
Rumah Nami
.
.
.
Pemuda pirang itu menatap cermin untuk memastikan penampilannya sekali lagi. Senyum miring di bibir tipisnya nampak. "Kau memang tampan Bilton Nami."
Tentu Bilton sangat cool dan tampan hari ini. Celana jeans hitam dipadukan kaos abu dan jaket berbahan jeans berwarna biru pudar menambah kesan cool, belum lagi sepatu kets abu-abu.
"Waktunya berangkat."
Kaki jenjang berbalut jeans hitam itu menuruni tangga megah mashion. Sampai ia belok ke arah ruang makan. Senyum tipis dibibirnya nampak saat melihat ke dua orang yang paling disayanginya sedang bercengkrama di meja makan.
"Ohayou Tou-chan, Kaa-chan."
Kushi menoleh, manik violetnya berbinar melihat sang putra yang terlihat sangat tampan. "Ohayou mo, wahh... Bil-chan tampan sekali..."
"Ohayou mo. Pagi-pagi sudah rapi, mau kemana?" Pria paruh baya bersurai kuning itu melipat koran pagi yang dibacanya, lalu menaruhnya di samping.
"Aku ma_"
"Ya ampun! Jangan-jangan Bil-chan akan menjemput menantu ku... Tak sabarnya... Pasti dia cantik, imut... Cepat bawa dia ya? Ya? Ya?" Mata Kushi memelas menatap Bilton.
Ayah dan anak yang sama-sama punya rambut pirang itu sweatdrop, melihat kelakuan satu-satunya wanita yang ada di meja makan.
Bilton menghela nafas. "Aku mau menemui Rekson-san, Kaa-chan. Siapa bilang mau mencari menantu?"
Kushi menghembuskan nafas kecewa. "Ah... Ya sudahlah... Padahal Kaa-chan sudah ingin punya cucu."
Kishimoto tersedak kopi yang diminumnya. "Kau tidak apa-apa Anata?"
"Aku tidak apa-apa."
Bilton hanya memutar bola mata bosan melihat kemesraan orang tuanya. "Ck."
Kushi menoleh ke arah Bilton.
"Kenapa? Kau iri bocah? Makanya cepat cari pacar!"
"Sudahlah Kushi... Lagi pula Bilton masih 17 tahun."
Bilton menyeringai ke arah sang Ibu.
"Tuh, Kaa-chan dengar sendiri." Ia menggigit roti yang dipegangnya.
Manik violet Kushi menyipit. Lalu menunjuk hidung mancung Bilton dengan sendok yang dipakainya untuk menyendok nasi goreng. Karena memang hanya Bilton saja yang suka memakan roti tawar.
"Lalu, sampai kapan kau akan menjomblo?"
Bilton berdecak. "Sampai rambut Kaa-chan jadi kuning." Setelahnya, seperti biasa Biltom langsung kabur sebelum di lempar sendok oleh Kushi.
'Bilton, apa kau bisa kembali seperti dulu?'
"Em... Anata?"
Kishimoto menoleh. "Hm?"
"Apa benar aku harus mengecat rambut ku?"
.
.
.
Mobil sport itu melaju santai di kawasan perumahan elit. Pemuda pirang yang mengemudikannya hanya fokus menatap jalanan lenggang. Meski kebanyakan dalam pikirannya memikirkan perkembangan penyakitnya.
'Apa alexithymia ku makin parah? Atau sudah mendingan?' Bilton berdecak. Selalu saja merepotkan jika menyangkut penyakitnya.
Bilton membelokan mobil kesayangannya di depan pintu gerbang dengan cat gold. Karena memang hari ini hari minggu jadi ia mengunjungi Rekson dirumahnya. Biasanya, akhir pekan Rekson libur.
Tin.. Tin...
Terlihat seorang security tergopoh-gopoh menghampiri gerbang.
"Eh, Bilton-sama?" Ucapnya. Bee, security yang menjaga rumah Rekson itu sudah kenal dengan Bilton. Sudah 2 tahun Bilton menjadi pasien tetap Rekson.
"Ya. Apa kabar Bee-san?" Sapa Bilton saat keluar dari mobil.
Bee tersenyum. "Baik. Bilton-sama sendiri?"
"Buruk." Jawab Bilton ketus.
Bee hanya menghela nafas dalam hati mendengar jawaban ketus pasien dari majikannya.
"Silahkan masuk."
"Hn."
...
Ternyata rumah ini masih sama, pikirnya. Manik sapphire Bilton menjelajahi ruang tamu dengan gaya Eropa.
Sudah 2 bulan pemuda pirang ini tidak mengunjungi Rekson. Entah apa yang akan dikatakan oleh psikolognya itu, pasti ia akan mengomel. Memang, Bilton telah menganggap Rekson sebagai pamannya. Dia adalah orang yang membantu Bilton belajar mengenali perasaan. Entah itu perasaan senang, sedih, dan banyak lagi.
"Menunggu lama?"
Bilton mengalihkan pandangannya ke arah tangga. Alisnya bertautan. "Kuroko-san?" Bukannya Rekson yang datang malah seorang pria paruh baya penyuka ular–Ayah Rekson–
Kuroko mendekat, duduk dihadapan Bilton.
"Hm. Rekson sedang tidak ada."
"Kemana?"
"Kau tidak tahu?" Bilton menggeleng.
"Ku kira dia memberitahu mu."
"Tidak. Jadi Rekson-san kemana?"
"Ia mengunjungi kerabat kami di Osaka."
Bilton menghela nafas, sudah semangat ia ke sini, malah Rekson yang liburan. "Kapan?"
Kuroko menaruh cangkir teh yang tadi dipegangnya. "Seminggu yang lalu."
Bilton tersenyum saat Kuroko menyuruhnya meminum teh dihadapannya dengan isyarat tangan.
"Kira-kira kapan ia kembali?"
Pria penyuka ular itu mengendikan bahu. "Mana ku tahu."
'Ayah macam apa dia? Kepulangan anaknya saja tidak tahu.'
Bilton beranjak dari duduknya.
"Kalau begitu, aku pulang saja."
"Tidak mau minum teh dulu?" Bilton menggeleng.
"Ya sudah." Ia beranjak dari duduknya.
"Hai, arigatou Kuroko-san." Pemuda pirang itu membungkuk.
"Hm. Kapan-kapan jika Rekson pulang aku hubungi."
"Ya."
.
.
.
.
Senin. Hari berakhirnya akhir pekan ini di mulai dengan pelajaran seni, jangan lupakan Deidara sebagai Senseinya.
Suasana di kelas 2-1 masih ramai, karena memang ini belum jam dimulainya pelajaran. Jam menunjukan pukul 07:25. Berarti 5 menit lagi bel berbunyi. Memang pukul 07:30, barulah bel berbunyi.
Sampai akhir yang ditunggu-tunggupun tiba_
Tettt... Tettt...
Sontak bunyi bel yang menggema di seluruh kelas dan koridor itu menyadarkan aktivitas yang sedang dilakukan para siswa-siswi.
Ceklek–
"Ohayou." Dei, pria dengan rambut pirang panjang itu melangkah menuju meja guru.
"Ohayou mo Sensei."
Dei duduk di kursi.
"Baik, Sensei langsung saja. Hari ini kalian akan melukis model."
"Eh, benarkah? Ku harap modelnya sexy!" Maykel menampakan senyum mesumnya.
Lee berdiri, lalu mengepalkan tangan kanannya ditinjukan ke udara. "Ini baru semangat masa muda!"
"Merepotkan."
"Melukis ya?"
Brakk_
Suara yang diakibatkan mistar panjang Dei, menghentikan argumen mereka tentang lukisan.
"Harap tenang!"
Hening.
"Arigatou. Begini, akan Sensei jelaskan. Soal modelnya adalah teman sekelas kalian. Cara mainnya berpasangan, siswa-siswi. Kalian lihat?" Dei mengangkat toples berpita merah muda dan satu toples berpita biru yang ada dihadapannya.
"Toples?"
Dei menoleh ke arah Maykel. "Ya. Toples berpita merah muda berisi nomor undian untuk para siswi, begitupun toples yang berpita biru berisi nomor undian bagi para siswa."
"Jadi... Setiap yang nomor undiannya sama jadi pasangan?"
"Wulan benar." Dei menoleh ke arah Wulan lalu tersenyum.
"Sekarang silahkan kalian ambil undiannya dengan tertib."
"Hai Sensei!"
...
"Sudah?"
"Sudah Sensei!"
"Silahkan buka."
"Forhead, kau dapat nomor berapa?" Indah agak mengintip ke arah kertas Wulan.
Wulan menoleh. "Empat. Kau Pig?"
"Enam. Kira-kira siapa ya pasangan ku?" Gumam Indah.
Gadis berambut merah muda itu mengendikan bahu. "Mana ku tahu!"
"Dasar Forhead!"
Kepala merah muda Wulan melirik Chely. "Chely-chan dapat nomor berapa?"
"Lima. Kalau Wulan-chan?" Tanpa Chely ketahui seorang pemuda sedang menyeringai kearahnya.
__ADS_1
"Empat. Ku harap pasangan ku tampan." Wulan menepuk kedua pipinya yang merona.
"Dasar Forhead, seperti yang bisa melukis saja!"
"Kau juga Pig!"
"Kau dapat nomor berapa Maykel?"
"Delapan. Kau Lee?"
"Sepuluh."
"Sudah tahu nomor undian kalian?"
Semua murid menoleh ke arah Dei. "Sudah Sensei."
"Kalian cari pasangannya."
Seketika seluruh kelas heboh mencari pasangan melukis. Chely, gadis manis itu beranjak dari kursinya. Tena saja sudah berangkat dari tadi untuk mencari pasangannya. Sekarang Chely seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.
"Sebenarnya siapa pasangan ku?" Gumamnya. Manik lavender Chely menatap keseluruh kelas. Ia melihat Wulan berpasangan dengan Aron. Indah dengan Rio, Maykel dengan Tamaki. Dan banyak lagi.
Dengan pipi yang menggembung karena sebal, Chely berbalik. "A-aw." Ia mengelus keningnya yang terasa pening karena_
'Dada siapa ini?' Membentur dada bidang seseorang.
"Ck, ceroboh."
'Suara ini_'
Manik lavender gadis indigo itu membulat. "Na-Nami-san?"
"Hn."
"Se_"
"Cepat kita keluar."
Chely berkedip. "Kita? Keluar?"
Pemuda pirang itu memutar bola mata bosan. "Ya. Semua orang telah mengambil peralatannya di ruang lukis."
"Huh?"
'Gadis ini lemot sekali.'
"Ikut aku." Dengan kesabaran menipis Bilton menarik lengan Chely.
Chely yang belum sadar lengannya di tarik hanya memasang muka polos. "Ki-kita? Berarti kita_"
Bilton tersenyum miring. "Hm. Satu kelompok."
'Kami-sama bagaimana ini?!'
.
.
.
Disinilah Chely sekarang. Taman belakang sekolah, yang menyuguhkan pemandangan berupa pohon sakura yang sedang bermekaran, bangku taman, dan juga bunga-bunga yang sedang bermekaran.
Memang, sesudah mengambil alat lukis; kanvas, pensil, dan standing/easel–tempat untuk meletakkan kanvas, jadi dengan easel melukis jadi lebih mudah– melukis kali ini bertema hitam putih. Jadi tidak memerlukan pewarna.
Dan juga yang Chely dengar dari Dei lukisan ini harus selesai 2 jam pelajaran, tempat melukisnya juga bebas. Dan, Chely berharap bisa melukis dengan baik.
"Hyuu."
Chely menoleh. "Y-ya?"
Pemuda pirang itu mengendikan dagu ke arah bangku taman. "Duduk disana."
"Hai."
Bilton. Pemuda itu lalu memasang kanvas pada standing. Lalu ia duduk di bangku yang berhadapan dengan Chely.
"Kau tegang sekali." Bilton tersenyum miring.
"Be-benarkah?"
"Hm. Santai saja, aku hanya akan melukis mu. Setelah ini kau yang melukis." Ya, memang harus seperti itu, siswi melukis siswa dan siswa melukis siswi.
Kepala indigo itu mengangguk. "Hai."
Bilton menatap ke arah kanvas lalu menatap Chely.
"Tunggu disini." Ia melangkah menjauhi Chely. Meninggalkan sang gadis yang kebingungan karena di tinggal sendirian.
Sambil menunggu Bilton yang entah kemana, Chely menatap pemandangan musim semi. Taman belakang Nada Gakuen, memang ditumbuhi banyak sekali bunga sakura, apalagi sekarang sedang musim semi jadi bunganya bermekaran. "Sugoi..."
"Ini." Perhatiannya teralihkan pada sekuntum bunga mawar merah muda yang diangsurkan tangan seseorang.
Kepala Chely mendongkak. "U-untuk apa?"
"Supaya kau tidak terlalu polos." Chely pikir, orang yang memberikan bunga cantik ini adalah pangeran berkuda putih berhati bersih. Ini! Bukan sesuai harapan Bilton, yang datang malah pemuda pirang dengan hati bengis menyodorkan bunga mawar.
"Um.." Gumam Chely seadanya.
"Pose yang benar." Bilton tersenyum miring.
Pipi Chely menggembung. 'Menyebalkan...'
Bilton kembali ke arah bangku yang tadi ia tinggalkan guna mencari bunga. Ia menatap Chely yang sedang duduk sambil memegang bunga mawar di tangan kanannya, rambut bagian kirinya diselipkan kebelakang telinga, beberapa anak rambut bagian kanannya membelai pipi tembamnya karena angin nakal, juga duduknya yang tumpang kaki membuatnya terkesan manis dan cantik.
'Kawaii.' Batin Bilton seraya menatap Chely tanpa berkedip.
Kepala bersurai pirang itu menggeleng. 'Apa yang ku pikirkan?' Tangan tannya menyentuh dada kirinya yang berdetak dua kali lipat. Juga rasa hangat dihatinya yang selalu ia rasakan hanya dengan dekat sang gadis bersurai indigo. 'Perasaan apa ini?'
...
"Selesai."
Pemuda tampan itu melambaikan tangan. "Sini."
Chely menurut, ia bangkit dari duduknya menuju ke arah Bilton. Manik lavendernya berbinar, menatap lukisan yang sangat mirip dengan dirinya. "Sugoi..."
"Hebat bukan?" Senyum manis Chely berikan kepada Bilton.
"Hai, arigatou."
Bilton beranjak dari duduknya. "Sekarang giliran ku." Ia menatap tajam sang gadis. "Awas kalau jelek."
Pipi tembam gadis Hyuu itu menggembung.
"Hai, hai, jika jelek salah sendiri."
"Apa kata mu?!"
Chely gelagapan. "A-ano ma-maksud ku, Nami-san silahkan pose."
"Hm."
Biltom bersandar di bawah pohon sakura di samping bangku taman yang Chely duduki. Ia bersandar disana dengan headphone yang bertengger di kepala pirangnya, tangan tannya ditenggelamkan di saku celana hitam yang ia kenakan.
Chely berkedip. Melihat betapa kerennya pose Bilton. 'Apa bisa aku melukisnya?'
"Apa aku terlalu tampan untuk kau lukis?"
Chely berkedip. "Bu-bukan be_"
"Cepatlah Bakpao, aku pegal."
Pemuda pirang itu tersenyum dalam hati melihat pipi tembam nan putih milik Chely menggembung. 'Perasaan apa ini?'
"Hai... Hai..."
'Menyebalkan.'
.
.
2 jam yang terasa singkat itu berlalu, sekarang para murid kelas 2-1 berkumpul di ruang lukis dengan pasangannya masing-masing.
Dei menatap ke seluruh ruangan, memastikan semua muridnya hadir. 'Lengkap.' Batinnya.
"Nah, karena semuanya sudah hadir. Sensei minta, beri judul lukisan kalian di sudut kiri. Sedangkan di bagian bawah sudut kanan, tandatangan penggambar."
Ruang lukis yang tadinya hening sekarang ribut, mendiskusikan judul apa untuk lukisannya.
Bilton tersenyum miring. Di otak jeniusnya telah terpikir apa judul yang pas untuk lukisannya. Ia menulis di sudut kiri_
Bakpao Hyuu.
Manik lavender Chely membulat. Tadinya sih ia iseng-iseng saja mengintip akan dinamai apa dia oleh Bilton. Dan binggo! Tebakannya tak meleset. Bilton menamainya 'Bakpao Hyuu'
"Na-Nami-san? Kenapa Ba-Bakpao Hyuu?"
Bilton menoleh. "Terserah, inikan lukisan ku."
"Ta_"
"Dan lagi, pipi mu mirip Bakpao." Entah refleks atau apa, Bilton mengangkat tangannya lalu mencubit pipi tembam Chely.
Chely merona. "A-apa?"
"Hm. Salahkan pipi mu."
Chely memasang muka cemberut, yang justru membuat hati Bilton menghangat.
'Perasaan apa ini?'
'Kenapa tidak ku namai itu saja.'
Dengan semangat, jemari lentiknya mengoreskan pensil. Dan_
Ki_
"Mau apa kau?" Suara berat dan berdesis itu membuat Chely mengalihkan pandangannya.
"Me-menamai lukisan."
Manik sapphire Bilton memicing. "Awas. Jika kau menamai ku yang tidak-tidak."
Chely mengerucutkan bibirnya. Betapa menyebalkannya dia, dasar egois!, pikirnya.
"Kau. Namai dengan benar!"
Dengan sedikit menggerutu dan berat hati Chely menulis_
Bilton Nami
"Anak baik." Pemuda pirang itu mengusap kepala Chely.
Merona. Itulah yang Chely sudah duga pada pipi tembemnya. Sudah dua kali, hari ini Bilton selalu membuat wajahnya merona. Bukannya kesal, Chely malah merasa hangat.
"Sudah minna-san."
"Hai Sensei."
"Silahkan kumpulkan." Sontak semua murid mengumpulkan lukisan karyanya.
...
"Oh, ya." Sahutan Dei memperoleh perhatian dari murid kelas 2-1.
"Dua minggu yang akan datang, Sensei menugaskan kalian untuk bernyanyi."
"Huh? Nyanyi?"
"Ya ampun aku tidak rela suara emas ku di dengar orang lain~"
__ADS_1
"Lebay kau Pig! Suara mu itu cempreng!"
"Apa?! Sirik saja kau Forhead!"
"Aku siap mendengarkan suara emas ku."
"Urasai Lee!"
"Harap tenang."
Hening.
"Nah, kalian akan duet."
Wulan memekik girang.
"Apa?! Lalu siapa pasangan kami Sensei?"
"Pasangan melukis kalian."
Glek– susah payah Chely menelan ludahnya. Kepalanya menoleh ke arah samping, dimana ia melihat pemuda pirang yang berwajah datar. Seakan-akan tidak peduli dengan pengumuman yang disampaikan Deidara. Apa bisa dia menyanyi, pikir Chely.
"Apa?" Chely tersentak saat tiba-tiba Bilton menoleh kearahnya dengan wajah datar.
"Ti-tidak."
Bilton tersenyum miring. "Bilang saja terpesona."
"Bu-bukan."
"Terserah. Ku harap suara mu tidak jelek."
Pipi Chely menggembung. "Hai... Hai..."
'Nami-san itu bersuara datar, apa benar bisa bernyanyi?'
.
.
"Pig? Ku rasa kau beruntung sekali melukis dengan Rio-kun."
Indah menelan kentang goreng lemak rendah itu dimulutnya. "Apa? Tak tahukah kau Forhead?" Wulan menggeleng.
"Dia memang tampan, tapi senyumannya tidak tulus. Aku bingung kenapa dia bisa melukis, sedangkan bagaimana membedakan senyum tulus dan senyum palsu pun tak tahu. Pelukiskan harus menggunakan perasaan."
Kepala merah jambu Wulan mengangguk. "Aku setuju Pig!"
"Lalu, kau sendiri bagaimana dengan Aron-kun?"
"Ck, sama saja dengan mu. Pose dia saat di lukis hanya tidur di bangku taman."
Indah tertawa mendengar nasib sahabatnya.
"Sama-sama bernasib jelek, jangan saling mengejek." Wulan dan Indah menoleh ke arah Tena yang sedang makan ramen.
"Apa?" Tena merasa risih dipandangi dengan mata menyipit.
"Kau sendiri bagaimana Tena-chan?"
"Ya, nasib mu?" Tanya Indah.
Tena menghela nafas. Lalu ia menaruh sumpit dimangkuknya. "Kalian tahu Lee?" Indah, Wulan, dan Chely mengangguk. "Dia pasangan ku."
Hening.
Sampai tawa Wulan dan Indah terdengar ke seluruh kantin. Sontak, sebagian orang yang terganggu menoleh. Sedangkan Chely hanya tersenyum kecil.
"Ck, dia itu sangat merepotkan! Beberapa kali ganti pose, kadang berdiri sambil tersenyum lebar, sok cool'lah, inilah, itulah, kepala ku sampai pusing."
"Kasihan kau Tena-chan." Wulan menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa.
Tena berdecak. Ia menoleh ke arah Chely yang sedang mengunyah roti kacang.
"Chely-chan?"
Chely menoleh. "Ya?"
"Bagaimana dengan Nami-san?"
Wulan dan Indah menganguk, menyetujui pertanyaan Tena.
Gadis berambut indigo itu menelan roti kacangnya. "Ta-tak jauh beda dengan kalian. Nami-san'kan bermuka datar."
Ketiga gadis berambut beda warna itu menghela nafas.
"Memang pasangan kita itu bermuka datar, kecuali Lee." Gumam Indag.
"Kau beruntung Chely-chan."
"Hah?" Chely menoleh ke arah Wulan.
"Pasangan duet mu itu Nami-san, kan?"
Chely menganguk. "Beruntung apanya? Suara Nami-san itu datar da-dan dingin."
"Memang kau tidak tahu Chely-chan?" Kali ini, kepala indigo itu menoleh ke arah gadis berambut pirang.
"Me-memangnya apa?"
"Dia vokalis band Nada Gakuen."
Manik lavender Chely terbelalak. "Vo-vokalis?"
"Hu'um. Kau tidak tahu Chely-chan?" Chely menggeleng memandang Tena. "Memangnya saat mereka pentas Chely-chan kemana?"
Pipi tembam itu menggembung. Ia sedang berpikir kemana ia selalu pergi saat pentasnya Bilton. Ah, Chely ingat!
"Saat kelas X, aku jadi seksi konsumsi untuk yang pentas, ja-jadi aku di belakang panggung, semester keduanya aku sakit."
Indah mencubit pipi Chely yang menggembung.
"Kawaii... Sayangnya Chely-chan kuper."
Chely cemberut.
"Sudah... Sudah... Ayo makan lagi. Nanti ke buru bel."
'Terserah. Ku harap suara mu tidak jelek.' Tiba-tiba terdengarlah suara pemuda pirang dikepalanya. 'Pantas dia bilang begitu.' Batin Chely lesu.
.
.
"Kau jelek sekali Inu-chan." Pemuda berkulit pucat itu memandang lukisan Maykel, yang di gambar Tamaki. "Aku yakin Tamaki-san kesulitan menggambar mu." Ucapnya dengan senyum aneh.
Istirahat sekarang, memang digunakan X5 untuk melihat-lihat lukisan yang di pajang di ruang lukis.
"Apa kau bilang Zombie?!" Maykel menatap Rio dengan tatapan membunuh.
"Aku setuju dengan Rio." Kepala bersurai coklat Maykel menoleh ke arah pemuda berambut pirang–Bilton–pemuda itu bangkit dari kursi yang ia duduki, menuju ke sudut ruangan, tempat lukisan Maykel di pajang dengan tenang.
Mata Maykel menyipit, telunjuknya yang bebas menunjuk hidung mancung Bilton. "Apa kau bilang?! Enak saja kau Kitsune!_"
"Apalagi gigi taring mu itu susah sekali untuk di gambar." Seakan-akan tidak takut dengan tatapan Maykel yang sanggup menelannya hidup-hidup, Bilton malah terus memanas-manasi Maykel.
"Apa kau_"
"Aron, kau kenapa tidur saat di lukis?" Maykel, Bilton, dan Aron menoleh ke arah Rio yang memandang lukisan Aron.
"Aku malas, daripada bolos lebih baik tidur."
Rio mengangguk. "Kau datar sekali."
"..."
"Tentu, dia hanya punya ekspresi itu. Sama seperti_" Maykel menatap sinis Bilton disebelahnya.
"Orang ini! Kasihan Chely-san harus menggambar orang yang_"
"Jadi ini Chely-san?"
Manik sapphire Bilton melirik ke arah Rio, pemuda berkulit pucat itu memandang lukisan Chely tanpa bekedip.
"Manis sekali."
Hati Bilton berdesir aneh, saat Rio mengatakan kata itu. Panas. Itulah yang dirasakan Bilton. 'Perasaan apa ini?'
"Memang, Chely-san itu manis dan cantik."
Twich. Perempatan muncul di kening Bilton.
"Sayang sekali, dia sekelompok dengan Bilton." Manik sapphire Bilton menatap tajam Aron, yang entah kenapa malah ikut-ikutan.
"Andai aku bisa memeluknya saat tidur." Sekarang, sapphire tajam itu memandang Orlan yang tidur sambil duduk dengan tangan yang terlipat di depan dada
"Jangan sentuh!" Bilton refleks memegang lengan Rio, saat pemuda itu berusaha menyentuh lukisannya.
"Memang kenapa?"
"Ku bilang jangan ya jangan!" Pemuda pirang itu menghempaskan kasar lengan Rio.
Dan_
Blam.
Ia keluar membanting pintu.
"Lihat, ekspresinya seperti sedang cemburu."
Orlan mengangguk. "Ya, kau benar Rio."
"Apa jangan-jangan gadis itu ada hubungannya dengan penyakit Bilton?" Memang, mereka sengaja memanas-manasi Bilton. Mereka sudah curiga saat Bilton membentak Rio di basecamp. Meski mereka tahu, alexithymia Bilton akan kambuh pada akhirnya.
"Ku harap begitu."
.
.
Pusing. Itu yang dirasakan Bilton. Ia bolos pelajaran sekarang, bel masuk sudah berbunyi 10 menit yang lalu, gara-gara ulah sahabatnya alexithymia Bilton kambuh.
Ia bingung dengan perasaannya. Ada sesuatu yang berdesir saat nama Chely disebut-sebut Rio. Sungguh, ia tidak mau nama Chely disebutkan Rio. Apalagi Rio memandang lukisan Chely tanpa berkedip.
Surai pirang bagian depannya Bilton jambak. Lalu ia berbaring menyamping di ranjang UKS.
"Kenapa dengannya? Apa dia punya hubungannya dengan penyakit ku."
Sakit, kepalanya sungguh sakit. Semakin ia bingung berekspresi, sakitnya bertambah. "Tega sekali mereka." Bilton menggerutu pada sahabatnya, yang seenak jidat sudah membuat ia kambuh.
"Itai..." Semakin dijambaklah rambutnya. Ia pejamkan matanya erat-erat berharap rasa sakit itu hilang.
Sampai, tak lama kemudian Bilton tertidur karena kesakitan.
.
.
.
.
To Be Continued
Yoo Yooo
author kece cantik jelita yang hanya bisa bermimpi di sini XD hwahahaha•lalat masuk•uhukk uhuk tersedak uhukk author pingsan*°*
Chely : Sampai jumpa Episode selanjutnya^Δ^
Bilton : Hm (menggendong author yg pingsan)
__ADS_1