
Awal yang baru untuk semangat hari ini. Gua terbangun dengan senyum di alam bawah sadar gua. Sesaat terduduk menghimpun nafas, mengumpulkan nyawa untuk dapat sadar seutuhnya.
Gua beranjak dari pembaringan untuk segelas kopi hangat. Sembari menunggu air mendidih, gua mulai aktivitas dengan mandi biar segeran dikit.
Selang waktu berlalu tanpa harus gua jelasin juga, ngapain aja di kamar mandi!
Suara air yang mendidih di teko elektrik, menggerakkan gua untuk stay dengan bubuk kopi hitam, yang aromanya nikmat meski tak senikmat surga.
***
Hari yang indah, di mana gua berangkat bekerja seperti biasanya. Workshop pagi itu sedikit riuh. Terlihat beberapa orang mengobrol santai disana.
Gua dan Pian berlalu sembari memindai apa yang mereka bicarakan.
Pending!!!
Sejenak gua ngelamun di depan Workshop.
Anjir kali!
Pending gak bilang-bilang dari kemarin. Kan bisa hubungin. Barang sih boleh inden, tapi kan udah dua minggu selepas terakhir kita briefing tentang proyek baru ini. Schedule udah mateng--kok bisa mentah lagi?
Pulang, semuanya!!!
Hari ini libur, gua sedikit kesal dengan ini!
Berlalu dan kembali memacu kendaran tanpa menoleh untuk pulang, di ikuti temen-temen satu kerjaan gua.
*
"Gak kerja di Workshop hari ini, bukan berarti gak ada kerjaan lain kan, Cal?" Ucap Pian pada gua, sambil membuka pintu kost.
"Kan kerjaan kita di lapangan udah clear, kita kejar sampai finis kemaren. Maksud gua ya, ini! Kita selesaikan itu buru-buru, buat projet baru kita ini."
"Gua kira barang udah ada loh. Eh malah pending lagi. Tau gitu kemaren kita santai aja kan kerjanya, gak kek orang ngejar maling, anjir!"
Gua masih memikirkan hal yang di luar dugaan itu. Alhasil gua dan Pian saling diem tanpa perundingan.
Gua coba hubungin kantor, mencoba mendapat kepastian, biar bisa atur lagi masalah kerjaan agar nantinya gak acak-acakan karena schedule yang meleset.
***
"Hm," Gumam gua sembari menutup telfon.
"Gimana, Cal?" Sambar Pian yang sedari tadi memperhatikan obrolan gua.
"Iya itu, pending sampai waktu yang tidak di ketahui. Sue kali, kan? Kita libur hari ini, sama besok. Lusa kita berangkat buat ngerjain proyek yang lain dulu, cuma gambar belom rampung. Makannya dua hari ini gambar di selesaikan dan lusa baru bisa kita kerjakan."
__ADS_1
"Okelah, Cal! Dua hari, ya?" Tanya Pian.
"Iya, dua hari. Kenapa emang?" Tanya Pian gua balas dengan tanya.
"Libur dua hari ini, gua mau jalan dulu dah ke tempat saudara, lama gak ke mereka soalnya, besok sore pulangnya. Oke, Cal? Lu baik-baik, ya. Jangan masukin cewek ke kost!" Pian terkekeh.
Dan gua hanya tersenyum kecil.
"Gua juga punya otak, gua masih sehat, gua punya
etika dan style. Gak gitu juga cara main gua." Gumam hati gua menatap sinis ke Pian.
Ya, pemikiran Pian tentang gua mungkin bercanda atau menyindir seakan menjudge gua.
"Gak, lah! Gila kali nanti gua di grebeg tetangga.
Masih punya moral gua, anjir!" Senyum melengkung di sudut bibir gua.
"Ya udah! Sana-sana pergi, gih. Gua mau lanjut ngedit, lumayan dapat uang tambahan."
"Iya-iya! Anjir lu, Cal! Ngusir gua!?" Sembari menaikan nada suara, Pian berlalu.
Sendiri lagi!
Asik! Bebas dua hari ini. Ngapain aja gak akan ada yang komentar.
Eits! Tunggu dulu. Cover grand final belom selesai.
Ya, ampun! Hari ini harus selesai. Malam nanti harus gua share, biar nanti pas event berjalan cover bisa ke baca sistem.
Setengah hari pun berlalu dengan gua yang fokus tanpa bergeming dari aplikasi edit yang membalut waktu gua hari itu.
"Ah! Kelar juga."
"Waktunya cek satu persatu, ada kesalahan gak, ya?"
"Gini nih, kalau waktunya mepet. Gak bisa slow ngedit, gua. Untung aja kerjaan gua pending hari ini, kalo nggak ..."
"Bisa-bisa gak punya waktu istirahat siang gua, gara-gara harus kejar cover. Itupun gak ngerti gua, malam nanti bisa benar-benar clear atau gak?"
"Ok, semua udah fix."
"Oh ya, ada WA tadi. Dari siapa, ya?"
Gua buka WA yang udah gua cuekin sedari tadi. Bukan gua sombong, tapi emang gua sibuk.
"Hidup gua, kalau gak kerja di Workshop, ya di aplikasi, yang penting hasilkan uang. Walau sebenernya gua heran! Bertahun-tahun lamanya gua kerja pagi, sore, malam, tapi kenapa gak juga jadi orang kaya?"
__ADS_1
"Huh! Padahal kerja terus. Belanja in uang jarang, bahkan kadang sehari satu kali gua makan. Bukan karena pelit sama diri gua sendiri, bukan! Tapi karena kerjaan yang memang ngebuat gua gak bisa ngapa-ngapain di saat gua mulai bekerja."
"Tambah lagi sekarang editing via online, tapi kemana coba uangnya? Tiap kali cek saldo mobile banking. Jangankan berjuta-juta, seratus ribu pun enggak ada, anjir!"
"Astaga!"
***
[Boleh ganggu, gak?] Satu pesan dari Niken yang baru aja gua liat setelah berjam-jam pesan itu terpampang di notifikasi ponsel gua.
Masih belum gua save nomernya, tapi gua tau karena display picture WA yang dia pakai. Ya, apa lagi coba kalau bukan cover grand final. Kesel gua ingat momen itu.
Apaan lagi ini bocah, anjir!!
[Boleh kok, kenapa? Ada yang bisa gua bantu? Mau ganti foto kah, untuk cover?] Jawab gua sok baik, trauma kalo bakal di spam ratusan bahkan ribuan chat lagi.
Mengetik...
Nah! Online berarti dia. Anjir! Stay WA dia rupanya,
[Gak kok bang, iseng aja. Masalahnya gak ada yang aku gangguin.]
[Jadi, boleh ganggu gak, nih?] Tanyanya lagi, menyusul pesan chatnya tadi.
[Oh, gitu! Ya udah, gangguin aja, Ken. Gak apa-apa kok.] Gua balas beserta emoticon tertawa.
[Asik! Ada temen, jadi gak gabut aku.]
[Abang Dical stay di mana?]
[Gua stay di Tangerang, Ken. Kamu sendiri stay di mana?]
[Aku di Babel, Bang.]
[Abang asli Tangerang, atau gimana, Bang?]
[Gua asli PWO. Di sini cuma numpang cari duit aja.]
[Eh, gua pernah loh kerja di Babel, tapi udah lama banget, dulu waktu jaman setelah lulus sekolah.]
[Iya, kah? Coba ... coba cerita, dong!]
Akhirnya, gua tenggelam dalam chat berkepanjangan sama Niken, dengan sedikit logat bahasa Babel yang memang gua masih ingat walau gak banyak. Seenggaknya gua yang dulu benar-benar pernah di sana, tau bahasa dia.
Ya, kalo kita berada di satu daerah, pasti kita akan menggunakan bahasa daerah itu. Omong kosong namanya ketika kita bercerita tentang pernah tinggal di satu daerah, tapi kita tidak tau sedikitpun bahasa daerah mereka. Iya gak, sih?
***
__ADS_1