Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
SIXTEEN - RENCANA JAHAT


__ADS_3

flashback...


Helena menghampiri Zen saat Livia pergi ke toilet, di pesta yang meriah itu semua orang tengah sibuk dengan bernyanyi.


"halo Zen" sapa Helena.


"oh nyonya Helena, kau datang" sapa Zen basa-basi padahal dia sudah mengerti keberadaannya, bagaimana tidak, dialah yang menjadi alasan Zen mengadakan pesta, bahkan dia rela mansionnya di injak oleh orang banyak, ada banyak tamu wanita muda, mereka bagaikan masuk ke wahana bermain, semuanya demi Livia, dia tidak mau ada yang berani dengan Livia Bannet.


"pesta yang meriah" ujar Helena basa-basi yang berusaha untuk bisa dekat dengannya.


"benarkah? aku senang kau menikmatinya" jawab Zen seadanya membuatnya gugup mau bicara apa lagi.


"mm.. Zen, senang rasanya bisa lebih dekat denganmu, maksudku kita sesama pengusaha mungkin ada baiknya juga kita bisa dekat, barangkali saja kita akan saling membutuhkan, benar kan Zen?" kata Helena dengan susah payah.


"hahaha... tentu saja, tapi entahlah, usaha apa yang membuatku bekerjasama denganmu, kau tahu sendiri usahaku bukan usaha kecil-kecilan, mungkin kau harus memperbesar usahamu supaya kita bisa bekerjasama" jelas Zen mengejek, wajah Helena mendadak pucat, raut wajah yang begitu antusias tiba-tiba hilang begitu saja.


"haha..." tawa hambar dari Helena terdengar sangat jelas, dia tidak tahu harus bicara apa lagi, dia tahu ejekan itu tapi apa boleh buat, dia membutuhkan Zen untuk memperbesar usahanya pikir Helena.


"oh mungkin kau bisa bekerjasama saja dengan anakmu, kau bisa mengambilnya dan menjadikannya iklan di perusahaanmu" senyum devil yang di tampilkan Zen membuat Helena bergidik ngeri.


"ah.. haha.. aku tidak bisa menjadikan anakku sebagai iklanku sendiri"


"kenapa? bukankah karir anakmu akan hancur sebentar lagi? kudengar dia dihujat banyak orang karena mengaku-ngaku memiliki kekasih yang tidak mau bersamanya, penggemarnya mulai tidak suka dengannya karena dia terkesan menjadi pengemis cinta" jelas Zen tanpa ampun.


"ak..aku tidak tahu kalau.."


"memangnya apa yang kau tahu Helena?" kata Zen membuat perkataan Helena yang gugup terputus, wajahnya semakin pucat saat mendengar karir anaknya akan hancur.


"kudengar kau mengatai kekasihku di kafe waktu itu? cari tahu dulu konflik anakmu itu, sungguh.. kau ibu yang hebat, beraninya kau mengatai kekasihku! tapi nasi sudah menjadi bubur, kau harus menjauhkan anakmu dari Livia, karena dia sudah menjadi milikku!" tegasnya.


"cukup, jangan pernah kau merasa selalu di atas! akan kuperlihatkan padamu bahwa anakku akan bahagia! ambil saja wanita itu, aku tidak butuh menantu sepertinya!" ujar Helena dengan keberanian yang entah dari mana.


"hahaha.. sebenarnya aku akan membantu anakmu, tapi aku urungkan karena kau berani padaku, siapa dirimu? hanya wanita tua ****** tidak tahu diri yang tidak berpikir panjang, berlutut saja jika kau ingin karir anakmu naik lagi" kata Zen meninggalkan Helena yang berwajah pucat pasi.


flashback off.


"paketnya berisi apa?" tanya Zen tiba-tiba.


"paket? entahlah.. aku juga bingung kenapa tidak ada isinya sama sekali" kata Livia menutupi, Zen memincingkan satu alisnya.


"apa kau yakin?" tanya Zen tak percaya.

__ADS_1


"ada apa?"


"kenapa setelah mendapat paket berlari ke kamar?" tanya Zen makin mengintimidasinya.


"ah.. itu, aku lupa membawa ponselku" jawabnya tak tentu.


"ponsel?" tanya Zen yakin ada yang di sembunyikannya, "tapi Barbara berkata bahwa kau sedang bermain ponsel di taman" lanjutnya membuat Livia tak bisa berkata apapun.


"Zen, aku.. tadi hanya ingin ke toilet saja" jawab Livia makin tak karuan, dia merutuki dirinya sendiri kenapa tidak beralasan ke toilet saja tadi, kenapa beralasan ponselnya tertinggal.


Zen masuk dengan jalan pelan, seperti biasa, suara sepatunya membuat Livia terintimidasi.


"tatap aku Livia" tegas Zen dengan nada pelan tertahan, Livia memberanikan diri mendongak menatapnya, tatapan dan aura yang tajam membuat Livia bernyali ciut.


"jika kau berani menyembunyikan apapun dariku, maka aku akan menghukummu" tegasnya lagi dengan nada tertahan, lalu pergi meninggalkannya, Livia menghela nafas, dia tidak berani keluar kamar sama sekali.


di rumah helena siang hari.


"apa yang kau perbuat? kau membuatku malu!" ujar Helena marah pada Darent yang sedang makan di meja makan dengannya.


"kalau begitu ibu saja yang mengurus skandalku, aku hanya ingin memiliki hubungan dengan Livia tanpa bersembunyi lagi, itu saja, meskipun aku harus mengorbankan karirku" kata Darent meletakkan sendoknya.


"apa kau tahu? ibu di permalukan Zen si pria brengsek itu!" bentak Helena.


"dasar anak tidak menguntungkan!" kata Helena ketus. "ibu akan mendekati John Louis, kekayaannya hampir sama dengan Zen, aku harus menjatuhkan mulut pria brengsek itu, jangan berulah lagi, akan kupastikan kau akan bahagia" lanjut Helena.


"ibu, kau berlebihan, apa ibu pantas merebut suami orang? jangan melewati batas, aku akan membencimu jika kau merebut pria lain hanya untuk kebahagiaanku"


"tutup mulutmu anak sialan!" ketus Helena yang marah.


"aku tahu kalau itu bukan untuk kebahagiaanku, tapi untuk menutupi gengsimu karena perkataan Zen" jawab Darent berani melawannya.


"diamlah jika kau tidak bisa membahagiakanku!" kata Helena.


Darent hanya diam menatap ibunya yang selalu berkata buruk padanya.


di mansion Zen


ponsel Livia bergetar tertera nama 'Luna'


"hai Luna" sapa Livia

__ADS_1


"hai, tuan putri, apa kau senang disana? aku merindukanmu" tanya Luna.


"aku? tidak juga, aku bosan tidak memiliki teman untuk bicara" kata Livia lesu sembari berdiri dari kursi yang ada di balkon.


"mansion sebesar itu pasti banyak orang, kenapa sampai bosan? ajak saja bicara sama pelayan disana sekedar bercerita sedikit akan menghilangkan kebosananmu"


"kuharap bisa begitu, tapi pelayan disini akan di pecat jika berani mengobrol denganku, kecuali ketua pelayan, Zen tidak suka aku berteman dengan mereka" katanya lalu menghela nafas.


"kejam sekali, ah iya.. bagaimana kalau kita keluar? hari ini aku libur" ajak Luna.


"benarkah? aku akan bertanya pada Zen, aku akan menghubungimu, kita bertemu di kedai seperti biasa" kata Livia lalu mereka memutuskan sambungan mereka.


di ruangan kerja Zen dalam mansion.


"jika ada paket lagi untuk Livia berikan padaku dulu" perintah Zen pada Barbara yang tengah berdiri di ruangan itu.


"baik tuan" jawabnya lalu pergi setelah mendapat perintah dari tuannya.


"tuan, kau sudah berhari-hari tidak datang ke kantor, kurasa kau harus kesana" kata Hugo setelah Barbara keluar dari sana, Hugo tengah duduk di sofa berhadapan dengan Zen.


"baiklah, kita pergi sekarang saja" kata Zen lalu membereskan semua kertas-kertas yang ada di meja di hadapan mereka.


tok tok tok..


"masuk" kata Zen, kepala Livia menyembul dari balik pintu.


"kemarilah" perintah Zen, Hugo tetap membereskan yang ada di meja, "ada apa?" lanjut Zen.


"Zen, aku ingin pergi dengan Luna, bolehkah aku pergi?" kata Livia dengan hati-hati, Zen diam sejenak menatapnya, lalu mengambil salah satu kartu unlimited dan menyodorkannya pada Livia.


"pakai sepuasmu, belanjalah barang mahal, belanjakan juga Luna" katanya.


"aku masih punya simpanan uang Zen, aku juga tidak belanja yang mahal" kata Livia polos, membuat Zen terkekeh.


"kau ini wanita macam apa? belanjalah dengan kartu ini, jangan membantah pakai saja, puaskan saja hatimu dengan berbelanja banyak supaya kau senang dan tidak mudah keriput, sebelum aku menolak kau pergi" kata Zen membuat Livia memutar kedua bola matanya, lalu menerima kartu itu.


"trimakasih, aku pergi dulu" kata Livia lalu pergi.


"pengawal akan mengawalmu" kata Zen sebelum Livia benar-benar keluar dari sana. helaan nafas dari Livia terdengar oleh Zen dan Hugo, membuat para pria itu tersenyum geli mendengarnya.


"baiklah" kata Livia dengan lesu.

__ADS_1


"kau memiliki wanita menggemaskan tuan" kata Hugo membuat Zen terkekeh.


__ADS_2