
.
.
.
Kalau tidak salah Chely sudah duduk disini selama 15 menit. Dan ia tidak mendapat atensi apapun dari pemuda pirang disebelahnya.
Sudah berkali-kali ekor matanya melirik ke arah sang pemuda. Tapi–Bilton–masih saja anteng dengan headphonenya. Padahal pemuda ini yang mengajaknya ke taman belakang. Katanya sih akan mendiskusikan lagu untuk duet. Tapi ini apa! Dia malah asyik sendiri!
Bibir mungilnya mengerucut. Lalu, kaki yang menggantung tidak menyentuh tanah ia goyangkan–akibat duduk di bangku yang tinggi.
"Nami-san sedang apa sih?" Gumamnya.
Hidup hari demi hari, melawan dalam dunia ini ketika sesuatu menjadi lebih berat.
Manik lavender Chely membulat. "Su-suara ini?" Dengan patah-patah Chely menoleh.
Sapphire dan lavender bertemu. Lalu Bilton tersenyum tipis. "Ini lagu yang akan kita nyanyikan."
Chely berkedip. 'Na-Nami-san bisa tersenyum?'
"La-lagu?"
"Mau dengar?"
Chely mengangguk.
"Sini."
Gadis berpipi tembam itu menggeser duduknya, menjadi merapat ke arah Bilton. "Pakai." Pemuda pirang itu, memakaikan headphone hitamnya di kepala indigo Chely.
Badan mungil itu sedikit condong ke samping, mendekat ke tubuh tegap Bilton. Guna melihat video–yang di putar dari youtube–di ponsel Bilton.
Bilton sempat menahan nafas. Aroma lavender yang ia hirup dari rambut indigo Chely benar-benar menenangkan, sampai membuat jantungnya berdebar, hatinya menghangat dan juga terasa tenang. 'Ada apa dengan ku? Jantung ini, selalu bedetak ketika dekat dengannya.'
"Lagunya enak." Chely melepaskan headphone yang melingkar di kepala indigonya. Ia memiringkan kepala. "Kenapa lagu Korea?"
"Kau suka, kan?"
Pipi Chely menggembung. Lalu kepala indigo itu mengangguk lucu. "Iya, aku suka."
"Pipi mu makin mirip bakpao saja."
Chely menoleh. "Huh? Ja-jangan bilang begitu."
"Kenapa?" Bilton tersenyum miring.
"Ti-tidak enak di dengar orang lain."
"Tsch, terserah."
Chely menatap Bilton tepat di manik sapphirenya. "Ja-jadi... Lagunya yang itu?"
"Ku kira kau sangat suka Oppa-Oppa ganteng."
Chely cemberut, yang membuat Bilton tersenyum tipis. "Bu-bukan begitu, aku hanya fans s-saja."
"Hn. Hapalkan dulu lagunya, baru kita latihan."
Srettt
Bilton beranjak dari duduknya.
"Ke-kemana?"
"Pergi."
'Padahal tinggal seminggu lagi, duetnya.'
.
.
.
"Dari mana?"
Bilton menghela nafas. Sapphirenya menatap Rio. "Taman belakang."
Maykel tersenyum jahil. "Habis kencan, kan?"
Tatapan tajam Bilton berikan. "Aku habis menentukan lagu."
"Dapat?"
Bilton mengangguk.
Maykel menghela nafas. "Lagu ya? Kau sudah dapat Rio?"
"Biar gadis berisik itu yang mencarinya, aku bosan mendengar dia membicarakan fashion. Sesekali, dia harus berpikir tentang tugas."
Maykel mengangguk. "Setuju! Para gadis itu emang bikin repot! Kau gimana Aron?"
Aron menoleh. "Sama seperti Rio."
"Isss kau ini." Maykel terdiam. "Oh, ya–" Ia menggantungkan kalimatnya, lalu menatap Orlan dengan pandangan takut. "Lan, kau sekelompok dengan gadis galak yang suka menjepit rambutnya, kan?"
Pemuda berambut nanas itu mengubah posisi tidurnya–yang tadinya menghadap tembok, sekarang membelakangi tembok menghadap sahabatnya. Ia menguap, membuka sedikit matanya. "Maksud mu Tamarin?"
Rio berkedip, bibirnya kemudian menarik sebuah garis–tersenyum aneh–"Bukankah namanya Temari?"
Shikamaru berdecak. "Ck, Tamarin lebih cocok karena ia galak."
Maykel manggut-manggut sok tahu. "Lalu, kesan mu bagaimana?"
"Pastinya dia betah."
"Ya, ya, pasti kau betah Lan." Maykel membenarkan perkataan Aron. "Kau kan belum pernah pacaran."
"Seperti kau yang pernah saja Inu-chan."
"Urusai Kitsune!"
"Andaikan kita sekelompok dengan Chely-san."
Maykel menyeringai ke arah Rio yang di balas senyum palsu. "Aku juga begitu, ahhh... Pasti manis sekali..."
Bilton berdecak. "Urusai!"
"Apa? Kau mau apa?" Tantang Maykel dengan menatap nyalang Bilton. "Kau cemburu, eh?"
"Kau!_"
Maykel menatap datar Bilton. "Kau mau apa, hah?"
"Cemburu? Cemburu apa? Jangan gila." Bilton tak kalah menatap Maykel datar.
Maykel menghela nafas. "Tcsh, kau benar-benar menyebalkan Kitsune! Aku akan menemui Chely-san."
"Aku juga!" Kepala pirang Bilton kemudian menoleh ke arah Rio.
"Tsch, terserah."
Blam!
"Kalau saja dia sehat." Rio menatap pintu yang di banting Bilton.
"Jika dia sehat, sudah dipastikan kalian berdua akan dihajarnya karena mati cemburu." Aron menatap malas Maykel dan Rio.
Orlan mengangguk. "Jika begini aku yakin dia akan sembuh."
"Tentu! Mana mungkin Kitsune kalah dengan mati rasa." Maykel tersenyum lebar.
"Satu lagi_"
"Pasti alexithymianya akan kambuh karena kalian berdua membuatnya kesal."
"Ya, kau benar Lan." Pemuda berkulit pucat tersenyum aneh.
.
.
.
Hatinya panas dan berdesir. Sungguh Bilton tidak tahu perasaan apa ini. Jika ia normal, ia ingin sekali marah pada Maykel dan Rio yang seenak jidatnya bicara.
"Ck." Decakan sebal keluar dari bibirnya.
"Kuso..." Keluhan itu terdengar, makin ingin mengekspresikan kekesalannya, Bilton makin sakit kepala.
"Ugghh..." Diremaslah ranjang UKS yang berseprai putih. Seperti biasa, jika ia kambuh, Bilton selalu pergi ke UKS. Memang mau kemana lagi? Jika ia ke taman belakang, sudah dipastikan akan banyak orang, atau ke kantin? Ck, Bilton itu sakit bukannya lapar. Atap sekolah? Tidak, karena disanalah rasa sakit ini berasal. Pulang? Nanti Ibunya akan khawatir.
Ceklek–
"Na-Nami-san?" Manik lavender Chely menatap Bilton yang sedang terduduk di ranjang, kakinya dibiarkan menggantung, tangan tannya menjambak surai pirang yang sudah berantakan, manik sapphirenya tersembunyi di balik kelopak matanya. Dan, sepertinya saking sakitnya, Bilton tidak sadar bahwa ada yang masuk ke UKS.
__ADS_1
Tap... Tap... Tap...
"Na-Nami-san?" Kaki mungil Chely melangkah medekat ke arah Bilton, tepatnya berdiri di samping sang pemuda.
'Suara ini...' Suara yang selalu membuatnya tenang, aroma lavender yang sangat Bilton sukai.
"K-kau kenapa?"
Bilton masih tak menjawab, ia sibuk memegangi kepalanya juga mengatur nafasnya yang memburu. Gangguan psikosomatis ini memang merepotkan!
Alis Chely mengernyit heran, jujur dalam benaknya ia khawatir terhadap pemuda pirang dihadapannya. 'Se-sebenarnya Nami-san sakit apa?' Ini sudah yang ke tiga kalinya Chely melihat Bilton sakit kepala. "Tu-tunggu aku ambilkan o-obat."
"..."
Sret
Bruk
Grep
Manik lavender Chely berkedip. Ia kini berada...
"Jangan pergi..."
Di..
"Ku mohon, tetaplah begini..."
Pelukan Bilton dengan posisi terduduk.
Wajah Chely masih memancarkan ekspresi kaget. Sungguh badannya bergetar, hatinya menghangat, jantungnya juga berdetak cepat, dan Chely tidak tahu perasaan apa ini.
Ia mencoba mengingat kejadian 10 menit yang lalu. Setelah pertemuannya dengan Bilton—mendiskusikan lagu–di taman belakang, Chely meninggalkan taman dan berjalan menuju kelas. Sampai di koridor Chely bertemu Shizu. Chely menyapanya, dan tanpa di duga, Sensei UKS yang memegang kotak P3K berisi plester dan obat merah itu menyerahkan tugas untuk mengantar kotak P3K kepadanya, 'Maaf ya Chely, Sensei menyuruh karena ada urusan mendadak.' Itu kata Shizu, dan Chely masih ingat.
Nafas memburu Bilton dilehernya membuat Chely tersadar dari lamunanya. Tubuh mungil Chely masih bergetar, ini memang pertama kalinya Chely di peluk seorang pria, ia hanya pernah di peluk Nando dan Tetsu–ayahnya–"Na-Nami-san kenapa?"
"..." Nafas Chely masih saja memburu, manik sapphirenya terpejam.
"Ma-mau ku pijat? A-atau aku ambilkan o-obat?" Mati-matian Chely menahan rasa gugupnya.
"Tidak." Suara Bilton terdengar lirih, dan ini untuk pertama kalinya Chely mendengar suara itu. Biasanya suara pemuda pirang ini sangat datar dan dingin, tapi ini–"5 menit saja, tetaplah dalam posisi ini."
"..." Chely menurut. Ia diam merasakan sensasi aneh saat berada dalam pelukan Bilton. Tangannya bergetar, ia angkat untuk mengusap helaian pirang sang pemuda.
Berbeda dengan Chely yang merasa gugup. Bilton malah merasa nyaman. Sensai ini memang baru pertama kalinya ia rasakan, bahkan saat Ibunya memeluk atau mengusap helaian pirangnya, seperti yang Chely lakukan, Bilton tak pernah merasa senyaman ini. Apa lagi aroma lavender yang sangat lembut ini sangat membuat Bilton terasa nyaman.
Kepalanya ia miringkan ke arah leher jenjang Chely. Bilton sadar, tubuh mungil gadis dipelukannya begetar. "Hyuu."
Chely berkedip. "Ha-hai."
"Arigatou..."
Gadis Hyuu itu terdiam. Menurut gosip dari sahabatnya; Indah, Wulan, dan Tena. Bilton Nami itu tidak pernah berterima kasih, nah! Ini! "Ya, do-doita na, Nami-san."
Bilton masih belum melepaskan pelukannya. Memang, rasa pusingnya sudah berkurang, bahkan lebih cepat pemulihannya daripada biasanya. 'Apa hubungannya kau dengan penyakit ku?' Tangannya semakin erat memeluk pinggang Chely.
"A-ano_"
"Hm?"
"Apa masih sa-sakit."
"Hm?"
"Na-Nami-san?"
"Hm..." Masih di jawab dengan gumaman.
"A-apa mau ku pijat?"
"Kau cerewet juga, ya?" Meski masih agak pening, Bilton berusaha mengangkat kepala pirangnya.
"Bu-bukan beg_"
Bilton tersenyum miring. "Jika di lihat dari dekat, pipi mu makin mirip bakpao saja."
Chely berkedip. 'Dia... Kembali jadi Nami-san yang menyebalkan.' Pipi Chely menggembung. "Ba-bakpao apa? Aku kan tanya apa masih sakit?" Pipinya merona saat menyadari jarak wajahnya dan Bilton.
"Tuh, apa lagi jika menggembung begini."
"Huh? Na-Nami-san menjauhlah..."Pipi Chely merona, saat wajah Bilton mendekat.
'Hangat. Perasaan apa ini? Meski jantung ini berdetak, tapi aku menyukainya.'
"Hm? Menjauh kemana?"
Pipi Bilton menyentuh pipinya.
"A-ano_"
"Ha-hai." Dengan jantung yang tak karuan Chely mengikuti Bilton. 'Kenapa... Dengan ku?'
.
.
"Hahaha.. Yang benar Lee, lemparan mu kurang bagus!"
"Urusai Maykel! Lihat! Aku akan melemparnya ke arah mu! Hyahh..." Dengan semangat, Lee melempar bola kertas yang entah kenapa saat dilemparnya ke arah Maykel selalu saja meleset.
Ceklek–
Dukh
Hening.
"Kau!"
Suara baritone yang lebih mirip geraman itu menjadikan suasana hening.
"A-ano_" Dengan dibanjiri keringat dingin Lee buka suara. "Bi-Bilton, a-ano_" Ternyata yang kena lemparan bola kertas yang berukuran sedang itu adalah Bilton Nami, orang yang baru saja datang dari UKS tanpa sepengetahuan semua orang begitupun dengan sahabatnya—X5–kecuali Chely Hyuu.
Maykel juga berkeringat dingin, mengingat ia tadi membuat Bilton marah kalau saja sahabatnya itu normal.
Glek–
Susah payah ia menelan ludahnya. Saat sapphire biru Bilton menatapnya. "O-oi Bilton. Dari mana?"
Bukannya menjawab. Sapphire biru Bilton menatap tajam Maykel, jika saja tatapan bisa membunuh sudah dipastikan Maykel akan mati saat ini.
"A-ano, pe-permisi."
Suara lembut dari belakang tubuh tegap Bilton mengalihkan pandangan semua orang di dalam kelas. Pandangan yang tadinya tegang sekarang berubah menjadi pandangan heran, semua mata sekarang menatap tubuh mungil yang baru saja menyembul dari belakang tubuh tegap Bilton yang menghalangi pintu.
Chely berkedip. Sekarang semua mata menatap heran ia dan Bilton.
Glek–
Gadis Hyuu itu susah payah menelan ludahnya. Ia memang terlambat, tapi itu hanya terlambat 5 menit dari bel masuk, dan lagi, belum ada Sensei yang datang.
'Apa ka-karena aku dan Nami-san datang bersamaan?' Sedikit merutuki dirinya yang entah kenapa malah memilih datang ke kelas bersama Bilton.
Maykel berkedip. Lalu pandangan takutnya berubah menjadi pandangan 'wow' mengingat sahabat Kitsunenya datang dengan seorang gadis, apa lagi gadis itu Chely Hyuu. Gadis manis yang selalu ia dan sahabatnya jadikan alat memancing perasaan Bilton.
"Oi... Bilton... Mari ke bangku." Seakan melupakan ketegangan 120 detik yang lalu, Maykel dengan santainya merangkul bahu Bilton menuju ke arah bangku pojok; tempat dimana X5 berkumpul di kelas. Tentunya ia mengabaikan tatapan tajam dari sapphire biru Bilton.
...
"Aku yakin Bilton dari UKS." Aron menatap ke arah Bilton dan gadis disampingnya dengan pandangan datar. Tapi, jika di lihat lebih detail lagi, onyx hitamnya menyiratkan sedikit keherannan.
Rio mengangguk. "Jika sudah kita desak tentang perasaannya, pasti Bilton akan mengalami gangguan psikosomatis_"
"Maksud mu alexithymia?" Orlan menguap. Kemudian matanya menatap ke depan kelas.
Rio mengangguk. "Lalu, kenapa Bilton bisa bersama dengan Chely-san?"
"Entahlah, Rio. Ada dua kemungkinan. Pertama mereka tak sengaja bertemu, dan ke dua, mereka memang bersama."
"Aku lebih setuju, kemungkinan pertama." Aron lebih memilih kesimpulan pertama, karena mana mungkin sahabatnya itu bersama seorang gadis. Secara, Bilton itu cuek, jutek, dan dingin, jangan lupakan masa lalu Bilton dan Miku.
"Aku suka kemungkinan ke dua." Bibir pucat Rio tersenyum palsu.
Mereka terdiam, saat melihat Maykel dengan cengiran lebarnya merangkul Bilton yang bermuka datar, lengkap dengan tatapan tajamnya.
"Yo, kalian!" Sapa Maykel setelah sampai di bangku pojokkan.
"Yo, Maykel!" Rio tersenyum aneh. "Kalian cocok."
Maykel mengernyit. "Apa?"
"Itu?" Telunjuk Rio mengarah pada lengan Maykel yang masih merangkul mesra Bilton.
Mata bertemu mata. Lalu, mata Bilton dan Maykel membulat. "Aku normal!" Seru keduanya sambil menjauhkan tubuh masing-masing.
Rio mengendikkan bahu. "Aku harap Aron tidak cemburu, ya kan, Aron?"
"Ck, kau saja Zombie yang cemburu!" Onyxnya menatap tajam pemuda pucat yang selalu tersenyum palsu.
__ADS_1
"Mungkin."
"Astaga!" Pekik Maykel, sampai Bilton yang disebelahnya menutup telinga.
"Urusai! Inu!"
Tanpa mengindahkan semburan Bilton. Maykel duduk di sebelah Rio. Dengan tak sabaran,Ia menyentuh bahu Rio, lalu memutarnya sehingga berhadapan dengannya. "Ternyata yang gay bukan hanya Aron dan Bilton saja."
"Inu!" Onyx dan sapphire menatap tajam sang penyuka anjing. Tentunya dihiraukan.
"Kau juga gay, Rio! Astaga! Kami-sama... Hanya kita saja Orlan yang normal!" Kepalanya menoleh ke arah Orlan yang sedang menatapnya malas.
"Kau lebih aneh. Maykel."
"Hah? Aku?" Telunjuknya menunjuk hidung mancungnya. "Apa sih maksud mu Lan?"
"Gay masih mending menurut ku."
Maykel kembali memekik. "Astaga! Oelan, kau jug_"
"Daripada kau yang mencintai Akamaru mu itu." Orlan, Aron, Bilton, dan Rio menyeringai. Melihat ekspresi Maykel yang nampak menyedihkan.
"Eh? Kitsune?"
Semua menghela nafas. Memang Maykel tipe pelupa masalah yang hebat, pikir mereka.
"Hm?" Pemuda yang di panggil Kitsune itu duduk di bangku sebelah Aron.
"Habis dari mana?" Kepala pirangnya menoleh ke arah Rio.
"Bukan urusan mu." Suaranya terdengar ketus.
Orlan menghela nafas. Bukan, bukan karena keadaan kelas yang bising akibat belum hadirnya Renai guru kimia kelas 2-1. Tapi karena sifat dan sikap sahabat pirangnya ini. "Kau dari UKS?" Tanyanya.
"..."
"Bertemu dengan gadis itu dimana?" Sekarang kepala pirangnya menoleh ke arah sahabat ravennya.
"Aku bertemu dengannya di jalan."
"..."
"..."
"..."
"..."
"Apa?" Jujur saja, Bilton risih dipandangi dengan delapan mata sekaligus.
"Ck, kau nggak asyik" Celetuk Maykel.
Rio mengangguk, lalu tersenyum aneh. "Apa susahnya sih, bilang habis kencan."
"Urusai! Zombie!"
"Kalau begitu, aku juga mau berkencan dengan Chely-san."
"Urusai Inu! Atau ku bunuh Akamaru mu itu!"
...
Lain di pihak Bilton, lain di pihak Chely. Sesudah kejadian pandangan heran seluruh warga kelas terhadap kedatangannya dengan pangeran Nada Gakuen. Dengan kepala tertunduk, Chely berjalan menuju bangku barunya dengan Biltom. Ya, bangku empat dekat jendela.
"Chely-chan?!" Baru saja ia duduk manis dikursinya, ke tiga sahabatnya; Indah, Wulan, dan Tena datang menghampiri.
"Eh? Wulan-chan? Tena-chan? Indah-chan?"
"Iya, Chely-chan." Chely mengernyit, saat melihat Indah sahabatnya, tersenyum jahil.
"I-Indah-chan kenapa?"
Bukannya menjawab, Ino malah duduk di samping Chely. "Chely-chan dari mana?" Tanyanya dengan seringai jahil.
"Iya, pake bareng Nami-san segala?" Sekarang Tena juga menampilkan seringai jahil.
"A-ano_"
"Ayo cerita Chely-chan?!" Kepalanya menoleh ke arah Wulan yang duduk di bangku depan menghadapnya bersama Tena. "Ayolah..." Emerald hijau Wulan menatap memelas lavender Chely.
"I-itu_"
"Ya, ya, ya... Itu apa?" Jujur saja, Indah itu makin penasaran apa lagi ia itu Ratu Gosip Nada Gakuen. Tentunya Indah harus mendapat informasi ini! Ya, harus!
"A-aku bertemu dengannya di jalan." Dengan ragu, Chely mengucapkan sebuah kebohongan, yang sama diucapkan oleh pemuda yang memeluknya.
'Kami-sama, maafkan aku.' Dalam hati, Chely terus meramalkan do'a-do'a, agar sahabatnya tidak menyadari kebohongannya.
Bisa gawat jika Chely bilang yang sebenarnya, tentang sakit Bilton, Bilton yang memeluknya, Bilton yang mengucapkan kata langka; terima kasih. Jika sahabatnya tahu, sudah pasti ini akan jadi trending topik, dan Chely tidak tahu apa yang akan dilakukan Bilton kepadanya, sebab ia memberitahukan soal Bilton yang sakit pada sahabatnya, meski Hinata sendiri tidak tahu pemuda pirang itu sakit apa.
"Yahhh..." Wulan adalah orang pertama yang menunjukan kekecewaannya. "Ku kira Chely-chan kencan."
Di jawab anggukkan Indah dan Tena.
"Wu-Wulan-chan!" Pekik Chely dengan wajah memerah.
"Eh?" Semua menoleh ke arah Indah. "Tapi Chely-chan hebat lho.."
"Huh?"
"Bisa jalan berdua dengan Nami-san."
"Ma-maksud Indah-chan?"
"Pig benar! Nami-san kan_"
Ceklek_
"Konnichiwa minna."
"Renai-sensei! Chely-chan, kita kembali ke bangku dulu!" Ke tiga gadis berbeda warna rambut itu berlalu kebangkunya masing-masing.
'Nami-san kenapa?' Batinnya.
...
"Perubahan dentalpi (ΔH) positif menunjukkan bahwa dalam perubahan terdapat penyerapan kalor atau pelepasan kalor. Reaksi kimia yang melepaskan atau mengeluarkan kalor disebut reaksi eksoterm , sedangkan reaksi kimia yang menyerap kalor disebut reaksi_"
Tettt... Tettt...
"Yokatta..." Itu kata para murid yang merasa lega.
Renai menatap jam di pergelangan tangannya. Ia menghela nafas, melihat waktu menunjukan pukul 15:00. Sudah waktunya pulang, kan? "Ya, minna. Mungkin hanya itu yang dapat Sensei sampaikan hari ini. Sampai bertemu minggu depan!" Renai pergi setelah membereskan alat-alat yang dibawanya.
"Yess.. Pulang juga."
"Ah, sudah ini aku mau tidur."
"Akamaru... Aku datang..."
Kira-kira itulah kata sebagian murid kelas 2-1.
Chely menghela nafas. Ia bangkit dari duduknya, setelah membereskan peralatan sekolahnya.
"Hyuu?"
Chely menoleh ke samping, ke arah pemuda pirang yang tadi siang memeluknya. Ah, Chely yakin pipinya merona. Ia menggeleng untuk melupakan moment itu. Kembali lavendernya terfokus pada pemuda pirang yang sedang menatap datar ke depan.
"Ha-hai?"
Bilton menoleh, kepalanya mendongkak karena Chely sudah berdiri. "Ku harap kau tak menceritakan tentang aku yang sakit di UKS."
Chely terdiam, sebenarnya ia sangat ingin menanyakan sakit apa pada pemuda pirang ini.
"Hyuu?" Panggilnya kembali saat tak mendapat respon untuk pertanyaannya.
"Ha-hai, hanya aku yang tahu."
"Bagus." Tubuh tegap pemuda pirang itu beranjak dari duduknya. Sehingga tingginya yang jauh dari Chely membuat sang gadis harus mendongkak.
"Hai."
"Satu lagi."
"Huh?"
"Aku minta nomor ponsel mu."
.
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1
Halloo;')
Akhirnya selesai juga, sampai jumpa di next episode;'(