
"apa yang dilakukan anakmu itu!" tanya Louis dengan marah pada Helena melalui telepon, saat ini Helena sedang berada di rumah dan Louis di depan kamar istrinya yang ada di rumah sakit.
"dia hanya melakukan hal kecil Lou, kau tidak perlu semarah ini" tegas Helena.
"tidak boleh marah? wanita gila! kita terekam oleh mereka, pakai otakmu untuk mencari tahu tentang Zen, bagaimana seorang Zen di dunia bisnis, dia orang yang mengerikan di belakang sana! jika Zen sudah turun tangan ke lapangan tidak mungkin jika terjadi sesuatu hal kecil, bodoh!" umpat Louis uring-uringan pada Helena, untunglah istrinya masih belum sadar, minimal tidak tau apa yang terjadi.
"kenapa kau jadi mengumpatiku terus hah!" jawab Helena mulai marah di teleponnya.
"karena kau seperti anak kecil yang tidak tau apapun di dunia bisnis! kau tidak mengerti tentang apapun tapi seberani itu menantangnya, bagaimana bisa kau menjalankan usahamu di luar negri dengan otakmu itu hah!" kata Louis marah besar.
"aku tidak mau tau, kau harus memaksa anakmu pembuat masalah itu untuk bertekuk lutut pada Zen dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi!" lanjutnya.
"apa?! kau gila! anakku harus bertekuk lutut?!"
"kau pikir kau tahu apa? itulah gunanya otak! orang pembisnis harus mamakai otaknya agar tidak membuat masalah dengan orang besar seperti Zen! ingat ini.. dia hanya memaafkan orang yang bertekuk lutut padanya, kau mengerti? jika tidak, maka karir anakmu bisa hancur, kau akan lenyap tanpa jejak dan tanpa ada orang yang tahu" kata Louis memperingati Helena lalu memutuskan sambungan telepon itu sepihak.
"haaaahhh...!" teriak Helena menyebar semua peralatan yang ada di meja depannya termasuk laptop hingga terpelanting ke lantai semua.
di atap kantor ZNJTV..
Hugo yang hendak merokok di atap tapi melihat Darent yang sedang merokok, dia mendekati Darent sembari menyalakan rokoknya, Darent melihatnya dengan datar.
"bertekuk lutut saja jika hendak meminta maaf padanya" ujar Hugo.
"aku tidak mau" jawab Darent membuat Hugo memincingkan satu sudut bibirnya.
"kau menggelikan, jika tuan Zen melihatmu disini terus tanpa ada permintaan maaf, maka kau akan keluar dari agensi, dan akan di pastikannya kalau kau tidak akan di terima oleh agensi manapun, jangan pernah bermain-main dengan diamnya padamu!" kata Hugo membuat Darent berpikir keras.
Hugo menjatuhkan rokoknya yang baru dihisap dua kali, lalu menginjaknya hingga mati, dia merasa sesak saat melihat Darent yang seperti anak kecil tidak tau apapun tentang masalah yang dia perbuat sendiri, lalu Hugo pergi, sementara Darent berpikir keras disana. sembari menghadap pemandangan di bawah sana.
***
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Helena berlari kecil menghampiri orang yang barusaja datang ke rumah, yaitu Darent.
"hei kau anak bodoh! apa yang kau lakukan pada Zen?!" ujar Helena dengan marah sembari memukul pundak anaknya.
"apa yang ibu lakukan?" teriak Darent yang barusaja pulang dengan keadaan lesu karena perkataan Hugo tadi.
"kau anak yang tidak menguntungkan sama sekali! minta maaflah pada Zen sambil bertekuk lutut!" ujar Helena marah-marah.
"apa yang ibu bicarakan? waktu itu ibu berkata ingin balas dendam, sekarang kenapa takut? apa ada sesuatu?" tanya Darent penasaran.
"tidak.. tidak ada sesuatu, hanya saja ibu baru mengenalinya karena seseorang menyadarkan ibu, kau ingat baik-baik, kau harus meminta maaf padanya dan berjanji tidak membuat masalah padanya lagi!" tegas Helena, Darent hanya diam, di kantor dia berpikir keras karena Hugo di rumahpun sama saja. Darent berjalan menuju ke kamarnya tanpa menjawab Helena.
"hei kau, jika kau tidak mau meminta maaf padanya maka aku akan bunuh diri!" teriak Helena dengan antusias membuat Darent menoleh ke belakang.
"ibu kau jangan bercanda" kata Darent akhirnya.
"kau pikir aku bercanda? anak sialan! semua ini karena perbuatanmu!" teriak Helena. "menikah saja dengan Hanna, supaya Zen percaya bahwa kau tidak mencintai Livia lagi!" lanjutnya lagi.
"kenapa? apa kau ingin ibu terpuruk karena dibuat bangkrut oleh Zen? dan ibu harus melihat karirmu hancur, begitu? kau ingin ibu mati dengan cepat karena serangan jantung!" bentak Helena meneteskan air matanya.
"apa yang dia lakukan sampai ibu berbicara seperti itu?"
"nikahi saja Hanna dan lupakan Livia! jangan menolakku, atau aku benar-benar akan bunuh diri karenamu!" kata Helena tak mau mendengar anaknya lagi dan pergi ke kamarnya.
Darent menghela nafas berat, dia sudah cukup lelah dengan keadaan kantor maupun karirnya, kenapa juga ibunya memperlakukannya seperti itu.
di mobil Zen..
"dimana Livia?" tanya Zen pada Hugo yang duduk di jok penumpang depan, Robin yang bagian menyetir kali ini.
"dia barusaja pulang ke rumah tuan" jawab Hugo. Zen tersenyum senang.
__ADS_1
"wanita itu sudah mulai naik kelas sekarang" kata Zen bahagia, artinya Livia nyaman dan sudah terbiasa hidup bersamanya.
"apa anda sesenang itu tuan?" tanya Hugo dengan kekehannya.
"tentu saja, aku menginginkannya, aku juga ingin melihat wanitaku menghabiskan uang ku untuk berbelanja dan merawat dirinya, layaknya wanita normal" kata Zen, membuat Hugo dan Robin terkekeh mengingat akan Livia dulu.
"benar, waktu itu dia benar-benar sederhana, dia bahkan tidak memiliki kesenangan apapun, yang dipikirnya hanya menyambung hidup dengan gaji kafe saja" kata Hugo.
***
mereka bertiga terus tertawa di dalam mobil hingga mereka tiba di rumah dengan cepat, Zen mencari sosok Livia.
Livia tengah berenang di kolam renang, Zen berjalan pelan mendekati tepi kolam, dia terus menatap Livia yang berenang meliuk-liukkan tubuhnya di dalam air sana.
"sangat seksi" lirih Zen sambil memegang dagunya sendiri sembari menatap Livia yang tidak sadar dengan kedatangannya.
tak lama kemudian dia menyadari Zen berdiri di sana sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana, Livia menatapnya.
"ada apa?" tanya Livia dengan polosnya, dia tak mengerti dengan tatapan Zen yang mesum melihat ke seluruh tubuhnya dengan pakaian khusus untuk berenang. Zen melepas jas dan sepatunya, dia masuk ke air menghampiri Livia dan disanalah mereka beradu keringat bercampur air kolam.
tak satupun ada yang melihat mereka karena Zen sudah memerintah Robin untuk berjaga-jaga di pintu masuk kolam renangnya, Zen tahu akan terjadi hal seperti ini setelah
mendapat jawaban dari Barbara bahwa Livia sedang berenang di malam hari.
setelah mereka lelah dengan aktivitas mereka di kolam, Zen dan Livia tengah menonton televisi di ruang keluarga, tempat yang sangat nyaman untuk mereka yang duduki berdampingan sambil terus melingkarkan tangan Livia di lengan Zen, mereka memakai baju tidur yang sama.
"Livia, apa kau mau berlibur denganku?" tanya Zen yang daritadi terus menatapnya.
"liburan? kemana?" tanya Livia.
"kau hanya perlu persiapkan dirimu saja, semua kebutuhan nanti Barbara yang akan mengurusnya" kata Zen.
__ADS_1
"baiklah, aku mau" jawab Livia membuat Zen tersenyum.