
Pagi hari...
Hanna tengah berkumpul dengan teman-temannya, mereka juga sesama artis, saat ini mereka sedang mengadakan arisan sebagai rutinitas mereka sebulan sekali.
"wow.. luar biasa" kata Michelle sembari melihat ponselnya.
"apa?" tanya Lea, teman-teman yang lain termasuk Hanna juga penasaran.
"lihat ini" kata Michelle menunjukkan sebuah foto di papan berita, terpampang foto Zen dan Livia tengah selfi menunjukkan cincin lamaran dari Zen, mereka tersenyum lebar malam itu, Hanna membulatkan matanya tak percaya.
"nasib yang sangat baik" ujar Lea yang di angguki temannya.
"pelayan menjadi ratu?" ujar Hanna tidak suka.
"bagaimana bisa dia merebut hati Zen" ujar Anna.
"benar, tapi setelah kupikir-pikir, dia memang sangat cantik, bahkan aku merasa bahwa dirinya lebih cantik daripada kita" kata Michelle.
"dimana dia perawatan? apa dia cantik setelah menjadi kekasih Zen?" tanya Anna.
"tidak juga, aku pernah melihatnya sendiri, saat itu dia bekerja di kafe dan kebetulan aku lewat di depan kafenya, dalam keadaan berkeringatpun dia tetap cantik, entahlah.. mungkin nasibnya sangat baik" kata Lea yang angguki teman-temannya.
"lalu bagaimana denganmu Han? bukannya kau menyukai mantannya?" kata Anna sedikit mengejek, ya.. Hanna memang sedikit angkuh, maka teman-temannya juga tidak terlalu suka padanya.
"aku? aku baik-baik saja selama dia tidak mengganggu Daren lagi" jawab Hanna dengan bodohnya.
"apa secinta itu kau dengan Daren? bukankah Daren yang kerap mengganggu perempuan itu karena terlalu cinta, lalu kau gimana?" ujar Lea.
"benar, bukankah itu artinya cinta bertepuk sebelah tangan?" tanya Michelle sedikit mengejek.
"teman-teman, kurasa aku ada perlu, aku akan pulang duluan, kalian lanjut saja, maaf ya" kata Hanna tiba-tiba beranjak pergi, teman-temannyapun terkikik geli melihat Hanna malu seperti itu.
***
"Zen apa kau yakin aku tidak akan tenggelam?" tanya Livia yang sangat takut berada di atas papan seluncur, saat ini Zen mengajarinya snorkelling.
"tenang saja, kau hanya perlu tetap seperti itu" kata Zen, lalu Zen bermain dengan snorkellingnya, saat ada ombak besar Livia tenggelam, tak jauh dari bibir pantai Livia tertawa lepas sembari berusaha menyingkir dari sama.
mereka bersenang-senang disana, sementara matahari semakin naik dan cuaca semakin panas.
"tuan, nona, kalian harus makan siang dulu" kata pelayan wanita di rumah itu.
"baiklah Rosa, kita akan segera makan" teriak Zen.
Seharian penuh mereka bermain-main di air, bahkan Livia melihat penyu laut yang mendarat untuk bertelur.
__ADS_1
mereka mengabadikan banyak momen disana, wajah Livia dan Zen tersenyum lebar di setiap foto yang mereka dapatkan.
***
keesokan paginya mereka tiba di bandara new York. Robin dan Hugo sudah menunggu disana. Zen dan Livia masuk ke mobil bersama Hugo dan Zen.
"ada berita apa" tanya Zen seperti biasa.
"salah satu pengkhianat di kantor sudah ketemu tuan" jawab Hugo.
"benarkah? lenyapkan tanpa jejak" perintah Zen yang dipatuhi Hugo, sesegera mungkin Hugo menelepon seseorang dan menyuruhnya seperti permintaan Zen. Livia tertegun melihat mereka.
"ada lagi?" tanya Zen.
"Daren dan Hanna akan segera menikah tuan" kata Hugo, membuat Zen dan Livia menoleh padanya.
"benarkah?" tanya Livia spontan membuat Hugo dan Zen menatap Livia.
"kau sangat terkejut ya, ada apa? kau sedih dia menikah dengan wanita lain?" tanya Zen menyelidik tidak suka.
"aku? ah tidak, mana mungkin" jawab Livia berusaha biasa, Livia mendapat lirikan tajam dari Zen.
"baguslah kalau begitu, dia yang berulah aku yang lelah" ujar Zen membuat Hugo terkekeh geli.
"selamat tuan Zen dan nona Livia atas pertunangan kalian" kata Barbara sembari memberikan bunga mawar untuk Livia.
"Barbara, sejak kapan kau peduli pada hubunganku?" tanya Zen yang heran dengan perubahan Barbara setelah Zen bersama Livia, dia terlihat sangat senang Zen mendapatkan Livia.
"benarkah? mungkin karena aku melihat nona Livia orang yang baik, tidak seperti wanita lain" kata Barbara dengan berkaca-kaca, pasalnya Barbara adalah ketua pelayan disana sejak Zen kecil, dia sudah seperti keluarga sendiri, meski begitu Barbara tetaplah pelayan yang tidak bisa seenaknya sendiri.
"trimakasih bunganya Barbara, aku sangat akan merawat bunga ini di kamarku" kata Livia sembari mencium bau bunga mawarnya.
lalu mereka masuk, Livia ke kamar sedangkan Zen di ruang kerjanya bersama Hugo, pekerjaannya menumpuk, dia harus segera menyelesaikannya.
"hei Livia" sapa Luna melalui teleponnya.
"Luna bagaimana? maaf ya kemarin dan hari ini aku tidak bisa menemuimu" ujar Livia.
"Liv, harus berapa kali kukatakan aku menyayangimu, jadi tidak usah khawatir, aku selalu menyelesaikan hukumanku dengan baik, lagipula kau sudah datang menemuiku, kau tak perlu khawatir"
"besuk aku ak.."
"berhenti kesini jika kau ingin meminta maaf padaku lagi Liv, tapi kalau kau kesini untuk bermain tentu saja akan kusambut dengan baik" kata Luna pada sahabatnya. "ayolah kita bisa pergi bersenang-senang menghabiskan uang kita lagi" lanjut Luna membuat Livia terkekeh.
"baiklah, kapan kita akan pergi?" tanya Livia.
__ADS_1
lalu percakapan mereka menjadi panjang dan menyenangkan.
***
Darent barusaja selesai dengan syutingnya, dia datang ke kantor dan harus membicarakan perihal pernikahannya, banyak komentar positif dan tidak sedikit juga komentar buruk padanya, tapi lambat laun komentar baiklah yang paling unggul mengenai pernikahannya dengan Hanna.
dia memegang ponselnya dan melihat berita terkini yang berada paling atas, terlihat sebuah foto Zen dan Livia yang sedang memakai cincin, mata Darent sedikit membulat lalu membaca artikel itu, alangkah terkejutnya melihat Livia sudah dilamar Zen.
"sayang, apa kau lapar?" tanya Hanna yang barusaja masuk tiba-tiba, mereka berdua datang bersama ke kantor setelah syuting selesai.
"tidak"
"sayang, coba lihat ini" kata Hanna sembari memperlihatkan ponselnya. "bagus kan? kita pakai gaun ini saja" lanjutnya.
"Hanna, tolong jangan membahas gaun lagi, kita hanya pura-pura, kau ingat kan" kata Darent membuat Hanna sebal.
"karir siapa yang hancur? karirmu kan? lalu kau memakai siapa untuk mendongkrak popularitasmu? aku! lantas seperti inikah perilakumu padaku?!" kata Hanna yang sakit hati. Darent membisu, benar juga yang dikatakannya. Hanna pergi meninggalkan Darent begitu saja dengan mata berkaca-kaca, Darent mengacak-acak rambutnya.
"Livia, bagaimana kau bisa bertunangan dengannya" lirihnya dengan geram sambil memijat pelipisnya.
***
Zen membuka kamar Livia, dia melihat Livia tengah tertidur pulas di ranjangnya, dia menghampirinya duduk di tepi ranjang dan menatap wanitanya, Zen mengusap lembut rambut Livia, tak terasa seulas senyum nampak di sudut bibir Zen. Livia terbangun dan menatapnya.
"ada apa Zen?" tanya Livia sembari duduk.
"apa kau ingin coklat panas" tanya Zen melihat ke arah balkon. "cuacanya sangat sejuk jika kita minum coklat panas di balkon" lanjutnya, Livia mengangguk dan tersenyum.
tak lama kemudian mereka duduk berdua di balkon berdampingan.
"Zen?" panggil Livia sambil memeluk lengan kanan Zen dan menyandarkan kepalanya di pundak Zen.
"mmm"
"apa aku boleh tanya sesuatu" ijinnya.
"katakan saja"
"kenapa sekarang kau tidak pernah ke kafe lagi?" tanya Livia penasaran membuat Zen heran, dia pikir pertanyaannya sangat berat untuk di jawab, Zen terkekeh.
"karena yang harus kulihat setiap pagi sudah berada di rumahku" kata Zen membual.
"benarkah? apa itu aku?" tanya Livia memastikan dengan polosnya membuat Zen berubah dengan wajah datar.
"kau itu bodoh sekali, siapa lagi kalau bukan kau" ujar Zen mengatai Livia, Livia hanya cemberut mendengarnya. begitulah hubungan mereka, berangsur-angsur membaik.
__ADS_1