
semua teman-teman di acara reuni itu sudah banyak minum dan mabuk, semuanya tak terkecuali Livia, sedangkan Luna, dia sudah pamit undur diri untuk pulang sedari tadi karena besuk harus bekerja.
banyak yang mengoceh kesana kemari, ada juga yang benar-benar sudah tak kuat lagi menopang kepalanya hingga tertidur.
sedangkan Livia terus meminum tanpa henti, dia melihat ponselnya tak ada siapapun yang menghubunginya, dia senang artinya Zen tidak lagi mengekangnya. sorot mata Grey yang duduk di depan Livia terus menatap sosok wanita ini, Grey yang kuat minum alkohol tidak terlalu mabuk.
"Liv, kau sudah banyak minum, hentikan" kata Grey mengambil gelas alkohol yang akan di tegak Livia.
"Grey! berikan padaku!" tegas Livia yang sudah mabuk, tapi tak ada jawaban dari Grey, karena percuma saja dia memberitahu orang yang mabuk pikir Grey.
tak lama Livia merasa bosan di sana, lalu Livia keluar dari sana dan berjongkok sembari bersandar di dinding kedai itu.
"kenapa di luar? ayo aku antar pulang saja, di luar dingin" kata Grey yang tiba-tiba berdiri di sebelah Livia.
"tidak, di rumah aku bisa bosan" kata Livia dengan mabuknya.
"kalau begitu ayo kita masuk" kata Grey yang berusaha menarik lengan Livia.
"tidak!! di dalam juga bosan!" tegas Livia membuat Grey gemas.
"lalu bagaimana? kau mau di luar kedinginan seperti ini?" ujar Grey membuat Livia mendelik melihatnya.
"apa kau masih suka padaku?" tanya Livia membuat Grey heran.
"kau mabuk berat, ayo kuantar kau pulang" kata Grey menarik paksa Livia hingga berdiri, Livia mengalungkan kedua tangannya melingkari leher Grey, pria itu menatap buas wanita pujaan hatinya yang dengan senang hati memberikan akses padanya.
"nona Livia!" panggil salah satu anak buah Zen yang terus mengawalnya dari kejauhan, lebih baik dia segera membawa nonanya pulang dulu sebelum dia mati di tangan tuan Zen pikirnya. "nona harus pulang sekarang" kata pengawal itu sembari menarik paksa Livia untuk melepas pelukannya pada Grey.
__ADS_1
"apa kau pengawalnya Zen? bagaimana kalau kita minum sedikit?" kata Livia membuat gemas pengawalnya itu.
"nona, anda harus pulang! tuan Zen sudah menunggu anda!" tegas pengawalnya.
"ayolah sedikit saja" kata Livia seperti orang gila, tapi dengan sigap pengawal bertubuh kekar dan tinggi besar itu menggendong Livia di pundak kirinya.
"hei botak sialan! turunkan aku!" umpat Livia sambil meronta-ronta, tapi tak ada jawaban dari pengawal, dia tetap berjalan menuju mobil. "turunkan aku sekarang juga!" tegas Livia berteriak, kakinya terus berusaha menendang perut pria itu dan tangannya terus memukul punggungnya, bagi pengawal hal itu tidak membuahkan rasa sakit di tubuhnya.
Grey pasrah melihat Livia yang di bawa pulang seperti itu, dia senang kalau Livia benar-benar dicintai pria lain hingga ada pengawal yang mengawasinya, itu tandanya Zen si pria hebat pengusaha kaya sangat mencintainya pikir Grey.
sesampai di rumah Zen sudah menunggu di sofa ruang tamu dengan Hugo, tetapi di mobil Livia tertidur pulas. pengawal itu menggendongnya menemui Zen.
"nona tertidur tuan" kata pengawal itu berdiri menggendong Livia, Zen yang tengah duduk menoleh ke belakang.
"bawa dia ke kamar" perintah Zen di patuhi pengawal itu. Zen mendengus kesal.
"kita sudah tahu kan tuan sejak awal kalau anda akan semakin pusing" jawab Hugo.
"benar" kata Zen lalu menghela nafas panjang. "kau sudah menangani kamera apartement Louis?" lanjut Zen.
"sudah tuan, jackpot ada di tangan kita" kata Hugo lalu mereka berdua tersenyum licik.
pagi hari..
Zen dan Hugo berada di taman belakang mansion, mereka duduk di kursi berjarak meja bundar di tengah-tengah mereka, banyak selembaran kertas di atas meja, mereka membicarakan pekerjaan mereka.
Livia turun dari sana dan melihat mereka dari dinding kaca, mereka tengah sibuk berdua. Livia takut bertemu dengan Zen karena dia ingat sedang berdua dengan Grey tadi malam tapi pengawal datang menjemput paksa.
__ADS_1
"aku harus menjauhinya untuk sementara ini" batin Livia lalu pergi ke arah ruang makan. Tapi pengawal yang kemarin malam menghadang wanita itu membuatnya terkejut.
"ada apa?" tanya Livia sinis menatapnya.
"tuan Zen menunggu anda" jawab pengawal itu dengan tersenyum santai, dia terlihat menyebalkan bagi Livia, lalu Livia menoleh ke belakang mendapati tatapan Zen dan Hugo yang sudah mengarah padanya. Dia menghela nafas, baiklah.. sesibuk apapun, dia akan tetap fokus pada permasalahanku.
Hugo yang tahu persis harus bagaimana langsung pergi meninggalkan Zen dan Livia berdua. Livia duduk di kursi Hugo berusaha acuh pada tatapan Zen yang berusaha menelisiknya.
"kau tak berani menatapku? itu artinya ada yang kau sembunyikan" kata Zen tajam.
"tidak" jawab Livia seadanya lalu mau tak mau dia harus menatap Zen.
"Grey..." lirih Zen sembari bersandar di kursinya dengan santai lalu memilah salah satu selembar kertas di atas meja, dia melihat tulisan dan satu foto Grey yang ada di kertas itu, lalu menaruhnya di atas meja, Livia terkejut melihat data diri Grey di kertas itu.
"apa.. apa yang kau lakukan Zen" tanya Livia memastikan bahwa Grey baik-baik saja di tangan Zen, tapi tatapan Zen membuat Livia tersadar akan sesuatu. "aku.. aku hanya terkejut, secepat itu kau mendapatkannya, tapi Zen.. aku dan dia tidak ada hubungan apapun" kata Livia mencoba menjelaskan.
"jika aku tidak mengatakan apapun tentang orang ini dan kau menjelaskan tentang hubungan kalian maka itu artinya kalian ada hubungan rahasia" jelas Zen membuat Livia merutuki kebodohannya. Benar.. Zen tidak bertanya apapun padanya sejak tadi, tiba-tiba saja Livia spontan terkejut.
Zen menghela nafas panjang. "semakin hari semakin terkuak semua kenanganmu, itu menyenangkan bagiku" kata Zen memandang ke arah taman, tak lama Zen memandang ke arah Livia lagi berubah menjadi sorotan mata yang tajam. "jangan berbuat macam-macam di belakangku!" ancam Zen membuat bulu kuduk Livia berdiri.
"aku mengerti" jawab Livia dengan sangat takut, dia tidak mau Zen marah lagi, dia sudah sangat lelah. Zen tidak banyak bicara, hanya dengan memperlihatkan data diri Grey di depan Livia artinya Grey berada di dalam tangan Zen.
"makanlah" kata Zen pada Livia, lalu Livia pergi ke ruang makan. Livia berjalan dengan cepat, lalu Hugo yang ternyata menunggu di sofa dalam rumah langsung kembali menghampiri Zen.
"berikan aku mi instan, sudah lama aku tidak makan mi instan, jangan lupa beri bubuk cabai yang banyak" perintah Livia pada pelayan, lalu Livia masuk ke ruang makan, dia barusaja duduk tapi terkejut dengan keributan suara orang di luar sana.
"keluar kau pria sialan!!" teriak seorang pria dari luar, Livia merasa mengenal dengan suara itu. "Zen!! kau pria brengsek! keluar!!!" teriakan menggebu-gebu dari pria itu, secepat mungkin Livia beranjak dan keluar melihat siapa orang itu.
__ADS_1
"Daren" lirih Livia yang begitu terkejut.