Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
TWENTY FOUR - MELAMAR


__ADS_3

Livia telah sampai di pulau Fregate, pulau yang sangat indah dengan satu resor yang besar.


ada kolam renang di bagian depan sana, Livia berjalan pelan di depan rumah melihat pemandangan luasnya pulau ini, banyak sekali pepohonan liar.


"pulau yang menawan" lirih Livia.


"benarkah?" tanya Zen sembari mensejajarkan kepalanya di sebelah kepala Livia, membuat wanita itu terkesiap.


"kau mendengarnya" ujar Livia membuat Zen tersenyum. "tapi kenapa tak ada orang disini? padahal sangat indah" lanjutnya lagi.


"apa kau suka yang ramai?" tanya Zen berubah menjadi penasaran.


"tidak juga, hanya heran saja biasanya pemandangan yang luar biasa ini pasti ada pengunjungnya, tapi kulihat tidak ada siapapun" kata Livia.


"pulau ini milikku" jawab Zen dengan menatap Livia yang tertegun.


"kau bercanda ya?" kata Livia tak percaya.


"terserah kau saja" jawab Zen sembari menjauh darinya lalu duduk di sofa.


Livia masih tertegun dengannya, lalu Livia mencoba mencari tahu di ponselnya, mulutnya sedikit terbuka saat membaca kebenarannya, dan benar saja pulau ini miliknya.


"ini gila" lirihnya yang terdengar oleh Zen, dan membuatnya tersenyum.


"ini sudah malam, ayo kita makan malam" kata Zen menarik tangan Livia untuk duduk di luar yang tersedia meja makan dan kursi.


"siapa yang mempersiapkan semua ini?" tanya Livia heran sambil menatap banyak sekali makanan mulai dari yang gurih, manis dan buah-buahan bahkan kue.


"dia" kata Zen menatap seorang wanita paruhbaya yang berada di bawah sana untuk membuang sampah. "dia orang yang menjaga seluruh rumah ini bersama suaminya" lanjut Zen.

__ADS_1


"apa mereka tinggal disini terus?" tanya Livia sambil duduk di kursi.


"ya"


"apa tidak kesepian?" tanya Livia membuat Zen menatapnya.


"mana aku tahu sayang, mungkin mereka juga membutuhkan uang banyak untuk kehidupan mereka" kata Zen. "ayolah jangan bertanya terus, kita makan saja aku sudah lapar" kata Zen merajuk membuat Livia terkekeh.


"Livia" panggil Zen sembari memotong steaknya.


"mmm" jawab Livia yang sedang makan juga.


"aku minta maaf karena sudah meninggalkanmu waktu itu" kata Zen.


"aku sudah melupakan itu" jawab Livia yang masih makan.


"apa hal itu akan membuatku sakit?" tanyanya waspada.


"tidak, waktu itu aku terpaksa berangkat ke Italia karena ibuku.. dia berselingkuh dengan pria kaya waktu itu, kau tahu sendiri bukan waktu itu usahaku dan ayahku belum meningkat, ayahku kalut disana dan ingin bunuh diri" perkataan terakhir Zen membuat Livia terhenti minum anggur merahnya, dia menatap Zen lekat-lekat yang matanya mulai berkaca-kaca.


"waktu itu aku sangat takut mengingat kami dijauhi oleh keluarga besar kami, ibuku sudah pergi dengan pria lain, jika ayahku bunuh diri maka aku akan sendiri, tapi waktu itu Hugo yang selalu di sampingku dan selalu memberiku semangat dengan mengatakan bahwa kau sedang menungguku dengan setia" kata Zen sambil tersenyum kali ini.


"benarkah Hugo berkata seperti itu? bahkan dia tidak pernah sama sekali menghubungiku" kata Livia.


"tidak, dia hanya memberiku semangat saja, aku juga baru tahu setelah kembali kalau Hugo menipuku, tapi itu tidak masalah karena dia juga membantuku memenangkan semua musuh dengan menyebut namamu" jawab Zen sambil meminum anggur merahnya. "jadi aku tidak ada waktu untuk terpuruk, hanya dengan mendengar namamu dari mulut Hugo saja aku sudah semangat, aku berpikir bahwa aku dan ayahku harus di atas supaya ibuku mau kembali lagi, maka dari itu aku hanya fokus pada pekerjaanku, pagi buta hingga larut malam baru bisa tidur, tapi ternyata ibu tidak kembali juga setelah kami sudah kaya" lanjut Zen.


"apa seburuk itu di Italia?" tanya Livia yang sudah merasa iba pada Zen.


"begitulah, tapi semuanya sudah berlalu, aku bisa membuat ayahku bangga, tidak hanya itu, aku juga tidak mau kau meninggalkanku dengan pria lain hanya karena aku tidak mampu menafkahimu dengan benar" jawab Zen. Livia terharu dengan kejujuran Zen.

__ADS_1


"benarkah dengan semua yang kau katakan Zen?" tanya Livia dengan pelan menahan sesak di hatinya.


"jika aku berbohong aku bisa mendapatkan wanita yang kumau di luar sana, saat aku kembali itu pertanda bahwa aku sudah siap menjalani hubungan kita yang sempat terpisah jarak saat itu, aku berjanji Livia, aku akan mengajakmu kemanapun aku pergi meskipun itu untuk pekerjaanku di luar negri" ujar Zen membuat Livia menggelengkan kepala menyingkirkan rasa sesaknya.


"jadi waktu itu kau tidak menghubungiku karena karena masalah keluarga dan pekerjaanmu?" jelas Livia memastikan, Zen mengangguk pelan menatap Livia.


"Zen, aku.. aku minta maaf, maafkan aku atas kesalahpahamanku, kupikir kau tidak peduli padaku waktu itu" lanjut Livia tak tahan menahan air mata.


"kau menangisiku atau siapa?" tanya Zen menggodanya lalu duduk di sebelahnya dan mengusap air mata Livia.


"jangan bercanda Zen aku serius minta maaf sudah salah paham padamu" kata Livia mengusap air matanya yang terus jatuh.


"mulai sekarang tidak perlu cemas lagi, dulu aku pergi dengan banyak kekurangan, tapi sekarang coba lihatlah aku saat kembali, apapun yang kau mau akan kuberi" kata Zen membuatnya terbuai.


"aku akan memastikan bahwa uangmu akan kuhabiskan" canda Livia dengan mengusap air matanya yang tersisa di wajahnya.


"benarkah? aku suka itu, habiskanlah" kata Zen memeluknya. "tapi ada satu pertanyaanku, kenapa kau menjadi kekasih Daren waktu itu? apa kau mencintainya" lanjutnya.


"berjanjilah untuk tidak marah" jawab Livia waspada jika dia marah karena ceritanya, Zen mengangguk.


"saat kau pergi aku terpuruk dalam waktu yang lama karenamu, hanya dia yang menemaniku, karena aku hanya cucu pelayan di rumahnya maka mau tak mau aku harus bertemu dengannya meskipun aku berusaha keras untuk tidak bertemu, setelah aku mulai mampu melupakanmu, hatiku mulai mencintainya karena dia terus mendekatiku dengan kasih sayangnya, tapi semuanya berbeda setelah nyonya Helena tau hubungan kami dan Daren mulai sibuk tak pernah bisa keluar dengan nyaman karena dia seorang artis, mulai saat itu hatiku kembali sedih dan tidak merasakan jatuh cinta padanya lagi karena terlalu lama sedih merasakan hubungan kami, entah karena aku yang egois atau kita hubungan yang tidak biasa, tapi hatiku merasa bahagia saat melihatmu kembali" jelas Livia panjang lebar.


Zen tersenyum senang melihat Livia mengutarakan hatinya meskipun tidak langsung.


"mulai sekarang aku tidak akan membiarkanmu menjadi pelayan lagi, aku akan menjadikanmu nyonya besar dimanapun kau berada, maafkan aku sudah membiarkanmu waktu itu tinggal disana, aku tidak mampu berpikir untuk membelikan mu rumah karena akupun belum mampu memenuhi keperluanku" ujar Zen dengan lembut, Livia menangis mendengar perkataannya, tiba-tiba matanya membulat saat melihat Zen mengeluarkan sebuah cincin yang ada di kotak beludru kecil.


"apa kau mau menikah denganku?" tanya Zen membuat jantung Livia berdetak kencang, dia menangis dengan suara keras kali ini, membuat raut wajah Zen bingung.


"sayang, apa kau tidak mau? kalau tidak mau jangan menangis akan kuberikan ini pada rey, barangkali dia mau" gurau Zen membuat Livia terkikik geli, pasalnya Rey si pria berhati wanita itu pernah mendapat lamaran juga dari seorang pria, lalu Livia mengangguk malu pertanda bahwa dia mau menerima lamaran Zen.

__ADS_1


__ADS_2