
Rumah Keluarga Hyuu
"Nee-chan tidak sarapan?" Hana yang berada di ruang makan menengokan kepala ke arah Chely.
"A-ah, tidak Hana-chan, sudah hampir siang. Nee-chan sarapan di sekolah saja."
"Mau Nii-san antar?" Kali ini pemuda berambut coklat membuka suara.
"Tidak u-usah Nii-san."
"Naik bus?"
"Hai To-Tou-san." Manik lavender Chely melirik ke arah Ayahnya yang makan dengan tenang.
"Hm."
"Ittekimasu." Chely yang sudah menalikan tali sepatu beranjak dari duduknya.
"Itterasshai Nee-chan."
"Hm."
"Hm."
"Kenapa dia selalu menolak ketika aku ingin mengantarnya."
"Mungkin Nee-chan malu. Punya Nii-chan seperti Nando-nii."
Nando mendelik. "Hanaa." Desisnya.
Hana yang di tatap seperti itu hanya menyengir.
.
.
.
Rumah Keluarga Nami
"Ohayou Tou-chan, Kaa-chan." Pemuda berambut pirang itu duduk di kursi meja makan.
"Ohayou." Kishimoto menurunkan koran pagi yang sedang dibacanya.
"Wahh Bil-chan tampan sekali."
Bilton menyisir helaian pirangnya ke belakang. "Tentu saja." Tapi mata Sapphire itu langsung mendelik ke arah Kushi. "Jangan panggil aku Bil-chan."
"Bagaimana kalau Bilton-chan?"
Kishimoto tersenyum tipis. "Itu sama saja Kaa-chan."
"Hai Hai..."
"Hm."
"Kenapa hanya makan satu roti?" Alis Kushi bertaut kala melihat sang anak hanya memakan selembar roti tawar dengan selai nanas.
"Aku sudah kenyang." Bilton menyambar tas yang tadi diletakan di kursi samping.
"Berangkat sekarang?" Kishimoto melap mulutnya dengan tisu.
"Tentu, sekarang kan aku sudah kelas XI."
Lagi-lagi alis Kushi tertaut. Melihat sang anak berangkat meninggalkan sesuatu, biasanya_ "Kunci mobil?"
"Di nakas."
"Tidak bawa mobil?" Kishimoto melirik melalui ekor matanya saat Bilton mulai beranjak dari kursi.
"Aku ingin mencoba naik bus."
"Terserah kau saja."
Cup.
"Ittekimasu." Bilton mengecup pipi sang Ibu.
Mata Sapphire Bilton melirik Kishimoto lalu mengerling jahil. " Jangan cemburu Tou-chan. Setiap hari kan 'tidur' dengan Kaa-chan."
Setelah mengatakan itu Bilton melakukan langkah seribu. Sebelum Kushi melemparnya dengan koran pagi Kishimoto, jangan lupakan wajah memerah Kushi.
"Tidak biasanya ingin naik bus." Kishimoto menyesap segelas kopi hitam dihadapannya.
"Entahlah, setiap tahun ajaran baru Bil-chan memang begitu."
"Tebar pesona di tahun ajaran baru, seperti ku saat dulu saja."
"Kau mengatakan sesuatu Anata?" Seketika Kushi menoleh ke arah Kishimoto.
"Ah... Tidak." Kishimoto beranjak dari duduk. "Ittekimasu."
Cup. Kishimoto mencium kening Kushi.
"I-itterasshai." Meskipun sering melakukannya tapi Kushi tetap saja gugup.
.
.
.
April. Bulan masuknya tahun ajaran baru di Jepang. Musim semi yang indah seakan-akan mendukung para pelajar untuk memulai hari pertamanya sekolah. Banyak pelajar berlalu lalang ke sana ke mari, ada yang berjalan kaki maupun menaiki kendaraan umum ataupun pribadi.
Bunga sakura bermekaran di sepanjang jalan menambah kesan indah di pagi yang cerah ini. Membuat salah satu pelajar Nada Gakuen High School menampilkan senyum yang kelewat manis di bibir mungilnya.
'Sugoi...' Chely membatin riang. Lalu menolehkan kepala ke arah kanan dimana ada beberapa pasang siswa yang menatapnya aneh? Ya, aneh. Itu menurut Chely.
'Sepertinya besok-besok aku tidak boleh mengikat rambut ku. A-apa ini terlihat aneh?' Nyali yang tadinya tinggi sekarang menciut seketika.
Padahal jika di lihat lebih dekat para siswa yang berada di jalan itu bukan menatap aneh, melainkan menatap kagum pada seorang Chely Hyuu.
Chely itu memang gadis yang bisa di bilang kurang peka terhadap lingkungan. Selalu menganggap dirinya tidak di anggap ada oleh orang lain. Padahal banyak siswa yang selalu memandang kagum tapi, Chely selalu menganggap pandangan itu hanya untuk Wulan dan Indah teman-teman Chely. Kedua gadis itu memang cantik dan modis.
Wajah Chely seketika berubah. Yang tadinya menggigit bibir panik, sekarang menukik alis.
'Apa sekarang aku, Wulan-chan, dan Indah-chan akan sekelas? B-bagaimana jika tidak?'
'A... Yang paling parah aku tidak mau sekelas dengan orang popular berisik!' Bibir Chely mengerucut. Sebenarnya yang berisik itu para fans dan Chely tidak suka itu.
"Sudah sampai ternyata." Ujarnya, ketika melihat halte 8 meter didepannya.
Seketika manik lavender Chely menatap ke depan, ternyata Chely sudah sampai di halte bis, yang hanya berjarak 15 menit dari rumahnya.
Tapi langkahnya langsung berhenti, kala melihat 3 meter didepannya, ada seorang pemuda yang sedang menjambak rambut dan seperti... Sesak nafas.
Dengan panik Chely menghampiri orang tersebut. "Ka-kau tidak apa-apa?" Chely menyentuh bahu orang itu.
.
.
.
Rambut pirang jabrik, manik Sapphire, kulit tan eksotis. Ya, penampilan yang... Bisa dikatakan tidak seperti orang Jepang tulen. Lebih mirip bule, kan?
Tapi, kenyataannya Bilton Nami memang lahir di Jepang. Hanya saja darah campuran dari Kushi yang merupakan orang Jepang asli, dan Kishimoto yang merupakan keturunan Eropa, jadilah... Bilton Nami.
'Tebar pesona di tahun ajaran baru, tidak buruk juga.' Siapa yang tidak akan terpesona dengan Bilton. Dengan tas yang disampirkan dibahunya, seragam yang kamejanya tidak dimasukan, blazer tidak dikancingkan, dan dasi yang tidak terikat sempurna, persis seperti bad boy.
Tapi Bilton adalah seorang bad boy yang jenius. Sepertinya hal tersebut malah menambah kesan cool di mata para gadis.
Banyak siswi-siswi yang mengerling jahil padanya, tapi hanya di balas dengan tatapan datar, jika mood Bilton bagus biasanya ia akan tersenyum tipis, dan... Itu selalu membuat para gadis happy.
Sepertinya rencana tahunannya berhasil. Ya, setiap tahun ajaran baru, Bilton selalu punya acara tahunan, yaitu berangkat tanpa menggunakan kendaraan pribadi. Bukan, bukan tidak diizinkan atau tidak punya, yang paling parah tidak bis_ hell no! Apa kata orang jika Bilton Nami, sang pewaris tunggal Nami Corp tidak bisa mengendarai mobil?! Lalu, untuk apa Tou-channya memberikan mobil Ferrari F12 Berlinetta kuning?! Yang harganya selangit sebagai hadiah olimpiade kimia Bilton?!
Persis seperti Kishimoto sang Ayah, rencana Bilton yaitu tebar pesona, entah kenapa, sejak kejadian 'itu' tepatnya 2 tahun lalu. Bilton memiliki hobi membuat para gadis jatuh cinta, setelah gadis itu mengatakan cinta, Bilton akan menolaknya mentah-mentah.
Tidak berperasaan kah? Jangan salahkan Bilton, kejadian 'itu' yang membuat Bilton menderita penyakit Alexithymia, penderita penyakit ini biasanya tidak mampu mengeluarkan apa yang dirasakannya.
Bagi orang yang menderita penyakit Alexithymia, akan sulit mengungkapkan perasaan, bahkan tidak tahu emosi apa yang dirasakannya.
penyakit yang menyebabkan penderita mengalami kesulitan untuk menetralkan emosinya karena, mereka tidak bisa mengekspresikan emosi negatif yang dirasakannya secara verbal. Ya, mati rasa.
Terkadang penyakitnya itu selalu kambuh di saat_
"Kuso!" Bilton menjambak rambut pirangnya, di rasa kepalanya semakin berdenyut.
Sepertinya alexithymianya kambuh. Bilton mengingat masa lalu, penyakitnya, dan itu membuatnya marah, kesal, dan muak. Karena tidak bisa mengekspresikannya, Bilton mengalami sakit kepala. Kadang juga sakit perut.
"Kuso!" Disandarkanlah tubuhnya pada tembok di samping. Lalu tubuh Bilton merosot ke bawah.
"Ughh..." Erang Bilton, kepalanya semakin berdenyut, dada bidangnya naik turun, pertanda menahan rasa sakit. Sepertinya jalanan sudah cukup sepi, orang-orang yang berlalu lalang tadi sudah pergi menuju halte, halte bis tinggal 5 meter dihadapan Bilton.
"Ka-kau tidak apa-apa?" Suara itu, mengalun lembut di gendang telinga Bilton. Serta sentuhan yang sama seperti Kaa-channya membuat Bilton terasa... Nyaman. Jika di tebak mungkin dia seorang gadis.
Manik Sapphire Bilton masih terpejam. "Itaii..." Bilton semakin menjambak surai pirangnya.
Chely, ya gadis tersebut gelagapan. "Ma-mana yang sakit?" Panik? Tentu saja.
"Itaii..." Nafas Bilton semakin sesak.
'Ba-bagaimana ini?'
"Ka-kau ingin ku pijat?"
"To-tolong ambilkan ponsel ku."
"Ha-hai." Chely menggerakan tangan mencari ponsel sang pemuda.
"I-ini." Tangan mungilnya mengangsurkan ponsel silver yang didapat dari saku celana pemuda tersebut.
"Telepon teman ku."
"Te-teman? Si-siapa?" Mana Hinata tahu teman pemuda pirang itu siapa.
"..."
Hinata menekan tombol riwayat panggilan dan terpangpang lah nama Maykel Inu. Tanpa berfikir 2 kali Chely langsung memencet tombol call.
Tut... Tut... Tut... Terdengarlah nada sambung.
"..."
"M-moshi-moshi, ini teman Nami-san?"
__ADS_1
.
.
.
"Ahh... Tahun ajaran baru memang menyenangkan." Pemuda dengan tato segitiga terbalik tersebut tersenyum lebar.
"Yayaya, dan merepotkan."
"Kau selalu bilang begitu Orlan." Rio, pemuda berkulit pucat tersebut menolehkan kepala ke arah Orlan yang sedang menguap.
"Hooaamm..."
"Aron, fans girl mu semakin bertambah."
"Hm." Pemuda yang bersandar pada mobil lamborghini hitam tersebut menggumam tidak jelas, dengan mata yang masih terfokus pada ponsel pintarnya.
Ya, sekarang mereka sedang berkumpul di lapangan parkir Nada Gakuen. Tentunya mereka jadi pusat perhatian.
"Ah... Tapi aku yakin, Aron akan tetap setia pada Bilton. Uke tersayangnya."
Mata onyxnya mendeathglare Maykel, yang diperlakukan seperti itu hanya menggaruk belakang kepalanya.
"Bilton ke mana ya?"
"Kau benar Rio." Kepala bersurai coklat Maykel celingak-celinguk mencari keberadaan pemuda blonde tersebut.
"Mungkin tidur lagi."
"Itu sih mau mu Orlan!" Sembur Maykel.
"Kenapa tidak telepon saja?"
"Kau benar Aron." Maykel merogoh ponsel dari saku celananya.
Alis Maykel mengernyit. "Kenapa tidak di telepon?" Suara Rio membuat Orlan yang sudah membuka matanya mengalihkan pandangannya. Bagitu juga Aron.
"Dia menelepon duluan." Mata Maykel masih melihat ponselnya, dimana terpampang nama_
Bilton Kitsune Calling.
"Ay_"
"Kalian tidak aneh?"
"Hm?"
"Hooaamm.."
"Apa?"
"Jika begini berarti dia_"
"Angkat Maykel." Suara rendah Aron membuat Maykel menggeser tombol hijau.
"Yo, Kitsu_"
"..."
Alis Maykel mengernyit, itu pun berlaku bagi 3 orang yang berada dihadapannya.
"Ya, dia teman ku. Ken_"
"..."
"A-apa?! Sekarang Kit_ ah Bilton dimana?"
"..."
"Hm... Baiklah aku kesana. 10 menit lagi aku sampai."
"..."
Klik.
"Kenapa?" Maykel memandang ke arah Aron, dengan tangan yang memegang kunci mobil.
"Bilton. Penyakitnya kambuh."
"Lalu, dimana dia?" Kantuk Orlan tiba-tiba menghilang.
"Halte. Dengan... Seorang gadis." Semua orang terdiam.
"Aku berangkat." Maykel masuk ke mobilnya, tanpa babibu ia langsung menjalankan dengan kecepatan penuh.
"Bilton... Dengan seorang gadis?"
'Kitsune, tunggu aku.'
.
.
.
Klik.
Panggilan tersebut diakhiri. Katanya, pemuda bernama Maykel tersebut akan datang 10 menit lagi. Tapi, pemuda pirang disebelah Chely sangat kesakitan. Dilihat dari raut wajah bulir-bulir keringat membasahi wajah tan pemuda itu, tangan sang pemuda masih menjambak rambut pirangnya.
Bilton Nami.
Itulah yang Chely lihat.
'Ja-jadi ini Bilton Nami?' Batinnya. Chely baru melihat secara langsung, Bilton memang orang populer, tapi Chely tidak tahu yang mana Bilton Nami itu, sebut saja Chely kuper, karena Chely jika di sekolah jarang keluar kelas, jika keluar paling hanya ke perpustakaan, ke kantin pun jarang karena ia selalu membawa bekal.
'Ternyata tampan.' Bibir mungilnya tersenyum tipis. Tapi sedetik kemudian kepala indigo itu menggeleng. 'A-apa yang kau pikirkan Chely dia sedang kesakitan.' Manik lavender Chely melirik ke arah Bilton yang masih memejamkan mata.
"Ka-kau masih disana?"
"E-eh ya a-aku disini."
"Kemari." Tangan Bilton menepuk tempat disebelahnya.
"Ba-baiklah." Chely menggeser duduknya, menjadi di samping Bilton.
Manik Sapphire Bilton terbuka. Melihat ke arah samping, dimana terdapat seorang gadis dengan rambut indigo yang di ikat pony tail, matanya lavender... Dan entah kenapa Bilton suka itu, hidung mancung nan mungil, pipi gembil yang seakan-akan minta Bilton cubit. Tapi, sayang gadis itu tidak menengok kearahanya malah melihat ke arah depan. Sepertinya jalan lebih menarik dari pada pemuda tampan disampingnya.
"Lebih dekat." Bilton masih menatap ke arah gadis tersebut.
"A-apa?" Chely menolehkan kepala ke arah samping, Sapphire dan lavender bertemu_
'Indah.' Batin keduanya.
"Merapat pada ku."
"E-eh?"
"Cepatlah, kepala ku pusing."
"Ba-baiklah." Chely menggeser ke arah Bilton. Jadi, sekarang badan mereka merapat.
Bilton menyandarkan kepala bersurai pirangnya pada pundak mungil Chely. "A-apa yang kau la-lakukan?"
"Diamlah, aku pusing."
'Wangi.' Bilton menyusupkan hidung mancungnya ke arah leher Chely, menyesap wangi menenangkan yang bisa ia dapatkan, ajaibnya wangi lavender ini membuat rasa pusing di kepala Bilton sedikit berkurang.
Geli. Ya, sangat geli, nafas pemuda yang Chely ketahui bernama Bilton Nami ini menerpa leher jenjang Chely. "A-apa yang ka-kau lakukan?" Jika saja pemuda bersurai pirang ini tidak sakit, Chely ingin sekali mendorong kepalanya mengesampingkan norma kesopanan Hyuu, tapi... Ini sungguh memalukan. Hell! Kenal saja tidak, tapi, pemuda pirang ini main sandar saja.
Bilton melirik ke arah name tag gadis yang pundaknya sedang ia sandari. Tertulis_
Chely Hyuu.
"Diamlah, Hyuu." Manik lavendernya mengerjap.
"Kau... Ta-tahu nama ku?"
Bilton mendengus. "Untuk apa kau pakai name tag? Baka!"
Bibir Chely mengerucut. Ternyata pemuda pirang ini cukup bermulut pedas.
"Na-Nami-san, menjauhlah i-ini tidak baik."
"Diam, atau leher mu ku jilat."
Chely bergidik ngeri mendengar ancaman pemuda pirang itu, membayangkan leher jenjangnya di jilat. Dan Chely menyesal telah mengubah gaya rambut.
Ah... Sepertinya ancaman Bilton berhasil, tebukti gadis yang dipanggilnya Hyuu itu diam. Senyum tipis hadir di bibir Bilton.
.
.
.
Seakan-akan tuli. Maykel melajukan mobil seperti orang kesetanan. Tidak peduli dengan umpatan orang-orang disekelilingnya. Yang terpenting sekarang adalah menjemput sahabat pirangnya, kata gadis, ya gadis, terdengar dari suara yang lembut, gadis tersebut menelepon dan mengatakan bahwa Bilton sedang sakit.
Berarti, penyakit alexithymia Bilton kambuh. Ah... Kalau dipikir-pikir, kasihan juga sahabat pirangnya itu. Di usia yang baru 17 tahun harus mati rasa. Hell, bagaimana dia akan mengenal cinta lagi?
Hanya Maykel, Aron, Orlan, dan Rio saja yang tahu perihal penyakitnya itu. Jangan lupa kan Kushi, Kishimoto, dan Shanty yang juga tahu tentang alexithymia Bilton. Dan, beberapa orang kepercayaan Bilton.
Pedal gas Maykel injak kembali, tidak peduli bahwa dia sekarang mengebut. Meskipun sering sekali berdebat dengan Bilton tapi, Maykel tetap menganggap Bilton sebagai saha_ ralat saudara. Ya, Maykel telah menganggap si Kitsune sebagai saudara.
Gas pada mobilnya sedikit dikurangi melihat bahwa ia sudah sampai halte dekat rumah Bilton. Alis Maykel bertaut kala melihat tidak ada pemuda blonde yang sedang ia cari . Dialihkanlah pandangan ke depan, sekarang kening Maykel yang mengernyit. Bilton... Si Kitsune, yang bisa di bilang anti pada gadis, sekarang sedang bersandar pada pundak seorang gadis, di pinggir jalan lagi!
Maykel menggelengkan kepala, dari pada melamun lebih baik ia hampiri sahabatnya, dan yang terpenting nanti ia akan menagih cerita pada si Kitsune.
Maykel melajukan kembali mobilnya, setelah sampai di depan Bilton, Maykel berhenti.
"Bilton!" Seru Maykel setelah keluar dari mobil.
Kedua orang dihadapannya melihat ke arah Maykel.
Sang gadis tersenyum manis ke arah Maykel, dan di balas senyum pula oleh Maykel. Bilton sendiri mengangkat kepalanya yang terasa pening dari pundak mungil gadis Hyuu itu.
Alis Bilton mengernyit. "Maykel?"
"Ya, kau baik-baik saja?" Maykel berjalan mendekat ke arah Bilton.
"Hm.." Gumam Bilton, tangan tan Bilton menjambak rambut bagian depan.
"Ayo." Maykel membantu Bilton berdiri. Lalu melingkarkan lengan Bilton dibahunya.
"Arigatou telah menolong teman ku." Maykel tersenyum pada gadis dihadapannya.
__ADS_1
"Y-ya doita na em_"
"Maykel."
"Ma-Maykel-san. Ka-kalau begitu aku berangkat dulu."
Alis Maykel mengernyit, kemudian matanya menyipit mengamati penampilan gadis tersebut. "Kenapa tidak dengan kami saja? Dan... Sepertinya kita satu sekolah, em_" Ia melirik ke arah name tag. "Hyuu-san?"
Chely tersenyum, sekarang dia tidak heran lagi jika ada orang yang tahu namanya, karena dia memakai name tag. "Ti-tidak nanti merepotkan."
"Seharusnya aku yang berkata begitu, si Kitsune ini yang merepotkan mu." Bilton menatap tajam Maykel yang tentunya dihiraukan.
"La-lagi pula busnya akan datang 15 menit lagi."
"15 menit? Bukankah masuk 30 menit lagi? Di jalan menggunakan bus itu 30 menit, kan?"
Chely terdiam. Benar juga kata pemuda bernama Maykel ini. Jika naik bus ia akan terlambat. Mengingat bahwa bus yang tadi sudah berangkat 5 menit yang lalu. "Ka_"
"Kau ikut kami saja." Kedua orang itu melirik ke arah pemuda blonde.
"..."
"..."
"Apa?" Tanya Bilton yang merasa risih dipandangi.
"Ba-baiklah."
"Umm.."
.
.
.
"Kenapa kau keluar?" Alis Maykel mengernyit heran melihat sahabat pirangnya keluar dari mobil.
Bilton menyampirkan tas dibahunya. "Tentu saja aku mau sekolah."
" Kau... Yakin? Tidak mau ku antar pulang?" Maykel terlihat ragu dengan jawaban Bilton. Tentu saja ragu, jika alexithymia Bilton kambuh bisa di bilang butuh waktu lama untuk menghilangkan sakit kepalanya. Tapi ini_
"Tentu saja. Dan jangan beri tahu ibu ku." Tanpa permisi Bilton melengos pergi dari lapangan parkir.
Maykel mendengus. "Dasar Kitsune! Selalu saja seenak_ eh?" Alis Maykel mengernyit, sepertinya dia melupakan sesuatu. Kepalanya menoleh ke arah samping. "Ah. Ma-maaf Hyuu-san." Maykel menggaruk pipinya dengan jari telunjuk. Kikuk.
Chely tersenyum. "I-iya tidak a-apa-apa, Maykel-san. Ngomong-ngomong arigatou, te-telah memperbolehkan ku menumpang di mobil mu." Chely membungkukan badannya.
Maykel tertegun. 'Sopan sekali.' Pikirnya.
"E-eh, tidak usah sungkan. Lagi pula seharusnya aku yang mengucapkan terima kasih."
"Huh?"
"Si Baka itu pasti belum mengucapkan terima kasih, kan?"
Chely memiringkan kepalanya. "Te-terima kasih?"
'Kawaii.'
Maykel menggeram marah, lalu berbisik. "Sudah ku duga. Si Baka itu..." Ia lalu memandang ke arah Chely. "Kalau begitu aku saja yang mengucapkannya. Arigatou telah menolong teman ku."
"I-iya doita na Maykel-san." Chely tersenyum manis tentunya di balas senyum juga oleh Maykel.
"Kalau begitu ayo kita masuk."
Chely mengangguk. "Hu'um."
...
"Kyyyaaa lihat! Aku sekelas dengan mereka!"
"Apa sih?! Mana lihat?"
"Wahhh benar, kau sekelas dengan cowok keren semua."
"Tentu saja!"
"Pe-permisi-permisi." Seorang gadis berambut indigo menyusup ke arah para siswa-siswi yang tengah berkerumun di papan pengumuman. Untuk apa? Tentu saja untuk melihat di kelas mana ia sekarang, yang paling penting apakah ia sekelas atau tidak dengan sahabatnya.
Senyum di bibir mungilnya mengembang, kala melihat siluet merah muda di tengah kerumunan. "Wulan-chan." Sapanya sambil menepuk bahu lawan bicaranya.
Si pinky menoleh. "Chely-chan!" Pekiknya keras karena di tengah kerumunan.
"Urusai Forhead!" Gadis berambut pirang di samping Wulan menoleh dengan tangan yang menutupi kedua telinganya, seakan-akan sangat merasa terganggu dengan pekikan Wulan.
"Indah-chan?"
Indah menurunkan kedua tangan yang menutupi telinganya. "Eh, Chely-chan?"
"Aku kangen~" Kedua gadis berambut pirang dan merah muda tersebut memeluk Chely erat.
"Se-sesak."
"Ah. Gomen Chely-chan. Habis aku kesenengan."
"Kau norak Forhead."
"Apa kau bilang Pig?!"
"Sudah lah..." Rajuk Chely. Sedang kan ke dua gadis itu hanya nyengir mengingat kebiasaan debat mereka.
"Chely-chan, ganti gaya rambut ya?" Indah mengamati penampilan Chely, mengabaikan semburan Wulan dan perkataan Chely seraya tersenyum jahil.
"Chely-chan kawaii.." Chely yang dikatai begitu merona. Tuh kan! Baru saja 1 jam lalu Chely bilang bahwa kedua sahabatnya akan menggodanya. Dan_ binggo! Benar sekali.
"Wu-Wulan-chan! Ja-jangan memandang ku terus." Chely menutup wajahnya dengan telapak tangannya.
"Hahaha.. Sudah lah Forhead. Kasian Chely-chan, wajahnya sampai matang begitu."
"I-indah-chan_"
"Baiklah-baiklah." Puas menggoda sahabat indigonya mereka pun nyengir.
"Ki-kita sekelas, kan?"
"Tentu saja Chely-chan." Wulan menarik tangan Chely ke arah papan pengumuman. "Lihat. Kita sekelas dengan cowok-cowok keren."
"Mana, a-aku mau lihat."
...
(Kelas 2-1)
...
Aiko
Chou michi
Fu
Chely Hyuu
Aron Uchi
Wulan Haru
Tena
Indah Yama
Rio Mura
Orlan Nara
Lee
Maykel zuka
Bi_
...
"Chely-chan sebaiknya kita cepat. Sebentar lagi bel berbunyi." Suara Indah menghentikan Chely yang sedang belum selesai membaca papan pengumuman.
"Ba-baiklah ayo." Mereka melangkahkan kaki dari papan pengumuman yang sudah lumayan sepi, karena para siswa kebanyakan menuju kelas baru.
"Aku tidak sabar melihat cowok keren." Indah menepuk ke dua pipinya.
"Dasar genit!" Dengus Wulan.
"Seperti kau tidak saja Forhead!" Sepertinya perjalanan menuju kelas baru mereka akan dipenuhi perdebatan.
...
Kelas 2-1 sekarang mulai ramai dengan para murid yang sedang memilih kursi baru. Ada yang masih memilih, ada yang sudah punya kursi, bahkan ada yang sedang bergosip ria.
Terlihat di bangku dua dekat jendela, seorang gadis berambut indigo tengah mengobrol ringan dengan seorang gadis berambut cepol dua; Tena. Sesekali Chely tertawa kecil mendengar cerita Tena.
"Iya, Chely-chan begitu kalau Lee sedang latihan." Chely lagi-lagi tertawa. Membayangkan seorang pemuda berambut mangkuk meneriakan kata 'Semangat masa muda' dengan berapi-api. Memang, Lee, Chely, dan Tena tidak sekelas tahun lalu. Dan Chely tidak menyangka bahwa orang yang bernama Tena itu sangat humoris, secara Tena adalah atlet karate di sekolah. Yang pastinya akan galak, itu dulu. Tapi sekarang... Lihatlah! Bahkan mereka sampai duduk bersama.
"Lee-san it_"
"Kyyyaaa mereka datang!" Suara teriakan seorang siswi memotong ucapan Chely.
"Iya, akhirnya moment yang ku tunggu datang juga."
"Itu X5."
"X5, siapa?" Gumam Chely.
.
.
.
.
To Be Continued
Catatan Untuk Tokohnya
Bilton Nami adalah Tokoh utama Pria dari cerita ini, dia adalah anak dari Presdir/CEO dari perusahaan terkaya di Asia Kishimoto Nami dan Kushi Nami sekaligus pewaris dari Nami's Corp, dan juga ketua dari anggota X5
__ADS_1
Chely Hyuu adalah tokoh utama wanita dari cerita ini, dia adalah anak dari Presdir dari perusahaan Terkaya ke 3 di asia Tetsu Hyuu dan Honoka Hyuu dan pewaris dari Hyuu's Corp