
"bagaimana kau membuatnya takut? maksudku Louis" tanya Rodriguezt pada anaknya.
"dengan cara licik" jawab Zen yang mencecap kopinya. mereka sedang duduk di taman yang berada di kediaman keluarga Rodriguezt.
"mmm.. kurasa aku mengajarimu cukup hebat" jawab Rodriguezt dengan santainya sambil memandang anak kesayangannya. "kau mencintainya?" lanjutnya beralih membicarakan Livia.
"ya" jawab Zen sangat singkat.
"jangan main-main dengannya kalau tidak ingin berurusan denganku" ancam Rodriguezt membuat anaknya mendelik.
"ada apa?" tanya Zen saat mendapati Rodriguezt tidak seperti biasanya.
"kau lihat ayah sudah tua kan? aku juga sudah menyelidiki Livia, dia orang yang pantas untukmu"
"jangan lakukan itu lagi, aku tidak suka wanitaku di intai" jawab Zen ketus membuat ayahnya tertawa.
"pilihanmu sangat tepat, dia cantik" ujar Rodriguezt saat melihat Livia datang dari sana. Zen menoleh ke belakang melihat Livia berdiri di belakang sana.
"kemarilah" ujar Zen, Livia menghampiri mereka lalu bersalaman pada Rodriguezt.
"saya Livia Bannet, maafkan saya sudah tidur sebelum menyapa anda" kata Livia saat mereka bersalaman, tampak senyum sumringah dari bibir Rodriguezt.
"anggap saja ini rumahmu, kau tampak lelah, apa anakku membuatmu tersiksa?"
"ah.. tidak, bukan begitu" jawab Livia bingung harus menjawab apa, kenyataannya Zen menyiksa tubuhnya semalam hingga pagi.
"duduklah" perintah Rodriguezt, lalu Livia duduk di sebelah Zen. "apa yang kau cintai dari anakku?" lanjutnya.
"saya.. maksudnya dia, Zen mampu menjagaku dalam situasi apapun" jawab Livia gugup, Rodriguezt menatap Livia dengan seksama.
"kau tahu kan anakku pengusaha besar dan tentunya banyak uang, berapa banyak uang yang sudah kau habiskan?"
"hentikan" sela Zen saat ayahnya berbicara tidak sopan pada Livia.
"kurasa banyak wanita yang mengincar harta anakku" kata Rodriguezt sambil terkekeh renyah, nafas Livia tidak beraturan.
"saya sudah membeli beberapa barang mahal dan perhiasan dengan uangnya" jawab Livia jujur membuat nafasnya sedikit lega bisa mengakui itu.
__ADS_1
"kau sudah membeli berlian terbaru?"
"hentikan ayah hentikan!" tegas Zen dengan nada meninggi saat ayahnya tidak mendengarkan peringatan darinya.
"ada apa? aku ayahmu, aku hanya ingin kau mendapatkan wanita yang tepat sebelum semuanya terlambat" jawab Rodriguezt membuat Zen bingung, tadi dia merestui hubungannya tiba-tiba semuanya berubah.
"dia tidak seperti ibu!" tegas Zen, Rodriguezt terkekeh geli, tapi senang melihat putranya datang untuk mengenalkan wanita untuk yang pertama kalinya, Rodriguezt menghela nafas hingga suaranya terdengar.
"kau hanya senang putraku bisa menjagamu, apa tampannya tidak berarti apapun untukmu?" goda Rodriguezt.
"Menurutku saya tidak" jawaban Livia hati-hati membuat Rodriguezt tertawa lepas sembari bertepuk tangan girang.
"sudahlah aku lelah, mari kita hentikan pembicaraan ini" kata Zen sebal, dia baru menyadari bahwa dia di kerjai oleh ayahnya sendiri.
"kau perempuan yang berani" ujar Rodriguezt, lalu Zen menghela nafas lega. "kau wanita pertama yang dibawa anakku kemari, kupastikan dia akan setia padamu, aku merestui hubungan kalian, menikahlah dan berbahagialah" lanjut Rodriguezt membuat senyum Zen mengembang.
"ayah bagaimana kalau kita membicarakan pernikahan ini"
"cukup, tadi kau bilang lelah, beristirahatlah" kata Rodriguezt membuat Zen sadar bahwa dia barusaja memberhentikan pembicaraan mereka dengan alasan lelah.
Rodriguezt berhenti berjalan menoleh ke arah mereka.
"oh ya.. panggil aku ayah jika kau akan menikah dengan anakku" kata Rodriguez membuat hati Livia lega.
"baik ayah" jawab Livia yang masih kaku.
"ah satu lagi" kata Rodriguezt yang berhenti lagi dan berbalik. "belikan dia berlian terbaru, supaya uangmu bermanfaat" lanjut Rodriguezt lagi-lagi mengerjai anaknya membuat Zen sebal, kali ini ayahnya benar-benar pergi meninggalkan mereka dengan suara tawa bahagianya.
"apa?" tanya Zen saat mendapati Livia menatapnya.
"ayah bilang kau harus membelikanku berlian" kata Livia membuat Zen heran.
"baiklah, aku akan membelikan apa yang kau mau" kata Zen yang merasa Livia juga mengerjainya, Livia tersenyum tak bersuara melihat raut wajah Zen yang selalu kalah sejak tadi.
***
saat ini Zen dan Livia berjalan di mall besar salah satu perusahaan milik Rodriguezt, banyak pengawal dan kepercayaan keluarga Rodriguezt mengikuti mereka berdua di belakang, seperti itulah kenyataannya, dimanapun mereka harus dilindungi banyak orang dan di kawal tanpa henti dimanapun mereka berada.
__ADS_1
Banyak yang dibicarakan Zen dan orang-orangnya mengenai mall besar ini, sembari berjalan dan sesekali Livia berhenti untuk membeli camilan selama dia berjalan.
"Zen, bisakah aku berpisah denganmu? aku tidak nyaman menjadi pusat perhatian" kata Livia saat semua pegawai tunduk sebagai rasa hormat dengan ramah pada mereka berdua.
"jangan macam-macam" jawab Zen singkat yang masih tetap berjalan, lali mereka datang di sebuah toko ternama, toko gaun yang mereka datangi, tak sembarang orang bisa masuk disana, karena harganya yang begitu fantastis, setengah jam mereka ada disana, Livia sedang mencoba beberapa gaun pernikahan di sebuah ruangan sana.
pintu dibuka oleh dua pegawai berseragam rapi, semua mata memandang sosok Livia yang begitu sempurna di mata pria maupun wanita, tubuh ideal yang di balut dengan gaun bermerk yang harganya fantastis tentunya.
Zen menatap para pengawal yang terpana saat melihat wanitanya.
"tutup mata kalian semua" perintah Zen membuat semua yang berada di ruangan itu berbalik badan menghadap ke tembok membelakangi mereka berdua. Zen berjalan cepat menuju Livia tanpa basa-basi dia memagut bibir wanitanya.
"Zen" lirih Livia saat terkejut dengan perilaku Zen. Livia memberontak, tapi Zen menekan leher wanitanya semakin erat hingga pagutannya semakin dalam, tak butuh waktu lama Zen melepas ciuman kasar itu.
Livia berusaha membenarkan dirinya yang sedikit berantakan dengan ulah Zen.
"aku pilih yang sebelumnya" kata Zen pada pegawai yang masih setia membelakangi mereka, dengan pernyataan Zen semua yang berada di ruangan itu kembali menghadap mereka berdua, Livia yang terlihat sangat malu kedua pipinya terlihat sedikit memerah, disisi lain dia juga sebal mendapat perlakuan seperti itu.
"tuan, apa anda yakin dengan pilihanmu?" tanya Hugo yang heran, pasalnya semua orang berpendapat sama bahwa Livia lebih pantas memakai gaun yang di pakainya sekarang. Zen menghela nafas.
"rumit sekali mencintai seseorang" lirih Zen sambil berjalan menjauhi Livia, tapi Livia mendengarnya.
"apa!" sentak Livia tak terima. Zen membalikkan badan.
"rumit karena kau terlalu cantik dengan gaun itu sayang, aku tidak suka banyak pria yang menyukaimu" jujur Zen membuat semua pegawai toko dan bawahannya terkikik geli.
"kau lihat mereka? mereka menertawaiku saat aku cemburu" ujar Zen lagi membuat kedua pipi Livia semakin memerah.
"yasudah aku mau pakai yang ini saja"
"sayang" ujar Zen merajuk saat Livia terang-terangan menolak keinginannya.
"tuan, anda harus mengalah jika tidak mau menahan malam pertama" goda Hugo.
"sialan!" umpat Zen mendelik menatap Hugo yang menahan tawa. "asalkan kau tidak berpaling pada orang lain" lanjutnya menatap Livia memperingati. "kau cepatlah pakai pakaianmu kembali, kita harus membeli perhiasan" perintah Zen.
"Zen, apa kabar?" sapa seorang wanita yang sangat seksi dan cantik, dengan penampilan modis tentunya setelah pintu ruangan ganti Livia baju di tutup pegawai toko.
__ADS_1