
Entah berapa waktu yang sudah terlewat. Keseharian yang sekarang gua lalui perlahan tapi pasti mengalami transformasi dari perkenalan gua sama Niken. Hal yang membuat gua lupa, seperti apa gua kemaren.
Editing masih berlanjut sebagai penopang tambahan untuk ekonomi gua. Bukan ekonomi sih sebenernya, tapi mungkin lebih ke life style. Hal yang gua dapet darinya juga entah ke mana gua pakainya.
Waktu berjalan semakin cepat seperti itu pula gua semakin dekat dengan Niken.
Tak terasa hubungan yang semakin dekat membuat hubungan hati terjalin di antara kita.
Obrolan ringan itupun semakin jauh lebih private dan membuat kita semakin dalam saling mengenal satu sama lain lebih lagi.
Tapi, gua belum berani bilang cinta. Hanya rasa peduli dan memperhatikannya mengalir begitu saja bahkan semakin waktu berjalan, rasa cemburu pun ikut hadir ketika ia gak stay di ponselnya.
Hari-hari terus berlalu, tiada hari tanpa menghubungi satu sama lain. Bahkan tidur saja kita masih sempatkan dengan telepon. Membiarkannya hingga terkadang hanya suara dengkuran yang saling bersautan.
Ah! Gila kali.
Ketika gua memikirkannya, hanya tersenyum yang bisa gua buat.
Namun, ya ... bukan Dical namanya jika mengakui cinta semudah itu.
Karena betapa ingatnya gua, ketika itu Niken bercerita tentang awal perkenalan yang sesekali ia ceritakan. Membuat gua kadang tertawa mendengarnya.
Dari story WA yang ia khususkan buat gua, namun gak gua liat sama sekali. Display picture yang ia ganti dengan foto yang paling cantik menurutnya berharap gua chat, namun nihil. Hingga chatnya gangguin gua yang lama gak gua respon. Bukan hanya satu atau dua jam. Bahkan berhari-hari baru gua balas.
"Betapa cueknya!" Ungkapnya ketika tengah menceritakan hal itu. Namun hal-hal sekarang sudah sampai pada titik ini. Di mana kita tidak mau di pisahkan satu sama lain. Namun, belum juga mengungkap perasaan untuk saling mengikatkan hati.
Sebenarnya kesadaran ini mendorong untuk mencoba menyinggungnya. Namun beberapa pemikiran membuat gua ragu untuk memperjelas nya untuk saat ini.
***
Mengingat tentang siapa gua.
__ADS_1
Dical, ya--gua Dical! Seorang yang tidak pernah peduli tentang perasaan gua saat ini. Gua adalah laki-laki yang sudah hampir lupa bagaimana cara mencintai atau pun menanggapi rasa di cintai.
Gua pernah menikah waktu itu, namun gua di selingkuhi oleh seorang istri. Bukan karena segi materi atau perhatian ataupun tanggung jawab.
Secara garis besarnya, gua bukan seorang yang terpandang atau memiliki kelebihan dalam segi ekonomi di bidang usaha.
Ya, benar saja!
Merantau adalah cara yang bisa gua lakukan untuk bertahan hidup dan membuat keluarga kecil gua ini dapat bersaing dengan arogansi tetangga yang selalu pamer dengan gaya hidup, waktu itu.
Untuk gua yang sudah berkeluarga, membawa istri ke daerah tempat kerja adalah hal yang harus menurut pemikiran. Untuk beberapa waktu membuatnya di samping gua, bergandengan tangan saling bahu-membahu dalam kehidupan berjalan dengan lancar.
Kehidupan kami juga normal, bahkan mungkin malah lebih baik dari pada keluarga orang lain jika di lihat dari kami yang memang bisa di bilang pengantin baru, karena awal gua membawanya ketika usia pernikahan kami tiga bulan atau seumur jagung.
Dari konsep waktu, semua berjalan hingga tujuh tahun lamanya. Sebelum semua berubah, ketika orang tuanya menelpon dengan alasan kerepotan dan memintanya pulang. Mungkin dengan adanya dia di pulang, bisa membantu ibunya dalam mengurus rumah. Hal klasik yang sudah umum namun ketika di ulas lebih dalam, maka akan terkuak juga alasan yang sebenar-benarnya. Dan itu pahit kalau di bicarakan bagi gua!
***
Delapan tahun usia pernikahan. Dan kami masih belum punya keturunan.
Berobat? ya!
Hal itu kami lakukan meski kami tau, tidak memiliki keturunan bukan lah sebuah penyakit yang bisa di obati. Namun ini adalah bagian dari usaha.
Dokter spesialis, terapi rutin hingga herbal, sampai ke hal yang paling extreme sudah kami jalani.
Secara pemeriksaan dokter, kami sama-sama normal dan tidak ada kelainan. Dengan beberapa bantuan obat yang harus kami konsumsi, dokter hanya bisa berucap bersabarlah dan berdo'a tentunya.
Namun semua usaha terhenti ketika hari itu.
Ia memutuskan untuk berjarak, ia menuruti orang tuanya dengan alasan beberapa hari di sana lalu kemudian ia akan kembali. Bicara tentang jarak, kami bukan menempuh jarak satu dua jam, namun butuh waktu beberapa hari karena berbeda pulau.
__ADS_1
Namun alasan tinggal alasan, semua akan terlupa dan hilang seiring kenyataan yang gua dapati tak sesuai dengan ekspektasi.
Bukankah manusia punya nalar? Sesuatu yang tak masuk logika akan membuat pemikiran kita menolak meski itu sesuatu yang di perjelas dengan penguatan.
Tetap saja, tahun-tahun yang sudah berlalu dan di lalui bersama membuat gua benar-benar paham tentang dia.
Berbohong ataupun jujur gua bakal tau hanya sepintas lalu gua dengar ia bercerita. Kepekaan ini terukir di hati gua seiring waktu berjalan, kepekaan ini adalah gambaran betapa dalamnya gua mencinta. Namun, yah ...
Kini semua hanya cerita di bawah cerita.
Semua akan terlupa, seiring rasa benci yang orang akan tau ketika melihat ekspresi gua yang tanpa sadar terukir ketika namanya di transmisi kan ke telinga gua.
***
Jenis emosi ini benar-benar gua sendiri tak tau lagi, bagaimana gua akan menyikapinya. Bahkan hingga saat ini, hanya tertinggal rasa benci, benci dan sangat menjadi-jadi.
Masih sangat jelas!
Jarak yang memisahkan keluarga kecil ini dan juga kesibukan pekerjaan gua, membuat hal yang tak terduga di hidup gua terjadi.
Kabar perselingkuhan terdengar di telinga gua yang datang dari adik kandung istri gua itu. Ia datang ke gua dengan telfon sore itu. Dengan beberapa bukti nyata yang membuatnya meyakinkan gua dan membuat istri gua tak lagi dapat mengelak.
Semua udah terjadi, beberapa masalah itu akhirnya mulai memudar seiring gua yang terus menghilang dari kehidupan mereka. Menjauh dan menjauh meski ia selalu mencoba menghubungi gua, untuk meminta maaf dan meminta gua membuka pintu hati untuk masuk dan mengulang kembali hal-hal yang telah berlalu itu.
Namun ya mau gimana lagi, rasa jijik kini menyeruak mendorong hal-hal yang ada dalam benak gua. Yang dulu terlihat indah ketika gua lakuin untuknya, kini menjadi hal tabu yang tidak akan pernah lagi gua bisa buat dengan perasaan. Bahkan, memikirkannya saja akan menyulut luka yang kemudian mengisi setiap sendi dan nadi di tubuh gua menggambar banyak kebencian.
Lupakan!
Saat ini ada orang yang berbeda, menekan keraguan di dasar hati gua saat ini. Terbata dan perlahan dengan ingatan seiring waktu akhirnya gua ceritakan hal itu ke Niken. Tak peduli lagi gua apa dia akan menjauh atau semakin dekat, pada dasarnya itu semua murni pengalaman hidup gua yang memang tak bisa di hilangkan dari masa lalu hidup gua.
Namun apa yang gua pikir dalam benak gua gak pernah terjadi, sebaliknya Niken menerima cerita gua dan bahkan ia memberi semangat.
__ADS_1
"kita akan mendapatkan hadiah setelah berkompetisi. Dan hidup akan selalu berjalan mendatangi kita dengan pasang surutnya. Kita akan lebih baik dengan bertahan, menghindari hal yang mengalir tanpa bisa di bendung adalah seperti menghentikan proses perubahan hidup kita menjadi lebih baik dan pada akhirnya kita akan stuck di kehidupan yang begitu-begitu saja dan hal yang paling buruknya adalah kemunduran yang terjadi, maka dari itu lanjutkan langkahmu."
***