Cinta Adalah Perasaan

Cinta Adalah Perasaan
Episode 7


__ADS_3

Flashback 2 years ago


.


.


.


.


"Kyyaaa mereka keren sekali.."


"Ayo Bilton-kun~ ganbatte.."


"Aron-kun."


"Maykel-kun, Rio-kun, Orlan-kun i love you..."


Teriakan menggema di lapangan basket indoor Onizuka Junior High School, salah satu sekolah elit di Tokyo. Sekarang Onizuka Junior High School dijadikan sebagai tuan rumah basket antar sekolah. Perlombaan basket ini selalu diadakan setiap satu semester sekali, dan sekarang Onizuka junior high sedang mengadakan babak final melawan Suna Junior High.


"Over bolanya Maykel!"


"Yo, Bilton ini bolanya!" Pemuda yang di panggil Maykel itu melempar bola basket ke arah Bilton.


Hap.


Ditangkaplah bola bergaris orange itu.


Dug... Dug... Dug...


Sapphire sebiru samudra Bilton menatap tajam ring basket 3 meter dihadapannya. Tidak peduli dengan peluh di wajah tannya, Bilton hanya meneriakan satu kata dihatinya 'Berhasil!'


Dan_


Syutt..


"Yoshhh aku berhasil." Teriaknya dengan cengiran lima jari yang ia miliki.


"Kyyyaaaa kita menang!"


"I love you Bilton-kun..."


"Kau hebat Kitsune!" Rio merangkul pundak Bilton.


Aron, Orlan, dan Maykel menghampiri pemuda pirang yang di rangkul Rio. Mereka ingin memberikan rasa terima kasih pada sahabat pirangnya itu, karena berkat Bilton Onizuka menang.


"Ck, Baka Dobe."


Kepala pirang Naruto menoleh. "Apa sih Teme?! "


Bletak.


"Aw... Apa yang kau lakukan Teme?!"


"Itu tanda selamat dari ku."


Bibir Bilton mengerucut. "Lebih baik kau tak mengucapkannya."


Sontak semua orang tertawa.


"Bilton?"


Bilton menoleh. "Eh? Iru-sensei?" Ia menyapa guru olahraganya.


"Arigatou, berkat mu kita menang." Ya, kerena memang Bilton yang mencetak point paling banyak.


Tengkuk yang tidak gatal itu ia garuk, tidak lupa cengiran lima jari khasnya. "A-ah Sensei, ini juga berkat yang lain kok."


"Tentu, mungkin Bilton sedang beruntung."


"ZOMBIE! Awas kau, dari tadi kau hanya tersenyum, mana senyum mu palsu."


Rio masih tersenyum aneh. "Ini manis Kitsu-chan."


"Kau_"


"Sudah.. Sudah.. Kita foto. Ayo Bilton, kau kaptennya."


"Hai."


Tanpa mereka ketahui seorang pemuda menatap kejadian itu dengan tatapan membunuh.


...


"Ayo siap semuanya?!"


"Hai!"


1


2


3


Cekrek (saya nggak tahu nama kameranya apa, yang tahu harap kasih tahu)


Keluarlah foto pemain basket Onizuka. Bilton Nami sang kapten basket tersenyum dengan cengiran lima jarinya, tidak lupa kedua tangan yang memegang piala. Aron hanya berpose cool, Rio tersenyum palsu, Orlan tersenyum tipis, dan Maykel menampakan cengiran dengan gigi taringnya.


.


.


"Shit!" Entah sudah ke berapa kali pemuda ini mengumpat. Ia kesal, sudah beberapa kali bertanding basket dan ia selalu jadi runner up. "Shit! Shit! Shit!"


Dugh.


Sebagai pelampiasan amarahnya, tembok malang dihadapannya ia pukul, tidak peduli dengan tangannya yang nanti akan memar.


"Sudahlah Aoi. Mungkin kita belum beruntung."


Jade Aoi menatap tajam Kimetsu. "Apa kata mu?! Sialan, jika saja tadi kau tidak telat! Mungkin kita akan menang!"


"Ck, jadi kau menyalahkan ku hah?! Jika kau tidak meninggalkan ku aku tidak akan terlambat! Makanya jangan sok pahlawan! Jika pada akhirnya kau kalah!" Tadi sebelum berangkat Kimetsu dan Aoi sempat bertengkar, lalu Aoi meninggalkan Kimetsu dengan dalih bisa menang melawan Bilton.


"Sailan kau!" Pemuda bersurai merah itu mencengkram kerah seragam basket Kakaknya. Tangannya yang sudah mengepal siap dilayangkan. Dan_


"Hentikan Aoi-kun!" Sepasang tangan putih mencengkram tangannya.


Aoi menoleh. "Miku?"


"Hu'um. Meski kita gagal kali ini, semester depan masih bisa." Gadis bernama Miku itu tersenyum ke arah Aoi.


Aoi menghempaskan Kimetsu. "Kau benar. Tapi kita harus membuat kapten Nami itu tidak fokus pada rencananya."


"Aku setuju." Timpal Kimetsu.


"Dan aku punya ide." Aoi menoleh ke arah Miku.


"Apa ide mu Baby?" tanya Aoi ke pada kekasihnya.


.


.


.


"Apa?!" Aoi dan Kimetsu berteriak setelah mendengar ide Miku.


"Tidak, Miku tidak! Apa kau sudah gila?! Kau itu kekasih ku!"


Miku menghela nafas, ia memang sudah menduga akan begini jika ia mengutarakan idenya. Miku mendekat ke arah Aoi, lalu tangannya menggenggam tangan pemuda bersurai merah itu. "Dengar Aoi-kun, hanya kau yang ku cintai, aku hanya menjadikannya jembatan menuju kehancuran tim basketnya. Jika kaptennya gagal, sudah dipastikan anggotanya pun akan hancur."


Aoi menatap amethys Miku dalam-dalam, mencari kebohongan di balik ide gila sang kekasih. Ia sempat terkejut berat, saat Miku mengatakan akan menjadi pacar Bilton, berselingkuh secara terang-terangan dihadapannya, katanya untuk mengecoh konsentrasi Bilton.


"Apa... Kau yakin?"


"Of course Baby. Aku yakin, hanya kau yang ku cintai."


Dengan berat hati Aoi mengangguk. "Aku percaya pada mu."


"Umm arigatou."


"Ingat! Jangan sampai kau jatuh cinta padanya!"


"Tentu!"


Lalu_


Cup.


Aoi mengecup pipi Miku.


.


.


.


2 week later


September, dimulainya ajaran baru semester ke dua. Pagi ini memang udara cukup dingin, karena akan memasuki musim gugur. Bilton Nami, pemuda dengan surai pirang, melangkahkan kaki dengan semangat ke arah halte bus. Untuk apa? Tentu saja menunggu bus dan tebar pesona di tahun ajaran baru. Berhasil! Rencananya selalu saja berhasil, Bilton Nami memang memiliki pesona yang kuat.


Kepala pirangnya menoleh, disana, di bangku halte ada yang menarik perhatiannya, gadis berambut pirang pucat yang sedang sibuk dengan ponselnya seakan-akan hanya ada dia disana.


Bilton mendekat ke arah gadis berambut pirang. "Ehem!" Ia berdehem ringan, dan berhasil mengalihkan perhatian gadis itu.


Miku menoleh. "Ya?"


"Boleh aku duduk disini?"


Miku terseyum tipis. 'Lihat Aoi-kun, baru segini saja aku sudah berhasil.' Kepala pirang pucatnya mengangguk. "Tentu."


"Arigatou." Cengiran lima jari Bilton tampilkan. Tengkuk yang tidak gatal itu ia garuk.


"Ano... Aku seperti belum pernah melihat mu."


Miku mengalihkan pandangannya dari ponselnya. "Aku baru pindah rumah, dan aku siswi Suna Junior High."


'Tepatnya Aoi-kun yang mengantarkan ku pagi tadi.'


Mulut Bilton membulat membentuk huruf 'o'


Disanalah awal perkenalan mereka. Saking akrabnya keduanya mengobrol, mereka sampai bertukar nomor ponsel.


.


.


"Kitsune?"


Bilton menoleh. "Apa sih Maykel?"


"Bagaimana jika kita berlima membuat nama. Semacam geng atau group."


Alis pemuda pirang itu menukik. Kemudian bibir tipisnya tersenyum.


"Boleh juga, apa namanya?"


"Kalau mau. Harus ada angka lima."


"Yo, Aron benar." Rio tersenyum.

__ADS_1


"5 Maykel's."


Bilton memasang muka jijik. "Apa?! Mana sudi!"


"Biasa saja kau!"


"Mana mau nama geng_"


"_5."


"X5."


Hening.


Bilton, Aron, Maykel, dan Rio, menoleh ke arah Orlan yang sedang tiduran di atap sekolah. "X5?" Gumam Rio.


Mata yang tadinya menutup ia buka. "Ya itulah nama geng kita."


Semua tersenyum. "Aku setuju!"


.


.


.


Bosan. Maykel sungguh bosan, siang ini ia kesepian. Aron sibuk dengan headphonenya, Rio dengan lukisannya, Orlan dengan mimpi indahnya. Ia melirik ke arah pemuda pirang yang duduk tak jauh didekatnya.


Alis Maykel mengernyit, melihat Bilton yang senyam-senyum sendiri. 'Apa si Kitsune sudah gila?', pikirnya. Sampai ia semakin merasa yakin bahwa Bilton benar-benar tidak waras karena_


"Yeyyyyy." Aron, Orlan, Rio, dan Maykel, menoleh ke arah Bilton yang sedang lompat-lompat sambil memegang ponsel.


"Kau kenapa Dobe?" Aron adalah orang yang pertama buka suara.


"Teme! Aku mencintai mu~" Tanpa di duga Bilton memeluk Aron erat, dan membuat ke tiga orang di sana melongo.


Aron mendorong Naruto. "Kau gila Dobe?!"


"Ya. Aku sudah gila, cinta ku di terima."


Tunggu? Cinta? Sejak kapan? Bukankah terlalu dini untuk mengenal cinta di usia 15 tahun?


"Cinta? Cinta apa? Dan siapa yang kau suka?"


Pemuda pirang itu menoleh ke arah Orlan. Lalu tersenyum lebar. "Miku. Aku sudah mengenalnya 2 bulan lalu. Dan aku baru pacaran."


.


.


.


Semua anggota club basket sibuk mempersiapkan perlombaan final basket 3 bulan lagi, meski itu masih lama, tapi tim basket Onizuka Junior High sudah menyiapkannya. Tentu saja, karena mereka masuk babak final, seperti biasa lawannya... Suna Junior High.


"Kau mau kemana Kitsune? Sebentar lagi latihannya di mulai?"


Kepala pirangnya menoleh ke arah Maykel, lalu menoleh kembali ke arah pintu loker yang tadi ia buka.


"Clam down Maykel, nanti juga kembali. Miku bilang hari ini aku harus menjemputnya, dia ada club hari ini."


"Ck, terserah." Maykel melengos pergi.


Bilton hanya menatap punggung Maykel yang menjauhinya.


Drrrttt... Drrrttt...


Pemuda pirang itu merogoh ponselnya.


From: Miku-chan.


To: Me.


Bilton-kun dimana?


Senyum lebarnya nampak, saat mendapat pesan dari kekasihnya, cinta pertamanya, orang yang telah menipunya, demi menjadikan Aoi seorang pemenang.


To: Miku-chan.


From: Me.


Tunggu aku Miku-chan, aku sedang di jalan.


Senyum lima jari ia tampilkan. Melihat beberapa detik kemudian, balasan dari sang kekasih tiba.


From: Miku-chan.


To: Me.


Bagaimana jika kita ke Tokyo Land?:)


Tanpa ia ketahui, di sebrang sana, Miku tersenyum licik.


From: Bilton-kun.


To: Me.


Oke. Tunggu aku :*


"Lihat Aoi-kun, aku berhasil."


Aoi mengelus rambut Miku. "Ku percayakan pada mu."


...


"Kemana Bilton?" Tanya Orlan saat melihat Maykel memasuki lapangan basket indoor.


"Mana ku tahu, sibuk mungkin dengan pacar barunya."


"Siapa nama kekasihnya?"


Rio menoleh. "Miku. Anak Suna Junior High."


"Kau kenal dia, Lan?" Aron menatap ke arah Orlan yang sedang memikirkan siapa kekasih Bilton.


"Entahlah..."


Miku... Miku... Miku...


Ah ya!


"Bukankah dia orang yang pas itu didatangi Aoi, bahkan Aoi juga memanggilnya Miku saat break main basket. Bahkan, dia meminta minum saat itu."


Aron, Rio, dan Maykel terdiam. Mencoba mencerna apa yang dikatakan Orlan. Otak jenius Orlan memang tak perlu diragukan.


"Mungkin dia manager tim basketnya."


"Tidak mungkin, Rio. Jika dia manager tim basketnya. Mana mungkin mengambilkan minum hanya untuk Aoi saja."


"Apa... Dia kekasihnya?"


Orlan menoleh ke arah Aron. "Entahlah, kita harus mencari tahu. Jika benar, untuk apa dia menjadi kekasih Bilton."


.


.


.


"Bianglalanya seru sekali!"


Bilton menoleh ke arah gadis disampingnya. "Tentu saja."


"Ne, Bilton-kun?"


"Hm?" Bilton menatap Miku yang sedang memakan permen kapas.


"Apa Bilton-kun tidak latihan basket?"


"Biasanya sih. Tapi aku malas sekarang. Lagi pula masih lama. Miku-chan'kan lebih penting." Ia tersenyum lima jari.


"Apa menyusun strategi basket itu sulit?"


"Emm... Entahlah... Lagi pula itu_" Bilton termenung. Kenapa jadi membahas ini, pikirnya. Ia menoleh ke arah Miku, alisnya bertautan. "Kenapa kita membahas ini?"


Miku tersenyum kikuk. "A-ano, tidak apa-apa. A-aku ke toilet dulu."


...


"Hampir saja." Batin Miku. Ia merogoh ponsel di tas selempang miliknya.


Jemarinya mengklik tombol kontak_


Aoi-kun calling


Tut... Tut... Tut...


"Hallo, Baby?"


"Ya. Aoi-kun. Aku dapat informasi, dia selalu latihan dari sekarang. Dan... Saat ku tanya bagaimana menyusun strateginya, Bilton tidak mengatakannya."


Di sebrang sana Aoi menggertakan giginya. "Arigatou untuk infonya Baby. Baik-baiklah dengannya. Aishiteru."


"Aishiteru yo, Baby."


Klik.


.


.


.


"Yo. Senang berbisnis dengan mu Omoi"


"Aku juga. Aku pergi dulu, Orlan!" Pemuda berkulit gelap itu melambaikan tangannya.


...


"Kau dapat infonya Lan." Rio melirik Orlan melalui ekor matanya.


Orlan mengangguk. "Ya." Ia membuka amplop yang baru saja diterimanya dari Omoi–kerabatnya yang sekolah di Suna Junior High–alisnya mengernyit, melihat begitu banyak foto di dalam amlop yang diberikan Omoi.


"Apa isinya?" Aron menghampiri Orlan yang entah kenapa malah berdiri di dekat kursi setelah melihat isi amlop coklat dari Omoi.


"Isinya_"


Maykel dan Rio yang juga penasaran menghampiri Aron dan Orlan yang berdiri kaku di dekat kursi panjang atap sekolah.


"Isinya apa sih?! Jangan buat aku penasaran!" Sembur Maykel. Tangannya ia rentangkan menyusup diantara Aron dan Orlan.


Mata Maykel membulat. "I-ini_"


"Ini apa?" Rupanya sekarang Rio juga bertindak tidak sabaran. Buktinya, pemuda pucat itu merebut amplop yang di pegang Maykel.


"Mi-Miku dan Aoi... Sepasang kekasih?" Mata onyxnya menatap lekat pada foto-foto yang tadi ia keluarkan. Terlalu banyak foto Miku dan Aoi disana. Ada yang sedang makan, bergandengan tangan, berangkat sekolah bersama, saling meyuapi, dan yang membuat mereka yakin yaitu saat Aoi mencium pipi Miku.


Setelah kecurigaan Orlan beberapa waktu yang lalu, mereka sepakat untuk menyelidiki Miku. Menggunakan jasa Omoi, kerabat Orlan yang sekolah di Suna Junior High. Dan, tidak sia-sia mereka melakukan itu, hasilnya memuaskan mereka tahu kebenarannya. Miku dan Aoi sepasang kekasih.


"Bilton. Apa dia benar-benar di tipu?"


"Sepertinya ya, Rio."

__ADS_1


Aron memandang datar foto di tangan Rio.


"Lalu, apa tujuannya menjadikan Bilton yang ke dua?"


"Dan. Apakah Aoi tahu Miku mendua?"


Orlan menghela nafas. "Entah. Kau benar Maykel. Ada kemungkinan dia tahu dan tidak."


"Kita harus selidiki lagi."


.


.


.


"Bilton?"


Kepala pirangnya menoleh. "Eh. Kalian?" Ucapnya setelah menoleh melihat kawannya.


"Sedang apa?" Sekedar basa-basi, Orlan duduk di hadapan Bilton di ruang ganti.


"Tidak ada." Bilton memasukan ponselnya ke dalam tas hitam di samping.


"Ada yang ingin kami bicarakan."


Alisnya mengernyit. Melihat Aron yang entah kenapa tampak sangat datar dari biasanya. Seperti memendam kekesalannya, memang ada apa?, pikirnya.


Bilton tersenyum lebar. "Apa sih? Kalian seperti menginterogasi ku saja." Sedikit candaan Bilton ucapkan.


"Ini." Sapphire birunya menatap amplop coklat yang diangsurkan Aron.


"Apa ini?"


"Buka saja." Rio menatap Bilton yang kebingungan.


Sedikit penasaran, Bilton membuka amlop coklat yang diberikan Aron. Sapphirenya membulat. Melihat begitu banyak foto kekasihnya dengan Aoi–saingan basketnya– hatinya panas, darahnya seolah berdesir. "Apa ini?" Suara Bilton terdengar dingin.


Aron, Orlan, Rio, dan Maykel, tersentak mendengar nada suara Bilton yang selalu ceria, mendadak dingin. "Miku dia_"


"Kalian menipu ku?!" Kepala Bilton mendongkak menatap Aron.


Sapphire dan onyx saling beradu. "Ck, Dobe. Dengar du_"


Bilton mendesis. "Sudah ku duga. Kalian tidak suka aku pacaran?!" Manik sapphirenya menatap satu persatu sahabatnya. "Sikap kalian berubah! Memang apa salah ku?!" Sahabatnya memang berubah sikap semenjak ia punya kekasih. Jika Bilton membicarakan Miku, mereka mengalihkan pembicaraan atau bahkan pergi.


Amarah Maykel memuncak. Tanpa aba-aba ia maju ke arah Bilton. Tangannya medorong tubuh sahabat pirangnya itu beradu dengan tembok. Lalu Maykel mencengkram kerah baju basket Bilton. "Kau itu bodoh ya?! Miku dan Aoi itu pacaran! Bahkan sudah 1 tahun!"


Deg!


"Dia manager basketnya Maykel!"


Hening.


Orlan menghela nafas. Ia sudah menduga, pasti itu alasan Miku untuk dekat dengan Aoi, yang notabene kekasihnya.


"Bilton?" Bilton menoleh ke arah Orlan.


"..."


"Dia benar-benar kekasih Aoi."


Tangan tan Bilton menghempaskan tangan Maykel yang mencengkramnya.


"Bicara apa kalian ini?! Jangan bercanda! Dia itu managernya!"


"Bilton!" Rio yang tadinya bungkam buka suara. Ia sudah kesal melihat Bilton membela Miku yang sudah terbukti salah. Sudah jelas foto itu membuktikannya. Aoi menggandeng Miku, menyuapi, kencan, dan satu hal yang Bilton lupakan... Yaitu foto Miku yang di cium Aoi. "Ku kira kau jenius." Ya. Kemana sahabat pirangnya yang jenius?


"..."


"Kau tertipu oleh gadis hingga seperti ini? Keh, menggelikan." Aron tersenyum remeh.


"..."


"Itu kami yang menyelidiki." Orlan menjelaskan secara gamblang bahwa ia, Aron, Maykel, dan Rio yang menyelidikinya. Sesudah kecurigaannya terhadap Miku seminggu yang lalu, mereka membuntuti Miku di Suna Junior High.


"Aku pergi–" Ucapnya.


Dan_


Blam.


Pintu ruang ganti di banting Bilton.


"Apa persahabatan kita akan hancur?" Maykel menggumam lirih.


"Aku harap tidak. Sekarang aku percaya istilah, cinta itu buta." Rio menepuk bahu Maykel.


Aron menghela nafas. "Hm. X5 baru di bentuk 3 bulan lalu."


Orlan mengangguk. "Dan... Ini pertengkaran pertama kita selama 8 tahun."


.


.


.


Pemuda pirang itu megusap kasar wajah tampannya.


"Kuso!" Umpatan itu sudah sekian kalinya ia umpatkan. Kepalanya pusing, sudah satu minggu ia dan sahabatnya tak saling bertegur sapa. Dan yang membuat ia jengkel. Seminggu pula Miku sulit di hubungi.


Tangan Bilton mengambil ponsel yang ia lempar sembarang arah di kasur king sizenya. Jemarinya mengklik tombol kontak lalu_


Miku-chan calling.


Tut... Tut... Tut...


Tut... Tut... Tut...


"Sorry the number_"


Klik.


"Kusooo!"


'Kau itu bodoh ya?! Miku dan Aoi itu pacaran! Bahkan sudah 1 tahun!'


'Dia benar-benar kekasih Aoi.'


'Ku kira kau jenius.'


'Kau tertipu oleh gadis hingga seperti ini? Keh, menggelikan.'


'Itu kami yang menyelidiki.'


"Ck," Berdecak sebal mengingat perkataan sahabatnya. Bilton agak ragu dengan apa yang dikatakan sahabatnya. Selama 1 bulan menjadi kekasih Miku, Bilton nyaman-nyaman saja. Tapi... Saat mereka kencan, Miku selalu membicarakan tentang basket. Jika di tanya kenapa? Miku menjawab, 'Aku hanya menyukainya.'


Bilton menggulingkan tubuhnya jadi tengkurap. Tangannya mengacak surai pirang yang sudah tak berbentuk. "Kuso! Kenapa dengan mereka?"


Meraba kembali permukaan kasur, guna mencari ponsel. Jemari tannya mengetik pesan.


To: Miku-chan


From: Me


Kita bertemu di cafe dekat Suna Junior High besok. Pukul 13:00 tepat.


Send


..


Kebetulan besok hari minggu ia free. Apalagi setelah pertengkaran dengan sahabatnya. Mereka sudah tak saling menghubungi, tak saling berkumpul di basecamp. Jujur saja, dalam hatinya ada perasaan rindu terhadap Orlan yang hobby tidur, muka datar Aron, senyum aneh Rio, dan berdebat dengan Maykel.


"Aku rindu kalian." Gumamnya.


.


.


.


"Kita kencan besok ya Aoi-kun~"


Aoi menoleh ke arah Miku. Lalu tersenyum. "Tentu Baby."


"Bagaimana jika di cafe dekat Suna Junior High?"


"Tentu. Apapun yang kau inginkan Baby."


Drrrttt... Drrrttt...


Shion merogoh ponsel di saku roknya.


From: Bilton-kun


To: Me


Kita bertemu di cafe dekat Suna Junior High besok. Pukul 13:00 tepat.


Manik amethys Miku membulat. "A-Aoi-kun?"


"Ya. Baby?"


"Ja-jangan ke cafe sana saja ya?"


Alis imajiner Aoi mengernyit. "Kenapa?"


"A-aku di ajak ke sana oleh Bilton. Sudah seminggu ini aku lost contact dengannya. Karena aku menghabiskan waktu dengan mu."


Gigi Aoi saling beradu. "Pukul berapa?"


"13:00 tepat."


"Kita bisa pergi ke sana pukul 11:00, kan?"


Senyum Miku mengembang. "Tentu."


Dan_


Cup.


Aoi mengecup pipi kekasihnya.


.


.


.


.


To Be Continued


Halooo Hallooo


maaf lama yaa soalnya jaringannya jelek hiks huhu jringanku jelek hiks....


Bilton : sudahlah thor, lanjut aja


Chely : yaa yaa lanjut, soalnya aku juga penasaran untuk masalalunya Bilton-kun jadi lanjutttt^Δ^

__ADS_1


Bilton : (wajah pucat)


__ADS_2