Choice Of My Heart

Choice Of My Heart
TWENTY THREE - DARENT CEMBURU?


__ADS_3

pagi hari..


Livia dan Zen sedang berada satu mobil dengan Hugo dan Robin, seperti biasa, Robin yang menyetir Hugo di sebelahnya, sementara Livia duduk di belakang dengan Zen.


Zen terus berkutat pada tabletnya, sementara Livia dengan ponselnya, hari ini Livia memang di haruskan ikut bersamanya karena Zen hanya perlu menandatangani semua berkas-berkasnya di kantor ZNJTV setelah itu mereka langsung berangkat berlibur.


"apa semuanya baik-baik saja Hugo?" tanya Zen.


"semua baik-baik saja tuan" jawab Hugo dengan tenang. Tak ada pembicaraan lagi setelah itu, selang beberapa menit mereka sampai di depan gedung besar yang menjulang tinggi.


seperti biasa banyak yang menyambutnya dan menyapanya, banyak juga yang kagum dengan kecantikan sosok Livia, di atas sana terlihat Darent yang tengah berdiri menatap mereka terutama Livia, hatinya sakit saat melihat wanitanya direbut oleh Zen.


Darent memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu dia pergi ke ruang agensinya, dia memang barusaja datang dan tidak sengaja melihat banyak kerumunan disana ternyata kedatangan Zen dan Livia membuat seisi gedung heboh, dia memasuki ruang meeting dan terkejut ketika melihat sang ibu ada di sana bersama direktur agensi, dan beberapa staff lain termasuk Hanna, Helena meliriknya.


"masuklah Daren cepat duduk" perintah Katty.


"ada apa ibu kesini" kata Darent sembari duduk dengan tatapan tajam.


"jangan seperti itu pada ibumu, dia kesini untuk membicarakan karirmu supaya tidak turun" kata Katty.


"dia benar, bagaimanapun dia ibumu, kau harus sopan padanya Daren" kata Hanna dengan sok lembutnya membuat hati Helena tertipu dengan sok perhatiannya pada Helena dan darent.


"benarkah? coba katakan saja sekarang" kata Darent yang mulai bersandar.


"begini.. mmm"


"kita berencana untuk menikahkanmu dengan Hanna" kata Helena memotong perkataan Katty yang sedikit takut dan bingung untuk mengutarakannya.


"apa ini ulahmu?" tanya Darent yang tidak sopan dengan ibunya.

__ADS_1


"tepatnya aku hanya usul, tapi ternyata semua rekanmu setuju" jawab Helena angkuh.


"Darent, ini hanya untuk mendongkrak kembali popularitasmu saja yang hampir hancur, karirmu tak begitu baik sekarang" kata Katty berusaha menjelaskan.


"kau yang berbuat kesalahan kan Daren, cobalah untuk mengerti, jika kau tak peduli dengan dirimu, coba sedikit saja kau peduli dengan rekan-rekanmu yang terkena imbasnya dari kesalahanmu" kata salah satu staff laki-laki membuat Daren terkesiap, tak ada jawaban dari Darent karena memang dia pembawa masalahnya sejak awal, Darent diam sejenak.


"baiklah, tapi aku mau pernikahan ini hanya kontrak" kata Darent akhirnya.


"tidak! kau harus memiliki anak dengan Hanna!" kata Helena membuat semua orang disana terkejut, Hanna hanya diam saja karena memang Hanna juga menyukai Darent.


"ibu, kita bicarakan hal ini di rumah" kata Darent berdiri dari kursi, mencoba untuk menghindari pertengkarannya dengan Helena.


"coba saja, dan ingat dengan perkataanku kemarin, buktikan saja maka aku akan melakukannya" ancam Helena dengan tatapan mengerikan lalu berdiri dan berpamitan pada semua rekan-rekan Darent lalu pergi tanpa melihat anaknya sekalipun.


setelah dua jam Darent di kantor, dia mendapat pesan dari ibunya sebuah foto, dia membuka foto itu ada seutas tali yang sudah di gantung di bagian langit-langit gudang yang berada di rumah Darent, tali itu dibentuk bulat menyerupai tali untuk bunuh diri seseorang.


"jika kau setuju maka aku tidak akan melakukannya, aku tidak mau hidup dengan melihat semuanya hancur hanya karena Livia wanita ****** yang kau cintai itu"


"ayolah darent" lirihnya pada diri sendiri sembari mengepalkan tangannya dan memukul kecil jidatnya sendiri, tapi dia teringat dengan ibunya, dia tahu bahwa ibunya memang keras kepala, mau tak mau dia harus berjalan ke ruangan Zen.


"aku ingin menemui tuan Zen" katanya pada Robin yang berdiri di depan pintu.


"maaf, anda bisa menunggunya disana, tuan sedang tidak bisa di ganggu" kata Robin memberitahu untuk duduk di kursi depannya.


"menunggu? hanya sebentar saja" kata Darent.


"maaf, tuan Zen masih bersama nona Livia di dalam, tidak bisa di ganggu dulu sebelum dia memberiku informasi untuk menerima tamu" kata Robin menjelaskan.


"memangnya kenapa kalau bersama Livia? apa yang mereka perbuat di dalam sampai tamu kantor saja di tolak, jika ingin privasi bersama kekasihnya kenapa tidak di rumah malah pindah tempat kesini?" kata Darent tak terima, dia merasa kesal mengingat Livia menjadi milik pria itu.

__ADS_1


"jika anda tidak bersedia boleh pergi dari sini jangan mengganggu ketenangan area ini" ujar Robin tegas pada Darent.


"Ck! benar-benar.. aku akan menunggu, katakan saja padanya jika aku sudah menunggunya lama" kata Darent yang tidak di jawab oleh Robin, lalu Darent duduk di kursi tunggu.


dua puluh menit kemudian Hugo menerima telepon bahwa Zen sudah bisa menerima tamu lagi.


Darent di persilahkan masuk oleh Robin, lalu dia masuk melihat Zen yang tengah mengancingkan kedua kancingnya yang paling atas, Darent mendengus kesal dan berpikir bahwa mereka barusaja melakukan hubungan intim disini.


"ada apa?" tanya Zen dengan ketus sembari duduk di kursi kebesarannya, dia melihat tatapan Darent yang tengah meneliti dalam ruangan itu. "kau mencari dia?" lanjut Zen menunjuk Livia yang barusaja keluar dari kamar khusus untuk istirahat Zen, Livia mematung melihat adanya Darent disana.


"kemarilah sayang, tak perlu terkejut seperti itu, dia memang bekerja disini kan" kata Zen dengan santai menggoyang-goyangkan kursinya ke kanan dan ke kiri dengan pelan.


"mmm mungkin aku akan masuk saja, sepertinya itu masalah pekerjaan, tidak enak kalau aku.."


"kemarilah" perintah Zen dengan tersenyum, Darent muak melihatnya tersenyum manis pada Livia, amarahnya semakin tidak terkondisikan, lalu Livia mendekati Zen, tanpa aba-aba lagi Zen langsung memeluk perutnya mununtun Livia ke pangkuannya.


"jika itu hal pribadi cepat katakan dan keluar dari sini, aku sudah tidak sabar memeluk wanitaku" kata Zen pamer, tatapan Darent semakin terlihat tidak suka, dua sedikit menghela nafas berusaha membuang perasaan tidak sukanya saat ini melihat mereka.


"aku, aku.. masalah waktu itu, paket yang kukirim" kata Daren sedikit tergagap, lalu Darent bersimpuh di depan mereka berdua membuat mulut Livia sedikit terbuka, tapi tidak dengan Zen, dia sudah tau apa yang akan dia lakukan.


"aku minta maaf atas perbuatanku tuan, aku yang salah dan aku juga akan berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengganggu lagi" kata Darent dengan berat, hatinyapun juga berat, mata Livia berkaca-kaca tidak tega melihatnya, dia tertipu dengan muslihat si Darent, tapi Zen tidak, dia tahu mana orang yang tulus atau tidak, dia sudah terbiasa berhadapan dengan banyak orang seperti itu.


Zen mendengus kesal saat menatap Livia yang berkaca-kaca, dia tahu bahwa kekasihnya ini polos hingga mudah tertipu.


"kau bisa pergi, jangan temui aku lagi selain masalah pekerjaan" kata Zen ketus pada Darent.


Darent berdiri menatap Zen dan menatap Livia dengan benci, lalu pergi keluar.


"setidaknya aku sudah meminta maaf" batin Darent yang memang tidak tulus sama sekali.

__ADS_1


"baiklah sayang, mari kita selesaikan berkasku sedikit lagi dan pergi berlibur, kau bisa menungguku dimanapun kau mau, atau kau bisa memesan makanan" kata Zen berusaha membuat Livia senyaman mungkin, lalu Livia berdiri menjauh darinya dan duduk di sofa tamu.


"aku akan menunggu disini dengan tenang, jangan pikirkan aku, selesaikan saja tugasmu" kata Livia sambil tersenyum manis, hal itu membuat Zen tersenyum.


__ADS_2