
"apa lagi yang kau inginkan?" tanya Zen pada Livia, saat ini mereka sedang berada di sebuah mall terbesar di kota, Robin dan satu pengawal lainnya yang bernama Jack membawa belanjaan Livia begitu banyak.
"sudah, aku sudah banyak belanja Zen" kata Livia sambil menjilat es krimnya.
"benarkah? tapi bagaimana dengan perhiasan? di etalase tidak ada perhiasan sama sekali" kata Zen membuat Livia tersedak.
"ya.. itu memang ulahku Zen" jawab Livia yang merasa Zen menyindirnya, padahal tidak sama sekali.
"aku tidak bermaksud yang lain, hanya saja kau menjadi ratu Rodrigues, kenapa tidak memakai perhiasan sama sekali?" kata Zen membuat Livia tersadar akan hal itu.
"kurasa aku bukan ratu Rodriguez tapi baiklah, ayo kita beli" kata Livia semangat, membuat Zen tersenyum lebar.
"aku senang kau seperti ini, mintalah apapun yang kau mau" kata Zen sembari mengacak-acak rambut Livia dengan gemas.
lalu mereka menuju ke toko emas yang ada mall tersebut, banyak pasang mata yang menatap mereka, banyak juga yang berbisik-bisik tentang mereka, entahlah.. tapi Livia sudah mulai terbiasa akan hal itu.
saat di toko Livia memilih masing-masing satu perhiasan, kalung, cincin, gelang, jam tangan semuanya satu.
"kau itu belanja bersama siapa? kenapa hanya membeli satu-satu seperti itu? aku menyuruhmu membeli banyak Liv" tegas Zen, dia hanya ingin Livia banyak meminta padanya, perasaannya yang berbeda dan membuat hatinya semakin terasa dekat saat Livia bergantung padanya.
"tapi ini sudah cukup Zen" jawab Livia membuat Zen makin gemas dengan perbuatannya, hanya tatapan tajam tanpa berbicara Livia mengerti bahwa keinginannya tidak bisa di bantah.
lalu Livia memilih banyak perhiasan disana, dengan dilayani 4 pegawai toko emas itu semakin cepat Livia memilihnya.
Zen berjalan ke arah satu etalase kecil yang di dalamnya ada sebuah tempat yang lebih tinggi daripada semua perhiasan disana.
sebuah cincin dengan permata yang begitu indah berwarna biru.
"sayang, coba kau mau ini?" tanya Zen.
"wow bagus sekali" lirih Livia.
"kau suka?" tanya Zen membuat Livia mengangguk.
__ADS_1
"kau coba saja dulu barangkali kau terlalu gemuk dan nggak muat" celetuk Zen membuat Livia melirik tajam padanya, sedangkan pegawai di depannya tersenyum geli. Lalu Livia memakai cincin itu dan ternyata pas untuk ukuran tangannya.
"terlihat sangat menawan nona" kata salah satu pegawai itu membuat Zen tersenyum manis, hati para pegawai itu berdebar saat melihat Zen tersenyum.
"baiklah, aku ambil itu juga ya" kata Zen pada pegawai.
lalu suara riuh di depan toko itu membuat seisi toko menatap dua orang yang barusaja datang kesana, Hanna dan Darent.
tatapan mereka semua saling bertemu, Hanna melihat Livia tidak suka. Zen langsung menggandeng lengan Livia mengajaknya untuk melihat-lihat lagi tanpa memperdulikan mereka.
"halo tuan zen" sapa Hanna yang nekat ingin memamerkan hubungan mereka pada Livia.
"ya" jawab Zen menatapnya.
"kebetulan sekali ya kita bisa bertemu disini" kata Hanna yang tak mendapat jawaban dari Zen, tiba-tiba Hanna merasa tingkahnya sangat aneh sendiri. "ah aku hanya menyapa kalian, lagipula akan aneh jika kita tidak saling sapa, kalian tahu sendiri kan disini banyak orang yang menatap kita, karena saya bekerja di kantor anda jadi..."
"sudah selesai? aku sibuk, tidak ada waktu basa-basi bersama kalian" kata Zen memotong kalimat Hanna dan membuatnya sangat malu.
"oh ba..baik" jawab Hanna sedikit gugup karena saking malunya, Zen menggandeng Livia untuk menjauh dari mereka, sementara hati Darent panas membara melihat Livia bersamanya.
"Daren, aku mau yang ini ya" ujar Hanna menunjuk cincin yang sangat indah.
"terserah, nggak usah yang mewah-mewah, lagipula kita hanya pura-pura" lagi-lagi Darent menyakiti hati Hanna.
"wah cantik sekali" ujar pegawai yang setia menemani Livia, Livia langsung memakai cincin itu atas permintaan Zen, Livia tersenyum manis saat melihat cincin itu melingkar di jarinya.
hati Darent dan Hanna sangat panas melihat mereka.
"sayang ini bagus untukku kan?" tanya Hanna sedikit keras suaranya untuk memamerkan pada Livia.
"terserah, kita cepat pulang saja" jawab Darent sembari pergi duduk di sofa tunggu. hal itu membuat Robin dan Jack tersenyum kecil mengejek mereka berdua.
setelah sampai di rumah Livia memasang semua perhiasan itu sendiri di etalasenya, dia merasa bersalah atas semua perilakunya waktu itu.
__ADS_1
hari demi hari berlalu dengan cepat, di kediaman Zen mendapat sebuah surat undangan.
"undangan pernikahan Daren dan Hanna tuan" kata Hugo menaruh di meja kerja Zen yang berada di mansion, Zen melihat undangan itu tertera nama
'Darent & Hanna'
"kapan? kenapa aku harus di undang?" tanya Zen.
"mungkin karena anda pemilik ZNJTV tuan, sedangkan mereka bekerja disana" jelas Hugo.
"kosongkan jadwal untuknya" kata Zen.
"baik tuan"
"merepotkan sekali" lirih Zen mendengus kesal.
***
"selamat untukmu Hanna, sebentar lagi kau akan sah menjadi istri Darent" kata seorang artis teman Hanna bernama Anna bersama kekasihnya.
"ah trimakasih sudah datang" jawab Hanna yang duduk di sebuah sofa merah panjang sembari menggenggam satu buket bunga putih, lalu mereka berfoto yang di sediakan oleh pothografer ternama.
lalu teman yang lain yang mengantri di sana menghampiri Hanna dan bersapa ria setelah Anna keluar dari sana.
sementara Darent dan Helena tengah sibuk menyapa para tamu undangan yang sudah hadir disana, tentu saja Darent di temani oleh asistennya.
tak lama kemudian acara itu di mulai dengan pembawa acara, bicaranya yang fasih dan berisik itu malah begitu menarik perhatian para tamu undangan.
lalu acara itu di mulai hingga ritual Hanna muncul seperti ratu dan saling bertukar cincin lalu Darent mencium kening Hanna di altar membuat suasana riuh dan bertepuk tangan, setelah semua ritual mereka selesai, Hanna dan Darent masih disana untuk menyapa para tamu, sedangkan pembawa acara terus saja mengoceh di sana dengan semangat.
tak lama kemudian semua pandangan tertuju pada sepasang manusia cantik dan tampan yang barusaja masuk, Zen dan Livia.. entahlah, mereka seperti bak raja dan ratu yang sesungguhnya.
kecantikan yang terpancar dari Livia dan ketampanan dari Darent yang menawan membuat banyak tamu disana memotret mereka berdua, banyak yang terpukau melihat mereka, para wartawan yang ada di sana menyorot mereka berdua membuat Hanna kesal karena pasalnya itu acara Hanna dan Darent tapi mereka berdua merebut perhatian semua yang ada di sana.
__ADS_1
para wartawanpun seperti mendapat berita jackpot karena Livia adalah mantan Darent yang tidak mengakui pengakuan Darent waktu itu, dan sedangkan Zen orang yang begitu hebat dan penting adalah atasan Darent dan Hanna, bagaimana tidak.. tahta atau kelas mereka berada dalam satu lingkungan percintaan, bagi semua orang hal itu jarang sekali terjadi.
"Livia" sapa Darent saat Zen dan Livia menghampiri kedua sang mempelai.