
"trimakasih" kata Livia pada dua pegawai wanita itu setelah membantunya.
"sama-sama nona" jawab salah satu pegawai dengan senyum ramah dengan bahasa Inggris.
"semoga pernikahan kalian berjalan dengan lancar" kata pegawai satunya lagi yang di balas Livia dengan senyuman dengan bahasa Inggris juga. mereka yang bekerja di toko elite semua harus bisa berbahasa Inggris, mengingat itu sebuah toko elite yang tidak sembarang orang bisa masuk maka tentunya banyak kalangan kelas atas yang datang, tentunya banyak juga dari luar negri.
Livia keluar mendapati Zen dengan wanita tadi, lalu wanita itu memegang pundak Zen dan memeluknya.
"selamat tinggal Zen, kuharap kau sering-sering datang ke Italia" kata sang wanita dengan bahasa Inggrisnya yang sudah fasih, dia sedikit menggoda Zen, menatap Livia sebentar dengan tatapan tidak suka, lalu pergi.
Livia ingin bertanya pada Zen tapi niatnya di urungkan mengingat banyak bawahan Rodriguezt dari mall tersebut.
"sudah selesai" ujar Zen mendekati Livia, hanya senyum tipis yang di lontarkan oleh Livia. Lalu mereka mendatangi toko emas yang ada di sebelahnya dan mereka memilih beberapa emas untuk Livia, satu berlian keluaran terbaru, dan dua cincin pernikahan.
setelah semuanya selesai mereka pergi dari sana, sesampainya di rumah sang ayah, Livia mendekati Zen yang saat ini sedang memandangi laptopnya di kamar.
"Zen, siapa wanita tadi?" tanya Livia.
"siapa? Cassie? dia hanya temanku disini" jawab Zen yang tetap memandang laptopnya sesekali mengetik disana.
"kau terlihat dekat sekali dengannya" kata Livia membuat Zen beralih memandang wanitanya.
"apa kau cemburu dengan temanku?" tukas Zen.
"sebenarnya iya" jawab Livia hati-hati. "dia memelukmu di depanku, bahkan menatapku sinis" lanjut Livia membuat Zen menghela nafas.
"dia hanya teman dekatku saat aku kuliah disini, dia selalu bersamaku sejak dulu, tidak baik juga kan kalau tiba-tiba kita tidak saling sapa tanpa alasan?" jelas Zen membuat Livia terdiam, lalu dia pergi meninggalkan Zen, dia hendak berjalan-jalan malam mengelilingi mansion besar itu.
Hugo menghampirinya saat melihat Livia berjalan sendirian.
"nona, hari ini cuaca dingin sekali, kenapa anda keluar sendiri?" tanya Hugo mensejajarkan jalannya pada Livia.
"hanya ingin mencari udara segar" jawab Livia. "kau tidak perlu menemaniku Hugo, bukankah di mansion ini aman?"
"baiklah nona, aku akan pergi, jika terjadi sesuatu teriaklah, banyak pengawal disini" kata Hugo.
"baiklah"
Livia menyusuri taman dan melewati jembatan kecil yang memang dibuat untuk mempercantik taman. Livia berdiri di tengah jembatan kecil memandang banyak lampu kuning yang memancar membuat taman terlihat semakin indah.
"apa begitu indah untukmu?" tanya seorang pria yang tiba-tiba muncul membuat Livia sedikit terlonjak.
__ADS_1
"siapa kau?" tanya Livia cepat.
"perkenalkan, aku Jemmy Styfen Pabullo, teman paman Rodriguezt" katanya mengulurkan tangan untuk berjabat tangan.
"aku Livia, kekasih Zen" jawab Livia menerima uluran tangan Zen. begitu tampan di mata Livia, penampilannya seperti orang kaya.
"senang bertemu denganmu" kata Jemmy. "kenapa kau berjalan sendiri malam-malam?" lanjutnya.
"aku hanya ingin melihat-lihat saja" jawab Livia sedikit tersenyum ramah.
"apa di Amerika menyenangkan?" tanya Jemmy mengisi kecanggungan.
"ya Jemmy" jawab Livia.
"panggil aku Styfen"
"Styfen? baiklah Styfen" jawab Livia dengan tenang. "apa kau belum pernah ke Amerika?" tanya Livia.
"mungkin setelah aku terjun di dunia bisnis ayahku, aku akan sering kesana" jawab Jemmy dengan senyum manisnya. "kau tahu? bagiku hanya orang baik saja yang bisa memanggilku Styfen" lanjutnya membuat Livia tersenyum.
"aku bukan orang baik"
"tapi kau terlihat seperti orang baik"
"cantik" kata Jemmy membuat senyum Livia pudar. "wanita lain pasti ingin sepertimu, terlihat sempurna" lanjutnya.
"ah.. tidak Styfen" jawab Livia, lalu pandangan Livia melihat sosok Zen yang keluar mansion terlihat mencari seseorang. "Styfen kurasa aku harus kembali, Zen mencariku" lanjut Livia.
"baiklah, senang bisa berkenalan denganmu, kuharap kita bisa bertemu lagi" jawab Jemmy yang di balas dengan senyuman Livia, lalu wanita itu pergi kembali ke pintu utama mansion.
"darimana saja kau" ujar Zen yang melihat Livia berjalan sendirian menghampirinya.
"aku hanya berkeliling mansion"
"jangan ulangi lagi jika tidak bersamaku" perintah Zen membuat Livia memutar kedua bola matanya jengah. "kau main mata padaku?!" lanjut Zen kesal dengan pandangan Livia barusaja.
"tidak akan kuulangi" jawab Livia cepat sebelum Zen marah padanya.
hari demi hari berjalan dengan cepat, Zen semakin sibuk dengan acara pernikahannya dengan Livia, acara diselenggarakan di Italia, semua orang di mansion sangat sibuk, terutama para pengawal rumah karena sang ayah yaitu Rodriguezt memperketat penjagaannya.
Tibalah saatnya menjelang di hari pernikahan mereka.
__ADS_1
semua keluarga dan seluruh tamu undangan bertepuk tangan saat melihat pengantin saling memakaikan cincin pernikahan mereka, tampak Zen mencium dahi Livia dengan tulus, lalu turun ke arah bibir dan menciumnya, ah bukan.. tepatnya ********** dengan pelan.
sorak Sorai dan tepuk tangan dari seluruh ruangan tersebut tak henti-hentinya membuat suasana semakin ramai, ditambah dengan musik dan penyanyi disana yang bernyanyi dengan lagu romantis.
"Halo Zen, selamat atas pernikahanmu" ujar Maria bersama suaminya Smith.
"oh hai, trimakasih sudah mau jauh-jauh datang kemari" jawab Zen saat menyapa para tamu undangan.
"akhirnya kalian menikah juga" ujar Smith dengan kekehannya.
"berkat kalian yang selalu bersama membuatku ingin segera menikah" gurau Zen membuat mereka tertawa. "aku senang kalian bisa hadir, selamat menikmati hidangannya, aku akan menyapa yang lain dulu" kata Zen pamit undur diri dari dua pasangan tua yang barusaja bekerja sama dalam bisnis dengannya.
"hai nyonya Livia" sapa seorang pria muda tinggi dan tampan. Zen menatapnya lekat-lekat.
"oh hai Styfen, kau datang" jawab Livia tersenyum lebar, tapi tatapan Zen begitu tajam pada Jemmy.
"hai, aku Jemmy Styfen Pabullo, senang bisa hadir di acara pernikahanmu" kata Jemmy pada Zen saat mereka bersalaman.
"ya" jawab Zen singkat terus menatapnya.
"aku anak William Styfen Pabullo, aku sering datang kemari, dan waktu itu aku dan nyonya Livia tidak sengaja bertemu di taman" kata Jemmy pada Zen semakin merasa marah.
"baiklah, kita harus menyapa tamu undangan lain" kata Zen pada Jemmy untuk mengakhiri pembicaraan panas itu. Zen merengkuh pinggang Livia erat seolah ingin memberitahu bahwa Livia menjadi miliknya.
"dia pria yang tampan bukan?" kata Zen yang membawa Livia ke kamarnya.
"Zen kau bilang harus menyapa tamu undangan"
"kau tidak mengatakan apapun padaku saat aku hendak mencarimu di taman waktu itu" kata Zen mengintimidasi dengan sorot mata yang tajam.
"kau marah akan hal itu? dia bukan apa-apa, hanya tidak sengaja bertemu dan dia berkata temannya ayah, lalu aku merasa harus sopan padanya dan berkenalan dengan baik padanya, sudah itu saja" jelas Livia membuat Zen menahan nafasnya dengan kasar.
"jangan berani berbicara apalagi berkenalan dengan pria lain maupun di belakangku! kau mengerti?!" kata Zen membuat Livia kesal.
"kita hanya berteman yang bertemu di rumah Rodriguezt, Tidak baik juga kan kalau tiba-tiba kita tidak saling sapa tanpa alasan?" Jawab Livia menyindir. Tiba-taba Zen terdiam menatap Livia. "ada apa? kau sendiri pernah mengatakan hal yang sama saat aku bertanya siapa Cassie, kau merasakannya sekarang? bahkan aku tidak berpelukan dengan Styfen seperti kau bertemu dengan Cassie" jelas Livia membalas.
Zen menghela nafas "kau sudah pintar membalas sekarang" ka byta Zen menatapnya tajam.
"aku harus menjadi pintar jika menjadi nyonya Rodriguezt" ujar Livia dengan tatapan nanar.
"baiklah, kita impas dan lupakan" kata Zen tidak ingin ribut lalu menggendong dan membawanya ke ranjang.
__ADS_1
tak menunggu aba-aba Zen ******* bibir Livia dengan ganas, entah itu gairah yang ditahan atau kesal karena Jemmy, Livia tidak tahu, tapi yang jelas saat ini Livia menolakpun tidak bisa mengingat Zen memperlakukan Livia dengan ganasnya, dan mereka berakhir dengan hubungan intim saat di bawah masih banyak para tamu undangan penting.