
"Louis ayolah, kita harus berpikir jernih agar tidak ketahuan sama orang lain" kata Helena yang berada di apartement Louis, dia mengalungkan tangannya di leher Louis yang sedang bersantai di sofa.
"apa yang kau maksud tidak ketahuan? kita saja sudah berada di tangan Zen" jawab Louis yang mulai bosan dengan perilaku Helena seperti benalu baginya.
"kau kan pria hebat, apa kau takut pada anak kecil? lakukan saja seperti yang kau lakukan pada musuhmu"
"kau pikir semudah itu melawan yang kau sebut anak kecil itu? kau wanita pembisnis yang paling bodoh dan ceroboh! lihat dulu siapa yang kau lawan, konsekuensi apa yang akan kau terima dalam keluargamu! tak hanya itu, dalam bisnis kau akan mati jika terus menganggapnya remeh! kau pikir saja baik-baik, semua ini adalah kesalahan anakmu yang seperti anak kecil itu!" tegas Louis mulai geram dengannya karena selalu berpikir enteng tanpa berpikir panjang.
"kau selalu saja mengatai anakku, apa kau sudah merasa anakmu yang paling benar hah! dibandingkan dengan anakku, anakmulah yang menjadi orang pengecut!" tukas Helena dengan kasar, raut wajah Louis terlihat marah saat Helena merendahkan keluarganya, tangannya mulai mengepal.
"apa kau masih bisa bersantai sekarang hah" bentak louis. "Zen sudah mulai bekerjasama dengan kedua orangtuaku! itu artinya dia mengancamku untuk tidak membalas perbuatannya waktu itu! dasar wanita murahan bodoh!" umpat Louis tak ada hentinya sembari memandang tajam Helena yang sudah kesal daritadi.
"kau.. kau mengataiku?! kau tidak berpikir dengan siapa aku menjadi murahan! kau yang pertama menyentuhku pria tua brengsek!" tukasnya dengan mata yang berkaca-kaca.
"pria brengsek? hahahaha..." tawa Louis yang menggelegar terdengar sangat mengerikan. "aku tahu kau sengaja menumpahkan minumanmu waktu itu agar kau bisa menggodaku disini bukan? kau wanita tua yang tidak tahu diri! semua ini gara-gara kau! jika kau tidak berada disini maka Zen tidak datang kesini dan menyeretku ke dalam masalahmu!" lanjutnya. Sorot mata Helena semakin mengerikan saat mendengar penuturan Louis.
"aku akan memberikan Vidio kita pada keluargamu termasuk nyonya Maria dan tuan Smith!" ujar Helena yang berusaha mengancamnya. Louis menggertakan giginya.
"dasar ******!" umpat Louis mulai berdiri dari sofanya. "beraninya kau mengancamku, kau wanita terbodoh yang pernah kukenal!" lanjutnya lagi sembari berjalan ke arah nakas dan membuka lacinya, dia mengeluarkan seutas tali tebal yang lumayan panjang.
Helena memundurkan langkahnya saat Louis tersenyum menyeringai sembari mendekatkan langkahnya menuju Helena.
"kau mau apa Louis, jangan berani macam-macam, ingat! kau akan di penjara!" tegas Helena menggertak ketakutan.
"aku? tentu saja membuatmu nyaman di neraka" tukas Louis sambil membenarkan talinya.
"tunggu Louis, kita bicarakan baik-baik" kata Helena yang terus berjalan ke belakang dengan gemetar.
__ADS_1
tak lama kemudian Louis menelepon seseorang sembari melihat ke belakang dengan santainya. Helena tergeletak di lantai tak berdaya dan tak sadarkan diri.
"ada tugas untukmu" kata Louis dengan orang yang berada di telepon.
"baik tuan, saya akan segera kesana" jawab pria di telepon itu, senyum seringai Louis muncul terlihat menyeramkan terukir saat ini.
***
"ini temanku Luna" kata Livia saat mereka tiba dan saling sapa, mereka duduk di kursi yang sudah di persiapkan bersama segerombol teman kelas Livia, mereka berada di sebuah kafe yang lumayan populer.
saat ini Livia sedang menghadiri acara reuni sekolahnya, dia tak pernah datang sekalipun karena tidak tertarik dengan hal seperti itu, dia juga hanya memikirkan pekerjaan dan jika sudah di rumah dia selalu menggunakan istirahatnya dengan baik, kalaupun pergi selalu bersama Darent. Tapi mungkin karena dia terlalu bosan tidak bekerja sama sekali dan hanya berada di dalam mansion sebagai ratu, akhirnya dia ikut acara itu dan kebetulan dia sedang bersama Luna sejak pagi tadi.
"halo salam kenal Luna, aku James" kata James teman Livia yang paling supel itu.
"halo senang bertemu dengan kalian, maaf aku masuk ke acara kalian" kata Luna tidak enak hati.
"kenapa kau tak pernah datang ke acara reuni Liv? kau tahu kita merindukanmu" lanjut Mia yang berada di sebelah Livia dan memeluk pundak Livia dengan sayang.
"maafkan aku, aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku waktu itu" kata Livia memeluknya.
"benarkah? pekerjaan? bukankah kau sibuk dengan mantan kekasihmu waktu itu?" kata Grey yang tiba-tiba berdiri berada di belakang Livia.
"Grey, kau datang" ujar James.
"aku tidak akan menyia-nyiakan untuk bertemu dengan Livia" kata Grey membuat semua teman-temannya menyorakinya. Mulut Luna menganga saat melihat Grey yang tampan dan gagah. Lalu Grey duduk di depan Livia dan menegak alkohol dengan sloki di meja panjang itu.
"Grey, apa kabar" sapa Livia basa-basi.
__ADS_1
"aku tidak baik karena selalu memikirkanmu" jawab Grey membuat teman-temannya menyorakinya lagi.
"dari dulu kau selalu menggodaku, apa kau tidak lelah?" kata Livia menatap tajam Grey.
"dia tidak menggodamu Liv, kau memang cinta pertamanya" celetuk Brianno membuat Luna menatap Livia dengan kagum.
"ternyata kau sangat populer Liv" ujar Luna dengan tersenyum.
"ya.. dia memang populer, sampai-sampai Daren cinta mati padanya" kata James membuat semuanya terkekeh geli, bagaimana tidak.. mengingat kebodohan Darent waktu itu di televisi dan pada akhirnya Livia meninggalkannya.
"ngomong-ngomong tentang Daren, bukankah sekarang kau sudah memiliki tunangan dengan pria hebat itu?" tanya Grey membuat semuanya menunggu jawaban dari Livia.
"aku? ah.. jangan membahas itu lagi teman-teman, ayolah kita sedang acara reuni, mari kita bersenang-senang saja" kata Livia dengan kekehannya dan menegak gelas mungil itu.
setelah itu mereka banyak mengobrol karena mamang sudah lama tidak bertemu, terutama Livia, dia menjadi peran utama dalam gerombolan itu karena hanya Livia yang tidak pernah sama sekali muncul dalam acara mereka, Grey yang paling populer dari kaum Adam, dia mencintai Livia sejak memasuki sekolah dan hal itu bukan rahasia lagi bagi para penggemar Grey maupun teman-teman yang lain, Grey selalu tersenyum saat menatap Livia, bagaimana tidak.. semakin bertambahnya usia bukan semakin terlihat tua melainkan semakin cantik dan elegan, Livia terlihat anggun saat ini dengan mengenakan dress berwarna hitam selutut.
akan tetapi dari semua teman-teman itu ada satu wanita yang begitu benci saat melihat Livia menjadi sorotan dari semua teman-temannya. Calista.
***
"dimana Livia?" tanya Zen pada Hugo saat mereka berada di kantor.
"nona bersama Luna dan saat ini sedang menghadiri acara reuni sekolahnya tuan" jawab Hugo yang barusaja mendapat informasi dari anak buah Hugo.
"reuni?"
"benar tuan, acara reuni sekolah nona Livia, nona sengaja mengajak Luna ke acara itu"
__ADS_1
"dia tidak meminta ijin padaku" ujar Zen sambil mengepalkan tangannya. "awasi dia terus" perintah Zen yang di patuhi Hugo.