemi, harus berbunga agar bisa di akui.


Gua gak mau bunga itu gugur sebelum berkembang! Dorongan yang kuat itu masih saja gua block, gua tau ada jalanya namun saja belum tepat timingnya.


"Selaw aja!" Dalam hati gua bergumam. Dalam kesadaran, gua pun tersenyum. Gua yakin ... kamu, Niken bakal seutuhnya milik gua, cepat atau lambat.

__ADS_1


__ADS_2