Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
THIRTY THREE - KEMARAHAN ZEN PADA LIVIA


__ADS_3

"Robin" lirih Livia terkejut. Robin dengan wajah garangnya masuk dan mengamati Hanna.


"nona harus pulang sekarang!" tegas Robin pada Livia. Hanna sedikit takut melihat seramnya Robin.


"aku akan pulang sendiri" kata Livia berusaha acuh menyembunyikan takutnya situasi ini, dia harus menjawab apa pada Zen, darimana Robin tahu dia ada disini, apa Robin mendengar semua percakapannya? batin Livia bergejolak.


"tidak nona, anda harus pulang denganku, ini perintah tuan Zen" kata Robin menyeret lengan Livia hingga berdiri.


Robin memberi isyarat pada pengawal lain yang menyetir mobil mereka saat datang menjemput Livia, Robin memasukkan Livia ke mobilnya dan di supiri Robin, sesampai di mansion Livia masuk melewati Zen dan Hugo begitu saja yang menunggu di sofa tamu, sebenarnya Livia pura-pura marah dulu sebelum dia dimarahi karena Liviapun juga takut jika di tanya hal aneh-aneh.


"berhenti disitu!" tegas Zen saat Livia menaiki anak tangga, tapi Livia tetap berjalan berusaha menghindari Zen saat ini, dia harus secepatnya memiliki Vidio itu, bagaimanapun juga Zen tidak boleh menyembunyikan yang sebenarnya.


"Livia berhenti disana!" teriak Zen membuat hati Livia semakin takut. Zen berjalan cepat mengikuti Livia, dengan cepat cekalan tangan Zen di lengan Livia membuat wanita itu terpelanting ke belakang, untungnya tangan Zen tetap memeganginya hingga dia tidak sampai jatuh ke lantai.


"ada apa?" tanya Livia berpura-pura marah untuk menyembunyikan ketakutannya.


"sejak kapan kau berteman dengan Hanna?" tanya Zen dengan mata yang menyeramkan, mata elangnya yang tajam membuat hati Livia semakin menciut.


"aku tidak berteman dengannya!" tegas Livia.


"jika kau merasa dia bukan temanmu seharusnya kau tidak perlu bertemu dengannya bukan?"


"aku hanya penasaran!"


"penasaran apa?" tanya Zen dengan tegas. lalu Livia menyentak cekalan tangan Zen di lengannya membuat cekalan itu terlepas dengan kasar.


"kau menyembunyikan hal besar!" tegas Livia dengan nada rendah memendam amarah. ya.. untuk hal itu Livia memang marah.


"jika kau sudah tahu seharusnya kau diam!"

__ADS_1


"jika kau menyembunyikan Vidio itu kau akan terkena pidana Zen!"


"pidana apa yang kau maksud? pidanapun takut dengan uang, jika kau takut pada pidana maka kau harus berusaha menghindari hal-hal yang bisa menyangkut pidana! kau mengerti?!" kata Zen dengan geram.


"kau harus menyerahkan vidio itu pada Daren, Zen"


"itu milikku, dan itu hakku, kau jangan sekali-kali ikut campur masalah ini, atau kalau tidak kau akan terkena pidana! kau mau?" kata Zen menakut-nakuti Livia.


"lalu bagaimana kau mendapatkan vidio itu?"


"itu bukanlah urusanmu! kubilang jangan ikut campur!"


"bukan urusanku? kalau begitu jangan nikahi aku, aku tidak mau menikah dengan orang jahat sepertimu!" kata Livia semakin keras lalu berusaha menjauh dari Zen. Livia berhasil membuka pintu kamar dan masuk tapi Zen mendorong pintu itu sebelum Livia benar-benar menutup pintunya, Zen ikut masuk mendorong Livia ke dalam dan menutup pintu itu dengan kasar, tak lupa mengunci pintunya dan kunci itu dicabut oleh Zen.


Livia melihat Zen memasukkan kunci pintu ke kantong celana Zen, hati Livia berdebar melihat semua itu, Zen berjalan pelan mendekati Livia, dia merasa terancam sekarang, suara sepatunya terdengar mengintimidasinya.


"Zen, kau mau apa?" tanya Livia memundurkan langkahnya saat Zen terus berjalan mendekatinya.


"aku.. maksudku tidak begitu Zen, aku hanya ingin kau tidak menyembunyikan hal besar seperti itu Zen" kata Livia terhenti saat menempel pada dinding.


Zen mengungkung tubuh Livia dengan kedua tangannya, dengan mata tajam dan raut wajah yang marah, Livia semakin takut dan menciut.


"jika kau tidak berhenti bertemu dengan mereka maka mereka yang akan kulenyapkan seperti Helena! kau paham?!" kata Zen membuat tenggorokan Livia tercekat. tak ada jawaban dari Livia. "jawab sayang!" kata Zen lembut sembari memainkan anak rambut Livia, tetapi wajahnya yang seram seperti iblis saat ini sangat terlihat.


"ba..baiklah" jawab Livia gemetar.


"untuk saat ini kita nikmati sampai pagi" kata Zen lalu ******* bibir Livia dengan takut, hingga benar-benar menjelang fajar Zen menyudahi aktifitas hubungan intim mereka, terlihat Livia sangat lemas membuat Zen meringis girang. Zen memeluk tubuh polos Livia dari belakang.


"kau lapar?" tanya Zen serak. Livia mengangguk.

__ADS_1


"aku akan menyuruh pelayan mengantar makanan kemari" kata Zen sambil mengecup punggung Livia yang mulus itu.


"Zen" panggil Livia lirih.


"mmm" jawab Zen pelan sambil menenggelamkan wajahnya di punggung wanitanya.


"bisakah kau menghindari hal-hal yang berbahaya?" tanya Livia hati-hati. "maksudku Vidio itu, kau bisa memberikannya pada Daren dan Hanna, aku tidak mau kau terlibat dalam pembunuhan Helena" jelas Livia lagi. Zen menghela nafas berat.


"sayang, kau tidak mengerti dunia bisnis di luar sana, bisnis yang kujalani bukanlah bisnis kecil, entah bagaimanapun itu caranya dalam bisnis besar yang terpenting adalah hasil, jika hasil selalu memuaskan maka kita akan di atas dan bisnis akan semakin berkembang, sudah jelas?" jawab Zen menjelaskan, dia tidak mau lagi mendengar tentang Vidio itu dari mulut Livia.


"tapi Zen.. bagaimana kalau kau yang berada di posisi Daren dan Hanna? dan bagaimana kalau aku yang meninggal?" tanya Livia berusaha mencoba memperjelas situasinya.


"tidak akan terjadi" jawab Zen memeluk erat tubuh wanita itu. "jangan bicarakan soal itu lagi Livia kumohon" lanjut Zen.


"Zen.. kumohon mengertilah" kata Livia pelan dan hati-hati. lalu Zen beranjak dari ranjang memakai pakaian lengkapnya kembali dan pergi.


"kuharap kau tidak terlena lagi dengan Daren yang kau kasihani itu" ujar Zen sebelum dia benar-benar pergi dari sana. Livia termenung dengan posisi duduk bersandar di ranjangnya. lalu Livia mengambil ponsel di nakas.


"Hanna, maafkan aku, kau sudah berusaha bicara pada Zen tapi tidak bisa, kurasa jangan meminta bantuanku lagi karena aku tidak mau merasa bersalah, mungkin akan lebih baik kalau kalian menghadap pada Zen dengan cara baik-baik"


pesan dari Livia terkirim ke ponsel Hanna. Tak menunggu waktu lama pesan baru masuk lagi di ponsel milik Livia.


"bisakah kita keluar sebentar nona? kumohon".


pesan dari Hanna memohon. Livia harus segera mengakhiri semua ini, dia tidak mau mengabaikan perkataan Zen, dia harus waspada dengan perkataannya untuk melenyapkan Hanna dan Darent, mungkin saja itu benar mengingat Zen bukanlah orang sembarangan.


"kita harus berhenti disini Hanna, kau meminta bantuanku dan aku sudah berusaha, jika gagal kalian harus berusaha sendiri, jangan libatkan aku lagi dan jangan mencariku, aku akan pergi jauh, semoga kalian berhasil"


pesan terakhir dari Livia, tak lupa dia menghapus pesan itu.

__ADS_1


di sisi lain, Hanna yang sudah duduk di ranjang di pagi buta terbangun dengan pesan dari Livia, dia kesal dengan kegagalan Livia.


"dasar wanita bodoh, merayu begitu saja tidak bisa!" umpatnya pada Livia. dia membaca pesannya lagi. "susah payah aku berusaha mendekati wanita itu demi Daren agar bisa jatuh hati padaku! sialnya wanita itu terlalu bodoh!" umpat Livia berbicara sendiri dengan hati kesal. ya.. Hanna belum benar-benar berubah, dia seperti ular berbisa.


__ADS_2