
keesokan harinya, Zen datang pagi-pagi ke kafe O'good bersama Hugo.
Zen memerintah Luna untuk membersihkan semua kafe, dia yang membereskan semuanya, mulai dari mencuci piring, mengepel, membersihkan kaca dan membersihkan semuanya, semua pekerjaan di kerjakan oleh Luna.
teman-teman pekerja di kafe berkumpul di belakang kasir. mereka semua melihat Luna dengan iba yang bekerja sendirian.
"Luna, kasihan sekali dia" kata Bella sedikit merengek karena kasihan, semua teman-temannya mendengar, mereka juga merasa kasihan padanya. tapi bagaimana lagi, di sofa sana ada bosnya yang menunggu sembari minum kopi bersama Hugo.
"nanti aku akan memijatnya" kata Andrew.
"kau gila? jangan coba-coba dengannya, kau mesum sekali" kata Bella ketus sambil melirik.
"hei kau itu bicara apa? aku tidak berpikiran sampai situ, kenapa kau yang jadi mesum?" jawab Andrew tak terima.
"hei sudah, sudah.. kita tunggu saja dia sampai selesai, lalu kita bisa bekerja sebaik mungkin agar Luna tidak kelelahan bersih-bersih nanti" kata Rey pada semua teman-temannya, mereka tidak bisa membantu karena memang dilarang Zen untuk membantu, padahal mereka semua terbiasa mengerjakan bersama.
***
Zen melihat jam dinding di ruang kantornya menunjukkan pukul 10.15, tepat saat Hugo masuk setelah mengetuk pintu.
"apa dia sudah bangun" tanya Zen memastikan Livia yang ada di rumah.
"sudah tuan, tadi jam Sembilan Barbara menghubungiku" jawab Hugo. "dan ini berkas yang harus anda tanda tangani" lanjutnya sembari memberi banyak berkas.
"baiklah, mari kita selesaikan secepatnya dan pulang menemui wanitaku" ujar Zen sambil membuka berkas itu.
dua jam berlalu dengan cepat, Zen sudah sampai di depan mansion, melihat Livia memakai baju yang di disediakan oleh Zen, dia terlihat berbeda, lebih berkelas dan Livia juga sudah terbiasa dengan pakaian yang selalu dia kenakan, seulas senyum di bibir Zen saat menatapnya melewati pintu utama dengan tas mahalnya, di tambah dengan kacamatanya.
"mau kemana?" tanya Zen dengan tatapan tajamnya, meski begitu Zen tetap waspada setelah dia kabur kemarin.
__ADS_1
"mm.. aku ingin makan di luar" kata Livia.
Zen memberi beberapa foto dan surat di jas miliknya, memperlihatkan paketan dari Darent.
"kau.. jangan pernah kau macam-macam dariku, jangan menghampirinya dan kau hanya cukup diam saja, aku akan mengurusnya" kata Zen sambil menudingnya dengan telunjuk.
"iya" kata Livia dengan takut saat melihat paket itu, lalu Zen menyahutnya dan memberikannya pada Hugo.
"bakar" perintah Zen yang di patuhi Hugo.
lalu Zen kembali ke mobil dan pergi meninggalkan Livia yang masih mematung karena kedatangannya hanya untuk mengancamnya saja.
Zen telah sampai di kantornya yang baru di ZNJTV, beberapa staff pegawai disana yang berlari berhamburan untuk menyambutnya, dan semua karyawan yang berpapasan disana selalu membungkuk untuk rasa hormat padanya, tapi Zen hanya diam saja, baginya, gaji besar yang di berikannya sudah cukup, tidak perlu untuk berteman pada mereka, hanya menjadikan hidupnya benalu, pikir Zen.
dia duduk di kursi kebesarannya dan Hugo menyuruh pengawalnya yaitu Robin untuk memanggilkan Darent.
setelah beberapa menit Darent yang memang sedang ada rapat dengan timnya datang menemui Zen di ruangan milik Zen.
"kau tau apa yang kau perbuat pada istriku?" tanya Zen tanpa basa-basi, Darent hanya diam. "akan kuperingati kau untuk menjauh dari istriku, dan jangan mengirim paket bodoh lagi" tegas Zen menatap Darent, dengan cekatan Hugo menggeledah seluruh tubuh Darent dengan kasar, tak ada perlawanan dari Darent karena dia tahu tidak akan menang melawannya.
"cek semua galeri, hapus semua yang menyangkut nona Livia, dan semua yang tersimpan di e-mail" perintah Hugo pada Robin, dengan bantuan otak cerdas Robin dia membawa ponsel Darent dan menyambungkannya di sebuah laptop yang berada di meja tamu dalam ruangan itu.
lalu Hugo menendang kaki Darent dengan santai hingga Darent tersimpuh.
"berlututlah dengan baik dan berjanji pada tuan Zen selagi ada kesempatan" perintah Hugo, tapi tak ada jawaban dari Darent, kedua tangannya mengepal saat itu, Zen berdiri mengambil barang andalannya di belakang punggungnya, wajah Darent terlihat biasa kali ini, dia sudah pernah berada di posisi seperti itu di depan Zen.
"bunuh aku pria sialan, kau akan terkena masalah jika membunuhku disini" batin Darent menatapnya tajam.
dengan cepat Hugo mendekati Zen dan membisikkan sesuatu, lalu Zen memasukkan pistolnya lagi, Hugo tahu bahwa Zen tidak bisa mengontrol emosinya saat menyangkut Livia, Darent kecewa saat dia tidak menembaknya.
__ADS_1
tak butuh waktu lama, tidak hanya kekuatan Robin saja yang digunakan, tapi dengan kecerdasannya dia menyelesaikan semua yang di perintahkan Hugo tadi, lalu Hugo menjatuhkan ponsel Darent di depan mereka semua dan menginjaknya hingga remuk.
Hugo mengambil uang di koper yang di bawa Robin sejak tadi. dia mengambil banyak lembar dan menyebarkan uang itu pada Darent.
"pungut jangan sampai tersisa dan pergi dari sini" kata Hugo dengan kejamnya, ya.. uang itu untuk mengganti ponselnya yang rusak karena ulah Hugo yang pastinya atas perintah Zen.
"cari tahu semua tentang pria mesum itu" perintah Zen setelah Darent memungut semua uang itu dan keluar dari ruangan.
Zen berada di kursi kebesarannya dengan banyak berkas, Robin berada di luar ruangan Zen untuk berjaga, sedangkan Hugo dia sudah berada di ruangannya sendiri yang berada di sebelah kanan ruangan Zen.
Hugo mulai mencari tahu semua tentang Darent dan menyerahkan beberapa lembar kertas pada Zen, dia mulai membaca dengan teliti dengan hasil yang di cari Hugo, semuanya detail dan teliti.
malam hari..
Zen berjalan menyusuri sebuah koridor, diikuti Hugo dan Robin, Hugo membuka pintu apartement milik Louis dengan access card atau akses kartu di kamar Louis. entah darimana mereka bisa mendapat kartu itu saat mereka membuka mereka melihat sebuah pemandangan sepasang insan yang sedang beradu di atas sofa tamu. ya.. Helena dan Louis.
mereka berdua kaget dan malu, secepat mungkin mereka menutupi seluruh tubuhnya dengan pakaian seadanya di sebelah mereka masing-masing.
"apa permainanmu sehebat itu?" ujar Zen pada Helena yang pucat pasi. "hahaha.. pantas saja pelayan sepertimu bisa menjadi pengusaha, meskipun usahamu masih kecil" lanjut Zen mengejek.
"keluar dari sini!" teriak Louis marah pada mereka mereka bertiga.
"tenanglah, aku hanya mencari ****** ini" kata Zen lalu beralih menatap Helena. "kau tahu? anakmu si mesum itu sudah menggangguku, aku peringatkan kau untuk mendidik anakmu dengan benar" kata Zen sambil mengeluarkan pistolnya untuk menakut-nakuti Helena.
"aku tidak akan mengampuni orang yang tidak patuh atau yang tidak konsisten padaku" lanjutnya lagi, wajah Helena semakin takut dan berkeringat dingin.
Louis melihat ketakutan Helena, dia memberanikan diri.
"kau.. berhenti mengancamnya, jika kau berani.."
__ADS_1
"jika kau berani melawanku maka aku akan kirim Vidio kalian saat ini di kediaman orang tuamu, kau tau kan.. nyonya Maria dan tuan Smith sangat dekat denganku" kata Zen memotong pembicaraan Louis sembari mengambil sebuah bolpoin yang tertempel di saku jas depan milik Hugo, ya.. bolpoin Hugo ada kamera pengawas yang selalu terpasang disana, Maria dan Smith adalah kedua orangtua Louis, sebelum Louis mengancamnya, Zen yang lebih dulu mengancam pria itu.
Louis tertegun dengan keberanian Zen, mengingat Zen dekat dengan orangtuanya, Louispun tak berkutik jika menyangkut orangtuanya, pasalnya segala warisan yang diterimanya nanti akan menjadi miliknya jika dia tidak berbuat macam-macam yang menyangkut hargadiri keluarganya, dia juga sadar jika Zen berbuat sesuatu pasti sudah di rencanakannya dengan matang dan sebaik mungkin, seperti sekarang ini, dia tidak menyangka akan merekamnya dengan Helena saat masuk ruangan dengan bolpoin di saku Hugo.