
Mobil melaju dengan pelan saat memasuki jalan kecil yang menuju ke kontrakan Livia, Zen dan Livia sampai rumah hingga larut malam, mereka melewati sebuah tembok tinggi setingginya manusia yang ada di sebelah kanan mobil mewah Zen. tembok tinggi yang di atasnya sana ada banyak rumah, salah satunya kontrakan Livia.
mobil berhenti di depan pagar yang ada tangga hanya beberapa tingkat saja. Livia keluar dari mobil melambaikan tangannya pada Zen yang tengah tersenyum padanya, Zen harus segera menemui Hugo karena pekerjaannya yang menumpuk seharian penuh ini, setelah dia pergi Livia berhenti di depan pagar dengan hati-hati dia melepas kalung berlian dari Zen lalu memasukkannya ke dalam tas.
dia sudah berpikir sejak tadi bahwa dia harus melepasnya setelah sampai rumah, meski itu hanya hadiah ulang tahun dia merasa tidak pantas memakainya.
lalu dia membuka pagar berjalan di halaman naik menuju rumah setelah membuka dan menyalakan lampu betapa terkejutnya dia melihat sosok Darent tengah duduk di sofanya dengan tatapan tajam, bukan ke arah manusia, tapi hampir seperti hantu yang duduk di rumah gelap.
"da..Daren" lirih Livia gagap, tidak hanya kaget, dia pasti tahu bahwa Livia turun dari mobil mewah tadi, dengan mata yang tajam itu ciri khasnya saat marah.
"kau wanita hebat, berpacaran dengan artis dan juga bermain dengan pria kaya" sindir Darent, Livia melangkah masuk ke rumah memberanikan diri untuk menghadapinya.
"ya, aku berhak bersenang-senang" jawab Livia yang masih terdengar takut tapi berusaha untuk berani.
"tatap aku" perintah Darent berdiri menghampiri Livia, dengan hati-hati Livia memberanikan diri menatapnya, lalu Daren mengambil ponselnya di jaket memperlihatkan sebuah foto pada Livia, mulut Livia sedikit terbuka tak percaya bahwa perlakuan kejinya di belakang Darent bisa ketahuan secepat itu, Livia kehabisan kata-kata. "kau bekerja menjadi ****** sekarang?" ujar Darent menahan amarahnya.
"apa? kau mengatakan ******?!" pekik Livia mulai sebal, tak ada jawaban dari Darent.
"ah.. benar juga" lanjut Livia teringat dengan skandal Darent, "aku menjadi ****** sekarang, sama dan kau gigolo, bukan begitu?"
__ADS_1
plakkk...
satu tamparan keras mendarat di pipi Kiri Livia, wanita itu spontan memegang pipinya dan menatap Darent dengan mata benci.
"kau menamparku?" kata Livia tak percaya.
"kau pantas mendapatkan tamparan, ingatlah Liv, kau sudah dewasa, kenapa harus bercumbu dengan pria lain jika kau sudah memilikiku?" kata Darent dengan nada meninggi.
"aku? haha... bukan aku yang menjadi pembahasan kita sekarang, tapi kau, jika bukan skandal yang kau buat maka aku tidak akan pergi dengan pria lain!" jelas Livia sebal dengan mata berkaca-kaca.
"kau sama sekali tidak mendengarkan penjelasan dari kan? mana ponselmu sekarang?" kata Darent mengulurkan tangan meminta ponsel baru Livia.
tak banyak bicara lagi Darent menyahut tas yang di bawa Livia dengan cepat dia menjatuhkan semua isi tas itu, alat make up, ponsel, terutama kalung berlian itu juga terjatuh, Darent melotot melihat kalung berlian mahal itu, lalu seulas senyum meremehkan Livia muncul begitu saja.
"ternyata benar kau seorang ******, kau bercumbu di pantai hanya untuk kalung mahal ini?" ujar Darent sarkatis, hal itu membuat Livia semakin tak terima.
"lihatlah dirimu Darent! kau tak pernah sekalipun mengajakku bepergian, kau hanya bisa menjemputku dan mengantarku bekerja, kau tak pernah bisa mengajakku makan di luar, kau tidak pernah berusaha di depan ibumu supaya ibumu merestui hubungan kita, kau selalu sibuk dengan syuting dan penggemarmu, tapi sekali saja jika kau mempublikasikan hubungan kita maka aku akan hancur di tangan penggemarmu, apa itu yang disebut hubungan kekasih? kau selalu saja egois memarahiku dan hidup dengan nyaman, banyak cinta yang kau dapat dari orang lain, tapi sedikit saja jika kita keluar bersama maka orang yang mencintaimu akan menghancurkan hidupku, kau bisa hidup nyaman tapi aku tidak, selama 6 tahun aku menjalani hidupku seperti ini bersamamu, bahkan kau saja lupa hari ulang tahunku" jelas Livia marah meneteskan banyak air mata.
Di rumah yang tak jauh dari kontrakan Livia, terdapat wanita tua, dia pemilik kontrakan Livia, sosok wanita tua berkepribadian baik dan sabar terus menggelengkan kepala mendengar keributan Livia dan Darent, wanita itu iba pada Livia yang terdengar marah dengan nada bergetar, dia ingin menghampirinya dan memeluk menenangkan Livia tapi dia tidak berani ikut campur masalah mereka.
__ADS_1
"Livia" lirih Darent yang menyadari semua perkataan Livia adalah benar adanya, tak pernah sekalipun mereka pergi meskipun hanya ke toserba dekat rumah, tidak pernah sama sekali, bahkan satu tahun semenjak mereka jadian dan Darent belum menjadi artis terkenal, sama sekali tidak pernah juga karena sibuknya Darent saat itu yang banyak berlatih menjadi pemain film dalam perintisannya.
Darent maju mendekatinya hendak memeluknya dengan hati-hati, tapi Livia mundur dan menangis, entah yang keberapa dia mengusap air mata di pipinya yang merah karena tamparan, yang jelas hati Livia sekarang adalah faktor utama bagi Livia, sakit yang mendalam di hatinya ingin sekali dia berlari keluar rumah menjauhi pria itu, tapi Livia sadar ini tempat tinggalnya, Darentlah yang harus pergi dari sini.
"Livia maafkan aku" kata Darent menunduk dengan penuh penyesalan, tapi Livia sudah terlanjur sakit dan membencinya, dengan sekuat tenaga Livia menarik Darent hingga keluar rumah.
"aku tidak akan melarangmu bersama Hanna, maka jangan melarangku jika aku bersama pria lain, aku juga ingin bersenang-senang layaknya teman-teman yang lain" kata Livia ketus lalu menutup pintu dengan kencang.
"Livia buka pintunya dulu, aku akan menjelaskan tentang skandalku dengan Hanna" teriak Darent yang masih sangat jelas di dengar oleh Livia. "buka pintunya Liv" lanjutnya lagi, tapi percuma saja, nasi sudah menjadi bubur, tangan kokohnya sudah berani menampar pipi halus Livia hingga merah, sakit fisik yang di terima Livia terasa di pipinya, Livia menangis tersedu-sedu di ranjang kecilnya, ingin sekali dia memeluk ibunya yang penuh kasih sayang seperti dulu.
"ibu" lirih Livia sambil menangis tak henti-hentinya berharap ibunya mendengar dan berada di sebelahnya.
namun di depan pintu Darent tidak kunjung pergi, dia termenung dan tidak percaya dengan perilakunya pada Livia, wajah cantik Livia yang menangis dan marah tadi terus membayangi pikirannya, dia menatap tangannya dan mengepal merutuki kebodohannya sendiri.
"tangan sialan!" lirihnya geram penuh penyesalan.
di ruang kerja yang terdapat di mansion mewah Zen..
"apa semuanya lancar?" tanya Zen yang tengah duduk di kursi nyaman kebesarannya.
__ADS_1
"semuanya lancar tua sesuai rencana, orang suruhan sudah mengirim foto anda dan nona Livia, aku sudah menutup mulutnya, dan saat ini mereka sedang bertengkar hebat di rumah Livia" jelas Hugo membuat tawa iblis dan licik Zen memenuhi ruangannya.