Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
THIRTY TWO - KEMATIAN HELENA


__ADS_3

Livia mendecih saat dua orang botak yang ada di mobil menatapnya dari kejauhan.


"ada apa?" tanya Luna menatapnya lalu mengikuti arah pandangan Livia. "kau di pantau?" tanya Luna memastikan tak percaya.


"sungguh.. hanya di dekat rumah saja Zen tidak mempercayaiku" ujar Livia mencoba mengabaikan mereka.


***


di sisi lain Darent masih termenung, dia berdiri di belakang jendela kamarnya menatap ke arah luar, dia meratapi kesedihannya, dengan mata kepalanya sendiri dia menonton vidio tragis ibunya.


"bagaimana bisa ibu berada di rumah sedangkan di vidio terlihat di tempat lain" batin Darent, air matanya menetes tanpa henti. Terlihat sosok pria paruhbaya bertubuh tegap sedang berjalan di bawah sana, Darent mengamati gerak- geriknya.


"pasti ada pengkhianat disini, apa dia orangnya yang membantu orang luar masuk ke rumah ini?" batinnya, lalu sebuah ketukan pintu kamarnya terdengar dan dipersilahkan masuk. seorang wanita tua yang terlihat masih segar dan pintar masuk membawa nampan berisi makanan untuk Darent.


"tuan Daren, ini makan malamnya, tuan sudah seharian ini tidak makan" kata wanita tua ini. Darent sedikit tersenyum menyembunyikan semua perasaan dan pikirannya yang curiga.


"nanti akan kumakan" jawabnya menatap wanita ini.


"apa bibi Tessa pelakunya?" batinnya, semua pelayan di rumah Darent sudah menjadi pelayan lama, tak ada yang pelayan baru disini.


lalu muncul asisten Darent si Kevin memasuki kamar Darent, pelayan yang bernama Tessa itupun keluar dari kamar memberi akses untuk mereka berdua berbicara.


"apa kau menemukan sesuatu?" tanya Darent pada Kevin setelah Tessa menutup pintunya. Kevin menggeleng dengan lesu dan terduduk di tepi ranjang Darent.


"aku harus meminta bantuan Zen, dia memiliki vidionya, kau tetaplah waspada pada semua pelayan rumah ini termasuk penjaga rumah" kata Darent memastikan Kevin tidak lupa.


"baiklah, tapi bukankah sebaiknya kau pecat semua dan mengganti pegawai baru? akan sulit tapi itu hanya sebentar, aku juga akan membantu mereka beradaptasi" kata Kevin.


"tidak, ini masalah serius, nyawa ibuku hilang karena seseorang, dan ada yang membantu Louis si pembunuh itu menyembunyikan kenyataannya, aku tidak bisa melepas mereka begitu saja, pasti ada yang berbuat jahat di antara mereka dengan menerima bayaran besar" jawab Darent membuat Kevin mengangguk tanda setuju.


"lalu bagaimana rencanamu?" tanya Kevin.


"aku akan bicara pada Hanna" kata Darent.


"benar, ngomong-ngomong dimana istri barumu?" tanya Kevin yang baru sadar. Darent mendecih.

__ADS_1


"dia hanya berduka sebentar, dia selalu pergi begitu saja tanpa memberitahuku apapun bahkan hari belum berlalu setelah ibu meninggal dia sudah bersenang-senang di luar" jawab Darent miris mengingat dia adalah istrinya.


"sungguh, dia benar-benar tidak waras" ujar Kevin.


"itulah alasanku tidak suka padanya, di sangat berbeda dengan Livia" kata Darent dengan pandangan kosong.


"kau benar, Livia selalu ada di sisimu meskipun kau sedang susah, suaranya yang lembut selalu membuat orang lain iri padamu karena bisa mendapatkan wanita sebaik dia, aku menyesal ikut memaksamu untuk menikahi Hanna waktu itu, maafkan aku" kata Kevin dengan tulus.


"kau tidak bersalah apapun, aku yang salah sudah gegabah dalam bertingkah, seharusnya aku selalu berunding dengan Livia saat itu, aku ingin mendapatkannya lagi, aku tidak peduli meskipun dia milik orang lain dan siapa orang itu" kata Darent dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


***


beberapa hari setelah kematian Helena berlalu, bahkan di internetpun sudah sedikit mereda dengan berita Helena yang bunuh diri.


"bagaimana dengan persiapannya?" tanya Zen pada Hugo, sementara Livia hanya menjadi pendengar, mereka sedang berada di kantor ZNJTV.


"saya sudah mengurus keberangkatan kalian tuan, dan untuk pekerjaan sementara anda bisa menyelesaikannya secepat mungkin sebelum berangkat" jawab Hugo dengan lihai, mereka akan pergi ke Italia untuk menemui ayah Zen, mereka meminta restu karena sebentar lagi akan menikah, dengan waktu yang sangat singkat ini tak mungkin jika mereka harus mengulur waktu.


"baiklah" jawab Zen singkat pada Hugo. Livia yang mengambil ponselnya yang berdering di tasnya.


"nomor baru" batin Livia saat melihat sebuah pesan.


pesan dari Hanna membuat Livia sangat penasaran, ada apa sebenarnya?


"kurasa aku tidak memiliki masalah dengannya, ngomong-ngomong dia sangat sopan padaku, apa karena aku tunangan CEO ZNJTV?" batin Livia.


Livia memandang Zen dan Hugo, Zen sedang sibuk dengan laptopnya sedangkan Hugo memandang Livia, mata elangnya membuat hati Livia was-was.


"Apa wajahku terlihat aneh waktu membaca pesan dari Hanna? tidak, Hugo tidak boleh penasaran, sungguh.. dia benar-benar tangan kanan yang hebat" batin Livia terus saja berbicara sendiri. Livia berusaha mencari alasan.


"Zen apa aku boleh pulang sekarang?" tanya Livia hati-hati.


"kenapa?" tanya Zen penasaran. "tunggu saja sebentar lagi, aku hampir selesai" lanjut Zen, mereka hendak pergi berbelanja setelah pekerjaan Zen selesai.


"aku rasa aku lapar, aku tidak berselera makan di luar, aku ingin makan di rumah saja, lagipula aku lelah, besuk kita berangkat ke Italia kan? aku ingin tidur cepat hari ini" kata Livia sebaik mungkin, Zen tampak memikir-mikir.

__ADS_1


"baiklah, kau akan diantar Robin" jawab Zen.


"baiklah" jawab Livia lalu pergi meninggalkan Zen dan Hugo. Livia keluar dari ruangan mendapati Robin berjaga di depan pintu.


"Robin, aku akan pulang sendiri, aku sudah ijin padanya, mana kunci mobilnya?" kata Livia mengulurkan tangannya, lalu Robin memberikan kunci mobilnya. Livia bergegas keluar dan berhasil pergi meninggalkan gedung besar yang menjulang tinggi itu sendiri.


Livia menghampiri Hanna yang berada di sebuah kafe ruangan privat, dan melihat sosok Hanna yang masih duduk di dalam ruangan privat itu.


"halo nona, maaf merepotkanmu" kata Hanna menyalaminya lalu mempersilahkan Livia duduk dan makan yang tersedia di meja.


"tumben sekali, ada perlu apa?" tanya Livia tanpa basa-basi menolak makanan itu, sebenarnya hati Livia sangat sakit dengan perlakuan buruk Hanna padanya waktu itu, tapi rasa penasarannya muncul dan tak bisa dihindari.


"mm.. begini, aku tadi mendengar dari Daren, ibu mertuaku Helena, dia adalah korban pembunuhan" kata Hanna tanpa basa-basi karena melihat Livia juga terburu-buru.


"benarkah?" tanya Livia kaget mendengar penuturan Hanna.


"apa anda tidak tahu?" tanya Hanna bingung dan tidak percaya.


"siapa yang melakukannya?" tanya Livia yang masih kaget.


"kukira anda sudah tahu, Louis pengusaha makanan itu, anak dari Maria dan Smith, tuan Zen memiliki Vidio pembunuhan itu" kata Hanna menjelaskan yang berujung niatnya nanti. Livia terkejut dengan penuturannya.


"bagaimana bisa? Zen?" tanya Livia tak percaya, Hanna mengangguk.


"Daren diperlihatkan tuan Zen vidio itu, dia begitu terpukul, dia ingin membalas Louis dengan bukti vidio itu, tapi tuan Zen tidak memberikannya, dia berkata vidio itu untuk keperluan pribadinya" semua penjelasan Hanna membuat Livia semakin terkejut.


"semakin banyak penjelasan darimu semakin membuatku terkejut, lalu apa yang kau inginkan?" tanya Livia peka dengan niat Hanna, tidak mungkin jika dia memanggilnya hanya untuk mengatakan semua ini.


"begini, Daren memohon pada tuan Zen tapi beliau tidak memberikannya, mungkin jika kita meminta bantuan nona akan lebih mudah, keadaan ini sangatlah penting untuk kami, dan Daren sebagai anaknya juga sangat terpukul, dia tidak terima atas pembunuhan ini" jelas Hanna yang berbelit-belit.


"jadi intinya kalian meminta bantuan ku untuk meminta vidio itu dari Zen?" tanya Livia memastikan intinya supaya jelas, Hanna mengangguk pelan. Livia menghela nafas.


"nona, saya tahu hal ini egois, tapi sungguh.. aku.. aku meminta maaf atas perbuatanku selama ini pada anda, saya sangat jahat pada anda" kata Hanna dengan menunduk. Livia terdiam memandang Hanna iba.


"sulit bagiku waktu itu, meski aku belum bisa menerima perlakuanmu tapi itu sudah berlalu, yang terpenting sekarang adalah vidio itu kan?"

__ADS_1


jreggg...


suara pintu geser di ruangan itu terbuka dengan kasar, sosok Robin yang bertubuh kekar dan besar dengan wajah garangnya berdiri di ambang pintu.


__ADS_2