
flashback..
"kenapa ibu tidak turun?" tanya Darent pada pelayan rumah saat menyajikan sarapannya, Darent dan Hanna yang sudah satu rumah masih bersama Helena memang setiap hari selalu sarapan bersama sebelum semuanya sibuk berangkat bekerja.
"entahlah tuan, mungkin nyonya masih bersiap-siap, aku akan naik melihatnya" ujar pelayan yang memang sudah di percaya di rumah itu.
"Daren, kalau sudah selesai syuting mari kita berbelanja, banyak kebutuhan yang harus kita beli" kata Hanna dengan senyumannya.
"apa kita perlu berpura-pura harmonis juga saat tidak ada orang?" tanya Darent ketus membuat hati Hanna sakit.
"hanya berbelanja Daren, lagipula akan banyak orang yang melihat kita dan mengabadikan momen-momen kita kan, popularitasmu akan semakin naik jika kau terlihat bahagia bersamaku" jelas Hanna yang sebenarnya ingin sekali menjalani hubungan serius dengan Darent, dia mencintai Darent, karena sudah sejauh ini dia hanya perlu berusaha meluluhkan hati suaminya.
"jadi kamu berpikir sudah banyak membantuku dan aku sangat membutuhkanmu? begitukah?" tanya Darent tidak terima dan sebenarnya dia merasa gengsi menerima bantuan sejauh ini dari Hanna, entahlah.. di hatinya masih ada nama Livia Bannet.
"bukan begitu maksudku, tapi sungguh.. kau benar-benar menyakitiku" ujar Hanna mendelik, hal seperti itu sudah dibiasakan oleh Hanna setelah mereka menikah yang baru saja beberapa hari ini, bahkan tanpa bulan madu sekalipun.
Aaakkh..!!!!!
teriak sang pelayan dari atas sana membuat Darent dan Hanna sangat terkejut, beberapa pelayan di dapurpun ternyata juga sama terkejutnya lalu berhamburan menuju ke arah suara itu, Darent dan Hanna berlari mengikuti para pelayan.
"astaga kenapa ini!" ujar seorang pelayan.
"oh Tuhan sungguh bagaimana ini" kata pelayan lain lagi, ada yang menjerit dan Hanna begitu shock melihatnya, sedangkan Darent limbrung hingga terduduk bersimpuh menatap ibunya tergantung di atas dengan tali yang menjerat lehernya.
"panggil polisi!" perintah salah satu pelayan yang dikatakan senior di antara mereka.
flashback off..
"Anda dilarang masuk!" tegas pengawal pintu mansion Zen pada Darent yang terus berteriak.
"bawa dia pergi dari sini" perintah salah satu pengawal pada pengawal lain.
"tuanmu membunuh ibuku! tuanmu membunuh ibuku!" teriak Darent yang di ulang-ulang membabi buta. Matanya merah bercucuran air mata, tak hanya sedih, dia terlihat kalut dan marah.
__ADS_1
Barbara yang berlari dari dapur ke arah Livia mendorong pintu itu hingga membuat Livia terdorong ke belakang, dengan cepat Barbara menutup lagi pintunya yang tidak tertutup rapat sehingga Livia dan Barbara masih bisa melihat kondisi di luar. Barbara ingin menjaga Livia dari dalam, sedangkan Robin dengan cekatan berdiri di depan pintu ruang makan untuk menjaga Livia dari luar.
"lepaskan dia" perintah Hugo dengan tenang saat melihat kedua pengawal itu menyeret Darent yang terus meronta, lalu mereka melepasnya.
Hugo memberi isyarat pada Darent melalui kepala untuk segera masuk mengikutinya, Livia yang takut hanya menyembulkan sedikit kepalanya dan menyembunyikan tubuhnya di balik pintu ruang makan, dia shock dengan teriakan Darent tadi.
"apa maksud 'tuanmu membunuh ibuku''?" batin Livia terus menerka-nerka, pikirannya tak karuan dan tak bisa mencerna dengan baik, dia tidak percaya Zen membunuh ibunya, bahkan dia juga tidak percaya Helena meninggal.
Hugo dan Darent sampai di taman mendekati Zen duduk disana, sedangkan tiga pengawal mengikuti mereka, untuk berjaga-jaga.
"kau membuat ibuku bunuh diri!" kata Darent yang terlihat geram menahan semua amarahnya.
"kau berhasil menggangguku" ujar Zen membuat Darent menghela nafas kasar.
"jadi benar.. kau yang membuat ibuku bunuh diri?!" tegas Darent memastikan.
"atas dasar apa?" tanya Zen singkat.
"waktu itu ibuku memaksaku untuk berlutut padamu! dia ketakutan karena kau akan membunuhnya!"
"apa?! kau gila! kau yang membuatnya takut hingga dia bunuh diri! kau mengancamnya?!" teriak Darent membuat semua pelayan menatapnya.
Zen memberi kode Hugo dengan kepalanya. lalu Hugo membuka laptop yang ada di meja lain tak jauh dari mereka, lalu memperlihatkan sebuah vidio pada Darent, dimana Louis menghabisi ibunya hanya mencekiknya dengan satu tali yang dilingkarkan di leher Helena lalu Louis menariknya hingga mati. disana juga terlihat Louis sedang menelepon anak buahnya untuk mengurus mayat ibunya.
Darent terduduk dan menangis, kakinya lemas dan sangat terpukul, ada rasa kecewa dan sedih yang mendalam. Hugo berusaha menolongnya untuk berdiri tapi tangannya di tepis oleh Darent, tiba-tiba Darent mendekati Zen berjalan memakai lututnya, dia berjusud pada Zen.
"kumohon bantu aku, kumohon" kata Darent dengan Isak tangis pilunya.
"aku tidak mau, tidak menguntungkan apapun" kata Zen dengan santai.
"kumohon tuan Zen, biarkan aku memegang Vidio itu untuk menuntut Louis" kata Darent memohon lagi.
"pergilah! aku menyimpan Vidio itu untuk keperluanku sendiri" kata Zen dengan tegas, lalu Zen mengisyaratkan Hugo untuk mengusir Darent.
__ADS_1
dengan cekatan pengawal yang sedari tadi mengikuti Hugo langsung menyeret Darent keluar, sempat terlihat Livia yang merasa iba sudah berada di depan pintu, dan Darent juga melihatnya, tapi tak ada rasa malu untuk saat ini, karena begitu terpukulnya hati Darent mengetahui bahwa ibunya tidak di bunuh tapi dibunuh.
Zen menghampiri Livia yang tengah berdiri di depan pintu, sedangkan pengawal pergi meninggalkan Livia karena dirasa sudah aman.
"nanti siang kita akan melayat, kau ikutlah" kata Zen yang di angguki Livia.
pelayan datang membawa nampan berisi mangkok mi instan. Zen melihat itu.
"mi instan? kau membuatkan siapa?" tanya Zen dengan tatapan tajam pada pelayan.
"nona Livia meminta saya untuk membuatkan mi tuan" kata pelayan sedikit takut dengan tatapan Zen.
"buang itu sekarang juga!" tegas Zen geram sedikit membentak pelayan itu. lalu dengan cekatan pelayan pergi membawa mi itu kembali.
"itu hanya mi instan Zen, bukan racun!" tegas Livia.
"tidak! jangan makan mi!" tegas Zen lagi sembari pergi meninggalkan Livia. lalu Livia mengekorinya.
"kau itu keterlaluan, hanya sepele, aku juga tidak makan mi terus kan" kata Livia terus mengekorinya, tiba-tiba Zen berhenti membuat Livia menabrak punggung Zen yang lebar itu.
Zen berbalik menatap Livia. "tidak!" kata Zen singkat.
"kalau begitu aku ingin ke minimarket! jangan halangi aku!" kata Livia.
"Robin!" teriak Zen memanggilnya lalu Robin datang tergopoh-gopoh. "ikuti nenek sihir ini kemanapun dia mau!" perintah Zen pada Robin sambil menatap Livia.
"apa? nenek sihir?! aku!" ujar Livia tak terima di panggil nenek sihir, tapi Zen pergi meninggalkannya begitu saja dengan senyum kemenangan.
Livia duduk di kursi depan minimarket, banyak camilan di meja bundar itu, ada satu yang Livia inginkan, mi instan cup. sembari menunggu mi cup itu matang dengan air panas Livia memakan camilan lain yang dia beli, Livia melirik Robin yang sedari tadi berdiri di sebelahnya.
"kau mau?" tawar Livia pada Robin menawari camilan.
"tidak nona, trimakasih"
__ADS_1
"Robin, apa kau mau kujodohkan dengan Luna?" tanya Livia dengan polosnya.