
Livia terbangun karena sinar matahari pagi yang menyinari seluruh tubuhnya membuat kedua mata itu mengerjab, dia berusaha duduk tapi seluruh tubuhnya lemas, dia termenung dan teringat kejadian kemarin.
"Daren" lirih Livia merasa sangat kasihan melihatnya begitu terpukul, Darent memang sosok pria yang penurut pada ibunya, tak perlu ditanya lagi, jika tidak penurut dia tak akan menerima pernikahan paksa bersama Hanna, tentu saja ibunya yang memaksa.
Livia menghela nafas panjang seolah mengeluarkan sedikit sesak di hatinya, bagaimanapun juga dia pernah berpacaran dengan pria itu selama bertahun-tahun, dia melihat jam dinding, sudah waktunya dia sarapan pagi, pasti Zen sudah menunggunya di bawah, lalu Livia bangun dari ranjang dan menyelesaikan ritual mandinya secepat mungkin.
saat dia duduk berdandan di depan meja rias, dia mengamati dirinya sendiri. "aku harus melakukan kegiatan apa nanti dan seterusnya?" kata Livia pada diri sendiri.
dia sedih menjadi pengangguran, belum menikah tapi sudah satu atap dengan Zen, bahkan wanita di luar sana banyak yang bekerja dengan kemampuan mereka, sangat sibuk tapi cobalah lihat dia, dia masih muda dan cantik, kemampuan bekerjanyapun bagus, kenapa harus terkurung di rumah sebesar itu hanya sebagai tunangan.
"dimana aku yang dulu?" lirih Livia.
dengan wajah yang tidak ceria Livia turun menghampiri Zen dan Hugo yang duduk di meja makan sembari menunggu Livia dan juga makanan yang sedang di hidangkan para pelayan.
"ada apa?" tanya Zen yang peka pada raut wajah Livia yang sepertinya banyak memikirkan sesuatu, tapi tak ada jawaban darinya, Livia terus memainkan ponselnya.
"Livia aku berbicara padamu" tegas Zen.
"tak ada apapun, hanya memikirkan hal yang tidak penting" bohongnya.
"katakan!" tegasnya lagi tanpa basa-basi, Zen tidak mau ada yang disembunyikan darinya bahkan hal sepele seperti apapun itu, Livia menghela nafas.
"aku ingin bekerja" kata Livia singkat yang sebenarnya tidak ingin jawaban dari pria itu, Zen menghela nafas. "tidak usah di jawab!" tegas Livia sebelum Zen berkata apapun.
"kenapa?" tanya Hugo yang ikut bingung.
"pasti tidak akan di perbolehkan, apa kau lupa kalau aku wanita bodoh? jadi aku menganggur karena aku bodoh" ujarnya sarkatis menyindir Zen mengatai dirinya sendiri, padahal dia tahu bahwa dia kompeten dalam bekerja.
"bekerjalah" kata Zen akhirnya sembari bersandar ke kursi menatap Livia. "tapi setelah semua acara pernikahan kita beres" lanjutnya membuat Livia tersentak menatap pria ini.
"kau bercanda?" tanya Livia.
"kenapa harus bercanda? untuk apa kita seperti ini terus? aku takut kalau ada orang lain yang mengambilmu" ujar Zen.
"tapi Zen, kau tidak bilang padaku" kata Livia.
__ADS_1
"memangnya barusan aku bilang apa?" tukas Zen.
"kenapa kau menyebalkan?" ujar Livia sebal dengan jawaban Zen, tapi ada benarnya, Zen berkata mereka akan menikah bukan?
"ayolah tuan, nyonya, tak perlu ribut, ini masih pagi makanan ada di depan kita" kata Hugo sembari mengambil sarapan dengan santai.
lalu mereka makan dengan tenang, setelah semuanya selesai makan Livia berada di kamarnya, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok Zen, dia masuk mendekati Livia yang berada di balkon.
"kau sedang memikirkan apa?" tanya Zen.
"pernikahan" jawaban singkat dari Livia membuat Zen terkekeh.
"kau tidak perlu memikirkan apapun dan tidak perlu melakukan apapun, dua minggu lagi kita akan menikah"
"apa? kau yakin? bukankah itu terlalu cepat?" tanya Livia, Zen menjawab dengan gelengan.
"aku tak perlu jawaban bahwa kau mencintaiku atau tidak, aku memang memaksamu untuk menikah, dengan caramu menerima lamaranku itu sudah mengartikan bahwa kau juga mencintaiku" kata Zen.
"tapi itu tidak bisa membenarkan bahwa dirimu egois"
"benarkah? bagaimana jika kau berpaling?" tanya Livia memastikan. "aku bertanya seperti ini untuk berjaga-jaga kalau aku berpaling darimu" lanjut Livia.
"dengan berjalannya waktu kau akan tahu bagaimana diriku" jawaban yang menggantung bagi Livia. "bersiap-siaplah, kita akan ke rumah duka" lanjut Zen lalu pergi melenggang meninggalkan Livia yang masih terdiam menatapnya.
***
Zen dan Livia turun dari mobil, mereka di kawal banyak pengawal, seluruh orang yang ada disana memandang mereka, banyak wartawan yang mengabadikan kejadian ini, dan banyak orang juga yang mempersilahkan mereka masuk bahkan ada beberapa yang mengiring mereka.
terlihat sosok Darent yang tengah berdiri di sebelah ibunya berbaring, dia ditemani istri barunya, Hanna.
Livia menatap lekat-lekat sosok mantannya itu, dia merasa iba dengan keadaannya, sampai sekarang Livia penasaran apa yang terjadi sebenarnya, tapi Livia takut untuk bertanya pada siapapun.
lalu Zen dan Livia memberi bunga di meja yang tersedia, setelah itu mereka menghadap Darent dan Hanna.
"semoga kalian di kuatkan" kata Zen singkat.
__ADS_1
"trimakasih sudah datang" kata Darent yang tak kuasa menahan tangisnya sambil menunduk. lalu Zen menatap Livia, dia mempersilahkan wanitanya barangkali dia ingin mengatakan sesuatu.
"kami turut berduka atas kematian ibumu Daren, semoga kalian berdua di kuatkan menghadapi semuanya" kata Livia hati-hati.
"iya, terimakasih sudah datang kemari" kata Hanna, Darent tak bisa menahannya, sosok suara lembut dari Livia yang biasanya membuat hati Darent tenang di saat-saat dia terpuruk, saat ini dia hanya bisa mendengar suaranya saja, tidak bisa memeluknya, lalu Darent melihat Livia, tatapan sendu dari mimik Livia membuat hati Darent sedikit tenang.
"terimakasih" kata Darent membuat hati Livia sakit, Livia teringat di saat-saat Darent sedang kesusahan dia selalu memeluknya dan menenangkannya, hati dimana mereka saling mencintai dan saling menguatkan, tiba-tiba sebuah genggaman tangan Zen sangat erat menggenggam tangan Livia membuatnya tersadar, seperti sebuah isyarat bahwa dia adalah milik Zen dan tidak boleh terlalu dalam merasakan duka Darent, Zen takut hati Livia akan luluh lagi pada Darent.
***
"bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Luna pada Livia yang membaca berita di ponsel milik Livia. Saat ini mereka sedang duduk di depan supermarket sambil meminum soda kaleng.
"entahlah, banyak alasan yang masih belum pasti penyebab kematiannya" kata Livia yang terus mencaritahu semua berita, hampir semuanya membicarakan Helena, Livia teringat kejadian kemarin.
"tidak ada berita sedikitpun bahwa Helena dibunuh" batin Livia.
"oh iya.. aku mau mengatakan sesuatu padamu Lun" kata Livia ragu-ragu.
"katakan" kata Luna lalu menegak sodanya.
"aku akan menikah 2 Minggu lagi" Luna tersedak.
"kenapa tiba-tiba?" tanya Luna tak percaya.
"maklumi saja karena Zen gila" jawab Livia acuh sambil menegak minumannya.
"apa kau yakin?" tanya Luna memastikan.
"kenapa?"
"apa kau yakin dengan perasaanmu pada Zen?" tanya Luna hati-hati.
"entahlah, aku mencintainya tapi aku merasa belum sepenuhnya" jawab Livia dengan tatapan kosong, Luna menghela nafas iba pada temannya.
"pasti sulit" Livia mengangguk pelan mendengar penuturan sahabatnya, lalu menghela nafas berusaha mengeluarkan sesuatu yang sesak, entahlah dia merasa bosan dan lelah dengan hidupnya saat ini, Livia menatap indahnya lampu-lampu malam hari di sekitar, tapi tatapannya menangkap sebuah mobil yang jendelanya terbuka di seberang sana, ada dua pria botak di dalamnya menatap ke arahnya, tepatnya menatap ke arah Livia dan Luna.
__ADS_1