Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
TWENTY SEVEN - KECEMBURUAN ZEN


__ADS_3

"Livia" sapa Darent saat Zen dan Livia menghampiri kedua sang mempelai.


Zen kesal karena lirihannya dan pandangan si Darent begitu berbeda.


"sialan!" batin Zen saat melihat tatapan Darent begitu lembut pada Livia.


"selamat atas pernikahanmu Daren" kata Livia tanpa basa-basi.


"terimakasih" jawab Darent dengan penuh senyuman pada Livia.


"tuan Zen, trimakasih sudah datang ke acara kami" tutur Hanna berusaha tidak menganggap Livia ada.


"ya" jawab Zen singkat membuat mereka canggung.


"kalau begitu silahkan menikmati hidangan kami tuan" kata Hanna berusaha tidak canggung.


lalu Darent pergi dengan Hanna, dari kajauhan sama terlihat Helena memandang sinis Zen dan Livia.


"Liv.. aku benci kau menyapa laki-laki itu" kata Zen menatapnya dengan tajam membuat Livia sedikit takut.


"aku hanya basa-basi karena dia yang pertama menyapaku" jawab Livia.


"jangan menyapanya lagi apalagi berbicara" peringatan dari Zen yang di angguki Livia, dia lelah untuk ribut dengan Zen.


"lama tidak berjumpa tuan Zen" kata Louis yang datang tiba-tiba di belakang mereka, tatapan Louis terlihat angkuh kali ini.


"ya tuan Louis" kata Zen menerima jabatan tangan dari Louis, Helena memandang mereka dari jauh dengan rasa penasaran apa yang mereka bicarakan.


"inikah calon nyonya Rodriguez?" tanya Louis dengan senyuman yang mengerikan.


"ya" jawab Zen sesingkat mungkin sambil melingkarkan tangannya di perut Livia. Louis menatap Zen dengan dengan angkuh penuh rasa benci. Dia masih dendam karena perlakuan Zen padanya waktu itu, Louis merasa di rendahkan dan permalukan.


"beraninya kau macam-macam padaku! tunggu saja kau anak kecil!" batin Louis terus bergejolak.


"baiklah kalau begitu, aku pergi dulu" pamit Louis yang tak mendapat jawaban dari Zen.

__ADS_1


"dia memperingatiku" batin Zen yang sadar akan sapaan singkat darinya, pandangan dan gelagatnya terlihat semua. "aku harus mencari cara" lanjut batinnya lagi.


***


"kita harus bekerjasama dengan Maria dan Smith" kata Zen pada Hugo yang saat ini berada di kafe miliknya. Hugo mencecap kopinya dan menatap Zen.


"apa ada masalah selama di acara pernikahan Daren tuan" tebak Hugo.


"tidak, hanya saja Louis memperingatiku saat bertemu disana"


"benarkah? mungkin kita harus bergerak, mengingat dia bukan orang sembarangan juga" jawab Hugo memperingatkan Zen supaya lebih hati-hati.


"ya, kita pikirkan nanti di kantor" kata Zen meminum kopinya, lalu menatap segerombol pegawai kafe O'good di belakang kasir seperti biasa menunggu Luna bersih-bersih hingga selesai masa hukumannya.


"semuanya sudah siap tuan" kata Hugo yang dipahami Zen.


"orang itu kerjanya cuma bisa bersenang-senang" ujar Zen, tak lama kemudian Bill datang tergopoh-gopoh dengan penampilannya yang berantakan.


"maafkan saya tuan, saya terlambat" kata Bill dengan takut.


"jangan sembunyikan apapun lagi dariku, karena aku sudah tahu apa saja yang kau perbuat pada kafe ini, kau di pecat!" tegas Zen.


"mau menjelaskan kalau sebagian uang kafe kau ambil untuk pribadimu di luar sana bersama banyak wanita?" kata Zen dengan tatapan tajam.


"pergi sebelum aku membunuhmu" kata Hugo sembari mencecap kopinya dengan santai, sedangkan Zen memainkan ponselnya.


"pantas saja kafe ini tidak berkembang sejak dulu, apanya yang di renovasi, sejak dulu tetap saja seperti ini, ternyata uangnya masuk ke kantong menejer" ujar Zen kesal. "lakukan saja hari ini" kata Zen memerintahkan Hugo setelah Bill pergi meninggalkan kafe.


"baik tuan"


Hugo memanggil Luna untuk duduk bersama mereka, sedangkan para pegawai yang lain di perintahkan Hugo untuk mulai melaksanakan pekerjaannya masing-masing.


"apa kau masih ingin hukuman?" tanya Zen membuat Luna menggeleng cepat sambil menunduk.


"tidak tuan, maafkan saya, itu kesalahan saya" kata Luna.

__ADS_1


"baiklah, kulihat kau sudah menyelesaikan hukumanmu dengan baik" kata Zen menyeruput kopinya. teman-teman Luna mencuri pandang pada mereka, penasaran apa yang mereka katakan, tapi tak terdengar sama sekali. "apa kau bersedia menjadi menejer kafe disini?" tanya Zen membuat Luna terkesiap menatap Zen dan Hugo bergantian.


"saya tuan? tapi saya tidak memiliki kriteria apapun untuk itu" kata Luna waspada supaya tidak terjadi apapun.


"hukuman yang kamu laksanakan sudah sangat baik, kamu mengerjakannya tanpa ada celah, kamu mampu membereskan semua yang ada di kafe sendirian, membereskan seluruh kafe sendirian adalah dasar dari niat kalian untuk mengurus kafe dari segi kebersihan, kau melakukannya sendirian dengan baik, apa kamu tidak bersedia untuk naik jabatan?" tanya Zen memastikan, dia tidak mau memaksanya.


"baik tuan saya mau tuan" kata Luna dengan cepat dan tersenyum lebar, hatinya bahagia saat ini. Zen memberi isyarat pada Hugo untuk brifing pagi.


"hari ini akan ada hal penting yang harus tuan Zen katakan" kata Hugo, lalu Zen berdiri dari sofa menghampiri mereka setelah selesai dengan urusan ponselnya, semua hal yang dia kerjakan itu penting tak terkecuali dengan urusan ponselnya yang dia mainkan, dia tetap bekerja jika melalui ponselnya.


"saya akan mengumumkan pada kalian bahwa Bill menejer kafe ini sudah saya pecat karena dia menyalahgunakan jabatannya untuk korupsi uang kafe" kata Zen tanpa basa-basi membuat semuanya terkejut. "jadi saya memutuskan Luna untuk menjadi menejer kafe" lanjut Zen membuat semua makin terkejut.


***


"liviaaaaa..." teriak Luna girang saat mereka bertemu di sebuah kedai, mereka berpelukan sangat erat, tepatnya Luna yang memeluknya dengan sangat erat.


"apa ada yang membuatmu senang?" tanya Livia penasaran.


"kau tidak tahu?" tanya Luna tiba-tiba bermuka datar.


"mana mungkin aku tahu, kau tidak memberitahuku apapun seharian ini" jawabnya.


"ayo aku akan memberitahumu setelah kita memesan Soju" kata Luna duduk diikuti Livia.


di kediaman keluarga Smith.


"aku sangat senang kau berkunjung ke rumahku Zen" kata Maria tersenyum lebar. "tapi aku yakin pasti kau ingin membicarakan sesuatu" lanjut Maria dengan gurauan yang memang benar. Zen duduk di sofa dengan tersenyum mendengar Maria yang bisa menebaknya, sedangkan Hugo berdiri di belakang Zen.


"benar, orang sibuk sepertimu mana mungkin ada waktu untuk berkunjung saja" kata Smith.


"tuan Smith yang terhormat, kelihatannya anda semakin tampan saja" gurau Zen, membuat Maria dan Smith tertawa.


"kau tidak perlu menyanjungku, tentu saja aku semakin tampan, istriku saja selalu membahagiakanku" jawab Smith membuat Maria tersipu malu.


"sebenarnya aku sedang merayumu" canda Zen dengan lihai pada Smith membuat mereka selalu saja tertawa.

__ADS_1


"ah baiklah baiklah, katakan saja apa yang ingin kau katakan, kau membuatku semakin terbang jika terlalu banyak merayu" jawab Smith dengan kekehannya.


"begini tuan Smith, aku kesini untuk menawari anda sesuatu, mari kita bekerjasama untuk mempererat hubungan baik yang bahagia ini agar tidak sia-sia" kata Zen, lagi-lagi hal itu membuat hati Maria dan Smith senang dengan senyum lebar mereka, senyum kemenangan Zen tercetak jelas, yang ada di pikirannya tidak hanya membuat Louis takut, tapi kerjasama yang dia ajukan membuatnya semakin meningkatkan kejayaannya.


__ADS_2