
.
.
.
Seminggu, genap sudah Chely menjadi kekasih dari Pangeran Nada Gakuen. Banyak hal yang terjadi selama seminggu ini. Di mulai dari perubahan sikap dan sifat Bilton.
Chely bingung, kemana Bilton yang dingin, jutek, cuek, dan menyebalkan. Keempat sikap dan sifat hanya ditunjukkan di depan X5, dan siswa-siswi Nada Gakuen.
Jika di depan Chely, tentu saja Bilton menjadi pribadi yang lain. Hangat, menyenangkan dan posesif.
Semua penghuni Nada Gakuen sudah tahu bahwa Chely Hyuu belongs only to Bilton Nami!
Banyak gadis yang patah hati saat mendengar berita yang entah dari mana itu. Tapi Bilton cuek-cuek saja, toh itu tidak merugikan ku, pikirnya.
Maykel, juga. Si Inu itu malah semakin gencar menggodanya. Setiap hari Maykel selalu melakukan siulan yang Bilton anggap memuakkan jika ia dan Chely ke kelas bersama.
Pagi ini juga tak ada bedanya, hanya saja hari ini sekolah masih sepi. Ini semua karena Chely, kekasih tercintanya. Katanya ia akan mengadakan rapat untuk anggota Club Bahasa Inggris. Bilton juga baru tahu Chely ikut club seperti itu.
Jadi, bisa dipastikan jika sudah banyak penghuni sekolah yang datang, mereka selalu jadi pusat perhatian, apa lagi para gadis. Teriakkan cemprengnya yang membuat gendang telinga Bilton seakan mau pecah seketika, tapi berutunglah ia kali ini. Karena datang lumayan pagi. Jika saja Chely tidak mengabarinya, mungkin ia akan tidur lagi.
Tapi,
Ingat kesepakatan kedua?
Jika pergi kemanapun harus saling mengabari.
Jadi, pukul 05.20 tadi. Chely mengirimnya pesan singkat untuk izin berangkat duluan. Sebenarnya Bilton sangat mengantuk. Tapi pas baca pesan itu sapphirenya langsung melotot.
Setelah ia membalas pesan Chely dan mengatakkan akan menjemputnya, Bilton langsung mandi. Padahal jadwal mandinya pukul 6 tepat.
Jadi, disinalah Bilton. Bersandar di pintu loker sebelah Chely yang katanya sedang mengambil berkas untuk rapat. Dengan mata yang terpejam, kepala menunduk, dan tangan yang terlipat di depan dada, Bilton menunggu Chely. Maklum, ia masih mengantuk. Karena tadi malam ia begadang untuk main game online, dan baru bisa memejamkan mata pukul 1 pagi.
"Kata ku juga apa, Bilton-kun tidak usah mengantar ku."
Bilton sedikit melirik ke arah Chely. Gadis itu baru saja akan membuka lokernya. "Tidak apa. Lagi pula kau itukan kekasih ku, jadi aku harus menjaga mu." Ia kembali menunduk dan memejamkan matanya.
"Ta-tapikan Bilton-kun masih mengantuk. Sudah ku bilang, kan? Jangan tidur terlalu malam." Chely menatap Bilton yang menunduk.
Bilton mengangkat kepalanya, ia tersenyum. "Iya... Iya... Kau cerewet sekali."
Pipi Chely menggembung. "Itu tandanya aku perhatian."
"Baik, lain kali aku akan tidur lebih awal." Bilton tersenyum.
Kepala indigo Chely mengangguk. "I-iya, memang harus be_ eh, ada lagi."
Kepala kuningnya terangkat. Alis Bilton mengernyit, ia tidak mengerti apa yang dikatakan Chely, juga tidak bisa melihat apa yang di pegang kekasihnya karena terhalangi oleh pintu loker.
"Ada apa?" Bilton melongok ke arah loker.
"Padahal, enam hari belakangan tidak ada, kenapa sekarang ada lagi?" Bukannya menjawab pertanyaan Bilton, Chely malah bermonolog.
"Kau kenapa sih?" Rasa kantuk Bilton menghilang, ia berjalan memutar sehingga berhenti di belakang tubuh Chely. "Itu apa?"
Chely berbalik dengan senyum polos diwajahnya. "Bunga." Tangannya menggoyang-goyang satu tangkai bunga mawar putih.
Dahi Bilton berkerut tidak suka, rahangnya mengeras, dan Chely tidak menyadari itu semua.
"Bagus ya Bilton-kun? Ini datangnya selalu ganti warna setiap hari."
"Dari siapa?" Suara Bilton mendingin dan datar. Ah! Ia masuk mode cemburu.
"E-eh." Dan Chely baru menyadari perubahan kekasih pirangnya. "A-aku tidak tahu."
Sapphire Bilton terpejam. Ia ingin marah tapi pada siapa? Chely disini hanya korban bukan tersangka.
Astaga!
Loker...
Bunga mawar...
Ia ingat sesuatu_
'Omedato, kau sudah sembuh. Dan segeralah tembak dia, aku suka melihat Sasori anak senior kita selalu menaruh bunga mawar dilokernya.' (Selamat)
Sasori!
Ya, Senpai berambut merah itu ternyata. Tapi sepertinya Chely tidak tahu apapun.
"Eh, tumben ada suratnya."
Lamunan Bilton buyar mendengar pekikkan Chely.
Dengan ketidakpekaan yang amat sangat, Chely mengambil amplop ungu dilokernya. Ia tersenyum senang, tanpa berbalik Chely membaca suratnya.
"Pagi yang indah, dengan senyum cerah di_"
Srettt
Chely berbalik. "Bi-Bilton-kun, kembalikan."
"Wajah cantik mu." Alis Bilton terangkat, ia mengalihkan pandangannya pada gadis didepannya. "Iss.. Cantik? Mirip Bakpao begini."
"Jika tidak bisa bersikap romantis, jangan sirik dengan sikap romantis orang lain."
Bilton tersenyum, ia merangkul bahu Chely. "Dengar, menurut ku, setiap saat bersama mu adalah hal yang paling romantis."
Blush.
Chely merona.
"A-apaan sih?" Chely menurunkan lengan Bilton dari pundaknya. "Lagi pula bunganya memang bagus ya, Bilton-kun?"
"Buang."
Chely mendongak. "Ke-kenapa?"
"Ku bilang buang ya buang."
"Ta-ta_"
Srettt
Dan bunga yang di pegang Chely masuk ke dalam tong sampah.
Chely cemberut. "Ke-kenapa di buang?"
Bilton menutup pintu loker Chely, karena gadis itu sudah mengambil mapnya. Ia lalu memegang kedua bahunya. "Dengar, aku bahkan bisa membeli sebuket bunga yang besar untuk mu setiap hari, atau kau mau aku belikan tokonya sekalian? Atau kebunnya saja, agar kau bisa melihat bunga-bunga yang indah bermekaran setiap hati?"
"..."
"Jangan terima lagi bunga dari siapapun, mengerti?"
Chely mengangguk. "Ma-maaf..."
"Sudahlah." Bilton mengusap kepala Chely. "Kau tahu Chely?" Chely menggeleng. "Saat kau menerima sesuatu dari laki-laki lain, disini sakit." Ia menunjuk dadanya.
"Ma-maaf..."
"Iya, asal kau berjanji tidak akan begini lagi."
Chely tersenyum. "I-iya aku janji." Ia menyodorkan kelingkingnya.
Si pirang terkekeh. "Baiklah." Lalu ia mengaitkan kelingkingnya dengan milik kekasihnya. "Ayo pergi. Kau kan katanya mau rapat."
Puk.
Chely menepuk keningnya. "A-aku lupa."
"Makanya ayo." Seperti biasa, Bilton merangkul pinggang Chely. "Aku mengantuk sekali." Ia menaruh kepalanya di kepala Chely. Mereka berjalan berangkulan.
Lavender Chely melirik kekasihnya. "A-aku'kan sudah bilang jangan mengantar ku."
"Hn?"
"Tapi Bilton-kun keras kepala."
"Kau tega sekali..."
"Huh?"
Sapphire Bilton terpejam. "Kenapa tidak bilang dari kemarin ada kegiatan club."
"Ma-maaf... Lagi pula Sasori-senpai baru mengabari pukul 5 pagi."
"Apa?!" Badan Bilton menegak, langkahnya terhenti, jangan lupakan sapphirenya yang melotot.
Chely yang melihat ekspresi Bilton jadi sedikit takut. "I-iya. Me-memangnya kenapa?"
Melihat Chely yang ketakutan, Bilton melunakkan tatapannya. "Kau kenal Sasori?"
Sedikit ragu, Chely mengangguk. "Di-dia Ketua Club Bahasa Inggris."
Bilton berkedip, ia kembali merangkul Chely dan meletakkan kepala pirangnya di kepala kekasihnya. 'Setan merah! Kau cari masalah dengan ku!'
"Jangan terlalu dekat dengannya."
"A-apa?" Refleks Chely berhenti.
Rangkulan Bilton terlepas. Ia mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi sebagai isyarat Chely untuk melanjutkan perkataannya.
"Bi-Bilton-kun kenapa sih? Aku ini sekertaris Club Bahasa Inggris, dan mu-mungkin aku akan selalu dekat dengannya. Apa lagi kalau ada kegiatan club, aku pasti akan seharian bersamanya."
Sekertaris?
Seharian!
Dengan Sasori.
What the hell!
Rahang Bilton mengeras. "Kau tidak boleh terlalu dekat dengannya! Tsch, terserah jika dia ketua clubnya. Aku bisa menurunkan jabatannya."
"Bilton-kun, kau ini kenapa?"
"Pokoknya jangan ya jangan!" Ia menarik tangan Chely menuju ruang club.
.
.
Kepala pirangnya terkulai lemas di meja kantin dengan tangan sebagai bantal. Sapphire biru Bilton terpejam. Dalam hati ia terus menggerutu kepada Sasori. Senpai berkepala merah yang selalu mengirim bunga pada kekasihnya.
Memang ini hanya informasi, tapi mau bagaimana lagi. Jika Orlan yang angkat bicara, pasti semua adalah fakta.
"Hah..." Satu helaan nafas keluar dari mulut Bilton.
"Kitsune?"
Bilton kenal suara cempreng ini, ya suara Maykel Zuka. "Hn?"
"Kau kurang vitamin ya?"
Bukannya jawaban yang di dapat Maykel, melainkan tatapan tajam dari si pirang.
"A-aku bercanda." Ia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. "Habisnya sih, kau lemas sekali."
"Tsch." Decih Bilton.
"Kau ada masalah?"
Sapphire Bilton menatap datar Aron.
"Makanlah Bilton, lihat. Makan siang mu dihinggapi lalat." Rio tersenyum aneh. "Ramen mu jadi mirip cacing."
"Ck."
"Bilton memang cocok memakan cacing." Gigi taring Maykel nampak.
"Sialan kau Inu!"
Sumpit ramen melayang mengenai wajah Maykel.
Si Inu berdecak. "Apa-apaan kau Kitsune?!"
"Kau memang cocok dilempari sumpit Inu." Anggota X5 yang lain tersenyum mengejek, sebagai tanda mendukung pertanyaan Bilton.
"Sialan kau!"
"Kalian kenal Sasori?"
"..."
"..."
"Dia senior ku di club melukis."
'Rio kenal Sasori?' Bilton menarik nafas. "Kau kenal dia?"
Rio menunduk ia kembali mengambil sandwich dipiringnya, setelahnya ia mendongak menatap Bilton dengan mulut yang penuh dengan roti lapis dimulutnya. Diangkatlah kedua bahunya. "Mungkin. Meski dia senior ku, tapi kami jarang komunikasi."
"Bukankah kelas tingkat akhir, seharusnya tidak aktif lagi kegiatan club?"
Ah! Maykel benar! Tumben otak lambatnya bergerak cepat!
"Dasar Bodoh." Aron melirik malas Maykel, ia meneguk jus tomatnya. "Mereka akan pensiun club saat semester dua."
Maykel cengengesan. "Aku lupa."
Entah kenapa umpatan Aron serasa menyindirnya.
"Dia buat ulah lagi ya?" Orlan menyangga dagunya dengan sebelah tangan.
"Ya, dia tidak takut berurusan dengan ku."
"Memangnya, apa yang dilakukannya?"
Orlan memandang Aron. "Nanti ku ceritakan."
Aron mengangguk.
Srettt
Rio mendongak. "Mau kemana?"
"Kamar mandi."
Maykel mencebikkan bibirnya. "Sok cool, menyebalkan, lidah beracun, irit bicara, sialan kau Kitsune Nami!" Ia melampiaskan kekesalannya saat di lempar sumpit.
.
.
"Maaf ya... Kau harus membantu ku."
Chely tersenyum, ia meletakkan map merah yang tadi ia bawa. "Ti-tidak apa-apa Senpai. Lagi pula ini tugas ku menggantikan Konan-senpai."
Sasori manggut-manggut. Memang Konan–Wakil Ketua Club–tidak hadir. "Iya, tapi tetap saja jam makan siang mu tidak ada."
"Tidak apa kok..."
Kembali. Sasori tersenyum menatap Chely.
Ah!
Ia memang selalu ingin tersenyum jika dekat dengan Kouhai manisnya. "Chely?"
Ia mendongak. "Ya?"
"Kau tahu tempat seru akhir-akhir ini?"
Chely terdiam. "U-um... Aku tidak tahu. Memang kenapa Senpai?"
"Ternyata kau ketinggalan topik."
"Huh?"
Sasori mengangguk. "Ueno Park, salah satu tempat seru."
"A-apa benar?" Sasori mengangguk sambil tersenyum. "Sugoii..."
"Kau mau kesana?"
"I-iya. Aku mau kesana."
"Kalau begitu kita per_"
"Chely?"
Sasori dan Chely menoleh ke arah pintu club.
Disana.
Wajah datar yang tak bersahabat diperlihatkan pemuda pirang yang berdiri dengan aura gelap.
"Bi-Bilton-kun...?" Cheky sedikit takut melihat Bilton berdiri di ambang pintu. Apa kekasihnya sudah dari tadi disana?
Tap... Tap... Tap...
Dekat sudah jarak mereka bertiga.
Bilton menyeringai remeh menatap Senpainya. Tentunya di balas tatapan datar Sasori. Ia tidak tuli, bukannya menguping atau apa Bilton hanya berniat mengunjungi kekasihnya yang berada di ruang club, sesudah dari toilet. Tapi ia agak mengurungkan niatnya untuk membuka pintu saat mendengar Sasori menanyakan tempat populer akhir-akhir ini. Untuk apa ia punya IQ di atas rata-rata jika tidak bisa menebak pertanyaan Sasori.
Dan.
Binggo!
Ia tepat sasaran.
Sasori. Mengajak Chelynya kencan.
What the hell!
"Konnichiwa Senpai." Setiap kata yang Bilton ucapkan penuh penekanan.
Aura gelap Chely rasakan, tapi untung saja Bilton tidak melakukan hal di luar batas. Meski menyapa dengan nada tidak sopan.
Sasori tersenyum dingin. "Ah, konnichiwa Nami-san."
Dalam hati Bilton berdecih. Ia menoleh ke arah Chely. "Kau sudah makan?"
Chely menggeleng. Memang ia belum makan.
"Ayo makan." Ia merangkul bahu Chely. Bilton menyeringai. "Ah, Senpai. Aku bisa pinjam kekasih ku? Dia kelaparan."
"Tentu, bawa saja dia." Matanya melirik Chely. "Maaf ya Chely. Gara-gara membantu ku, kau jadi telat makan."
"A-ano Senpai. Tidak apa-apa. Aku jugakan sekertaris mu."
"Kami duluan Senpai."
"Ya."
__ADS_1
Bilton melewati Sasori. Sebelum itu, ia sempat berbisik di telinga Senpainya tanpa terdengar oleh Chely. "Carilah gadis yang lain. Sasori."
Yang mendapat bisikkan hanya bermuka datar.
Ceklek.
Pintu tertutup rapat.
"Heh? Aku tidak berjanji."
...
"Bi-Bilton-kun. Le-lepaskan banyak orang yang lihat."
Bilton menggeleng, ia malah meletakkan pipi kirinya di kepala Chely. Tentunya dengan tangan yang merangkul bahunya. "Tidak. Sepertinya orang-orang belum tahu kau sudah jadi milik ku."
Jika dalam keadaan normal–berdua dengan Bilton –pasti Chely akan merona.
Hey!
Tapi ini di koridor, banyak pasang mata yang memperhatikan mereka.
"Kau belum janji pada ku."
"Ja-janji?"
"Iya... Aku sudah melarang mu untuk dekat dengan dia."
Chely menghela nafas. Ternyata itu masalahnya. "A-aku janji, tidak akan berdekatan dengannya kecuali ada kegiatan club."
"Hm..."
"Ja-jadi, bisa Bilton-kun lepaskan?"
Bilton tersenyum agak lebar. "Tentu!"
Sontak orang-orang yang berada di koridor heboh seketika, melihat gigi Bilton yang nampak.
Wajah Bilton mendekat. Bahkan bibir keduanya hanya berjarak beberapa centi. Bilton tersenyum.
"Bi-Bilton-kun... Ma-mau apa?"
"Hari minggu, dandanlah yang cantik." Ia mencubit pipi Chely.
Chely merona.
Wajah Bilton menjauh.
"Ayo ke kantin." Ia menggandeng lengan Chely.
.
.
.
.
Lavender memicing, tangan terlipat di depan dada, jangan lupakan aura gelap yang keluar dari tubuh Nando Hyuu. Awalnya, minggu pagi ini tenang-tenang saja, apa lagi jika Hana Hyuu tidak ada. Maka hilanglah keberisikkan Mashion Hyuu. Tapi, semua itu berakhir saat 10 menit yang lalu.
Tapat saat mobil sport kuning berhenti di halaman. Nando mengira itu sekertaris Tetsu yang tidak pulang karena lembur. Namun ia berpikir dua kali, mana mungkin bapak-bapak mengendari mobil anak muda yang kekinian.
Dan makin heranlah ia, kala pemuda bersurai pirang dengan jaket army, kaus putih sebagai dalamnya, jeans hitam, dan sneakers yang menjadi alas kakinya turun dari mobil.
Dengan wajah datar yang menyamai Nando, si pemuda yang Nando anggap aneh itu menekan bel. Dan sekarang Nando tahu nama pemuda itu.
Bilton Nami
Nami.
Siapa yang tak kenal marga itu. Itu adalah marga Kishimoto Nami, seorang pengusahan nomor satu di Jepang. Dan dihadapan Nando, itu adalah putra tunggalnya. Lantas untuk apa dia kemari?
"Aku ingin menemui Chely."
"Kau siapanya?"
"Aku keka_" Melihat Nando yang nampak marah, Bilton menyeringai. "Calon suaminya."
What the hell!
Demi apapun! Bagaimana bisa Imoutonya yang manis itu berpacaran dengan orang sedingin es?!
Lavender Nando terpejam, ia harus pandai-pandai menetralkan emosinya. "Ku tanya sekali lagi. Kau siapa?"
"Aku Bilton Nami."
Sial.
Ia terjebak dengan pertanyaannya.
"Apa hubungan mu dengan Chely?"
Bilton masih nampak tenang, bahkan ia merogoh ponselnya. "Calon suami."
Amarah Nando makin memuncak, melihat Bilton malah memainkan ponsel. Dalam 21 tahun usianya, baru pertama kali ia di buat darah tinggi oleh pemuda yang bahkan belum 18 tahun. "Jangan bercanda."
To: Hime.
From: Me.
Aku sudah di ruang tamu rumah mu. Kau dimana? Jangan terlalu lama.
Send
Bilton mengangkat kepalanya setelah mengetik pesan. "Aku serius."
"Aku tidak mengizinkan kalian berhubungan."
Drrrtttt... Drrrttt...
Ponsel digenggaman Bilton bergetar.
From: Hime.
To: Me.
Bilton-kun sudah di bawah? Apa sudah lama menunggu ku? Aku sebentar lagi akan ke bawah.
Bilton tersenyum membaca pesan dari Chely. Ia kembali mengetik balas.
To: Hime.
From: Me
Aku belum lama. Aku menunggu mu. Aishiteru...
Send
Ia memasukkan kembali ponselnya.
Rahang Nando mengeras. Lihat! Pemuda pirang ini sungguh tidak sopan. Bukannya menjawab pertanyaannya ia malah memainkan ponsel.
"Apa? Aku yakin kau akan mengizinkannya, Nando-nii..." Bilton menyeringai.
Lavender Nando membulat. Telinganya terasa panas mendengar panggilan yang Bilton berikan. "Jangan memanggil nama ku!"
Bukannya menjawab, Bilton malah tersenyum ke arah tangga. Dan Nando semakin yakin, bahwa pemuda dihadapannya benar-benar gila.
"Nando-nii...?" Nando kenal suara ini, Chely.
Nando menoleh. Lavendernya membulat menatap Chely yang nampak sangat cantik hari ini, Imoutonya, mengenakkan dress di atas lutut berwarna merah maroon dengan motif bunga, sepatu kets putih casual yang senada dengan tas selempangnya. Nando tersenyum. "Ada apa?"
Chely menghampiri Nando. Ia duduk di sampingnya. "Nando-nii..."
"Hn?"
"Bo-boleh aku keluar rumah?"
Nando menoleh ke arah Bilton. "Dengan dia?"
Cheky mengangguk. "I-iya. Boleh ya..." Lavendernya memelas.
Sial.
Nando kalah jika Chely memasang ekspresi seperti itu. "Kau?!" Telunjuknya menunjuk hidung mancung Bilton.
"Hn."
"Jaga Chely baik-baik!"
Bilton tersenyum. "Akan kulakukan."
Nando mengalihkan pandangannya pada Chely. Ia tersenyum lembut sambil mengusap kepalanya. "Aku mengizinkan. Tapi ingat jangan pulang terlalu malam. Jika dia nakal pukul saja dengan jurus yang sudah kuajarkan."
Kening Bilton berkerut. 'Jurus apa?'
Chely mengangguk. "Arigatou Nando-nii..." Ia memeluk Nando, dan di balas usapan dikepalanya.
Nando menyempatkan melirik si pirang. Ia menyeringai. Melihat rahang Bilton mengeras.
Skakmat! Bilton cemburu.
Seakan belum puas, Nando melonggarkan pelukannya.
Cup.
Ia mengecup kening Cheky.
Panas!
"Sana pergi." Chely mengangguk. "Pirang! Jaga dia!" Chely berdiri.
"Hn." Bilton beranjak dari duduknya. Tangannya menarik Chely yang berada dihadapannya tapi terhalang oleh meja. Sehingga Chely harus memutari meja. Dan_
Cup.
Ia mengecup kening Chely saat gadis itu berada dihadapannya.
Muka Nando memarah. 'Berani-beraninya bocah ini...' Desisnya.
"Ittekimasu." Itu kata Bilton, Chely sendiri masih terdiam dengan wajah memerah.
"..."
Yeah... Sepertinya Nando masih syok dengan kejadian beberapa detik yang lalu.
...
"Bilton-kun. A-apa yang kau lalukan?"
Bilton melingkarkan lengannya di pinggang Chely. Mereka berjalan menuju pintu. "Mencium kekasih ku."
"Ta-tapi kenapa di_"
Bilton menyeringai. "Kening? Kau mau di bibir? Atau dimana?"
Wajah Chely memerah. "He-hentai!"
"A-aw... Sakit Chely." Tangan kiri yang tidak merangkul pinggang Chely, digunakan Bilton untuk mengusap-ngusap pinggangnya yang terasa panas akibat cubitan kekasihnya.
"Ja-jangan lakukan itu lagi dihadapan Nando-nii."
"Kalau di tempat sepi boleh?"
"Bi-Bilton-kun!"
...
Nando berkedip, entah sejak berapa lama ia mematung seperti orang bodoh. Lavendernya membulat, menyadari Chely tidak ada dihadapannya.
"Oi! RUBAH PIRANG! KEMBALIKAN ADIK KU!"
.
.
.
Bersepeda dengan kekasih mu memang hal yang paling romantis. Itu juga impian Bilton. Tapi... Menurutnya ini jauh dari kata romantis!
Tadinya ia setuju-setuju saja menyewa sepeda di Shimanami Kaido, tempat yang sangat cocok untuk bersepeda. Mana tahan ia melihat ekspresi memelas Chely.
Dengan senyum manis khasnya, Chely menariknya menuju tempat penyewaan sepeda. Banyak sekali jenis sepeda disana, apa lagi untuk sepasang kekasih seperti mereka. Ada yang bocengan depan, boncengan belakang, bahkan sepeda dengan dua kayuhan.
Bilton disana tersenyum jahil, ah! Ia membayangkan jika berboncengan dengan Chely menggunakan sepeda boncengan depan, ia bisa memeluk erat Chely. Atau! Boncengan belakang! Um.. Pasti Chely akan memeluknya dari belakang.
"Ji-san, kami sewa yang ini."
"Baiklah. Nona, kau yakin?"
Chely mengangguk. "Tentu. Arigatou Ji-san."
"Doita na..."
Nah! Ini dia, Bilton sangat penasaran! Pasti Chely memiih salah satu dari fantasy-nya, namun! Saat ia berbalik!
"Chely? Kau pilih yang ini?" Sapphirenya menatap horor sepeda yang di pilih Chely.
Chely mengangguk antusias. "Bagaimana? Bagus ya Bilton-kun?"
Bilton kembali menatap sepeda dihadapannya, sepedanya memang bagus berwarna putih. Namun! Hell! Ini sepeda dengan dua kayuhan.
"Kenapa pilih yang ini?" Jelas sekali nada Bilton terdengar tidak suka.
Chely menggigit bibir bawahnya. "Ti-tidak suka ya...?"
Bilton menghela nafas. "Aku suka. Ayo naik."
Untuk itulah ekspresi Bilton saat ini nampak tidak bersahabat. Apa yang ia takutkan benar terjadi, Chely memilih sepeda yang bukan impiannya. Dan yang paling parah Bilton takut rok Chely tersingkap. Untuk itulah ia melepaskan jaketnya dan meligkarkannya di depan perut Chely.
Sapphirenya melirik kanan-kiri, banyak sepasang kekasih seperti mereka yang bersepeda, tentu saja berbeda dengan sepeda yang mereka gunakan. Jujur saja, Bilton agak iri melihat orang lain berpelukan di sepeda.
'Cheky... Aku akan membalas mu.'
"Bilton-kun? Pemandangannya bagus ya?"
"Hn."
"Bilton-kun marah?"
"Tidak."
"Bilton-kun lelah?"
"Tidak."
"Bilton-kun lapar."
"Tidak."
Chely menggigit bibir bawahnya, pasti Bilton-kun marah. Pikirnya. Cheky tahu, Bilton tidak ingin mereka menggunakan sepeda ini.
"A-aku tahu Bilton-kun marah."
"..." Bilton menatap punggung kekasihnya.
"Aku juga ingin mengayuh. Jika Bilton-kun menggunakan sepeda yang lain, aku tidak akan ikut mengayuh."
Wajah Bilton agak melembut mendengar penuturun Chely. "Aku tidak marah." Ia mencubit pipi Chely.
"Bi-Bilton-kun, pegangan, bagaimana kalau kita jatuh?"
"Kalau jatuh itu salah mu."
"Bi-Bilton-kun!"
"Makanya, kayuh yang benar."
"Hai... Hai..."
Tentu saja Bilton tidak akan memaafkan Chely begitu saja. Ia sudah punya rencana untuk membalas kekasihnya.
"Be-berat..."
"Apa?"
"Bilton-kun, kenapa sepedanya jadi berat?"
"Mungkin kau kurang kuat mengayuhnya." Bilton berusaha menahan tawanya.
"Ti-tidak, aku mengayuh dengan kuat kok..."
"Ah, kau kurang kuat. Badan kecil saja pake sok-soan ingin mengayuh."
Bilton tahu Chely menggembungkan pipinya. "Ta-tapi tenaga ku kuat kok..."
"Masa? Dulu saja kau tidak kuat mendorong ku saat aku ingin mencium mu."
Blush.
Chely merona, ia ingat saat Bilton beberapa kali akan menciumnya. "I-itu.. Aku hanya ta-takut Bilton-kun te-terdorong terlalu jauh."
Bilton tentu saja ingin tertawa. "Alasan."
"Bi-Bilton-kun kenapa berat sekali...?"
"Aku'kan sudah bilang, kayuhlah yang kuat."
"Su-sudah." Di rasa sepedanya makin berat. Chely menghentikannya.
Ckittt...
Ia menghentikan sepedanya, kepalanya berusaha menoleh ke belakang meski susah. Pipinya menggembung, bibirnya mengerucut. Chely turun dari sepedanya.
Bilton, kekasih pirangnya itu tidak mengayuh sepeda. Hanya tangannya saja yang memegang stang, kakinya dibiarkan menggantung begitu saja, jangan lupakan wajahnya yang menahan tawa.
Bilton menghentakkan kaki kanannya. "Tuh, kan. Bilton-kun tidak mengayuhnya, pantas saja berat."
"Hey." Chely turun dari sepedanya. "Aku mengayuhnya."
"Tapi sekarang tidak."
"Itu karena aku sudah turun."
Pipi Chely makin menggembung. "Ma-maksud ku sebelum turun."
Bilton mencubit pipi Chely. "Ini balasan untuk mu."
"Ba-balasan?"
"Tentu. Kau sudah menghancurkan impian ku untuk berpelukan dengan mu sambil bersepeda."
Chely berkedip. "Ma-maaf..."
Bilton tersenyum. "Tak apa. Lagi pula aku sudah puas membalas mu." Bibir Chely mengerucut. "Ayo selesaikan bersepedanya, lalu pergi ke Ueno Park."
__ADS_1
Chely mengangguk antusias.
.
.
.
Ueno Park, salah satu taman terluas di Jepang. Taman ini menjadi incaran para turis dan juga warga lokal. Satu tahun sekali, taman ini akan menyuguhkan pemandangan bunga sakura yang bermekaran sepanjang jalan. Ya, saat musim semi.
Weekend seperti ini memang sedang padat-padatnya pengunjung di Ueno Park. Untung saja Bilton cepat kesana, jika tidak ia akan sulit masuk.
Lagi, Bilton tersenyum tipis melihat lavender Chely yang berbinar. "Kau suka?"
Chely mengangguk, ia tersenyum. "Aku suka, terima kasih telah mengajak ku kesini."
"No problem, Dear." Ia menggandeng lengan Chely. "Kita cari tempat yang bagus."
"Hu'um..."
Bunga sakura tumbuh dengan baik di Ueno Park, sangat disayangkan jika hanya musim semi saja bisa melihat bunga sakura. Kadang Chely berharap ia bisa melihat bunga sakura sepanjang tahun. Namun, manusia hanyalah mahkluk yang tidak pernah puas. Seharusnya mereka bersyukur bisa melihat apa yang mungkin tidak bisa dilihatnya 1 tahun kemudian, 1 bulan kemudian, 1 minggu kemudian, 1 hari kemudian, atau yang paling parah 1 jam kemudian.
Karena... Semua mahkluk yang ada di dunia ini tidaklah abadi, di dunia ini mereka hanya menanti satu hal. Kematian. Ya, mereka menanti itu. Jadi Chely harus bersyukur ia masih bisa melihat bunga sakura meski hanya pada musim semi.
Tapi.
Tunggu!
Dari mana Bilton tahu ia ingin ke tempat ini. Selama ini Cheky tidak pernah menceritakan hal ini pada siapapun.
"Bi-Bilton-kun?"
"Hm...?"
"Da-dari mana Bilton-kun tahu aku ingin kesini?"
Bilton menoleh dengan sebelah alis terangkat. "Intuisi."
"I-intuisi? Jangan ngarang." Cheky cemberut. Tapi ia masih menatap wajah Bilton dari samping, karena si pirang sendiri memalingkan wajahnya ke depan.
"Otak jenius ku bisa tahu apapun yang kau inginkan."
"Tidak nyambung."
Bilton mengangkat bahunya. "Aku akan selalu tahu apa yang kau inginkan." Alisnya terangkat, ia menoleh ke arah kekasihnya dengan seringai jahil. "Kau benar-benar ingin aku menyebutkan apa keinginan mu?"
Chely sebenarnya ragu, apa Bilton benar-benar bisa menebak apa yang ia inginkan. Kepala indigonya mengangguk ragu. "Y-ya, katakan saja."
Bilton berhenti berjalan, Chely juga refleks berhenti.
"Tapi jangan marah ya?"
"A-aku tidak akan marah. Cepat katakan Bilton-kun."
"Baiklah." Bibirnya mendekat ke arah telinga si gadis. "Kau sedang ingin ku hangatkan."
"..."
"..."
"He-hentai!"
"A-aw... Sakit Chely." Ia mengelus pinggangnya. Tangannya menggandeng tangan Chely. "Ayo cari tempat sepi."
"Bi-Bilton-kun!"
Bilton terkekeh. "Aku bercanda." Ia melirik Chely. "Jadi, apa yang kau inginkan?"
Chely menoleh dengan pipi yang menggembung. "Ka-katanya jenius, punya intuisi, tapi menebaknya saja meleset, dan malah balik tanya lagi."
"Hey... Hey... Aku gagal fokus."
"Huh?"
"Tentu. Habisnya kau cantik sekali hari ini."
Blush.
Chely merona.
"A-apa sih... Katanya mau cari tempat bagus."
"Iya... Iya..."
...
Tempat bagus yang di maksud Bilton ternyata duduk di bangku bawah pohon sakura. Chely akui ia memang memimpikan hal ini dari dulu. Duduk berdua di bawah pohon sakura dengan orang yang paling berharga setelah keluarga.
Kaki yang menggantung tidak menyentuh tanah ia goyangkan. "Apa Bilton-kun kehabisan es krim? Kenapa lama sekali...?"
"Atau jangan-jangan ia tersesat?" Chely menggeleng.
"Apa ia ke toilet dulu." Bahunya di angkat.
"Atau... Bilton-kun menemui gadis lain." Chely kembali menggeleng dengan wajah cemberut.
"Aku memang menemui gadis lain."
"A-apa?" Chely menoleh. Ternyata Bilton sudah duduk disampingnya dengan dua cone es krim.
Bilton mengangguk. "Iya, aku menemui gadis lain."
"Ja-jangan bercanda."
Chely memalingkan wajah ke depan dengan tangan yang saling meremas. "Ka-kalau begitu, temani saja dia."
Bilton menghela nafas. "Kalau aku menemani dia, lalu kau bagaimana?"
"A-aku tidak apa-apa. Cepatlah dia menunggu Bilton-kun." Merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya, Chely menoleh.
"Kau ini." Bilton tertawa pelan. "Tidak mungkin aku meninggalkan mu dan berkencan dengan Ba-san penjual es krim."
Kelopak mata Chely berkedip. Ia salah tingkah. "Te-terserah saja." Ia mengambil es krim yang ada dipipinya.
Bilton tersenyum tipis, ia membuka es krimnya. Lidahnya menjilat es krim, meresapi rasa yang keluar dari es krim rasa vanilla yang ia makan. Meski menikmati es krim yang ada digenggamannya, sapphire Bilton juga menikmati pemandangan disebelahnya.
Chely.
Ah, nama itu selalu membuat hati Bilton sejuk saat menyebutkannya. Ia menarik sudut bibirnya, Chely nampak cantik hari ini. Apa lagi rambutnya di buat sedikit bergelombang, dress merah maroonnya sangat kontras dengan kulitnya yang putih pucat. Sepatu kets casual putih membalut kaki mungilnya. Ah... Betapa cantiknya kekasihnya.
Cekrek.
Cheky menoleh. Lavendernya membulat, melihat Bilton yang memegang ponsel dengan kamera yang diarahkan padanya. "A-apa yang Bi-Bilton-kun lakukan."
Cekrek.
"Memfoto mu." Bilton tertawa, melihat lavender Chely yang membulat diponselnya.
"Bi-Bilton-kun, jangan!"
"Lho? Kenapa?"
Cekrek.
Cheky kembali kelabakan, refleks ia menutup wajahnya. "He-hentikan Bilton-kun."
"Apa? Aku tidak dengar."
Cekrek.
"Bi-Bilton-kun!" Chely menurunkan telapak tangannya. Pipinya menggembung kesal. "He-hentikan."
Cekrek.
Bilton kembali tertawa melihat pipi Chely yang menggembung. "Bakpao. Kau seperti bakpao."
Bibir Chely mengerucut. "He-hentikan!"
"Baik... Baik..."
Cekrek.
Lavender Chely membulat lagi saat Bilton mengambil foto bibirnya yang mengerucut.
Tanpa mempedulikan Chely yang kesal, Bilton malah tertawa sendiri dengan ponsel silvernya. "Chely lihat."
"Ti-tidak mau!"
"Ah... Jangan begitu." Ia menarik pinggang Chely, sehingga mereka duduk merapat. Lengan Bilton juga melingkar di pinggang sebelah kiri Chely. "Lihat... Chely. Kau seperti 'bakpao'."
Chely makin cemberut. Lavendernya membulat saat melihat foto dirinya yang menggembungkan pipinya.
"Hey!" Refleks Bilton menjauhkan ponselnya saat Chely akan merebutnya.
"Berikan Bilton-kun! Aku harus menghapusnya."
"Tidak! Ini milik ku."
"Ta-tapi aku tidak mengizinkannya."
"Aku tidak perlu izin mu."
"Bi-Bilton-kun kembalikan!"
"Tidak."
"Kembalikan."
"Tidak."
Chely makin cemberut. Bibirnya menyeringai jahil. "Rasakan."
Chely berkedip. Merasakan dingin di ujung hidung mancungnya. Tangannya terangkat menyentuh ujung hidungnya. Sapphirenya melotot melihat es krim strawberry mengotori ujung hidungnya. "Chely... Beraninya kau... Kemari kau Chely!"
Chely menutup wajahnya dengan telapak tangan. "Tidak mau."
"Hey! Hey! Jangan tutup wajah mu."
"Tidak mau."
"Aw..."
"E-eh. Bilton-kun kenapa?" Chely menurunkan tangannya. Ia menatap khawatir Bilton yang memegang kepalanya.
"Kepala ku sakit..."
"A-apa benar?" Dengan wajah khawatir, Chely menggeser duduknya. "Ma-mana yang sakit?"
"Sakit..."
"I-iya, mana yang sakit?"
Bilton menyeringai. "Ini yang sakit!"
Chely berkedip. Pipi tembamnya terasa dingin, ia menyentuh pipinya. "Bi-Bilton-kun!" Pekiknya saat menyadari bahwa pipinya dinodai es krim vanilla Bilton.
Bikton kembali tertawa. "Kita impas."
"Ma-mana bisa!"
Bilton berdiri, ia menarik lengan Chely. "Ayo cuci muka."
...
Chely masih memasang wajah cemberut saat keluar dari Ueno Park. Ia masih kesal dengan kejadian yang tadi, baru saja kekesalannya akan hilang. Sekarang Bilton malah mengajaknya pulang dengan alasan sudah sore, padahal masih pukul 3 sore. Ueno Park juga masih ramai.
Padahal ia masih ingin menikmati Ueno Park, masih banyak yang ingin Chely lihat. Memang, setelah insiden es krim tadi, mereka sempat berkeliling. Namun baru setengah jalan Bilton sudah menyuruhnya pulang.
Bilton menghela nafas, saat keluar Ueno Park sampai saat ini mereka di dalam mobil, Chely terus saja diam. Sapphire birunya melirik Cheky. "Kau marah?"
"Tidak."
"Masih ingin disini?"
"Tidak."
"Kau lapar?"
"Tidak."
Mana mungkin Chely kembali lapar, mereka'kan sudah makan siang. 'Bilton no Baka!' Rutuknya.
Bilton makin pusing, saat Chely meresponnya dengan kata-kata singkat yang ia ucapkan saat mereka bersepeda di Shimanami Kaido.
Bilton menstarter mobilnya dan itu membuat bibir Chely mengerucut.
"Aku akan mengajak mu ke suatu tempat."
Chely menoleh. "Kemana?"
"Nanti kau akan tahu." Sudut bibirnya membentuk senyum simpul saat Chely meresponnya.
"Hu'um."
Sapphire Bilton melirik Chely. "Kau masih marah?"
Chely tersenyum. "Aku tidak marah."
"Good girl, Baby."
.
.
"Kenapa kesini?" Lavender Chely berkedip melihat toko boneka besar dihadapannya.
"Tentu saja, kita mau membeli boneka."
Chely menoleh. "Untuk siapa?"
Bilton menoleh. "Untuk Aron."
"Jadi Aron-san suka boneka? Dan ia akan ulang tahun?"
Bilton ingin tertawa, mungkin ide Chely tidak buruk juga. Ia harus mencoba memberi kado untuk Aron. Boneka ayam bagus untuk si Teme, pikirnya.
Tak!
"Ugghh... Sakit."
"Tentu saja untuk mu."
"Huh?"
"Iya... Ini untuk mu, nanti jika kau rindu pada ku kau bisa memeluk bonekanya."
Blush.
Chely merona.
"Ayo masuk." Ia menggandeng lengan Chely.
...
"Mau yang mana?"
Chely menggeleng dengan mata berbinar. "A-aku tidak tahu mau yang mana, bonekanya banyak sekali."
"Ya sudah pilih yang benar."
"Hu'um..." Chely berjalan menuju rak disebelahnya. "Bilton-kun lihat..."
Bilton mendekat. "Astaga Chely, kau mau beli boneka naga?"
Cheky tertawa. "Tidak." Ia mengambil boneka dari rak lalu menggoyang-goyangnya dihadapan Bilton. "Dia mirip Bilton-kun yang selalu marah."
"Apa kau bilang?"
Chely berkedip, ia menaruh bonekanya kembali. "Iya... Aku mengatakan fakta."
Chely kembali berjalan, dengan Bilton yang setia mengekorinya. Bilton menghela nafas, mereka sudah menghabiskan 20 menit untuk mencari boneka yang pas dengan Chely. Tapi gadis berpipi tembam itu malah berkeliling kesana kemari dengan alasan ingin mencari boneka lucu.
"Bilton-kun lihat!"
Sapphire Bilton memutar, ini sudah kesekian kalinya Bilton memekik girang. "Iya, apa?"
"Yang ini juga mirip Bilton-kun."
"Chely? Kau menyamakan ku dengan gajah?" Sapphirenya melotot menatap boneka gajah yang terlihat imut.
Bibir Chely mengerucut. "Bilton-kun itukan suka sekali menindas ku."
"Iya... Aku'kan sudah berubah."
Chely mengangguk. Lavendernya melirik ke kanan. "Bilton-kun?" Ia menarik lengan jaket Bilton.
"Hn?" Bilton mengangkat sebelah alisnya saat Chely tertawa.
"Ini lebih mirip Bilton-kun..."
Sapphire Bilton kembali melotot. "Chely? Kau..."
Chely menoleh dengan mata berkedip lucu. "Bilton-kun'kan mirip rubah."
"Chely..." Suara Bilton merendah.
Refleks Chely menutup mulutnya, ia keceplosan!
"A-ano, e-eto_"
"Kau melanggar janji mu."
"Bi-Bilton-kun a-ano_" Lavendernya melirik kanan kiri. Chely memekik. "Aku mau yang itu!"
Chely menoleh. "Yang mana?" Sepertinya mereka melupakan ketegangan yang tadi.
"Aku mau beruang coklat."
Bilton tersenyum melihat boneka beruang dengan syal yang melingkar dilehernya. Boneka itu berukuran seperti anak 5 tahun. "Iya, kita ambil yang itu." Ia mengambil boneka yang ada di rak atas.
Chely memeluk boneka beruang yang di ambil Bilton. Ia tersenyum. "Arigatou."
Bilton mengangguk. "Setelah ini kita pulang, aku tidak mau kena masalah karena memulangkan mu terlalu sore."
"Hu'um."
.
.
.
.
To Be Continued
__ADS_1