
"sayang, kenapa kau tidak tidur? nanti sore kita akan berangkat ke Italia, seharusnya kau istirahat dulu" kata Zen melihat Livia turun pagi hari, mengingat semalaman Zen mengerjai Livia hingga menjelang pagi.
"seharusnya tadi malam aku sudah tidur kan?" jawab Livia menyindir, membuat Zen terkekeh.
"kau mau kemana?" tanya Zen.
"mau ke supermarket" kata Livia singkat.
"sayang kau itu kenapa suka sekali dengan supermarket, di rumah ini apa yang kau butuhkan semuanya ada, lagipula jika tidak adapun kau bisa menyuruh pelayan kan?" tanya Zen heran.
"hiburanku adalah saat bisa keluar dari rumah ini dan menikmati makanan yang kusukai" kata Livia lalu pergi.
mata Zen mengarah pada Robin dan memberi isyarat untuk mengikuti Livia.
"baik tuan" jawab Robin singkat lalu pria itu berlari mengikuti Livia sebelum wanita itu menyetir mobil sendiri. sungguh.. Livia sudah berbeda sekarang, dia sudah membuat pusing banyak pengawal sekarang.
***
"Robin, duduklah kumohon jangan seperti patung, banyak orang melihat, kau seperti pengawalku" kata Livia saat melihat sekeliling yang memandang mereka berdua.
"trimakasih nona, saya memang pengawal anda" jawab Robin seadanya. seperti biasa, hanya dengan makan di depan supermarket mini yang tak jauh dari rumah Zen sudah membuat nya sedikit lega.
uhukk.. uhukkk...
Livia tersedak kuah mi instan cup yang dia makan, Robin melihat di meja tak ada minuman sama sekali, dengan cekatan Robin berlari masuk ke supermarket untuk membeli minuman.
tapi tiba-tiba sebotol air putih dari seorang pria di sodorkan di depan wajah Livia, dia melihat sosok Darent berada di depannya. Mau tak mau Livia mengambil air itu dan meneguknya dengan cepat, tidak lucu jika dia harus sekarat tak bisa bernafas hanya karena kuah mi instan yang pedas membuatnya sakit tenggorokan.
"ikutlah denganku sebentar" kata Darent buru-buru sambil memegang lengan Livia, Livia menepisnya dengan kasar.
"kumohon pergilah, aku tidak mau Zen dengar kita bersama" kata Livia risau, dia berharap Darent segera pergi sebelum Robin keluar, tapi tak disangka Darent menyeret Livia menjauh dari sana memasukkannya ke mobil. di dalam mobil ada tirai jendela mobil yang bisa menutupi mereka berdua. Livia dan Darent berada di kursi belakang kemudi sehingga orang luar tidak bisa melihat mereka karena tirai itu.
"apa kau gila? kau membuntutiku?!" pekik Livia dengan risau.
"tenanglah Liv" kata Darent dengan gemas menggenggam erat kedua tangan Livia.
Livia diam berusaha tenang setelah menyadari bahwa dia shock. Darent menghela nafas lega melihat wanita ini berusaha tenang. "sebenarnya ada apa sampai kau terlihat takut sekali bertemu denganku, padahal kau dan Zen belum menikah" ujar Darent.
__ADS_1
"Zen, kau tidak tahu bagaimana mengerikannya Zen, mungkin aku tidak melihatnya langsung tapi dengan semua tingkah lakunya membuatku tersadar kalau dia bukan orang sembarangan" jelas Livia secepat mungkin berharap Hugo tidak menemukannya.
"asalkan kau diam tidak akan sulit untuk bersembunyi darinya Liv" kata Darent lembut berusaha menenangkannya. Darent memandangi wajah cantik yang dulu menjadi kekasihnya. lalu tiba-tiba dia memeluknya membuat Livia berusaha meronta.
"Daren apa yang ingin kau katakan, jangan macam-macam denganku" kata Livia mendorong tubuh pria itu.
"aku merindukanmu" kata Darent memeluknya lagi, kali ini sangat erat hingga Livia tidak bisa mendorongnya. "diamlah sebentar, akan kulepaskan sebentar lagi" lanjut Darent.
hanya butuh 10 detik Darent memeluknya, meskipun Livia meronta dan gagal karena ternyata Darent benar-benar kuat.
"Livia, aku sangat membutuhkanmu" kata Darent lembut, tatapannya sangat hangat membuat hati Livia teringat akan masalalu saat bersamanya, meskipun dia orang yang kasar dan tidak bisa mengontrol emosinya dengan baik tapi dia sangat tulus mencintai Livia.
"kumohon jangan melibatkan ku lagi kalau kalian tidak mau terkena masalah dengan Zen" Daren menghela nafas mendengar penuturan Livia.
"Livia" lirih Darent yang sepertinya pasrah.
"aku akan keluar, kau bisa langsung pergi" kata Livia saat melihat Hugo yang mencarinya di luar sana. Cekalan tangan Darent di lengannya membuatnya berbalik badan.
"bolehkah aku menciumu?" ijin Darent.
"jangan gila, kau sudah menikah, dan aku akan segera menikah, kita lupakan apa yang terjadi pada kita sebelumnya" kata Livia membuat jantung Darent bergemuruh.
"ya, aku akan ke Italia nanti sore, aku akan menikah dengannya disana, jadi jangan lakukan hal bodoh lagi, lupakan aku jangan temui aku" jelas Livia tanpa henti. lalu Livia pergi, "cepatlah pergi setelah aku keluar" kata Livia sebelum dia benar-benar pergi dari sana, lalu Darent menghela nafas kasar merutuki dirinya sendiri.
"oh Tuhan, aku tidak bisa mengontrol diriku saat bersamanya" batinnya sembari menatap Livia berlari menjauhinya. lalu Darent berpindah posisi ke jok pengemudi lalu pergi dari sana.
di luar nampak Robin yang barusaja keluar dari toilet umum disana setelah di teriaki banyak wanita karena mencari Livia. dia melihat melihat keluar dari mobil Darent dan berlari masuk ke dalam mobilnya sendiri, Robin mendekatinya dan mengetuk jendela mobil itu.
"ada apa?" tanya Livia setelah membuka jendela mobil, dia berusaha menyembunyikan gugupnya.
"nona darimana saja?" tanya Robin dengan tenang.
"aku? aku dari toilet umum, kau itu lama sekali" bohongnya.
"benarkah?" tanya Robin memastikan raut wajah Livia supaya bertambah gugup, Robin tahu bahwa Livia gugup padanya.
"cepatlah masuk kita pulang sekarang" perintah Livia.
__ADS_1
"tunggu sebentar nona" kata Robin masuk ke supermarket lagi. hanya 15 menit dia keluar tak membawa apapun.
"kenapa kau masuk kesana lagi?" tanya Livia.
"saya belum membayar air yang saya ambil tadi nona" bohong Robin.
setelah sampai di mansion ada Zen dan Hugo di sofa ruang tamu. Robin menghadap mereka sedangkan Livia hendak naik ke kamarnya.
"katakan!" kata Zen singkat yang masih di dengar Livia saat melewati mereka.
"nona Livia bertemu dengan Darent tadi saat aku masuk membeli minuman untuk nona, maafkan saya tuan, saya lengah" perkataan Robin membuat Livia berhenti berjalan dan berbalik ke arah mereka. Zen dan Hugo tersentak menatap Robin lalu beralih memandang Livia. Hugo memberikan sebuah Vidio dimana Daren menghampirinya dan membawa masuk Livia ke mobil, ya.. Robin meminta Vidio itu saat dia kembali masuk ke supermarket tadi, dia tahu akan kena marah dari Zen tapi itulah tugasnya, jika harus di sembunyikan, maka Livia dan Darent akan sering bertemu di kesempatan selanjutnya, hal itu membuatnya semakin sulit.
"kemarilah!" perintah Zen singkat pada Livia, singkat tapi Livia merasakan aura menyeramkan. hati Livia berdebar tak karuan, kakinya mulai lemas saat memandang mata Zen yang berubah tajam padanya, Robin, Hugo, mereka benar-benar bawahan yang hebat, atau Livia yang terlalu bodoh?
"apa kau tidak dengar?" bentak Zen membuat Livia sedikit terlonjak, tapi kakinya benar-benar lemas saat ini. Zen yang tidak sabar berdiri dan berjalan cepat ke arahnya.
"kukatakan jangan bertemu dengannya lagi!" bentak Zen, telunjuknya mendorong kepala Livia berulang kali. "apa kau tuli?!!" bentaknya tiada henti, mata Zen memerah dan menjadi sangat tajam.
"bukan begitu.. hikss" kata Livia gemetar dengan menangis. lalu Zen berjalan ke arah Robin, dia menendang kaki Robin di tulang keringnya
bukk.. satu tendangan kasar dan sangat keras membuat Robin memegang kakinya dan meringis, secepat kilat Robin berusaha berdiri tegap lagi.
"kau tidak pecus!"
bukk.. bukk..
dua pukulan mendarat di pipi Robin. membuat Livia menutup mulutnya, dia begitu terkejut.
"naik ke atas!" perintah Zen saat menatap Livia menangis tanpa henti.
dari belakang Barbara berlari menghampiri Livia dan berusaha mendampingi Livia ke kamarnya.
"kau tau apa moto kita?!" tanya Zen tegas pada Robin.
"satu kesempatan berarti membiarkan musuh menang" jawab Robin dengan tegas.
"benar, jika Darent memiliki kesempatan untuk bertemu Livia lagi maka dia akan memenangi hati Livia!" tegas Zen.
__ADS_1
"baik tuan, saya bersalah, saya akan berusaha lebih baik lagi untuk menjaga nona Livia" kata Robin memastikan dirinya sendiri.